Bahasa Cirebon yang selama ini menjadi salah satu mata pelajaran bahasa daerah yang diajarkan sebagai muatan lokal di Cirebon dan sekitarnya terancam kelangsungannya oleh rencana pemerintah menghapus muatan lokal dari kurikulum pendidikan nasional.

Demikian diungkapkan budayawan dan sejarawan Cirebon TD Sudjana di Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar), hari Rabu (21/5). TD Sudjana adalah penyusun Kamus Bahasa Cirebon dan termasuk salah satu tokoh yang memperjuangkan bahasa Cirebon menjadi bagian muatan lokal dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 12 tahun silam.

Kekhawatiran tokoh yang akrab dipanggil Pak Djana itu didasari pada kenyataan bahwa selama ini perhatian pemerintah terhadap muatan lokal, terutama bahasa daerah, sangat rendah. “Di zaman sentralisasi dulu, pemerintah seolah tidak peduli pada pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal, apalagi sekarang mau dihapus sama sekali dari kebijakan kurikulum nasional,” katanya.

Sudjana juga meragukan, apabila penentuan muatan lokal diserahkan ke pemerintah kabupaten/kota masing-masing, pengajaran dan pembelajaran bahasa daerah akan lebih baik dari masa lalu. “Jangan-jangan malah lebih tidak peduli,” ujarnya prihatin.

Ia mencontohkan pada saat awal perjuangan memasukkan bahasa Cirebon menjadi mata pelajaran yang diajarkan di daerah-daerah pemakai bahasa itu, yaitu di Kota/Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, 12 tahun lalu. Pada waktu itu, pemerintah pusat memberi kewenangan kepada masing-masing pemerintah daerah menentukan muatan lokal bahasa daerah masing-masing. “Pada awal penyusunan materi pelajaran bahasa Cirebon, ada tim yang beranggotakan orang- orang dari seluruh Wilayah III Cirebon. Tetapi, setelah pemerintah memutuskan bahasa Cirebon menjadi muatan lokal, tim itu justru pecah dan sibuk mengurusi daerah masing-masing,” kata Pak Djana.

Sudjana mengharapkan agar pemerintah daerah terutama Pemkot Cirebon, Pemkab Cirebon, dan Pemkab Indramayu tidak menghapus bahasa Cirebon dari muatan lokal pendidikan dasar dan menengah di daerah masing-masing. “Jika tidak, saya khawatir bahasa Cirebon tidak lagi dipelajari orang dan lama-lama tidak diakui sebagai salah satu bahasa daerah resmi,” tuturnya.

Bahasa Cirebon, menurut TD Sudjana, adalah bahasa daerah yang unik dan berkembang di pesisir utara Jabar bagian timur. Bahkan, pengaruh bahasa Cirebon masih ditemui di bekas wilayah Kesultanan Banten di ujung barat Pulau Jawa. Saat ini, bahasa Cirebon dipopulerkan lewat lagu-lagu tarling dangdut Cirebonan.

Bahasa yang selintas terdengar mirip dengan bahasa Jawa dialek banyumasan tidak dapat digolongkan bahasa Sunda maupun bahasa Jawa. Selama ini, orang awam menduga bahasa Cirebon adalah peleburan antara bahasa Jawa dan Sunda karena letak Cirebon di perbatasan Jabar dan Jateng.

“Tetapi, sebenarnya bahasa Cirebon memiliki keunikan tersendiri dan dapat digolongkan bahasa daerah yang mandiri. Itu sebabnya saya memperjuangkan bahasa Cirebon menjadi muatan lokal dan menyusun kamusnya,” papar Pak Djana.

Menanggapi kekhawatiran TD Sudjana, Wali Kota Cirebon Subardi menegaskan, pelajaran bahasa Cirebon tidak akan dihapus dari kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah di Kota Cirebon. “Sudah banyak usulan yang menghendaki adanya alokasi satu jam pelajaran khusus untuk pelajaran bahasa Cirebon,” kata Subardi. (dhf)

Dijukut sing http://www2.kompas.com kesuwun ya Kang…

About these ads