Posts from the ‘Kelingan Bae’ Category

Docang

Docang adalah makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan dari Lontong, Daun Singkong, Toge, Krupuk yang berkolaborasi sayur Dage/Tempe Gembos (yang dihancurkan) serta di kombinasikan dengan parutan kelapa muda.Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas/hangat dan untuk harga relatif terjangkau semua kalangan.

Di balik kelezatan makanan ini, rupanya ada sedikit sejarah pada zaman dahulu. Tepatnya pada zaman para wali. Ketika para wali ini menyebarkan agama Islam ke pelosok Jawa, muncullah Pangeran Rengganis yang mempunyai niat untuk membunuh para wali dengan docang. Dialah yang pertama kali membuat docang dan menghidangkannya ke tengah-tengah para wali yang sedang berkumpul di Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon.

Di kalangan masyarakat Cirebon terdapat tradisi menyantap docang setiap menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di Kota Cirebon pedagang docang dapat ditemui di beberapa tempat, misalnya di alun-alun Keraton Kasepuhan, di Pasar Kanoman, di Jalan Fatahillah (kantor Telkom Plered), dan bagi pengunjung dari luar Kota Cirebon dapat dengan mudah menemukannya yaitu di Jalan Tentara Pelajar tak jauh dari Grage Mall.

dijukut sing : beberapa sumber

Stasiun Prujakan Cirebon

LIDAH “wong Cerbon” menyebutnya dengan nama “tap-siun”. Satu tempat-pertemuan.para pelancong yang akan ataupun tengah turun dari perjalanan. Wajah ragam hias “art de-co”yang didesain pada bangunan itu memang bisa dijadikan pencirian bahwa bangunan tersebut bukan dalam masa klasik, juga bukan dalam masa modern. Lihat saja pada bentuk bagian atas bangunan yang merupakan segitiga, jendela kotak, dan pintu lengkung yang menjadi ciri khasnya.

DEPAN bangunan djadoel (djaman doeloe) tersebut tampak sangat artistik berpola simetris samping kanan dan kiri. Stasiun Kejaksan -begitu nama lain dari stasiun besar Cirebon itu terdiri atas bangunan induk, gudang, dan peturasan. Pada bagian lain terdapat dua dipo (bengkel), tiap-tiap dipo khusus untuk perbaikan dan pemeliharaan lokomotif dan dipo untuk wagon. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangungan stasiun.

Stasiun KA Kejaksan merupakan generasi pertama dari pembangunan stasiun kereta api pada masa penjajahan Hindia Belanda. Jalur yang membentang dari Jakarta dan Semarang pada masa itu. Data yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon mencatat, stasiun ini dibangun pada tahun 1911 atas prakarsa Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan jalur kereta api ini dilakukan untuk mempercepat mobilitas barang dan penumpang, yang perintisan-nya mulai dilakukan sejak 1893 untuk jalur SCS (Semarang Cheribon Stoomtram-Maatschappij). Sementara jalur Cirebon-Cikampek dibangun sejak 1909 dan Cirebon Kroya sejak 1912. Angkutan penumpang pengusaha Eropa, termasuk pekerja rodi untuk Kota Batavia atau sebaliknya, dilakukan melalui stasiun ini.

Sejak Indonesia merdeka, stasiun ini menjadi milik dan dikelola PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi 3 Cirebon. “Sebagian besar bangunan yang ada di lingkungan stasiun ini benar-benar djadoel,” kata Arie F., Wakil Kepala Seksi Dipo PT KA Daop 3 Cirebon. “lihat saja bangunan yang benar-benar kokoh, seperti bengkel kereta dan gudang air itu,” ucapnya menambahkan.Dipo (bengkel kereta api) yang berada di lingkungan Stasiun Cirebon dibangun setahun setelah stasiun besar tersebut didirikan, sekitar tahun 1913. Di bengkel itu masih tersimpan lokomotif diesel pertama yang dibuat General Electric tahun 1953- Wong Cerbon menamai loko tersebut dengan loko sepur Gajah Mada. Keaslian tersebut juga ditunjang dengan masih utuhnya alat putar lokomotif yang juga dibuat tahun 1913 dengan kondisi yang masih normal.

Dalam ruangan stasiun terdapat pintu gerbang yang kokoh dengan rantai dan gembok asli tertempel di situ. Ada empat pintu gerbang yang berukuran sama yang ditutup dengan pintu besi Anderson. Bagian atas pintu dinaungi kanopi hijau berbentuk siku, terbuat dari rangka besi dan beratap kaca fiber sebagai bangunan tambahan yang dibangun setelah masa kemerdekaan.Stasiun Kejaksan dikenal pula sebagai tempat bersejarah. Pada masa revolusi fisik, ribuan pejuang yang naik kereta dari Jatinegara menuju Yogyakarta sebagian diturunkan untuk menyergap Belanda yang datang membonceng bersama sekutu. Pertempuran besar terjadi di sekitar Alun-alun Kejaksan hingga sebelah barat Masjid At-Taqwa (sekitar Kantor HU Mitra Dialog saat ini).

Pada tahun 1982-an, ketika Kantor Pikiran Rakyat/”?R” Edisi Cirebon pindah dari Siliwangi 77 ke Jln. Kartini No. 7 masih bisa dilihat tembok dan pintu kayu jari yang bolong-bolong bekas tembakan peluru. Untuk memperingati pertempuran tersebut, kini dibangun tugu kemerdekaan persis di perempatan Jln. Siliwangi-Jln. Kartini.

Stasiun Prujakan

STASIUN KA Prujakan rupanya memiliki jalur rel yang berbeda dengan Stasiun Kejaksan. Stasiun kedua setelah Kejaksan ini awalnya sengaja dibangun untuk angkutan barang dari pelabuhan. lihat saja sisa-sisa rel dan jembatan djadoel yang masih tersisa di pinggir Jln. Sisingamangaraja,Kampung Kegiren dan Syekh magelung.Rel yang menghubungkan pelabuhan tersebut melintasi kedua kampung tersebut dan saat ini telah tertimbun tanah dan banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk perumahan dan usaha. Sementara di bagian barat berdekatan dengan .Jln. K.S. . Tubun dialokasikan untuk tempat pedagang onderdil sepeda, becak, dan sepeda motor bekas.

Menarik untuk menelusuri jalur rel KA Prujakan ini. Sewaktu masih aktif jalur tersebut, sering kali lokomotif “jugjes” dengan pembakaran batu bara mogok. Otomatis anak-anak yang ada di sekitar kampung tersebut berhamburan untuk melihat sepur (spoor) mogok. Saat lokomotif selesai diperbaiki, mereka menaiki kereta barang tersebut hingga ke Stasiun Prujakan.Di sebelah selatan stasiun terdapat bangunan memanjang yang disebut sebagai “gudang barang”. Namun, sejak dekade 1970-an, gudang tersebut tak lagi dimanfaatkan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api-kini PT KA) sehingga dimanfaatkan anak-anak muda penggemar bulu tangkis berlatih di situ. Pada masa kejayaan bulu tangkis Indonesia di tingkat internasional, dari gudang barang itu lahir atlet internasional juara All England. Dialah Tjun Tjun yang saat itu berpasangan dengan Johan Wahyudi.

Kini, stasiun barang tersebut kembali dimanfaatkan untuk kereta jurusan Tegal-Brebes-Cirebon. Naik-turun penumpang dilakukan di stasiun tersebut. Karena memang letaknya yang strategis di pinggir Jln. Kembar (kini Jln. Nyi Mas Gandasari). Berbeda dengan Stasiun Kejaksan yang berada agak jauh dari Jln. Siliwangi yang menjadi stasiun utama di Kota Cirebon.Dari catatan yang dihimpun Disbudpar Kota Cirebon, stasiun ini dibangun hampir berbarengan dengan Stasiun Kejaksan, yakni sekitar tahun 1911 atas prakarsa perusahaan kereta api swasta, Semarang-Cheriboncshe-Stoomtram-maatshappij (SCS). Pembangunan stasiun ini dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat mobilitas arus komoditas pertanian dan barang-barang impor. Arus barang dari stasiun ini selanjutnya bermuara di Pelabuhan Cirebon.Untuk generasi yang lahir pada dekade 1980-an, mereka tak lagi menyaksikan rel kereta yang membentang di tengah kampung padat tersebut, meski sisa-sisanya masih bisa dilihat. Kisah menarik dari Arie F. kepada penulis. “Sering kali saya menaruh paku di rel kereta untuk dibuat semacam pisau kecil,” katanya mengenang.

“Saya lahir di rumah orang tua dekat rel dan alhamdulillah saya pun jadi orang yang bekerja di lingkungan kereta api,” ujarnya.Sekitar tahun 1920, masa awal arus penumpang dilakukan. Anak-anak pribumi yang berpakaian sarung dan bendo sering naik-turun di stasiun tersebut. Dari rumah kampung, mereka naik dokar. Bayarnya cukup satu blendong (di bawah satu sen gulden). Jalan Pekalangan yang kebetulan berhadapan dengan stasiun acap kali riuh ramai pada musim mudik dan arus balik Lebaran. Maklum, mereka juga rindu kampung halaman. (Nurdin M. Noer, wartawan senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSQ).

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…

Obrog

TD Sudjana, budayawan pengamat masalah tradisi Cirebonan, menyatakan, seni obrok-obrok tidak memiliki akar sejarah yang berkait dengan tradisi Islam di masa silam. Tampaknya itu hanya merupakan gerakan spontanitas masyarakat, dalam ikut membantu ibadah puasa.

Meskipun demikian, sejak sebelum zaman kemerdekaan embrio seni obrok-obrok sudah ada. “Dulu pada zaman Belanda, obrok-obrok menggunakan alat kentongan yang ditabuh beberapa orang. Setiap bulan Puasa, obrok kentongan ini keliling desa, bahkan sampai jauh ke berbagai desa dan jalannya gelap waktu itu, karena belum ada listrik. Makanya jalannya terkadang cepat sekali, takut dalam kegelapan kalau saja ada hewan galak atau harimau misalnya,” kata Sudjana.

Pemerintah Belanda, menurut TD Sudjana, tidak melarang kegiatan ini. “Belanda tidak curiga terhadap kegiatan penggugah makan sahur ini. Mereka dibiarkan meskipun ketemu dengan tentara Belanda misalnya,” kata Sudjana.

Perkembangan obrok-obrok makin kentara, terlihat setelah perang kemerdekaan. Terutama alat-alat musiknya, di samping kentongan ditambah dengan rebana. “Dari jauh kedengarannya seperti suara obrok, obrok, obrok, makanya dinamai seni obrok-obrok,” tegasnya.

Satu hal yang dicatat oleh TD Sudjana, dalam perkembangan seni obrok-obrok ini adalah penampilan tokoh banci, lelaki yang menggunakan kebaya wanita. Menurut dia, itu bukan sekadar lelucon, tetapi juga penggambaran kenangan masa si-
lam, seputar abad XVI-XVII. Ketika Cirebon sempat dikuasai Sultan Agung dari Mataram, banyak orang Cirebon yang dijadikan telik sandi (intelijen), untuk mematai-matai Belanda saat Sultan Agung hendak menyerang Batavia.

“Para telik sandi itu biasanya menyamar sebagai wanita, dan pura-pura ngamen. Inilah yang ditiru obrok-obrok sampai sekarang. Meskipun saat ini lelaki banci ini menjadi tontonan yang segar dan lucu bagi masyarakat, seni obrok-obrok setidaknya telah mencatat sebuah sejarah tentang keberadaan intelijen di masa silam,” kata Sudjana.

Bukan itu saja, perkembangan seni obrok-obrok kini juga memulai penggarapan seni yang sifatnya tidak spontanitas. Banyak seni obrok-obrok yang mulai “memperkaya diri”. Peralatannya tidak seadanya, tetapi berusaha memiliki peralatan seperti gitar elektronik dan sistem pengeras suara yang lebih memadai. Mengarang lagu sendiri dengan bahasa khas Cirebon juga dilakukan kelompok obrok-obrok.

Mungkinkah obrok-obrok juga akan berkembang pesat, seperti seni tarling yang sudah menjadi kemasan paket di hotel berbintang, atau kasetnya sempat mengisi belantika musik Indonesia? “Kami berharap begitu, sebab grup obrok-obrok kami pernah diundang sebuah hotel berbintang di Cirebon,” harap Pramhudi. Kalau begitu, ada harapan. (***)

dicuplik sebagian sing http://webcache.googleusercontent.com/ kesuwun Kang…

Muludan Trusmi

Muludan Trusmi merupakan rangkaian dari acara tradisi Muludan Cirebon yang dimulai dari Keraton Kanoman ( 1-8 Mulud ), Keraton Kasepuhan ( 1-12 Mulud ) Gunung Jati ( 12 Mulud ), Tuk ( 19 Mulud ), Gegesik ( 21 Mulud ) dan terkhir Trusmi ( 12-25 Mulud ). Muludan Trusmi terbesar kedua setelah Keraton Kasepuhan.Hal ini terlihat dari jumlah pedagang dan pengunjung yang membanjiri acara ini. Rentetan pedagang dan hiburan berjajar sepanjang jalan desa Trusmi Wetan, Trusmi Kulon, Weru Lor dan Kaliwulu.

Terlihat penuh sesak karena jalanan Trusmi hanya satu arah sehingga pengunjung harus rela berdesak-desakan. Lain halnya dengan jalanan di Kasepuhan yang pararel membuat banyak pilihan untuk membagi keramaian.

Puncak ritual Muludan Trusmi pada tanggal 25 Mulud. Ritual dimulai setelah sholat Isya dengan jalannya iring-iringan jimat dan tumpeng dari rumah Sep ( sebutan untuk kedudukan tertinggi pengurus keramat Trusmi ) K.H. Ahmad Abdurrahin. Iringan tersebut menuju ke komplek keramat Buyut Trusmi dan masuk ke dalam masjid keramat Baiturrahman. Di dalam masjid ratusan orang menyambutnya dengan pembacaan Maulid Al Barjanzi dan diakhiri dengan doa dan ceramah oleh Sep.

Untuk lebih detail tentang Muludan Trusmi dapat dibaca disini. Saya akan menuliskan sisi lain dari Muludan Trusmi yang mungkin belum pernah ditulis oleh orang lain.

  • Muludan Trusmi merupakan berkah bagi masyarakat Trusmi dan sekitarnya karena mereka dapat menyewakan lahan untuk pedagang. Dari sewa lahan ini mereka dapat membayar tagihan listrik selama setahun atau membeli sepeda motor baru, atau biaya umroh ( lumayan besar ya… )
  • Sebagian pemilik lahan merelakan lahannya untuk pedagang, tidak memungut biaya sesenpun dengan alasan untuk melestarikan tradisi Trusmi atau kasihan terhadap pedagang. Semoga pedagang beruntung mendapatkan lahan dari pemilik yang baik ini.
  • Selama Muludan Trusmi pemilik showroom Trusmi harus istirahat karena showroom mereka tertutup oleh pedangan. Mereka harus merelakan omset puluhan juta ( mesti ikhlas dong ). Tapi tahun ini dua showroom besar Nofa dan Asofa mengadakan bazar cuci gudang. Sebelumnya Sinar Gunung Jati menjadi pioner dalam bazaar tersebut.
  • Puncak ritual berlangsung ricuh, tidak tertib. Hal tersebut karena banyaknya pejiarah yang berebut nasi kuning pada waktu acara pembacaan Maulid Al Barjanzi. Pejiarah laki-laki dan perempuan bercampur dalam masjid untuk memperebutkan nasi kuning yang dianggap sebagai berkah untuk tujuan yang berbeda. Padahal acara tersebut utuk laki-laki dan perempuan hanya menyimak diluar masjid.
  • Puncak acara mulai poluler setelah adanya iring-iringan jimat dan tumpeng dari rumah sep. Sebelumnya hanya segelintir orang ( lima puluhan orang ) yang mengetahui acara pembacaan Maulid Barjanzi. Tapi semakin popular semakin ricuh karena tidak adanya tindakan penertiban oleh pengurus.

dijukut sing http://wongtrusmi.blogspot.com/ kesuwun, Kang atawa Yayu…

Bacakan (Pesta Giling Tebu)

Bacakan sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh anak-anak, walaupun kadang-kadang membuat para orang tua terbebani untuk menyediakan anggaran lebih (budget) untuk menyambut bacakan dalam rangka melaksanakan permintaan anak-anaknya.

Bacakan paling ditonggoni ding bocah-bocah cilik, kadang-kadang gawe wong tua dadi kebebani mumet kudu nyedia-aken duit go nuruti pengenan bocah-bocahe.

Bacakan atau bancakan adalah acara pesta giling hampir sama dengan karnaval, yang diselenggarakan oleh pabrik gula (dulu Tersana Baru) Rajawali di Desa Babakan. Pesta ini diadakan sebagai tanda dimulainya kegiatan penggilingan tebu di pabrik gula serta dalam rangka syukuran panen tebu.

Bacakan atau bacakan pesta giling pada karo acara karnaval sing diselenggaraaken ding pabrik gula tersana baru (sakien PT. Rajawali) ning desa babakan. Pesta kie di-ana-aken go tanda mulaine penggilingan tebu karo syukuran hasil panen tebu sing sukses.

Bacakan diramaikan dengan pasar dan hiburan-hiburan. Pasar terdiri atas para pedagang mainan, panganan dan sandang kebutuhan sehari-hari yang jarang ditemukan pada hari biasa, diantaranya

Bacakan ramene ding pasar karo hiburan. Pasare ana sing dagang dolanan, panganan, klambi kebutuhan sedina-dina sing jarang ana ning dina biasa, yaiku:

A. Pasar

1) mainan : boneka, perahu, pistol air, motor2an dari kaleng (yang diputar dengan benang) dll.

2) panganan dan minuman: jajanan martabak ‘Teluk bayur’, tahu petis, bakso ‘rudal’, mie ayam, buah-buahan, temulawak dll.

3) sandang : sepatu ‘sanutra sport’, kaos gaul, jaket, jeans dll.

4) Tukang obat dengan atraksi sulapnya yang membuat anak-anak dan orang dewasa tercengang

B. Hiburan

1) Tong setan , yaitu rumah-rumahan yang berisi hantu-hantu yang menyeramkan untuk menakut-nakuti pengunjung

2) Atraksi motor trail berputar-putar di dalam bola raksasa

3) Komidi putar, dengan kuda-kudaannya

4) Ombak banyu

5) Korsel dll.

Para pedagang dan pemilik hiburan yang berpartisipasi adalah penduduk asli dan pendatang berasal dari Padang, Brebes, Losari, Kota Cirebon dll.

Tukang dagange ana sing penduduk asli karo pendatang sing asale daerah Padang, Brebes, Losari, cirebon dll.

Acara puncak pesta ini adalah adanya arak-arakan “pengantin tebu” yaitu sebagai simbol bibit tebu. Pada acara puncak sepanjang jalan raya babakan yaitu dari daerah Karanganyar (perumahan pegawai pabrik gula) sampai dengan perempatan Balai Desa Babakan (alun-alun) menjadi macet total, sehingga mobil-mobil elf dan kendaraan lain dari arah utara dibelokkan (perempatan SMAN 1 Babakan) ke kanan ke Desa Dompyong menuju Desa Serang/Gembongan yang kemudian akan bertemu lagi di Jalan Raya Babakan pada perempatan Balai Desa Babakan (alun-alun Babakan).

Acara puncake ana pawai penganten tebu sing dadi lambang bibit tebu. Lamon acara puncak dalan Babakan dadi macet sing mulai Karanganyar sampe prapatan bale desa Babakan. Mobil elf karo kendaraan sejene sing lor dibelokaken ning dompyong (prapatan SMAN Ciledug/sakien SMAN 1 Babakan) sing akhire ketemu maning dalan Babakan ning prapatan bale Desa Babakan)

Biasanya anak-anak sekolah (termasuk saya) bahkan ada beberapa pasangan ‘pacaran’ lebih baik berjalan kaki ke/dari sekolah, sambil menikmati keramaian pesta tersebut dengan sekali-sekali mampir ke penjual jajanan dan minuman.

Biasane bocah sekola (termasuk aku) karo sing pada demenan mangkat/balik sekola pada mlaku-mlaku karo nikmati ramene bacakan sekali-sekali mampir tuku jajan karo minuman.

Acara ini banyak memberi berkah baik bagi pendatang yang berjualan maupun pedagang penduduk asli serta para tukang parkir (taro motor dan sepeda). Namun ada beberapa kejadian tidak mengenakkan sering terjadi yaitu adanya tawuran antar pemuda desa dan pelajar ini mungkin akibat adanya pertemuan para pemuda dan pelajar yang memusat di sekitar jalan raya Babakan.

Acara kie akeh nein berkah ning pedagang karo tukang parkir (taro motor & sepeda). Kadang-kadang ana kejadian sing blenaki yaiku bocah-bocah ‘nom karo bocak skola sok pada gulet soale pada ketemu ning kene.

Mudah-mudahan acara ini tetap dilestarikan. Mungkin kalau dikelola dengan serius dapat dijadikan sebagai objek wisata di wilayah Cirebon Timur.

Muga-muga acara kie tetap dilestari-na. Apamaning lamun diurus serius bisa dadi objek wisata ning wilayah Cirebon wetan.

Demikian kenangan saya pada saat bacakan, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam informasi yang disampaikan. terima kasih sudah membaca. Ditunggu komentar dan pelurusan apabila ada yang bengkok.

dijukut sing http://sman1babakan.site40.net/ kesuwun Kang…

Topeng Cirebon

           

Kota Cirebon

Kota Cirebon adalah sebuah kota mandiri terbesar kedua di Provinsi Jawa Barat, setelah ibukota Jawa barat, yakni Kota Bandung. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Jalur Pantura Jakarta – Cirebon – Semarang merupakan jalur terpadat di Indonesia. Kota Cirebon juga adalah kota terbesar keempat di wilayah Pantura setelah Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Karena letaknya yang sangat strategis yakni di persimpangan antara Jakarta, Bandung, dan Semarang, menjadikan kota cirebon sangat cocok dan potensial untuk berinvestasi dalam segala bidang investasi seperti hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan baru, pendidikan. Sehingga Kota Cirebon merupakan pilihan yang sangat tepat untuk berinvestasi. Dengan didukung oleh kegiatan ekonomi yang baik dan terpadu menjadikan Kota Cirebon berkembang menjadi Kota METROPOLITAN ketiga di Jawa Barat setelah metropolitan BoDeBeK( Bogor, Depok, Bekasi) yang merupakan hinterland / kota penyangga bagi ibukota Jakarta dan Metropolitan Bandung.

Kota Cirebon merupakan pusat bisnis, Industri, dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur dan utara. Banyak sekali Industri baik skala kecil, menengah, dan besar menanamkan modalnya di kota wali, Cirebon. Dengan didukung oleh banyaknya orang – orang yang bekerja, beraktifitas dan menuntut ilmu di Kota Cirebon, sekitar kurang lebih 1 juta orang, Menjadikan kota Cirebon lebih hidup. Pembangunan di Kota Cirebon juga menggeliat dan menunjukkan respons positif, hal ini terbukti dengan banyaknya bangunan – bangunan besar dan tinggi yang berada di jalan – jalan utama kota Cirebon.

Saat ini, wajah Kota Cirebon telah berubah, menjadi kota modern mandiri ketiga di Pulau Jawa bagian barat setelah Jakarta dengan kota – kota satelitnya ( Bogor, Depok, Tangerang, Banten, dan Bekasi) dan Bandung Raya dengan kota – kota satelitnya ( Tasikmalaya, Cimahi, Subang, Purwakarta, Cianjur, Garut). Kini pemerintah wilayah Cirebon sedang giat – giatnya mengembangkan potensi wilayah kota Cirebon Metropolitan dengan kota – kota satelitnya ( Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan sebagian Jawa Tengah bagian barat yakni Tegal, Brebes, Purwokerto, dan Pekalongan). Dahulu Cirebon merupakan ibu kota Kesultanan Cirebon dan Kabupaten Cirebon, namun ibu kota Kabupaten Cirebon kini telah dipindahkan ke Sumber.

Cirebon juga disebut dengan nama ‘Kota Udang’ dan ‘Kota Wali’. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa.

dijukut sing http://id.wikipedia.org/ kesuwun Kang…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.