Maestro Topeng Cirebon Hanya Bisa Berbaring

NENEK berusia 77 tahun yang begitu perkasa di balik topengnya ketika ia trance dalam tariannya itu, kini hanya bisa berbaring di ruang tengah rumahnya. Tak jauh dari situ, ada pintu yang memisahkan ruang tengah itu dengan sanggar, tempat di mana puluhan anak-anak berlatih tari topeng. Pintu itu seolah menghubungkannya dengan apa yang kini tak bisa dilakukannya, yakni menari.

Sudah 6 bulan sejak stroke infark mendera tubuhnya, Mimi (Ibu) Rasinah, maestro Tari Topeng Cirebon asal Pakandangan Indramayu ini, kini hanya bisa berbaring, sambil mendengar riuh suara saron, bonang, kendang, kecrek gamelan, dan anak-anak yang berlatih di sanggarnya. Stroke yang menyerang tubuhnya sejak Februari 2006 membuat tangan dan kakinya lumpuh. Padahal saat sehat, dua anggota tubuhnya itu yang selalu bergerak lincah dan gesit ketika ia menari.

“Saya masih pengen menari. Tapi tenaga saya belum pulih. Nanti kalau tenaga saya sudah kuat, saya mau nari lagi. Sekarang saya mau ngaji saja dulu,” ujarnya ketika ditemui Sabtu (29/7).

Meski kini ia hanya bisa terbaring dan merasa tersiksa karena tubuhnya tak bisa bergerak, tapi nada suara dan sorot matanya masih memancarkan semangat. Semangat yang menegaskan bahwa penyakit itu tak akan bisa memisahkan dirinya dan tari topeng. Tak hanya di berbagai kota Asia dan Eropa, Mimi Rasinah menunjukkan semangat dan spiritnya sebagai penari, tapi juga di sanggarnya yang sederhana di samping rumahnya. Mewariskan tradisi yang dimilikinya pada puluhan bahkan ratusan anak-anak muda. Tapi itu dulu, sebelum ia jatuh sakit.

Menurut cucunya, Edy Suryadi, meski belum pulih benar kondisi neneknya, namun sudah agak menggembirakan. “Sudah mendingan. Tangannya sudah bisa bergerak pelan-pelan. Juga kakinya. Bahkan tadi sudah mulai belajar berjalan,” ujar Edy.

Meski stroke itu mulai menyerang Mimi Rasinah Februari lalu, tapi tutur Edy, gejalanya sudah dirasakan Mimi sejak Juli 2005, ketika Mimi tampil di beberapa kota di Inggris. Sepulang dari Inggris, penerima penghargaan “Woman of The Year” tahun 2005 dari AnTv dan penerima hadiah seni dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI tahun 2002 itu, seolah tak pernah bisa diam. Tubuhnya seolah tak memiliki ruang istirahat untuk sesuatu yang bernama spirit tradisi tari topeng. Tak ada hari yang dilewati Mimi Rasinah tanpa melatih anak-anak muda di sanggarnya. Dan ketika itulah, tubuh ringkih penari sepuh itu sampai pada batas kekuatannya. Ia ambruk dan dilarikan ke rumah sakit di Cirebon, dan dirawat selama 10 hari.

Sakitnya Mimi Rasinah membuat sejumlah agenda pertunjukan yang sudah dijadwalkan terpaksa dibatalkan. Termasuk rencana penampilannya di Kanada, Juni lalu. Untunglah, pertunjukan di Kanada tetap bisa berlangsung, meski tanpa penampilan Mimi Rasinah. Ia digantikan cucunya, Aerli (Eli). “Panitia tentu tidak mau, dan tetap ingin Mimi yang tampil. Tapi akhirnya mereka bisa maklum,” kata Edy.

**

SEJAK dirawat di RS hingga kini, berbagai pihak mengulurkan tangan untuk meringankan bebannya. Bagi Rasinah, yang dimilikinya, hanya kemampuan menari dan mengajar menari di sanggarnya. Untuk berobat saja, ia menggantungkan solidaritas orang lain. Edy menyebutkan sejumlah pihak dan lembaga yang telah membantu pengobatan neneknya, termasuk juga kalangan seniman.

“Total biaya pengobatan Mimi hampir Rp 40 juta. Sekarang Mimi hanya berobat dengan cara tradisional,” kata Edy.

Lepas dari soal itu, seperti semangat Mimi Rasinah, Tari Topeng Cirebon gaya Indramayu tetap berdenyut di Desa Pakandangan, di sanggar Mimi Rasinah. Anaknya, Wacik dan Eli, cucunya, menggantikan tugas Mimi melatih puluhan bahkan ratusan anak-anak yang berlatih setiap hari Minggu.

“Kadang mereka harus berjejalan berlatih karena ruang sanggar yang tidak muat,” tutur Eli.

Sanggar itu memang terlalu kecil untuk menampung ratusan anak-anak berlatih tari. Tapi Edy, Eli, Wacik, juga Mimi Rasinah sendiri tak berdaya, sebab hanya itulah yang mereka miliki. Tak ada yang berubah sejak penulis datang ke rumah itu 3 tahun yang lalu. Masih seperti itu.

Inilah yang menjadi pertanyaan, bukankah Mimi Rasinah telah menari dan terbang ke berbagai negara di Asia dan Eropa yang tentunya ia mendapatkan semacam bayaran yang tak sedikit; lalu ke mana hasil seluruhnya itu? Bukankah seharusnya sanggar tari Mimi Rasinah bisa lebih luas dan besar dari keadaannya sekarang?

dijukut sing http://boykomar.multiply.com kesuwun maning, Kang…