BERBICARA dengan Salana (60) seperti menghadapi ensiklopedia hidup. Segala hal dari kesenian tradisional, naskah-naskah kuno hingga situs purbakala di sekitar Cirebon, akan dijelaskan oleh lulusan SPG tahun 1967 ini dengan runtut, detail, dan jernih.

Ia memang bukan doktor yang melakukan penelitian secara akademis, tetapi ia punya passion yang barangkali tidak dimiliki seorang calon doktor atau bahkan doktor sekalipun. Sejak muda Salana sangat tertarik pada seni budaya Cirebon. Selama puluhan tahun dia keluar-masuk kampung, melintasi gang-gang kecil dengan sepeda tua untuk menginventarisasi berbagai atraksi kesenian tradisional yang hidup atau pernah hidup di sekitar Cirebon. Jika senimannya masih ada, dia tidak segan-segan berguru dan belajar, untuk mencegah seni tradisional tersebut dari kepunahan. Tidak heran jika Salana menguasai berbagai jenis kesenian tradisional seperti kidung macapat, pedalangan, sendratari, masres (sandiwara), menabuh gamelan dan mahir memainkan berbagai instrumen karawitan Cirebon.

Salana berhasil menginventarisasi 22 jenis kelompok seni yang pernah hidup di sekitar Cirebon sampai tahun 1970-an. Kesenian-kesenian itu menghilang karena tidak pernah ditampilkan di tengah masyarakat, atau senimannya meninggal dunia. ”Kini seni gambyung, genjring, tayuban, jidur, klenengan, telempu dan berbagai jenis kesenian lainnya hanya tinggal kenangan. Padahal, sekitar tahun 1970-an seni tradisional tersebut masih bertahan,” kata Salana yang pernah menjadi juara sendratari tingkat Jawa Barat tahun 1967 dan juara menulis cerita pawayangan tingkat Jawa Barat tahun 1970.

Ayah empat anak kelahiran Cirebon 15 Juni 1940 ini juga mencari dan menginventarisasi naskah-naskah kuno yang tersebar di masyarakat sekitar Cirebon, Indramayu, dan Kabupaten Majalengka.

Kerja kerasnya ini membuahkan hasil, berupa pembuatan katalog sekitar 200 naskah kuno yang tersebar di masyarakat dan sekitar 700 naskah kuno yang tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Naskah kuno berumur ratusan tahun yang sebagian besar ditulis pada daun lontar dan deluwang (kertas dari serbuk kayu) tersebut, dengan cermat dan hati-hati kemudian dicatat judul, ringkasan isi, jumlah halaman, bentuk tulisan dan bahasa yang digunakan serta nama penulisnya. Tidak lupa pula dicatat nama pemilik dan desa tempat tinggalnya.

”Kalau orang lain dengan meneliti seperti ini mungkin sudah dapat gelar doktor, tetapi saya cukup S-3: SR, SPG dan SGB,” kelakar Salana menceritakan jenjang pendidikannya di sekolah guru tempo dulu.
***

MENGINVENTARISASI naskah-naskah kuno berumur ratusan tahun bukanlah pekerjaan mudah. Salana harus rela keluar-masuk kampung dan rajin bertanya untuk mencari pemilik naskah-naskah kuno. Kalaupun pemiliknya ditemukan, bisa jadi naskahnya sudah tidak ada karena dijual dengan harga sangat murah kepada ”kolektor” asal Jakarta yang memburu hingga ke kampung-kampung. Sedangkan jika naskahnya ditemukan, pemiliknya belum tentu mau meminjamkan, karena naskah kuno warisan leluhur dianggapnya sebagai barang keramat yang tidak boleh dibuka dan ditunjukkan sembarangan.

Di Cirebon Barat misalnya, Salana menemukan kitab Tetamba yang ditulis pada daun lontar setebal 50 halaman dan berisi tentang khasiat obat-obatan. Kitab itu oleh pemiliknya semula hanya dibungkus kain putih, dan pada hari-hari tertentu diasapi di atas bakaran kemenyan.

Begitu pun di Gegesik, Salana menemukan kitab suci Al Quran yang ditulis tangan setebal 700 halaman dan diwariskan secara turun-temurun. Oleh pemiliknya, kitab tersebut hanya dibungkus kain putih tanpa pernah dibuka apalagi dipelajari isinya. Setiap kali kain pembungkusnya lapuk karena dimakan usia, lalu dilapisi kain putih yang lebih baru. ”Saya hitung kain pembungkusnya sudah 15 lapis, berarti kitab tersebut diperkirakan sudah berumur ratusan tahun,” kata Salana yang menyimpan puluhan naskah kuno hasil pemberian orang yang menaruh simpati kepadanya.

Kalaupun sebuah naskah kuno sudah diperoleh, bukan berarti segalanya selesai. Untuk memahami isinya bukan pekerjaan mudah, karena huruf yang digunakan dalam naskah kuno itu sebagian besar huruf Palawa, Arab Pegon, dan Jawa Kuno. Sedangkan Salana tidak memiliki latar belakang pendidikan formal tentang aksara-aksara kuno (filologi).

Untungnya Salana memiliki pengetahuan menulis dan membaca huruf Jawa hasil pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) dulu serta memahami tulisan Arab hasil didikan di madrasah semasa kecil.

”Untuk memahami isinya, saya harus menggunakan luyu bahasa atau disesuaikan dengan konteks kalimat,” kata Salana yang sudah mengalihkan beberapa naskah ke dalam huruf Latin, tetapi belum sanggup menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sehingga naskah tersebut dibiarkan sesuai bahasa aslinya.

”Saya tidak punya biaya,” kata Salana yang setiap bulan bisa menghabiskan dua rim kertas untuk alih huruf tersebut dengan biaya sendiri. Padahal untuk menopang hidupnya di rumah sederhana di Desa Jemaras Lor, Kabupaten Cirebon, Salana hanya mengandalkan uang pensiun pegawai negeri sipil yang diterimanya sejak tahun 1991. Uang itu harus dicukup-cukupkan untuk istri dan biaya sekolah keempat anaknya.

Salana tidak mempunyai pekerjaan lain, karena seluruh waktunya dihabiskan untuk memelihara dan mengembangkan seni budaya Cirebon. Kalaupun memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan para peminat seni, seperti seni macapat, pedalangan dan karawitan, semuanya dilakukan tampa pamrih. Dia juga menerima ketika jabatannya selama 23 tahun tidak berubah, sejak masuk PNS 1968 hingga pensiun 1991, jabatannya tetap tidak berubah sebagai penilik kebudayaan di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon.
***

SALANA banyak menemukan hal baru setelah membaca sendiri naskah-naskah kuno tersebut. Kitab Tetamba yang ditulis pada 50 lembar daun lontar misalnya, berisi khasiat berbagai tumbuhan untuk obat-obatan.

Kitab Ilmu Nahu setebal 234 halaman, berisi ilmu mempelajari Al Quran. Sedangkan Kitab Nabi Sulaeman yang terdiri atas 241 halaman dan Kitab Nabi Yusuf yang terdiri dari 268 halaman, berisi kisah-kisah keagamaan. Kitab lainnya berisi tentang sastra, perbintangan, seni, mantera, pola kepemimpinan hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Tanah Air pada abad ke-15, 16, 17 dan 18.

Salah satu manfaat yang diperoleh Salana dari naskah-naskah kuno tersebut antara lain petunjuk tentang adanya bangunan-bangunan penting di sekitar Cirebon. Ketika ditelusuri dengan susah-payah sejak tahun 1970-an, Salana menemukan sembilan lokasi situs di sekitar Cirebon mulai dari situs Sedong, Panongan, Cimandung dan Sindangkasih di Cirebon Selatan, hingga situs Koreak dan Timbang di Kabupaten Kuningan. Situs tersebut sangat beragam bentuknya, mulai dari menhir, domain, batu lempar hingga keranda.

Keberadaan situs tersebut sejak tahun 1970-an sudah dilaporkan Salana kepada aparat berwenang agar segera dilindungi untuk mencegah dari kerusakan dan kehancuran. Namun hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan dari pemerintah, sehingga satu-persatu situs-situs tersebut hancur atau sengaja dirusak penduduk.

Di Kecamatan Arjawinangun misalnya, areal situs Lemahtamba saat ini disewakan untuk areal sawah. Di Cirebon Utara, situs makam keluarga raja-raja dirusak dan kemudian di atasnya dibangun sekolah dasar. Sedangkan di areal Situs Cimandung, Cirebon Selatan, batu berbentuk gajah dan berhias jempol tangan, dijual untuk bangunan rumah.

”Saya sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” keluh Salana dengan nada khawatir dan hampir putus asa. Dia khawatir nasib situs akan sama dengan naskah dan seni tradisional Cirebon yang perlahan-lahan musnah karena ditinggalkan masyarakat. (try harijono)

Kesuwun kanggo http://www2.kompas.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!

About these ads