Archive for Januari, 2009

Masjid Kasepuhan Cirebon

Masjid itu terlihat kukuh. Pagar tembok setebal 40 cm dan setinggi 1,5 m mengelilingi rapat-rapat. Warna merah bata yang memulas sekujur tembok membuat makin berwibawa saja. Ya, pagar itu merupakan bagian dari Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Sang Ciptarasa. Di dalam pagar yang menyerupai benteng itu, berdiri kukuh masjid yang berdiri sejak tahun 1478 lampau.


Masjid itu didirikan seiring dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Tak heran jarak antara masjid dan keraton hanya terpisah oleh alun-alun kecil seukuran lapangan bola. Menurut sejumlah pengusur masjid, keaslian masjid masih terjaga. Atap menggunakan genteng warna hitam tanah. Sementara dinding masjid menggunakan bata merah setebal 40 cm.


“Bangunan lama masjid hanya di bagian dalam ukuran 20×20 m,” kata Salehudin (57), salah satu pengurus masjid Kasepuhan kepada detikcom, Selasa (9/9/2008). Sulit diterima bila bagian inti masjid merupkan tempat ibadah. Sebab, kokohnya dinding lebih menyiratkan benteng kecil tempat persembunyian.


Untuk memasukinya, hanya ada satu pintu utama yang berukuran normal. Selebihnya, pintu samping kiri dan kanan sangat mungil, hanya berukuran 1  m x 80 cm. Sehingga, perlu merunduk untuk memasuki bagian inti masjid. “Saat penjajah kolonial masih bercokol, masjid ini memang sempat menjadi salah satu persembunyian,” imbuh Salehudin.


Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada “waspada panembahe yuganing ratu”. Kalimat ini bermakna  2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit.


Sunan Kalijaga tidak sendiri, ia dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak. Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.


Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.

Kini, setelah berabad-abad ditinggalkan sang pendiri, aura kebasaran masa lalu masih tercium kental. Kombinasi antara arsitektur masa lalu, pulasan warna yang berkarakter dan tata wilayah yang khas menunjukan daerah itu sebagai pusat  kota pada masa lalu. Selebihnya, masjid di Jl Jagasatru tersebut sangat sejuk, teduh dan cocok untuk mendekatkan diri pada ilahi.

kesuwun kanggo http://ramadan.detik.com sing wis tak jukut tulisane… kesuwun, Kang!

 

Cirebon Ekspres atawa Cireks

Cirebon Ekspres adalah nama kereta api yang dioperasikan oleh PT Kereta Api di Jawa dengan jurusan Jakarta – Cirebon.

Kereta api Cirebon Ekspres diluncurkan pada tanggal 29 November 1989. Produk ini didesain untuk melayani pemerjalan koridor Cirebon – Jakarta. Perjalanan sejauh 219 km ditempuh dalam waktu 3 jam dan hanya berhenti di Stasiun Jatibarang.

KA Cirebon Ekspres menawarkan layanan kelas bisnis dan eksekutif dengan alternatif jadwal perjalanan sebanyak 4 (empat) kereta api per hari dari arah Cirebon – Gambir dan sebaliknya.

Berikut jadwal Kereta Api Cirebon Ekspres :

- Dari Stasiun Gambir : 06.00, 09.35, 11.00, 13.15 dan 18.15

- Dari Stasiun Cirebon : 06.15, 07.30, 10.00, 15.00 dan 18.00

Harga tiket kereta Rp 65.000 atau Rp. 70.000 (dihari libur) untuk eksekutif. dan Rp. 50.000 untuk bisnis.

Ada satu lagi kereta Eksekutif lainnya yang mempunyai rute Cirebon-Jakarta yaitu Argo Jati dengan Jadwal :

- Dari Sta. Gambir : 09.00 dan 17.10

- Dari Sta Cirebon : 05.45 dan 14.00

Sedangkan harga tiket untuk Kereta Argo Jati yaitu Rp. 75.000/Rp. 80.000 (hari libur).

( Tulisan iki dijukut sing akeh sumber, dadi maaf mawon sing bli kesebut aran’ne aja sewot ya Kang… )

Dialek Cerbonan / Dermayon

Sub dialek Cirebon / Indramayu utawa biasa diarani Basa Crebon / Dermayu kuen salah siji sub dialek kelompok basa Jawa wilayah kulon. Sub dialek kien dituturaken ning kabupaten Cirebon karo kabupaten Indramayu Jawa Barat lan ning kota-kota Pantura Jawa Barat yaiku Cilamaya (Karawang), Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara (Subang), Indramayu, Cirebon, Losari Wetan, ngantek sebagian sisi kulon kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

pada umume dialek kien dituturaken kanggo urusan perdagangan nang pesisir lor Jawa Barat sebab jaman bengene kota Cirebon kuwen salah siji kota pelabuhan/bandar utama ning tlatah Jawa, kuwen sekitar abad 15 nyampe abad 17.

Sedurunge, sub dialek kiyen padha bae karo dialek basa Jawa wilayah kulon liyane, perubahan mulai katon mulai abad 17, dialek kiyen mulai kenang pengaruh budaya lokal karo pengaruh basa Sunda. Sakien, dialek Cirebon / Indramayu masih tetap duwe bentuk-bentuk dasar basa Jawa wilayah kulon utamane ning kalimat-kalimat karo pengucapane sing wis ora dienggo maning ning tata basa basa Jawa Baku / Standar (Yogyakarta, Solo karo Semarang / Joglosemar).

Sebagian budayawan Cirebon duwe rasa khewatir sub dialek kiyen mengkone bisa pudar sebab kalah bersaing karo basa Sunda apamaning tlatah Cirebon/Indramayu secara administratif anane memang ning Propinsi Jawa Barat. Alesan sejene program muatan lokal (Mulok) daerah ning sistem pendidikan nasional kuwen kiblate masih ning wilayah administratif Propinsi, dadi muatan lokal ning wilayah Cirebon/Indramayu ialah basa karo budaya Sunda. Tapi kita kudu bangga dadi wong cerbon atawa dermayu, aja sampe kita isin arep ngomong dermayonan atawa cerbonan. kaya bature kita dermayu sing ana ning yogyakarta akeh sing isin ngomong nganggo basa dermayonan karo bature.

sebenere sing luwih akeh jenise basa kuh, yaiku bahasa dermayonan masalahe, hampir tiap beda desa bae logate bede lan bahasane rada beda. contohe kanggo nyebut awake dewek yaiku ana sing kita, reang , inyong, dewek, lan sejen- sejene masih ana. jerene wong tua mah kuen kuh tergantung nenek moyange asline sing ndi? lamon nenek moyange wong sunda ngomomge sedesa sunda kabeh, lamon nenek moyange sing wetan ya ngomonge kaya wong wetan. pengen luwih mendalami sejarahe dermayu maca bae buku babad tanah dermayu.

Kesuwun kanggo http://map-bms.wikipedia.org sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Lud!

Logo atawa Perlambang

logo_kabupaten_cirebon1Logo kabupaten Cirebon, semboyan’e  RAME ING GAWE SUCI ING PAMRIH

 

 

logo_kota_cirebon1

Logo Kotamadya Cirebon, semboyan’e GEMAH RIPAH LOH JINAWI

Geografis Kota Cirebon

LETAK

Kota Cirebon terletak pada 108º33 Bujur Timur dan 6º41 Lintang Selatan pada pantai Utara Pulau Jawa, bagian timur Jawa Barat, memanjang dari barat ke timur ±11 Km dengan ketinggian dari permukaan laut ±5 M (termasuk dataran rendah). Kota Cirebon dapat ditempuh melalui jalan darat sejauh 130 km dari arah Kota Bandung dan 258 km dari arah Kota Jakarta.

Kota Cirebon terletak pada lokasi yang strategis dan menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Letaknya yang berada di wilayah pantai menjadikan Kota Cirebon memiliki wilayah dataran yang lebih luas dibandingkan dengan wilayah perbukitannya. Luas Kota Cirebon adalah 3.735,82 hektar atau ±37 km2 dengan dominasi penggunaan lahan untuk perumahan (32%) dan tanah pertanian (38%).

Wilayah Kotamadya Cirebon dibatasi oleh :

* Sebelah Utara : Sungai Kedung Pane

* Sebelah Barat : S. Banjir Kanal/ Kabupaten Cirebon

* Sebelah Selatan : Sungai Kalijaga

* Sebelah Timur : Laut Jawa

Sebagian besar wilayah merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-2000 dpl, sementara kemiringan lereng antara 0-40 % dimana 0-3 % merupakan daerah berkarateristik kota, 3-25 % daerah transmisi dan 25-40 % merupakan pinggiran.

Terdapat 4 (empat) buah sungai yang cukup besar yaitu :

* Sungai Kedung Pane

* Sungai Sukalila

* Sungai Kesunean

* Sungai Kalijaga

Kondisi air tanah agak dipengaruhi oleh intrusi air laut dan relatif dangkal.

IKLIM

Kota Cirebon termasuk dalam iklim tropis dengan suhu udara rata-rata 28°C. Kelembaban udara berkisar antara ± 48-93% dengan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Januari-Maret dan angka terendah terjadi pada bulan Juni-Agustus.

Rata-rata curah hujan tahunan di kota Cirebon ± 2260 mm/tahun dengan jumlah hari hujan ± 155 hari. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, iklim di kota Cirebon termasuk dalam tipe iklim C dengan nilai Q ± 37,5% (persentase antara bulan kering dan bulan basah). Musin hujan jatuh pada bulan Oktober-April, dan musim kemarau jatuh pada bulan Juni-September.

TOPOGRAFI

Kota Cirebon merupakan dataran rendah dengan ketinggian bervariasi antara 0-150 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan presentase kemiringan, wilayah kota Cirebon dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

* kemiringan 0-3% tersebar di sebagian wilayah kota Cirebon, kecuali sebagian Kecamatan Harjamukti.

* Kemiringan 3-8% tersebar di sebagian besar wilayah Kelurahan Kalijaga, sebagian kecil Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti.

* Kemiringan 8-15% tersebar di sebagian wilayah Kelurahan Argasurya, kecamatan Harjamukti.

* Kemiringan 15-25% tersebar di wilayah Kelurahan Argasurya, kecamatan Harjamukti.

JENIS TANAH


Pada umumnya jenis tanah di Kota Cirebon adalah tipe regosol yang berasal dari endapan lava dan piroklastik (pasir, lempung, tanah liat, tupa, breksi lumpur, dan kerikil) hasil interupsi Gunung Ciremai. Secara umum jenis tanah yang tersebar di Kota Cirebon ini relatif mudah untuk pengembangan berbagai macam vegetasi.

 
HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI


Di Kota Cirebon terdapat 4 sungai yang tersebar merata di seluruh wilayah, yaitu sungai Kedungpane, sungai Sukalila (penyatuan dari sungai Sicemplung dan sungai Sijarak), sungai Kesunean dan sungai Kalijaga (penyatuan sungai Cikalong, sungai Cideng, dan sungai Lunyu).

Keadaan air tanah di kota Cirebon pada umumnya dipengaruhi oleh intrusi air laut. Di beberapa wilayah kondisi air tanah relatif sangat rendah (1 meter) dan rasanya agak asin, sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan air minum.

kesuwun kanggo http://www.cirebonkota.go.id sing wis tak jukut tulisane…

 

Tahu Petis Muludan

Mun ngaku wong Cerbon, bli afdol mun muludan bli tuku tahu petis

 

Menjelang digelarnya tradisi Muludan, beberapa pedagang musiman sudah mulai menggelar aneka barang dagangannya. Mulai dari pakaian, kerajinan tangan, hingga beraneka ragam makanan.


Dari sekian banyak jenis makanan yang berebut pembeli di arena muludan itu yang cukup banyak penjualnya adalah tahu petis. Selain murah, jajanan berupa tahu goreng yang ditaburi garam halus dan disertai petis beraroma udang ini seakan menjadi ikon dari perayaan muludan di Cirebon.


Bahkan ada kesan kurang lengkap rasanya jika saat berkunjung ke muludan tanpa sempat mencicipi tahu petis. Padahal mulai sore hingga malam, pedagang tahu petis kerap menjajakannya pada beberapa tempat di Cirebon.

 
Dari bentuknya yang berupa segitiga karena memang dipotong melintang dari bentuk asalnya, tahu petis ini berbeda dengan tahu Sumedang atau tahu kuningan. Meskipun digoreng kering namun isi atau daging bagian dalam tahu masih terasa berisi atau tidak berongga. Karena terasa lebih berdaging itulah tahu goreng ini lebih enak dinikmati bersama petis atau cabe rawit.

 
Beberapa pedagang tahu petis yang ditemui mengatakan dengan semakin naiknya kedelai sebagai bahan utama pembuatan tahu, tahun ini harga tahu petis naik. Kini rata-rata pedagang menjualnya dengan harga Rp 300 – Rp 400 per bijinya. “Yaa..maklum Mas semua sudah serba mahal sekarang,” tutur Mutsirah yang berjualan di sekitar pintu gerbang Alun-alun Keraton Kasepuhan.

 
Lekatnya tahu petis dengan perayaan muludan terucap dengan celeotehan yang berkembang di masyarakat. Mun ngaku wong Cerbon, bli afdol mun muludan bli tuku tahu petis. Artinya, kalau merasa jadi orang Cirebon, tidak afdol ke Muludan jika tidak membeli tahu petis.(BC-55)

 

Kesuwun kanggo http://www.beritacerbon.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun Lud!

Djair Warni Ponakanda

Antara fiksi dalam komik dan kenyataan begitu tipis batasnya sehingga dirasakan begitu nyata oleh pembacanya. Sebut saja serial komik Jaka Sembung karya Djair Warni di pertengahan tahun 1960-an.

 

“Banyak orang mengira dia hidup dan nyata. Saya bertemu dengan seorang pemuda di sebuah pameran. Dia bercerita pernah bertapa di gua-gua mencari Jaka Sembung. Ada juga tulisan di sebuah majalah misteri soal Jaka Sembung. Kabarnya, seorang wartawan majalah itu bertapa di Gunung Sembung dan ketemu arwah Jaka Sembung. Wartawan itu mengaku diberi keris pusaka. Jaka Sembung itu fiksi, tapi akhirnya menjadi legenda, lalu menjadi mitos,” ujarnya.

 

Djair lebih heran lagi ketika di sebuah seminar budayawan di Taman Ismail Marzuki tahun 1983 juga menganggap Jaka Sembung adalah tokoh cerita fiksi. Padahal, si Jaka Sembung itu hanya tokoh rekaan Djair yang asli Cirebon itu.

Kata Djair, nama Jaka Sembung berasal dari kata jaka yang berarti pemuda dalam bahasa Jawa atau Sunda. Sembung berasal dari Gunung Sembung. Jaka Sembung berhasil menumpas musuh di Gunung Sembung dan oleh pesantren setempat dia dianugerahi julukan Jaka Sembung. “Nama aslinya sebetulnya Parmin. Karena ia dari keraton alias darah biru, jadi namanya Parmin Sutawinata. Ceritanya si Jaka lahir tahun 1602, sama dengan berdirinya VOC, jadi seolah-olah dia dilahirkan untuk menentang VOC,” ujar Djair.

Dia menerka banyak orang kecele karena Jaka Sembung memang dekat dengan keadaan di lingkungan sosial masyarakat.

Jaka Sembung yang jago silat itu tidak digambarkan berlebihan seperti layaknya superhero atau jagoan lain yang tampil fantastis, seperti Panji Tengkorak atau Si Buta Dari Goa Hantu.

“Jaka itu orang biasa. Artinya, kalo dia ke masjid, ya pakai peci dan sarung. Kalau ke sawah pasti telanjang dada dan pakai topi bambu,” ujar Djair yang tinggal di kawasan Matraman Dalam, di mana banyak terdapat mushala—kehidupan di sekitar rumah ibadah menjadi bagian dari irama hidupnya.

Rumah mungil di belakang mushala kecil itu begitu ramai. Suara video game berdesingan diselingi “kicau” kanak-kanak. Rupanya, bagian depan rumah itu dipakai untuk tempat penyewaan video game.

Dari dalam rumah yang terjepit di permukiman padat penuh gang tikus di kawasan Matraman Dalam itu, Djair Warni dengan rambutnya yang keputih-putihan muncul menyungging senyum dan mempersilakan masuk. Ini dia pencipta Jaka Sembung, tokoh komik pendekar dan jagoan itu.

Sekalipun Jaka Sembung sudah lama tidak keluar dan mejeng di display-display toko buku, sesungguhnya Djair tidak sepenuhnya berhenti berkarya. Pria jebolan STM bidang perkapalan di Cirebon itu dengan semangat empat lima menunjukkan berkas-berkas yang tengah dikerjakannya.

Tampak goresan-goresan yang penuh keyakinan dan sebagian sudah ditimpa spidol. Panel-panel itu bagian adegan dari komik Jaka Sembung Pendekar Metropolitan yang sedang dikerjakannya. Ya, bagi yang sempat besar bersama Jaka Sembung, tentu ceritanya sudah jauh berbeda.

“Yang ini ceritanya ada pemuda kerasukan arwah Jaka Sembung, terus mendadak menjadi pendekar,” ujarnya. Tentu saja Jaka Sembung yang satu ini tidak melawan kompeni atau tuan tanah jahat. Musuhnya, para koruptor dan bandar narkoba! Masalah alot yang dialami generasi sekarang.

Ide itu muncul ketika suatu kali Djair mendengar cerita dari seorang pemuda yang mengaku bertemu Jaka Sembung saat sedang naik gunung. Ada juga beberapa orang lain yang sampai bertapa untuk meminta kebajikan Jaka Sembung. Padahal, menurut Djair, tokoh Jaka Sembung itu benar-benar lahir dari alam khayalnya alias fiksi belaka.

Djair terus menggambar komik untuk tetap melatih diri walaupun kemudian hanya dinikmati sendiri. Sewaktu-waktu dia membuat skenario untuk sinetron Jaka Sembung, Si Tolol, atau Jaka Geledek. Karyanya yang banyak terbit pada era tahun 1960-an hingga 1970-an itu selama ini tidak mendapatkan royalti dan biasanya dijual putus.

kesuwun kanggo http://komik.multiply.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.