Arsip untuk Januari, 2009

Jogregan Lamsijan

Lamun kelingan ning Cerbon, isun kelingan karo “Jogregan’-nye Lamsijan ning Koran Mitra Dialog. Bengiyen, koran’ne masih aran Pikiran Rakyat Edisi Cirebon, tapi sekiyen wis ganti dadi Mitra Dialog.

 

Mbuh, kenang apa diganti aran’ne kuh,…mrana pada takon’na ning Pemimpin Redaksi’ne yah ?

 

Sing awit cilik, seneng pisan lamun maca Jogregan mau. Basa’ne lucu, lan khas. Lamun jare istilah bahasa Indonesia sih ‘membumi’.  Tokoh utama’ne aran Lamsijan. Pasti si Lamsijan iki sing nongol ning Jogregan. Bli pernah ganti.

 

Lamsijan, lamun jare wong – wong tuwa ning desa kita sih tokoh ‘cepot’ wayang golek cerbonan. Lah, pas pisan lamun dadi tokoh utama’e. Pinter temen sing dadi penulis’e, njukut aran Lamsijan mau. Coba lamun aran’ne diganti karo Charles Ronaldo, pasti bli pada di senengi ning wong – wong Cerbon.

 

Cerita Jogregan ‘membumi’ lantaran pas karo kondisi Cerbon. Pas tokoh’e, pas cerita’ne, pas bahasa’ne. Bahasa’ne enak, bli nganggo bahasa wong intelek sing duwur – duwur . Tapi nganggo bahasa wong cilik’kan, cocok karo isun sing bli ngerti apa – apa. Lamun jare istilah majalah Tempo sih, enak diwaca lan perlu.

 

Sekiyen, isun wis adoh saking Cerbon…priben ya kabare Jogregan mau ? Masih ana bli yah? Atawa, wis ilang saking bumi Cerbon?….

 

Aja sampe ilang sih, Kang Lamsijan!

Memayu Ki Buyut Trusmi

Datangnya musim hujan disambut suka cita di Cirebon. Masyarakat menyambutnya dengan tradisi memayuh Ki Buyut Trusmi. Dalam pesta rakyat ini sejumlah pusaka warisan Ki Buyut Trusmi serta hasil bumi dikirab. Arak-arakan juga dimeriahkan tarian langka.

Arak-arakan ini merupakan bagian dari prosesi memayuh Ki Buyut Trusmi. Tradisi menyambut datangnya musim hujan di Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah pusaka warisan Ki Buyut Trusmi serta hasil bumi ikut dikirab dalam prosesi ini. Serta dimeriahkan tari-tarian langka.

Sejak pagi peserta arak-arakan sudah memenuhi jalanan. Ribuan warga juga tumpah ruwah disepanjang jalan. Mereka datang tidak saja dari sekitar kota Cirebon, tapi juga Majalengka, Indramayu dan Kuningan.

Pada barisan terdepan, 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi dibawa para kemit, petugas jaga makam keramat.

Prosesi kirab ini dimulai dan berakhir di Makam Ki Buyut Trusmi dengan mengambil rute memutar sekitar 6 kilometer melewati jalan Pantura – Plered. Prosesi berlangsung sekitar 3 jam, sehingga ruas jalur Pantura – Plered ditutup total.

Setelah rombongan pembawa tombak pusaka, barisan berikutnya adalah para sesepuh Trusmi dan para pejabat tingkat kecamatan Plered dan Weru, Cirebon. Kemudian disusul barisan pembawa ranting bambu.

Kulit atau atap rumbia ini akan dipasang di komplek makam keramat Ki Buyut Trusmi. Pengantian atap juga berarti persiapan memasuki musim hujan. Tradisi memayuh ini merupakan perwujudan rasa syukur atas datangnya musim hujan. Bagi para petani, datangnya musim hujan merupakan berkah dari Tuhan, sehingga mereka dapat bercocok tanam.

Dalam prosesi ini, tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi juga ikut dikirab.

Bagi warga, tradisi memayuh ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi.

Mereka percaya benda-benda ini mengandung berkah karena sudah didoakan oleh para sesepuh. Selain pusaka dan hasil bumi, arak-arakan juga menampilkan sejumlah tari-tarian khas rakyat seperti tari Babak Yoso dan Tari Angun.

Tarian ini tergolong langka karena sudah jarang ditampilkan. Tari Babak Yoso merupakan tari perjuangan rakyat Trusmi dalam melawan penjajah Belanda. Dengan senjata tombak di tangan, para penari pria dan wanita menari dengan gagah.

Arak-arakan juga dimeriahkan sejumlah atraksi seperti kudang lumping, jakungan dan drum berjalan. Untuk menarik perhatian, sejumlah warga dan anak-anak dilumpuri cairan arang bercampur minyak.

Prosesi memayuh ini berakhir di komplek Makam Ki Buyut Trusmi. Seluruh warga yang terlibat kirab ditandai dengan acara makam bersama.

Sebagian warga berziarah ke Makam Ki Buyut Trusmi. Ziarah itu dilakukan sebagai penghormatan atas jasa Ki Buyut Trusmi sebagai salah seorang tokoh penyebar agama Islam pada zaman Kerajaan Cirebon.

Sebagian warga menganggap Ki Buyut Trusmi adalah Mbak Kuwu Cirebon yang merupakan paman Sunan Gunung Jati dan orang yang pertama kali membuka pendukuhan Cirebon.

Namun menurut versi Keraton Kanoman dan Kasepuhan, kedua tokoh tersebut adalah dua orang berbeda. Konon Ki Buyut Trusmi mahir membuat batik dan mengajarkannya ke masyarakat sebagai media dakwah.

 

Ketrampilan membatik tersebut tetap bertahan hingga kini, sehingga daerah itu dikenal sebagai sentra penghasil batik. (Helmi Azahari/Sup)

kesuwun kanggo http://www.indosiar.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun, Kang!

Masjid Merah Panjunan

Masjid Panjunan di Cirebon lebih mirip surau karena ukurannya yang kecil ketimbang sebuah masjid. Hanya sekitar 100 jemaah shalat bisa memadatinya. Pada shalat dhuhur sehari-hari, hanya sekitar 20 orang bergabung dalam deretan jemaah.

 

Tapi, inilah masjid yang hidup. Selain menjadi tempat shalat, kita bisa menyaksikan seorang guru mengajar mengaji anak-anak di situ sore hari. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, baik ketika orang bahkan dari luar kota berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

 

Lebih dari segalanya, inilah masjid tertua di Cirebon, dan mungkin salah satu yang tertua di Jawa, yang menjadikannya unik. Berdiri di sebuah pojok bagian kota tua Cirebon, masjid ini menyimpan sejarah panjang. Dia didirikan pada 1453, lebih tua dari Masjid Agung Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530), dan Masjid Agung Keraton Kasepuhan Cirebon sendiri (1549).

 

Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok di masjid ini sehingga dia juga sering disebut Majid Merah. Bangunan bata ini merupakan warisan arsitektur kuno Hindu-Majapahit.

 

Masjid ini terletak di kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik proselen dan didirikan oleh Pangeran Panjunan yang merupakan murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Sembilan Wali, penyebar Islam di Jawa. Menurut risalah kuno Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

 

Pangeran Panjunan dimakamkan di Plangon (12 km barat-daya Cirebon). Makamnya merupakan salah satu tujuan ziarah penting di Cirebon, terutama pada 27 Rajab, ketika sebuah upacara tahunan digelar untuk memperingatinya.

 

Meski nuansa Arab tak terelakkan bila dilihat tradisi minum gahwa, ornamen masjid ini, seperti bangunan kuno lain di Cirebon, sangat kental dipengaruhi oleh seni tradisional Tionghoa. Piring-piring porselen asli Tiongkok menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon dan bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di kota itu.

 

Sebuah legenda menyebutkan, keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Tak jauh dari masjid itu terdapat kuil Buddha kuno–Vihara Dewi Welas Asih, yang didominasi warna merah juga.

 

Fakta kuatnya pengaruh Tionghoa menerbitkan spekulasi sejarah, yang masih diperdebatkan sampai sekarang, bahwa orang-orang Tionghoa lah, bukan pedagang Gujarat, penyebar Islam pertama di Jawa. Keislaman China memang lebih tua ketimbang Jawa. China telah mengenal islam disaat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.

 

Lepas dari semua kontroversi, Masjid Panjunan mewakili sikap kosmopolit hasil persilangan budaya sejak dahulu kala. Simbol lain dari percampuran budaya ini juga nampak dalam ornamen kereta Paksi Nagaliman. Kereta kebesaran kesultanan Cirebon di masa lampau itu berbentuk hewan bersayap, berkepala naga, dan berbelalai gajah (ganesa). Hal itu menyiratkan makna bahwa budaya Cirebon terbentuk dari tiga kekuatan besar, yakni kebudayaan Cina (naga), kebudayaan Hindu (gajah), dan kebudayaan Islam (liman). Cirebon sendiri berasal dari kata caruban, atau campuran.

 

Pengaruh Tionghoa sebenarnya tidak hanya menancap dalam arsitektur, melainkan juga dalam seni topeng yang karakternya mirip tokoh Opera Peking; dalam seni batik Trusmi; serta dalam seni lukis kaca yang masih hidup sampai sekarang.

 

Cirebon mewakili sejarah pertemuan Islam-Tionghoa yang sangat mewarnai kota-kota pesisir utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, kota-kota yang pernah dikunjungi Cheng Ho, seorang panglima dan pengelana muslim dari Dinasti Ming.

 

Cheng Ho tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia yang dulu Nusantara. Budaya Sino-Javanese Muslim Cultures yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa.

 

Pada 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring bertuliskan ayat Kursi yang kabarnya masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

 

Tradisi masyarakat Cirebon mengenal tokoh Islam Tionghoa yang klasik, seperti Tan Eng Hoat (Maulana Ifdhil Hanafi), Tan Sam Cai alias Muhammad Syafii (ahli moneter di masa awal kesultanan Cirebon), dan Kung Sam Pak atau Muhammad Murjani (keturunan Kung Wu Ping, pendiri mercusuar Cirebon). Bersama Sunan Gunung Jati, tokoh-tokoh China muslim itu bahu-membahu menyebarkan Islam sekaligus memperluas teritorial Kesultanan Cirebon ke seantero Jawa Barat.

 

Masjid Panjunan, dan sejarah Cirebon pada umumnya, mencerminkan sikap saling-menghargai antar-budaya dan antar-keyakinan sejak dahulu kala, suatu hal ironisnya meluntur belakangan ini.

 

kesuwun kanggo http://kontekaja.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun, Kang

Obrog

Sebagai tradisi khas bulan Ramadhan, makna kesenian obrog di Cirebon dan Indramayu telah bergeser. Ini adalah salah satu ciri kesenian daerah pantai utara yang dihidupi oleh pendukungnya, yaitu rakyat kebanyakan.

Obrog adalah tradisi warga Indramayu dan Cirebon membangunkan orang untuk sahur. Inti dari kesenian ini adalah membuat bebunyian keras pada dini hari sambil berjalan berkeliling permukiman.

Uniknya, saat Lebaran masyarakat akan memberi uang, beras, atau makanan sebagai tanda terima kasih telah dibangunkan sahur selama bulan puasa.

Rektor Universitas Wiralodra Ir Tohidin MP mengatakan, selain fungsi religius, obrog juga menjadi media komunikasi sosial masyarakat. “Di sini, kita melihat hubungan timbal balik antara pemberi dan penerima manfaat,” ujar Tohidin, Jumat (6/10).

Pengamat kebudayaan Indramayu, Supali Kasim, mengatakan, ada beberapa tradisi membangunkan warga untuk sahur di pantai utara (pantura). Misalnya, kempling, yakni membangunkan warga secara berkeliling menggunakan gamelan lengkap. Karena tidak praktis, budaya ini kalah populer dengan obrog yang alat musiknya bisa dijinjing dengan mudah.

Kata obrog berasal dari bebunyian yang dihasilkan alat musik semacam kendang. Sebagai tradisi masyarakat, sulit ditelusuri kapan tradisi ini berawal. “Kesenian ini berkembang ketika masyarakat wilayah pantura sadar bahwa kesenian merupakan hiburan massa,” kata Supali.

Saat ini yang lazim disebut obrog adalah permainan organ tunggal dengan biduan wanita menyanyikan lagu-lagu dangdut populer. Namun, hal itu berbeda dengan obrog pada masa lalu.

Karena merupakan kesenian rakyat, obrog tidak sakral dan bisa berubah sesuai dengan pergeseran selera masyarakat.

Supali mengatakan, obrog mengalami perubahan dari waktu ke waktu tergantung tren yang sedang berlaku pada masa itu. “Obrog zaman dahulu hanya menggunakan alat musik tradisional. Pelakunya hanya laki-laki karena perempuan dianggap tidak pantas keluar malam,” ujar Supali.

Pada tahun 1985-an, obrog banyak dimainkan oleh grup dangdut kelas pinggiran dengan perangkat musik yang lengkap. Teknologi karaoke yang marak pada 1990-an turut mewarnai perkembangan obrog. Beberapa tahun belakangan obrog banyak dimainkan dengan organ tunggal.

Selain pergeseran bentuk, Supali melihat pergeseran orientasi. “Dahulu, bermain obrog kental dengan tujuan religius. Atau, kalaupun tidak, bermain obrog didorong unsur kesenangan bermain musik,” katanya.

Sekarang, lanjut Supali, tradisi obrog tak bisa lepas dari tujuan ekonomi untuk memperoleh pendapatan. Ini nyata terlihat dari adanya saweran dan pembayaran uang untuk permintaan lagu.

Bahkan, banyak grup organ tunggal sudah memulai permainannya pukul 22.00. Tentu saja masih terlalu dini untuk membangunkan orang sahur.

“Sebab itu, ada pihak yang sebenarnya kurang setuju dengan bentuk obrog yang sekarang,” ujar Supali.

Meski demikian, sejauh ini obrog organ tunggal tetap populer. Pihak yang kurang berkenan juga tidak pernah mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan aksi anarkis. (LSD)

Tradisi Ramadhan

 
- Obrog: Tarling keliling untuk membangunkan orang menjelang sahur di wilayah Indramayu dan Cirebon.

- Drugdag: Memukul beduk di Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon- dilakukan tengah malam selama Ramadhan.

- Nyadran: Mendoakan keluarga yang telah wafat, dan dilakukan di bulan Syaban dengan berziarah kubur dan bersedekah.

- Papajar: Acara doa dan makan bersama di Cianjur menjelang puasa Ramadhan.

kesuwun kanggo http://www2.kompas.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun Kang…!

Angklung Bungko

Peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia pada tanggal 22 Juni 1527M, diawali dengan kegagalan kerajaan Islam Demak mengusir Portugis di Malaka (1512-1513 M). Militer Portugis yang dipimpin Alfonso D’Alburqueqe menjadi arogan, dan terus mengintai kerajaan-kerajaan di pulau Jawa untuk dijadikan negeri jajahannya. Portugis berpikir tentang bagaimana caranya agar Demak dan kerajaan lainnya di pulau Jawa dapat dikalahkan. Terpikir oleh mereka untuk mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang merupakan musuh bebuyutan, tetapi memiliki wilayah yang cukup potensial yakni Pakuan Pajajaran dan Pasuruan. Kesepakatan kerjasama kemudian dilakukan dengan kerajaan Pajajaran pada tahun 1522 M di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Tugu. Pihak Portugis diwakili oleh Henrique Leme, sedangkan kerajaan Pajajaran diwakili oleh Sang Hyang atau Samyam (De Graff dan Th Pigeud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram).

Sesuai perjanjian tersebut, Portugis berhak membangun pos pertahanan di Sunda Kalapa. Melihat hal ini, Cirebon selaku penguasa daerah Banten yang bedekatan dengan Sunda Kalapa, merasa tidak nyaman dengan kehadiran Portugis yang semakin lama semakin meresahkan.

Sebagai sekutu Cirebon, Demak segera mengirimkan pasukan ke Cirebon dan mengutarakan maksudnya kepada Sunan Gunung Jati untuk membantu Cirebon menaklukkan Sunda Kalapa.

Pasukan Demak yang dipimpin ulama kharismatik Tu Bagus Pasei atau Fadillah Khan (Fatahillah atau Faletehan) beserta Pasukan Cirebon yang terdiri dari Angkatan Laut Sarwajala dipimpin oleh pendekar Ki Ageng Bungko, Angkatan Darat Yudha Laga dipimpin oleh Pangeran Cirebon, dan pasukan khusus Singa Bharwang Jalalullah yang terdiri dari para pendekar harimau dipimpin oleh Adipati Cangkuang, serta sepasukan pendekar cadangan yang dipimpin oleh Adipati Keling, kemudian berangkat ke Sunda Kalapa dengan menaiki perahu Bantaleo dengan panji kebesaran kerajaan Cirebon Macan Ali, dan panji kerajaan Demak yang bergambar pedang menyilang bertuliskan kalimat syahadat dipimpin oleh Patih Yudhanagara.

Portugis mendapat serangan dari dua arah, darat dan laut. Meski peralatan perang Portugis lebih modern, namunhal tersebut tidak dapat memadamkan semangat juang pasukan gabungan. Akhirnya pada tahun 1527 M, bertepatan setelah Maulid Nabi Muhammad SAW, pasukan Portugis dapat diusir. Untuk mengenang kejayaan tersebut, Sunda Kalapa diubah namanya menjadi Jayakarta, yang berarti “tempat kemenangan”. Kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Fadillah Khan sebagai bupati Jayakarta dengan gelar Pangeran Jayakarta.

Pada saat ini di Cirebon peristiwa ini diabadikan dalam bentuk kesenian Angklung Bungko, yang di dalamnya terdapat seni silat dan tari Bantaleye dengan nyanyian yang berbunyi:

 

Pring ketupruk-tupruk //Pring ketupruk-ketupruk

Bubung isi merang//Bubung isi merang

Cilik diepuk-epuk//Kecil diempok-empok

Bareng gede maju perang//Sudah besar maju perang

 

Perang ning Betawi//Perang di Betawi

Durung aman during balik//Sebelum menang tidak akan kembali

Balik metu ngalor//Kembali pulang ke Cirebon

Nyangking bedil isi pelor//Merampas bedil dengan pelornya

Dor, dor, do//Dor, dor, dor

 

dijukut sing http://www.wikimu.com kesuwun ya Kang…

Filosofi Topeng Cirebon

Oleh Prof. Drs. JAKOB SUMARDJO

SUDAH lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)?

Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status “pegawai” oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.

Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Di zaman mana?

Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.

Mengandung semua sifat ciptaan

Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Dari: Pikiran Rakyat, Kamis, 29 Januari 2004

Penting

Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon.

 

Jakarta ada di Cirebon

Tanggal 22 Juni 2008 yang lalu Kota Jakarta merayakan ulang tahunnya ke-481. Tidak seperti kota-kota lainnya, Jakarta mengambil namanya sendiri sebagai patokan hari ulang tahunnya. Andaikata Pasar Ikan yang kemudian berganti nama menjadi Sunda Kelapa, yang oleh para ahli diyakini sebagai asal muasal Kota Jakarta menjadi patokannya, pasti umur Kota Jakarta sudah lebih dari 500 tahun.

Nama Sunda Kelapa, menurut Prof. Poerbatjaraka, sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Pajajaran 1335. Bahkan mungkin sejak zaman Kerajaan Tarumanagara (abad IV – V) yang menjadikan Sunda Kelapa sebagai bandar lautnya. Logikanya, bagaimana mungkin agama Hindu bisa tersebar dari India sampai ke bumi Jawa Barat kalau wilayah ini tidak memiliki bandar laut.

Adalah Fatahillah, yang sering disebut Falatehan, panglima perang kerajaan Demak yang merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis yang dipimpin Francisco de Sa, salah seorang anak buah Panglima Angkatan Laut Portugis Vasco da Gama, pelopor pelayaran armada Portugis ke Timur Jauh.

Francisco lantas mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, artinya Hari Kemenangan Akhir. Nama ini kemudian dipilih oleh Fatahillah sebagai peringatan kebrutalan tentara Portugis waktu menyerang dan menduduki Kerajaan Samudera Pasai, kampung halamannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Fatahillah tinggal di Cirebon. Di sana ia menyebarkan agama Islam ke wilayah pesisir utara Jawa Barat sampai akhir hayatnya. Jasadnya dimakamkan di Desa Gunung Jati, Cirebon. Itu sebabnya ia dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo.

Lantas apa hubungannya dengan nama-nama tempat di Jakarta yang mirip dengan nama daerah di Cirebon? Apakah lantaran Fatahillah ingin bernostalgia sehingga mengabadikan beberapa nama di Jakarta untuk dipindah ke Cirebon? Tak ada yang tahu pasti.

Yang jelas, salah satu pasar swalayan teramai di Cirebon bernama Grage Mall. Swalayan ini awalnya sebuah stadion dan kolam renang bernama Gunung Sari. Dinamakan Gunung Sari, karena terletak di Kampung Gunung Sari. Dalam bahasa Sunda Gunung Sari berarti gunung yang indah. Dari tempat itu bisa tampak keindahan Gunung Ciremai di kejauhan. Apalagi pada pagi dan sore hari saat udara cerah. Boleh jadi ini tak jauh berbeda dengan nenek moyang orang Betawi menikmati keindahan Gunung Salak dari wilayah Gunung Sahari. Tentu ini cerita ratusan tahun lalu sebelum Jakarta jadi rimba beton macam sekarang.

Di barat Gunung Sari terdapat Kampung Cideng. Nama itu berasal dari bahasa Sunda ci artinya air atau sungai, dan hideung adalah hitam. Jadi Cideng berarti air payau, atau sungai kotor berwarna hitam. Sebelum terbentuk permukiman penduduk, wilayah ini memang digenangi air payau dengan sungai yang mengalirkan air berwarna hitam. Ini tidak jauh berbeda dengan sungai Cideng di Jakarta yang juga berair hitam. Satu kilometer arah timur laut Gunung Sari terdapat Kampung Kramat. Di timurnya ada Kampung Pegambiran, sementara di selatan ada Cideres atau sungai deras, yang mengingatkan orang pada Kalideres di Jakarta. Kampung-kampung itu kini masuk wilayah Kotamadya Cirebon.

Di luar Kota Cirebon, kira-kira enam kilometer ke utara, ada Desa Grogol. Beberapa kilometer ke barat ada Desa Cangkring, bisa jadi berasal dari Cengkareng. Dari Desa Grogol ke utara ada Desa Srengseng. Ke arah timur Kota Cirebon menuju perbatasan dengan Jawa Tengah, terdapat Kecamatan Losari. Di selatannya ada Kecamatan Ciledug, sementara di baratnya ada Desa Lemah Abang.

Ke arah selatan Kota Cirebon terdapat Desa Pejaten. Ada pula Desa Caracas yang mengingatkan pada nama Ciracas di jalan raya Bogor. Sementara Desa Ciniru mengingatkan pada wilayah elit Cinere. Bila terus ke selatan sampailah di Kota Kuningan sebagai ibukota Kabupaten Kuningan. Sementara daerah Kuningan di Jakarta menjadi salah satu kawasan bisnis Jakarta.

Kalau diadakan penelitian lebih lanjut, mungkin masih banyak nama-nama desa di wilayah Cirebon yang sama dengan nama-nama kampung di Jakarta.

Tulisan iki dijukut sing http://dwiheriyanto.wordpress.com matur kesuwun ya Kang…

Seni Batik Trusmi dari Cirebon

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Di daerah Cirebon ada sebuah desa yang hingga saat ini telah menjadi sentra bisnis batik, nama desa tersebut adalah desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon. Desa ini terletak sekitar 5 km dari pusat kota.

Adalah Ki Gede Trusmi salah seorang pengikut Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni batik di desa tersebut sambil meyebarkan agama Islam (1448-1568). Dengan kelihaian membatik yang diajarkan oleh Ki Gede Trusmi, ternyata banyak memberi berkah bagi para pengikutnya di kemudian hari. Hingga kini makam Ki Gede Trusmi di Desa Trusmi masih terawat baik. Bahkan setiap tahun selalu diadakan upacara “Ganti Welit” (atap rumput) dan “Ganti Sirap” setiap empat tahun sekali.

Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Ada dua corak dalam batik Trusmi, yakni keratonan dan pesisiran. Motif keratonan biasanya memakai ornamen yang diambil dari lingkungan keraton, seperti batu-batuan (wadas), kereta singa barong, naga seba, Taman Arum Sunyaragi, dan ayam alas. Untuk warna pada batik dengan motif keratonan lebih cenderung menggunakan warna-warna gelap, seperti coklat, hitam.

Sedangkan untuk motif peisisiran gambar motifnya lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat seperti dedaunan, pohon, dan binatang laut. Sedangkan untuk warna pada motif pesisiran lebih cenderung ke warna yang lebih terang seperti merah muda, biru laut, dan hijau pupus.

Selain itu salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif “Mega Mendung”, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton.

Bila dibanding dengan batik Yogyakarta, Solo atau Pekalongan, batik Trusmi mempunyai ciri yang berbeda dan khas. Pengaruh ini diakibatkan dengan letak geografis kota Cirebon yang berada di kawasan pantai. Perbedaan yang paling mencolok adalah dari segi warna dan motif. Secara umum, batik asal Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani.

Ani Nurdwiyanti adalah kontributor swaberita dan dapat dihubungi di ani.nurdwiyanti@swaberita.com

matur kesuwun kanggo http://www.swaberita.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun ya ?

Rotan adalah Kehidupan di Tegalwangi

MEMASUKI kawasan Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, segera nyata terlihat bahwa rotan telah menjadi pusat kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Mulai dari pinggir jalan raya pantai utara Cirebon-Palimanan hingga di gang-gang kecil dan kampung-kampung di belakangnya, terlihat kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan rotan.

Mulai dari hilir mudiknya mobil-mobil bak terbuka membawa ratusan batang rotan yang masih mentah, orang-orang yang sedang menganyam rotan sampai toko-toko dan ruang pamer yang memajang berbagai jenis produk kerajinan rotan. Bahan-bahan kerajinan mulai dari keranjang sampah berukuran kecil hingga ranjang berukuran besar, terlihat di ruang-ruang pamer itu, baik yang diperuntukkan bagi pasar lokal maupun pasar ekspor ke seluruh dunia.

Rotan sudah menjadi napas kehidupan masyarakat Tegalwangi secara turun-temurun. Menurut cerita dari mulut ke mulut, orang yang pertama kali mengawali pembuatan kerajinan rotan di Tegalwangi adalah penduduk asli desa itu yang bernama Nyi Tegalmantra atau akrab dipanggil Nyi Mantra, sekitar tahun 1920-an.

Konon, ketika itu Nyi Mantra sering pergi ke Sumatera. Di Sumatera ia menemukan pohon rotan yang unik karena sifat lenturnya. Ia kemudian pulang membawa rotan itu dan mencoba membuat kerajinan tangan dari bahan baru tersebut. Awalnya produk yang dihasilkan hanya berupa keranjang, yang dicoba dijajakan di pinggir jalan raya Tegalwangi, dan ternyata banyak orang yang menyukainya.

Ilmu Nyi Mantra itulah yang kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh masyarakat Tegalwangi lainnya hingga saat ini. Setiap hari, masyarakat Tegalwangi tidak peduli laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, bergulat menekuni kerajinan rotan. Mereka biasanya memproduksi barang-barang kerajinan rotan di rumahnya masing-masing.

Seperti dituturkan Udin (25), anak muda asli Tegalwangi yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai borongan penganyam rotan. Menurut dia, hampir seluruh masyarakat di Tegalwangi menguasai ilmu menganyam rotan menjadi berbagai macam barang kerajinan.

“Sejak kecil saya sudah melihat orang membuat berbagai macam kerajinan rotan, akhirnya lama-lama bisa membuat sendiri. Mulai kelas II SMP, sepulang sekolah saya sudah bekerja menganyam rotan sampai sekarang,” ujar Udin yang hanya sekolah sampai SMP tersebut.

Beril (21) dan Jeffry (18), dua pemuda asli Tegalwangi lainnya, adalah sebagian dari generasi penerus yang mengembangkan keterampilan pertukangan kayu tersebut. Mereka membuat ratusan kerangka kursi sofa dari kayu-kayu pinus dan mahoni dengan sistem upah harian. Setiap hari mereka menerima upah rata-rata Rp 20.000.

Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Cirebon Sumarca mengatakan, saat ini tercatat sekitar 70.000 tenaga kerja yang terlibat dalam jalur produksi kerajinan rotan di Tegalwangi.

“Satu kontainer barang kerajinan rotan yang diekspor membutuhkan sekitar 30-35 orang untuk menyelesaikannya, mulai dari proses pemotongan bahan baku sampai finishing. Jika setiap bulan seluruh pengusaha di Tegalwangi bisa mengekspor 2.000 kontainer, berarti ada 70.000 tenaga kerja yang terlibat,” katanya.

Menurut Sumarca, industri kerajinan rotan saat ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di wilayah Tegalwangi saja, tetapi juga berkembang di wilayah lain Kabupaten Cirebon, bahkan sudah merambah hingga ke Kabupaten Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. “Harga tanah di Tegalwangi sudah terlalu tinggi, mencapai Rp 400.000 per meter persegi, berkat perkembangan industri rotan. Akibatnya, para pemain baru di industri ini memilih mengembangkan pabriknya di luar wilayah Tegalwangi,” paparnya.(DHF)

kesuwun sanget kagem http://www2.kompas.com sing tak jukut tulisane… kesuwun, Lud!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.