Sepintas orang mengenal Trusmi hanya kerajinan batik tulisnya. Teryata bila dilongok lebih jauh di Trusmi banyak menyimpan nilai budaya, Komplek pekuburan keramat, acara tradisional yg unik seperti arak-arakan, memayu, buka sirap

Letak geografis Trusmi terbilang strategis. Diperkirakan 1,3km dari Jl.Raya Plered ke arah utara ( Pantura,Cirebon-Bandung )


Menurut Masduki Sarpin, penulis kisah masyarakat Cirebon, dulu sekitar abad 14 setelh Sunan Gunungjati dinobatkan sebagai Sultan di Cirebon syiar Islam berkembang dengan pesat. Kira-kira 8km kearah barat Cirebon ada sebuah pedukuhan (nantinya dinamakan Trusmi) yang di huni seorang gegeden sakti yang mandra guna penganut agama Sanghyang bernama Ki Gede Bangbangan (salah satu nama blok di Trusmi yaitu, blok Bangbangan).


Sunan Gunungjati beserta Mbah Kuwu Carbon berniat mengislamkan Ki Gede tersebut, namun sebelum niatnya itu dilaksanakan, secara batiniah Ki Gede Bangbangan sudah mengetahui, dengan kesaktiannya ia mencipta hutan belantara di sekitar pondoknya jadi lapangan yang luas dan bersih. Ketika sedang menikmati hasil karyanya yang dilaksanakan sekejap mata itu, tiba-tiba datang suara “Assalaa mu’alaikum…” ia terkejut, di barengi dengan trubus (tumbuhnya) pepohonan yang ada disekitar pondoknya, kembali menjadi hutan belantara. Suara itu tak lain dari Sunan Gunungjati dan Mbah Kuwu Carbon. Ki Gede Bangbangan merasa tak berarti dihadapan mereka, kemudian masuk islam. Sunan Gunungjati di kawinkan dengan Nyi Mas Kendingsari, putri Ki Gede tersebut. Selanjutnya pedukuhan itu dinamakn “TRUSSEMI”terus bersemi, Trus berati trubus(tumbuh lagi) dan Semi diartikan sempurna. Dan sekarang disingkat “Trusmi”

Kesuwung kanggo http://santo.jw.lt sing wis tak jukut tulisane…matur kesuwun Kang!

Iklan