Lara Boyok

JARE bobade wong kanda, masih mending disewoti mertua, tenimbang boyoke lara. Wis olih rong dina, Lamsijan mlaku prekangkang-prekengkeng lantaran boyoke lara.

“Jan, nambani lara boyok kuh gampang…”

“Carae priben Dul?” takon Lamsijan.

“Ditugel boyoke!” jawab Dul Gepuk.

“Sira sih.., disalari kuh jawabane moregan.”

“Baka bab nyalar sih kudu ning Mama Elang,” jare Dul Gepuk.

Kadingaren, Mama Elang ujug-ujug tandang.
Lamsijan gage bae takon soal boyoke kang lara.

“Jan, lamun sira duwe rangda rawatan, kudu gage dipegat, lamun duwe anak rabi, gage gawe surat wasiat, baka sira akeh dosa gagean tobat.., sebab uripe sira bakal sedelat.., sira bakal mati.”

Ngrungu Mama Elang ngomong mengkonon, Lamsijan metu kringet atis, bari nangis-nangis, nyebut-nyebut asmae Allah lan maca istighfar.

“Toli kapan kula matie Ma..?” takon Lamsijan.

“Kapan-kapan Jan.., kabeh menusa bakal mati, kaya dene sira.., bisa sukiki, bisa emben, bisa uga taun arep…” jawab Mama Elang.

Leres pisan…

Diterbitkan di:  on November 25, 2009 at 1:48 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Empal Cerbon di Batam

Tepatnya : di kedai EMIRIA Pasar Mega Legenda Batam Centre. Mangga, sedulur separa kanca kang ana ning Batam, bokat bae kangen, pengen sesono-an karo rasa empal gentong Cerbon..hayo sumangga pada mampira…

empal tjirebon

Rasane…bener-bener kaya ning Cerbon je!

Diterbitkan di:  on Oktober 15, 2009 at 3:37 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Angkutan Kota

Angkutan Kota: GP (Gunung Sari-Plered), GS (Gunung Sari-Sumber), GC (Gunung Sari-Ciperna), GM (Gunung Sari-Mundu), GG (Gunung Sari-Celancang), Celancang-Bakung, Plered-Celancang, Plered-Sumber, Plered-Arjawinangun, Plered-Gunung Jati, Plumbon-Sumber, Sumber-Jamblang, Sumber-Kramat, Sumber-Wanasaba, Jamblang-Megu

P9280263

Diterbitkan di:  on Oktober 14, 2009 at 1:39 pm Tanggapan (1)

Stasiun Karangsuwung

Stasiun Karangsuwung (KRW) adalah stasiun kereta api yang terletak di Karangsuwung, Karangsembung, Cirebon. Stasiun ini masuk ke Daerah Operasi 3 Cirebon.

15022009(082)[1]

Di bawah ini adalah kereta api yang berhenti di Stasiun Karangsuwung untuk menaikturunkan penumpang:

       Senja Utama Solo: ke Jakarta Pasar Senen dan Solo Balapan

       Progo: ke Jakarta Pasar Senen dan Yogya Lempuyangan

       Kutojaya Utara: ke Jakarta Tanahabang dan Kutoarjo

       Sawunggalih Utama: ke Jakarta Pasar Senen dan Kutoarjo

       Senja Bengawan: ke Jakarta Tanahabang dan Solo Jebres

       Senja Utama Yogya: ke Jakarta Pasar Senen dan Yogyakarta

[ dijukut sing Wikipedia ]

Diterbitkan di:  on at 1:31 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Propinsi Cirebon

Her Suganda – Wartawan Senior

KEINGINAN Cirebon dan Indramayu yang mencuat ingin memisahkan diri
dari Propinsi Jawa Barat merupakan pengulangan masa lalu. Walaupun
berada dalam bingkai wilayah Propinsi Jawa Barat, Cirebon adalah
daerah yang unik dan menarik.
Salah satunya, bahasa Cirebon tidak sama dengan bahasa Sunda dan
bahasa Jawa. Karena itu, ketika Pemda Jabar berusaha menyeragamkan
bahasa Sunda sebagai muatan lokal di sekolah dasar (SD), seorang anak
SD di daerah ini melakukan protes dengan menghapus mata pelajaran itu
dari daftar kurikulum yang tertera di atas papan tulis kepala sekolahnya.

Penutur bahasa Cirebon memang tergolong minoritas. Tetapi
keberadaannya tidak mau dikesampingkan dengan begitu saja. Orang-orang
Cirebon sangat bangga dengan bahasa dan budayanya. Buktinya, ketika
tokoh-tokoh Cirebon menghadiri sidang Konferensi Jawa Barat III di
Bandung pada tanggal 28 Februari 1948, mereka menolak tegas mosi
Soeria Kartalegawa yang mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan
perwakilan tersebut dibolehkan menggunakan bahasa Sunda.

Salah seorang di antaranya, Soekardi menyatakan: “Djika dibolehkan
berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang ingin memakai bahasa
daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah
Tjirebon”. Penolakan juga disampaikan ketika nama Jawa Barat akan
diganti dengan Pasundan.

Soeria Kartalegawa adalah Ketua Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang
memproklamirkan Negara Pasundan sebagai negara “boneka” buatan van
Mook yang bertujuan memecah belah masyarakat Jawa Barat. Proklamasi
negara tersebut diselenggarakan di alun-alun Bandung pada tanggal 4
Mei 1947.

Tetapi keinginan mengganti nama Jawa Barat sebagai wilayah propinsi
rupanya belum padam sampai setengah abad kemudian. Keinginan itu
pernah dimunculkan kembali ketika Propinsi Banten terbentuk
berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2000, sehingga sejak itu
wilayah Propinsi Jawa Barat terbagi dua.

Isu penggantian nama menjadi Propinsi Pasundan akhirnya menggelinding
menjadi bola panas. Dengan nada mengancam, masyarakat Cirebon
menyatakan akan memisahkan diri dengan mendirikan Propinsi Cirebon.

Sebuah keinginan yang hingga kini belum padam. Tulisan sama sekali
tidak bertujuan mengungkit-ungkit masa lalu, tetapi lebih bermaksud
mengingatkan, bahwa Cirebon memiliki latar belakang sejarah yang
berbeda. Dari satu sisi, Cirebon memang berasal dari satu akar pohon
Jayadewata yang dalam tradisi setempat dijuluki Prabu Siliwangi.
Tetapi pada sisi lain, anak dan cucu-cucunya menempuh jalan yang berbeda.

Cirebon dibangun Pangeran Cakrabuana, salah seorang putra Jayadewata
dari istri kedua, Nay Subanglarang, yakni salah seorang santri
Pesantren Syeh Quro di Karawang yang didirikan Syeh Hasanudin pada
tahun 1416. Istri pertama Nay Sindang Kasih. Akan halnya Jayadewata
adalah cucu Wastukancana, penguasa Galuh yang kemudian membagi
kekuasaannya pada kedua anaknya.

Anaknya yang pertama, Dewaniskala tetap berkuasa di Galuh dan
Susuktunggal berkuasa di Pakuan. Kedua wilayah kerajaan tersebut
dibatasi Sungai Citarum. Karena melanggar larangan dengan menikahi
wanita yang sudah bertunangan yang dalam Carita Parahiyangan disebut
“estri larangan ti kaluaran” dan mengawinkan anaknya dengan salah
seorang pengungsi dari Majapahit, Dewaniskala diturunkan sehingga
hanya bertahta tujuh tahun karena dianggap berdosa besar. Ia
digantikan Jayadewata yang merupakan anak keduanya.

Setelah menikah dengan Nay Kentring Manik Mayang Sunda, putri
Susuktunggal yang tidak lain putri pamannya sendiri, Jayadewata
dianugerahi gelar Sribaduga Maharaja. Sejak itu, dua wilayah yang
sebelumnya terpisah dipersatukan kembali. Inilah yang sering disebut
masa jaya Kerajaan Sunda Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Pakuan
(kini Bogor).

Dari Nay Subanglarang, Sribaduga Maharaja dikaruniai tiga anak,
masing-masing Walangsungsang, Nay Larasantang, dan Raja Sangara.
Sebagai satu-satunya pemeluk agama Islam, tidak pernah diketahui
bagaimana perasaan dan kehidupannya di tengah keraton Pakuan
Pajajaran pada masa pra-Islam. Yang jelas, setelah meninggal, dua
orang anaknya memilih meninggalkan istana. Mula-mula Walangsungsang
dan kemudian menyusul adiknya Nay Larasantang. Keduanya menuntut ilmu
agama Islam di Cirebon, tempat asal ibunya.

Kakak beradik itu kemudian menunaikan ibadah Haji. Jika kakaknya
kembali ke Cirebon dan kemudian dikukuhkan menjadi kuwu Cerbon dengan
nama Pangeran Cakrabuana, sang adik Nay Larasantang diperistri, salah
seorang penguasa Mesir dan dikaruniai tiga anak.
Putra sulungnya, Syarif Hidayatullah yang kelak dikenal sebagai Sunan
Gunungjati, setelah dewasa berangkat ke Cirebon . Ia menerima
kekuasaan dari uwaknya (kakak ibunya) setelah menikahi putrinya,
Pakungwati.

Cirebon yang semula berada di bawah Galuh, pada masa Sunan Gunungjati
menyatakan memisahkan diri dengan cara menolak memberi upeti. Sehingga
sejak itu, Cirebon berdiri sendiri sebagai kesultanan bercorak Islam.
Pengaruhnya berkembang jauh sampai ke wilayah Priangan Timur. Bahkan
dalam perjalanan selanjutnya, pasukan cicit Sribaduga Maharaja yang
berasal dari Banten dan Cirebon dibantu Demak telah menghancurkan
keraton Pakuan, sehingga Kerajaan Sunda Pajajaran berakhir pada tahun
1579 M.

Walaupun pada masa pemerintahan Belanda kekuasaan dan pengaruh Sultan
Cirebon pernah dipersempit, namun keberadan Kesultanan masih tetap ada
hingga kini. Sebuah bukti bahwa daerah ini memang memiliki sejarah
panjang dan tidak sama dengan daerah lainnya di Jawa Barat.*

dijukut sing http://www.opensubscriber.com/message/baraya_sunda@yahoogroups.com/8610487.html

Diterbitkan di:  on September 1, 2009 at 3:52 pm Tanggapan (2)

Bahasa Cirebon, Hegemoni dan Fatamorgana

 

Oleh Supali Kasim

Ada nuansa gugatan dan rasa sentimentil yang cukup jauh dikemukakan Dadang Kusnandar dalam tulisan “Hegemoni Bahasa” (Kompas Jawa Barat, 18/7). Kekecewaan beberapa aktivis bahasa Cirebon dalam kegiatan yang diadakan Balai Pengembangan Bahasa Daerah (BPBD) Dinas Pendidikan Jabar di Cirebon itu agaknya menyeret tulisan tersebut ke ranah lebih jauh secara kilas balik berupa potongan-potongan gambar: politik, budaya, dan sejarah.

Tanggapan Dadang Bainur berupa “Fatamorgana Hegemoni Bahasa” (Kompas Jabar, 27/7) menyiratkan ketiadaan masalah. Sebagaimana fatamorgana, terlihat dari jauh ada sesuatu, tetapi sesungguhnya tidak ada. Dari jauh kelihatan ada masalah tentang keberadaan bahasa Cirebon, tetapi sesungguhnya masalah itu tidak ada. Dadang vs Dadang Agak terenyak juga, permasalahan dalam kegiatan BPBD, yang kemudian ditindaklanjuti dengan permohonan maaf, menyeret berbagai dimensi lain, bukan hanya teknis perlombaan seperti yang ditulis Dadang Kusnandar. Tuduhan adanya hegemoni bahasa dengan berbagai akibatnya demikian mengental dalam arus yang padat informasi dan data empiris.

Pandangan tentang diskriminasi dalam pemerintahan dan politik, hegemoni budaya, ataupun marjinalitas bahasa lebih tepat sebagai pernyataan simbolik dengan mengetengahkan patahan-patahan wacana, slide-slide tema, ataupun garis dan titik simbol.

Permasalahan dalam kegiatan BPBD seakan-akan menjadi katup pembuka mengucurnya ketidakberesan yang terpendam bertahun-tahun. Momen tersebut menjadi titik pertama untuk dirangkaikan dengan titik-titik kekecewaan berikutnya. Agak sulit untuk mengiyakan atau menidakkan gugatan tersebut, bahkan kalaupun bersikap abu-abu.

Hal itu, pertama, karena beberapa bagian tulisan Dadang Kusnandar lebih mengarah pada wacana atau pandangan. Bagian yang mengetengahkan latar sejarah bahasa Sunda dan Cirebon lebih tepat disebut sebagai wacana yang memiliki dimensi penafsiran. Kedua, sebagian data yang diketengahkan adalah data lama yang belum tentu aktual untuk mendukung gugusan argumen yang mendukung tuduhan terjadinya hegemoni.

Ranah politik dan pemerintahan, sejarah, budaya, hingga pengajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah di Cirebon dan Indramayu merupakan fakta lama sebelum ada Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003. Di sisi lain tulisan Dadang Bainur justru menafikan lembaran-lembaran lama tersebut dan lebih mengedepankan untuk membuka lembaran baru setelah terbitnya Perda No 5/2003.

Wacana atau pandangan sese-orang belum tentu sehaluan dan seirama dengan orang lain. Begitupun argumentasi Dadang Kusnandar tentang hegemoni bahasa yang berseberangan dengan Dadang Bainur yang menganggapnya fatamorgana semata. Meski demikian, kilas balik sebelum Perda No 5/2003 terbit, fakta tentang pengajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah di Cirebon dan Indramayu adalah keniscayaan. Fakta dan keniscayaan itu sebenarnya sudah dikubur dalam-dalam ke tempat yang paling jauh. Yang ada sekarang adalah pengajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah di Cirebon dan Indramayu, yaitu bahasa Cirebon (di Kabupaten Indramayu secara formal disebut bahasa Indramayu).

Sangat mungkin permasalahan berasal dari satu titik, kemudian ketika dibahas berkembang ke titik-titik lain. Pleidoi yang dilakukan Dadang Bainur menyiratkan hal demikian untuk mengandaskan tuduhan adanya hegemoni bahasa. Intinya adalah tidak ada hegemoni bahasa. Berbagai argumen yang melatari tuduhan tersebut dipatahkan dengan mengetengahkan data yang lebih faktual dan aktual.

Oleh karena itu, pada bagian akhir tulisannya, yang merupakan gong terakhir, disebutkan, …permintaan untuk mengakhiri hegemoni bahasa dan budaya sesungguhnya tidak perlu karena tidak pernah ada yang memulainya. “Angadohna ing perpadu”

Mengkhidmati polemik Dadang versus Dadang, keduanya seperti melupakan awal permasalahan yang sebenarnya. Pembahasan polemik lebih tertuju pada kembang-kembang masalah yang lebih indah dan seksi: politik, pemerintahan, sejarah, dan budaya. Padahal, akar masalahnya hanyalah masalah teknis semata.

Masalah teknis tersebut sangat mungkin merupakan akibat kekhilafan atau ketidaktahuan BPBD dalam implementasi Perda No 5/2003. Bahkan kekhilafan dan ketidaktahuan itu sebenarnya juga bukan hanya pada Pasanggiri dan Apresiasi Bahasa, Sastra, dan Seni Daerah (PABSSD), tetapi juga pada kegiatan pembinaan teknis untuk guru.

Semangat keragaman dalam PABSSD di Cirebon sebenarnya tampak. Setidaknya pada malam penganugerahan hadiah diselipkan lagu Cerbonan, semisal “Turun Sintren”, oleh mojang geulis diiringi orkestra dari STSI Bandung. Hanya, baris terakhir pada bait pertama lagu tersebut terlewatkan, yakni tidak ada kalimat Widadari temuruna. Hal yang menjadi kekhilafan atau ketidaktahuan itu adalah alpa menyertakan bahasa, sastra, dan seni Cirebon.

Pada pembinaan teknis juga alpa disertakan seni Cirebon. Akan lebih implementatif jika acara itu bukan hanya kecapi suling dan tembang Cianjuran untuk Sunda, tetapi juga tarling dan tembang Cerbonan-Dermayonan untuk Cirebon-Indramayu.

Ini tentu saja sangat teknis. Ketika ada yang mempersoalkan masalah yang sangat teknis ini, agak mengenyakkan juga jika ditang- gapi dengan penuh kecurigaan. Meski demikian, ada benang merah yang menyembul ketika ditarik dari kedua titiknya. Benang merah itu adalah bagaimana bahasa Cirebon tidak menjadi bahasa ke-3001 setelah 3.000 bahasa daerah di dunia mengalami kepunahan.

Benang merah itu juga merupakan titik temu dari sebuah gugon tuwon (wasiat) Sunan Gunung Jati, seperti, “Anagadohna ing perpadu (Jauhi perselisihan. Dalam menyelesaikan suatu masalah, hendaknya bermusyawarah).”

Sebagai orang yang menjadi salah satu pelaku yang mempertanyakan secara lisan kegiatan BPBD di Cirebon, terus-terang saya agak merinding ketika permasalahan tersebut ditarik ke ranah lain yang lebih jauh, yaitu politik dan pemerintahan dengan segala implikasinya. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan dan saya jangkau.

Saya pun agak trenyuh ketika ada tanggapan penuh kecurigaan seperti pada alinea keempat tulisan Dadang Bainur, Yang “berseteru” adalah kepentingan-kepentingan tertentu dari pihak-pihak tertentu pula yang muatannya patut dipertanyakan, siapa mewakili siapa.

Bisa jadi akan sangat karikaturis jika pertanyaan itu dijawab dengan ringan bahwa kepentingan-kepentingan tertentu itu adalah kepentingan lestarinya bahasa daerah, pihak-pihak tertentu itu adalah anak-anak yang berpengharapan mendapatkan penghargaan tetapi jerih payah mereka tidak dihargai. Muatannya adalah bagaimana sebuah lomba memberikan hak yang sama untuk semua peserta dan figur-figur yang mengusulkan memiliki kesadaran pribadi dan lembaga.

Akan tetapi, di tengah hiruk-pikuk politik, kecemasan budaya, dan keanekaragaman curiga, sebuah jawaban jujur atas permasalahan yang sesungguhnya sangat teknis masihkah mendapatkan ruang?

SUPALI KASIM Mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu; Pengurus Lembaga Basa lan Sastra Cerbon

dijukut sing http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/01/12205717/bahasa.cirebon.hegemoni.dan.fatamorgana

Diterbitkan di:  on at 3:47 pm Tanggapan (1)

Dokumentasi Cirebon oleh Orang Asing

Orang asing yang telah aktip pada bidang dokumentasi adalah Dr. Michael Richard Wright, yang buku pentingnya “The Music Culture of Cirebon” 1978 merupakan yang pertamakali memberikan detil analisa tentang Gamelan Tradisional klasik dari Cirebon. Beliaulah yang telah memperkenalkan saya kepada guru saya , almarhum Bapak P.H. Yusuf Dendabrata. Tulisan Dr Wright telah dilestarikan oleh seorang kelahiran belanda bernama Bernard Suryabrata, yang tinggal di Cirebon dan yang telah banyak menulis artikel tentang musik Cirebon.

Pamela Rogers-Aguiniga (telah memperkenalkan saya pada Gamelan Cirebon dan Topen di tahun 1974), telah melakukan studi tentang Topeng Cirebon dengan legendaris Bi Dasih dari desa Ciliwung pada tahun 1970 an dan kemudian dengan Pak Sujana Arja – dinamika dalang topengdari desa Slangit. Tesisn Pamela di tahun 1986 telah mendokumentasikan secara detil Topeng Cirebon gaya Slangit.

Dr. Michael Ewing, sekarang ini adalah guru besar bahasa pada Universitas Melbourne, Australia telah mempublikasikan beberapa pekerjaan berkenaan dengan bahasa Jawa dialek Cirebon. Beliau lama belajar pada penari topeng piawai Pak Sujana Arja, beliau telah belajar melakukan semua kelima karakter dari Topeng Cirebon. Disamping melakukan pekerjaan profesinya, Michael adalah pemimpin Gamelan Cirebon dan Tari ansambel “Putra Panji Asmara” di Melbourne, Australi.

Chad Bailey Nielson telah melakukan studi Gamelan di akademi akademi seni Seattle Comish College of Arts dan di College of Santa fe di New Mexico, yang memiliki Gamelan Cirebon berusia 150 tahun. Pada tahun 2005, ia melakukan perjalanan ke Cirebon untuk merekam dan mendokumentasikan gaya permainan cepat Gender Cirebon oleh salah seorang pemain yang terakhir masih hidup. Chad baru baru ini meluncurkan situs www.gamelancirebon.org sebagai salah satu sumber online diperuntukkan pada Gamelan Cirebon Klasik. Disitu ada ilustrasi tentang instrumen gamelan, juga ada daftar arti dari kata kata khusus atau istilah istilah dari Gamelan Cirebon.

Saat ini, Dr. Matthew Isaac Cohen mungkin merupakan orang yang paling banyak menghasilkan tulisan tulisan tentang Cirebon. Jumlah artikel dan bukunya (dari hitungan terakhir saya sudah lebih dari 30 !) telah mengalirkan pencerahan baru dan meluruskan kesalah pahaman tentang Keraton Cirebon dalam konteks kebudayaan Indonesia. Disertasi doktoral pada WayangKulit Cirebon sesungguhnya merupakan sebuah detil ensiklopedi Kebudayaan Cirebon. Matthew telah menjadi seorang dalang Cirebon dan ia sekarang adalah Pengajar Senior pada Departemen Drama dan Teater dari Universitas Royal Holloway di London.

Richard North telah melakukan studi, mengajar dan menggelar pertunjukan Gamelan Cirebon sejak tahun 1976. Beliau telah banyak mempelajari berbagai aspek dari Budaya Cirebon dengan almarhum Pangeran Yusuf Dendabrata pada Keraton Kacirebonan dan meneruskan studinya dengan anaknya Pak Yusuf, Pangeran Haji Tomi Dendabrata. Beliau telah mengajar Musik Cirebon pada Hawaii Loa College dan North Seattle Community College. Beliau pernah menjadi editor tamu dari Journal Balungan edisi Desember 1988 yang diperuntukkan khusus untuk memuat Seni Cirebon dan ikut memberikan konstribusi 3 buah artikelpada edisi tersebut. Beliau saat ini adalah pengarah pada Gamelan Sinar Surya, sebuah grup Gamelan Cirebon di Santa Barbara, Amerika, dan sekarang bekerja sama dengan para musisi gamelan di Cirebon untuk menolong menemukan kembali puing puing yang telah hilang dari gubahan klasik.
(Biografi Richard North seperti ditulis oleh Chad Bailey Nielson)

Dijukut sing http://www.cirebonarts.com/intro6_id.php

Diterbitkan di:  on Agustus 25, 2009 at 10:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Cirebon Merdeka Lebih Dulu

Begitu Jepang kalah perang, Sjahrir ingin kemerdekaan Indonesia dikumandangkan secepatnya. Proklamasi Cirebon dibacakan lebih cepat.

TUGU berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil itu berdiri tegak di tengah jalan di dekat alun-alun Kejaksan, Cirebon. Tugu yang sama, dengan tinggi sekitar tiga meter, menancap di halaman Kepolisian Sektor Waled di kota yang sama.

Tak banyak warga Cirebon tahu dua tugu tersebut merupakan saksi sejarah. Di tugu itu, pada 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi. ”Hanya para sesepuh yang mengingat itu sebagai tugu peringatan proklamasi 15 Agustus,” tutur Mondy Sukerman, salah satu warga Cirebon yang aktif dalam Badan Pekerja Pengaktifan Kembali Partai Sosialis Indonesia. Kakek Mondy, Sukanda, aktivis Partai Sosialis Indonesia, hadir saat proklamasi ini dibacakan di kota udang itu.

Saat Soedarsono membacakan teks proklamasi, sekitar 150 orang memenuhi alun-alun Kejaksan. Sebagian besar anggota Partai Nasional Indonesia Pendidikan. Cirebon memang merupakan salah satu basis PNI Pendidikan.

Soedarsono sendiri adalah tokoh gerakan bawah tanah pimpinan Sjahrir di Cirebon. Setelah siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945 mewartakan kekalahan Jepang oleh Sekutu, Sjahrir berambisi menyiarkan kemerdekaan Tanah Air secepatnya. Sjahrir menunggu Bung Karno dan Bung Hatta untuk menandatangani teks proklamasi sebelum 15 Agustus 1945. Sjahrir khawatir proklamasi yang muncul selewat tanggal itu dianggap bagian dari diskusi pertemuan antara Soekarno, Hatta, dan Marsekal Terauchi di Saigon. Ternyata harapannya tidak tercapai.

Ada dua versi asal-usul penyusunan teks proklamasi versi Cirebon. Menurut Maroeto Nitimihardjo, lewat kesaksian anaknya, Hadidjojo Nitimihardjo, Soedarsono tak pernah menerima teks proklamasi yang disusun Sjahrir. Maroeto adalah salah satu pendiri PNI Pendidikan.

Informasi diperoleh Maroeto ketika bertemu dengan Soedarsono di Desa Parapatan, sebelah barat Palimanan, saat mengungsikan keluarganya selang satu hari sebelum teks dibacakan di Cirebon. Soedarsono mengira Maroeto membawakan teks proklamasi dari Sjahrir.

”Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon,” ungkap Hadidjojo dalam buku Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan, yang pekan-pekan ini akan diterbitkan. Sayang, jejak teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono tak berbekas. Tak ada yang memiliki dokumennya.

Kisah berseberangan diungkap Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurut Des, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya.

Penyusunan teks proklamasi ini, antara lain, melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.”

Dalam buku Rudolf Mrazek berjudul Sjahrir, Sjahrir mengatakan teks proklamasinya diketik sepanjang 300 kata. Teks itu bukan berarti anti-Jepang atau anti-Belanda. ”Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain,” kata Sjahrir seperti ditulis dalam buku Mrazek. Sjahrir pun mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Selain mempersiapkan proklamasi, Sjahrir dengan semangat tinggi mengerahkan massa menyebarkan ”virus” proklamasi. Stasiun Gambir dijadikan arena untuk berdemonstrasi. Stasiun radio dan kantor polisi militer pun sempat akan diduduki. Kala itu, Des dan sekelompok mahasiswa bergerak hendak membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir agar teks proklamasi tersebar. Usaha tersebut gagal karena Kenpeitai menjaga rapat stasiun radio tersebut.

Tapi simpul-simpul gerakan bawah tanah terus bergerak cepat, menderu-deru dari satu kota ke kota lain, menyampaikan pesan Sjahrir. Dan keinginan Sjahrir agar proklamasi Indonesia segera didengungkan itu pun sampai di Cirebon.

Dijukut sing  http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.LU129721.id.html

Diterbitkan di:  on at 9:55 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Basa Cerbon

Basa Cerbon sejatine iku sawujude dhialek Basa Jawa sing dituturna ing segara lor Jawa Kulon. Basa iki wis ana pramila Cirebon dadi pelabuhan sing strategis ing jaman Pajajaran, nganthi jaman Kasultanan Cirebon. Ing jaman iku, Cirebon wis dadi panggon pikanthuke wong-wong saka Cirebon, Tuban, Demak, Jayakarta, Banten lan malah saka tlatah manca.

Saka pembauran iki, akhire metu dhialek sing diarani dhialek Cirebon. Basa iki asline saka basa Jawa Madya sing tansah mertahanake swara A kaya aja diwaca (AjA) lan sapanunggale. Akehe wong sing nuturake basa Cerbon iki ditambah malih karo dipindahna wong-wong saka Jawa Tengah ning pesisir lor Jawa Kulon ing jamane Sultan Agung kanggo njaga lumbung padi sing bakale digawe nyerang Batavia, sing wayah iku wis didokok karo Landa (abad 16-17an). Ing jaman iku, basa Cerbon karo basa Jawa baku tansah ora ana bedane, nanging sabanjure iku basa iki sithik-sithik mila bedha karo basa baku lan urip dhewe.

Basa Cerbon akeh dipengaruhi karo Basa Sunda, lan basa-basa saubengane nanging tansah dianggep dhialeke basa Jawa karna ukara-ukara sing sumbere saka basa iku. Piturut undhak usuk basane, Basa Cerbon cuma dibagi dadi loro, yaiku Bebasan (pada karo krama) lan kasar.

Basa Cerbon akeh-akehane dituturake ing mayoritas kabupaten Cirebon, Indramayu, segara lore Subang, Kerawang lan nganthi Losari, Brebes.

Contoning ukara :
Kepriben kabare, cung? : Piye kabare?
beli : ora
bloli : ora oleh
barlen (saka ukara bubar kelalen) : buyar
Bengen : biyen

Dijukut sing http://jv.wikipedia.org, kesuwun Kang…

Diterbitkan di:  on Mei 20, 2009 at 2:37 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Music Klassik Cirebon

Kesan yang diperoleh dari permainan gamelan Cirebon ialah bahwa ia menghasilkan suara yang bergairah dan seolah-olah selalu dalam suasana keramaian besar. Alat tubuh mengisi udara dengan pola-pola padat yang agak mirip dengan pola suara gamelan Bali yang agung. Mungkin sekali dahulu kala sumber gamelan Cirebon pernah dekat dengan sumber gamelan Bali yaitu dalam masa kerajaan Kediri abad ke 14 di jawa timur. Gamelan Cirebon mengandung permainan lagu yang padat dengan irama yang nyaring. Unsur bunyi yang berimbang dengan sangat bagus, suara nyaring yang menggema terus-menerus, kalau di jawa tengah sering disebut rical.

 

Tetapi sifat suara rical musik Jawa sangat halus. kalau dibandingkan dengan alam pedesaan Cirebon, rical jawa tinggal bayangan pudar. Ada cukup alasan untuk percaya bahwa gamelan Cirebon berasal dari pola suara yang kuno, sesuai dengan adat gamelan di abad ke 17, zaman jayanya Mataram dan daerah pesisiran Jawa. Bedanya di kraton Jawa tengah kemudian gamelan berkembang agak lain.

 

Para pemain gamelan Cirebon umumnya merupakan kelompok yang tersusun erat. Belum lama berselang tidak ada wanita penyanyi atau pesinden, yang di jawa tengah memegang peranan yang penting. Di Cirebon, gamelan, baik corak jawa atau timur maupun gamelan Sunda atau corak barat mengagumkan pemain Cirebon, dan pengaruh keduanya sangat kuat. Tetapi banyak orang Cirebon masih mengikuti adat gamelan yang kuno dan mempertahankan cara lama; itu berarti hanya prialah yang menyanyi dan memakai teriakan yang stereotip dan staccato untuk penghiasan lagu.

 

masih terdapat beberapa alat musik kuno yang tidak dilupakan. Misalnya BERI, berupa sepasang simbal yang tebal yang bersuara ngencreng. Ada juga KEMANAK yang berupa sepasang pipa kecil yang saling dipukulkan. Suaranya nyaring dan tinggi. Kedua alat ini melatarbelakangi suara gamelan dan memperkuat daya iramanya. malah ada lagi kelompok GENTA— Alat musik yang bebentuk pohon penuh dengan lonceng-lonceng kecil yang dipakai untuk memperkuat irama rical.

 

Ada lagi gamelan yang berbeda dan agak bertentangan sifatnya, seperti alat gesek atau rebab dan gambang. Suaranya agak dekat pada suara manusia yang sedang mélange. dan sangat halus sifatnya apalagi di tengah tabuhan gamelan.

 

kadang-kadang dipakai sebuah kendang besar dengan suara sangat rendah bernama JIDOR. kebanyakan ini terdapat pada gamelan Kraton dan merupakan lambang yang berhubungan dengan agama. jidor memegang peranan penting, terutama pada hari raya Islam. Dasar pokok dari semua susunan gamelan ialah umumnya sekelompok alat tabuh yang berbeda satu dengan yang lain. Diantaranya ada yang husus untuk irama dan ada yang husus untuk lagu. Tidak ada satu pun yang berdiri sendiri atau terdapat husus di luar susunan gamelan. Gabungan ini dikenal sebagai gamelan. Malah banyak gamelan yang terdiri hanya dari beberapa alat tabuh yang pokok ditambah sebuah atau dua buah kendang.

 

Diantara alat tabuh terdapat dua atau tiga gong dari berbagai ukuran dan di laras rendah atau dalam ukuran bass. Alat ini digantungkan pada ancak dan sepintas lalu kelihatan sebagai alat yang sangat penting. Gong yang paling besar bergaris tengah 80-90 cm. malah kadang-kadang dalam hal yang luar biasa sampai semeter lebih. Ia mengambil tempat yang paling pokok dan berlaras suara rendah yang gampang muncul diantara semua suara di dalam gamelan. Alat lain berbentuk deretan gong kecil dalam berbagai ukuran, ditempatkan diatas ancak kayu secara berbaring. Diantaranya ada sepasang KEBLUK yang memainkan alunan suara yang terus-menerus dan terpendam secara halus. Selain itu ada alat SARON dengan rangkaian bilah-bilah logam. Alat ini melayani sifat berlagu dalam susunan seluruhnya.

 

Beberapa kendang yang besar dan yang kecil dapat dimainkan dalam dua cara. Satu cara ialah memainkannya dengan tangan, ini dilakukan untuk gaya umum. Cara yang lain ialah untuk mengiringi penari topeng, harus dimainkan dengan tongkat dari kayu sebagai alat pemukul.

 

karena permainan kendang dan gong, irama untuk tari dan drama menjadi sangat berkesan. Untuk pengertian husus, hubungan antara gerak dan gamelan sangat baik di pahami. Sesuai dengan dasar klasik segala musik, selalu unsur gerak atau kinetik dapat diperhitungkan. Hal ini boleh jadi sifat pokoknya. Menerangkan musik dari sudut gerak tidak merupakan sesuatu hal estetik saja. Alat seperti kebluk yang sederhana bisa menjadi bukti. Alunan suaranya dengan bunyi yang bersuara tunggal sering disebut pemelihara lekancara warna lagu itu. Tapi sebenarnya kebluk merupakan cara untuk menghidupkan rasa irama. Untuk mendapakan cara yang sebenarnya, orang dapat mencoba memainkan kebluk ini dengan gaya semestinya.

 

Ciri gamelan di Cirebon ialah dapat menyatunya beberapa alat-alat ini baik semua, maupun sebagian. Seluruh nada tinggi sampai rendah dapat mencapai satu rentetan nada sampai tiga puluh, yaitu enam oktaf. Gamelan semacam ini memerlukan enam sampai enambelas orang pemain. Biasanya mereka adalah pemain setengah profesional, pria semua dan biasanya petani. Lagu-lagu yang dikuasainya berjumlah antara 10-20 buah dari bermacam-macam jenis. Gaya permainan lagu merupakan hal yang sama pentingnya dengan motif lagu dan irama, karena pemain mengiringi bagian-bagian lagu berikut adat dan cara memainkannya.

 

Di Cirebon memang ada perhatian besar kepada musik dan pengaruhnya, hal ini diimbangi oleh pengaruh sosialnya. Kiranya kurang tepat untuk menyelidiki penghasilan seorang pemain. Pendapatannya jauh dari seimbang dan mungkin kurang berarti. Sumber keuangan diperoleh dari dana pribadi atau dana umum, biasanya karena suatu perayaan kelompok atau keluarga dan hanya sekali-kali ada kemungkinan yang lain, dan inilah merupakan suatu ciri apa yang dimaksud dengan kata tradisi.

 

LARAS

 

Seperti di daerah-daerah lain di pulau jawa, di Cirebon pun kebanyakan gamelan dimainkan dengan salah satu dari dua deretan tangga nada laras. Deretan laras sangat beda, baik di antara mereka, maupun dengan deretan laras yang mana saja di dunia ini. Deretan tangga nada dapat dikenal dari jedanya yang khas untuk masing-masing laras.

 

karena alat tabuh dibuat dari logam yang biasanya perunggu, maka nadanya jadi tetap untuk selamanya. karena itu ada dua pasang gamelan masing-masin untuk satu deretan laras saja.

 

Orang membedakan antara gamelan berlaras slendro dan berlaras pelog. Mungkin lagu gamelan slendro dapat dimainkan pada gamelan pelog, Mungkin lagu gamelan slendro dapat dimainkan pada gamelan pelog., tetapi hal ini tidak selalu berhasil dan paling sedikit kedengaran sangat beda. Ada pecinta dan pemain musik yang sengaja memilih hanya salah satu dari dua laras dan ingin supaya lagunya terdengar husus pada pelog atau husus pada slendro. Pertimbangan esteteik dan rasa memegang peranan pada pilihan demikian.

 

kebanyakan musik dimainkan untuk upacara adat atau untuk menyambut tamu. dahulu, pada kesempatan seperti ini, yang juga dipakai orang cirebon untuk menari, biasa dimanikan pada gamelan pelog. Walaupun tidak selalu, tapi rupanya sering wayang kulit klasik diiringi dengan gamelan slendro. Seni wayang kulit dikuasai seluruhnya oleh DALANG yang menyarakan wayang. Ditangannya terdapat wayang kulit yang bayangannya dibuat sebegitu rupa sampai kelihatan pada layar putih yang agak tipis. Dalang duduk dibawah lampu DULANG yang menghidupkan bayangannya wayang. Ia disebut dalang karena ia terhormat dan mendapat kedudukan yang sangat terpandang. Dalang menjadi seniman dan penyanyi, mendapat pengakuan sebagai tokoh penting di dalam masyarakat. Para dalang sering juga dikenal sebagai ahli tari topeng, dan penari topeng sebaliknya sering memang disebut dalang, baik lelaki maupun perempuan. Seorang dalang yang tergolong keluarga dalang yang turun-temurun menurut adat dianggap seolah-olah sebagai pendeta dalam masyarakat ramai. Barangkali keturunan keluarga seniman yang dahulu meninggalkan kerajaan Hindu sekitar kediri di Jawa timur, guna membawakan seni dan falsafahnya keliling pantai utara Jawa. beberapa diantaranya kemudian menetap di Cirebon dan kini ada yang memiliki gamelan. Seni dalang ini bukti jelas tentang daya klasik pada musik dan nyanyian Cirebon. Kini orang masih dapat melihat seorang dalang dengan kotak wayang dan gamelan lain naik pedati Cirebon, dan hari berikutnya mungkin siap pulang dengan mini bis colt, atau sebaliknya.

 

PERTUNJUKAN WAYANG

 

Jalannya pertunjukan wayang kulit berlangsung semalam suntuk dan mengandung beberapa bagian yang diatur sesuai tabiat musiknya. Adat seninya menginginkan sewaktu-waktu adanya perubahan suasana dan perubahan nada musiknya berhubungan dengan suara dalang. Inilah yang disebut PATUT atau PATET. Menurut kebiasaan, sepanjang pertunjukan patut gamelan sering diganti lima kali dan menggunakan kelima nada deretan laras sebagai suara pokok pengenalnya.

 

Di masa lampau pertunjukan wayang juga masih memerlukan hadirnya sebuah alat musik tunggal khusus yang disebut GENDER. Alat ini terdiri dari sepuluh daun perunggu yang digantung diatas sepuluh pipa banbu. Pipa bambu bertugas sebagai alat gema untuk nada perunggu masing-masing. Ini berguna sekali dan membuat suaranya amat empuk. Gender ialah sangat jarang dipakai. Sebabnya ialah kekhususan dari pemain yang ahli. dahulu, pemainnya seorang wanita, yang sering adalah keluarga dalang atau bahkan istrinya. Lagu dan permainannya sangat indah. musiknya ada dua bagian, satu untuk tangan kiri dan lainnya untuk tangan kanan si pemain. Pola lagunya sesuai dengan sifat wayang tertentu seperti adanya rasa kesenangan, kemurungan ataupun kecanduan, dan sebagainya. Pengender menyertai suara dalang dengan pola khusus, yang disebut antara lain PATUTAN, GONJLING PLING dan GERUSALAN. Tapi kalau adegan wayang jadi lebih ramai, suara gender menghilang tertutup suara gamelan dengan irama dan nada perang.

 

SEJARAH MUSIK

 

Rupanya musik dan tari di Cirebon diwujudkan khusus dalam masa peralihan dari jaman pertengahan sampai masuknya agama Islam. Kerajaan Pajajaran Hindu tidak sudi menghadapi gerakan agama baru dibawah tanah. Dikisahkan tentang suatu masyarakat agama di Gunung jati dekat Cirebon yang menyelenggarakan perguruan. Ruang lingkup pendidikan lebih luas daripada pendidikan agama di Pesantren. Musik dan tarian juga dilatih disana, karena seorang pemimpin kesenian rebana Pengeran Panggung berdiri di belakangnya. Sekarang ini dianggap pahlawan pelindung kesenian.

 

Pada masa itu orang membentuk bermacam-macam perkumpulan untuk menyanyikan nyanyian pujaan baik oleh pria, maupun wanita. Nyanyian diiringi dengan semacam gendang rebana. Beberapa perkumpulan seperti itu masih ada dan anggota-anggotanya tetap menyelenggarakan yang disebut seni BRAI –dari kata asli birahi. Yang terkenal ada di desa Bayalangu.

 

Dahulu pendidikan diadakan di luar lingkungan kota dan kraton. Kebiasaan ini sekarang juga dilanjutkan oleh pemerintah daerah. Seperti halnya dengan kerajaan-kerajaan di bali, kegiatan seni diadakan dan dikembangkan dalam lingkungan desa, dan kraton-kraton berperanan sebagai penunjang dan pelindung. Dengan demikian pusat perkembangan seni memang terdapat di desa dan khusus di kalangan seniman. Teristimewa musiklah yang merupakan kegiatan desa. Gambaran ini pada umumnya terdapat di seluruh Indonesia; hanya di jawa tengah, kraton-kraton kemudian mengambil peranan langsung dalam menggiatkan berbagai cabang kesenian.

 

SEKEDAR DONGENG

 

Ada gamelan yang khusus dan terkenal karena petualangannya. Di DIY terdapat sebuah gamelan Cirebon yang termasyhur. Gamelan ini disimpan di museum SANA BUDAYA dimuka keraton Sultan, dibawa ke Yogyakarta sabagai harta bekal pernikahan putri Cirebon yang akan menikah di sana. Gamelan itu lengkap sekali dan membawa laras pelog. Gamelan mempunyai nama sendiri disebut Mega Mendung atau Awan yang gelap. Nama itu bukan karena suatu kejadian yang tidak menguntungkan, melainkan karena bentuknya agak besar. malahan dalam kepercayaan orang Cirebon, awan gelap membawa rezeki, karena merupakan tanda akan hujan, sehingga tanah gersang dapat menjadi basah dan subur. Kayu ancaknya pernah diukir dengan bagus sekali dan berpola awan, mengandung suatu ragam hias khas Cirebon. banyak orang luar berkenalan dengan gamelan Cirebon pada waktu mereka mengunjungi museum Sana Budaya ini. gamelan Mega Mendung ini ada kaitannya dengan sejarah revolusi Indonesia, karena pada ahir tahun 1945, waktu Yogya diserang oleh kapal terbang musuh, ada peluru nyasar yang mengenai gamelan ini, dan sejak itu gamelan ini tidak dimainkan lagi.

 

Jikalau pemain gamelan menggoyangkan badannya menurut irama lagu, keindahan irama di dalam musik kuno ini terungkap dengan jelas sekali.

 

Dalam kraton tersimpan juga sebagai barang pusaka, gamelan degung yang dulu sering dipakai waktu musim panas, untuk memohon datangnya hujan. Alat degung ini menjadi contoh dari semua alt degung di Jawa Barat, yaitu di Bandung, Sumedang dan Cianjur. Dulu para pemain degung di dalam linkungan kota tersohor karena seni suaranya. gaya seni suara yang sekarang dikenal dengan DEGUNG CIANJUR memang berasal dari pedesaan Cirebon. Ada pula bentuk kuno gamelan yang disebut gong renteng. memang gamelan renteng tersebut di seluruh Jawa Barat, termasuk Cirebon dan Indramayu. lagu gong renteng di desa-desa cukup bergaya untuk mengiringi tarian dan arak-arakan. Ada kalanya renteng menyertai tari kuda lumping dan penarinya bisa berjalan dibara api dalam keadaan kesurupan yang bersemangat. Akan tetapi semacam gong renteng terdapat juga di tempat-tempat lain di Indonesia dan Filipina. Seperti di Lampung, Minangkabau, Batak, Kalimantan, Ternate, Ambon dan Timor semua menganggap alat pusaka yang membawa kehormatan pada pemilik

 

Dikutip dari;
Buku berjudul; Cerbon
Penulis; Tim Yayasan Mitra Budaya Indonesia
Penerbit Yayasan Mitra Budaya Indonesiadan sinar harapan

Diterbitkan di:  on April 3, 2009 at 9:27 am Tanggapan (2)