Sebelum Sumber menjadi ibukota Kabupaten Cirebon, Perbutulan berstatus Desa, namun sejak Sumber menjadi ibukota Kabupaten Cirebon, Perbutulan berstatus menjadi Kelurahan. Perbutulan mungkin merupakan kelurahan/desa terkecil di Kabupaten Cirebon. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kaliwadas, lalu berbatasan dengan Desa Watubelah (utara), Kelurahan Sumber (selatan), dan Desa Gegunung (timur). Dengan Gegunung dipisahkan oleh Sungai Cipager, yang berhulu di Gunung Ciremai. Perbutulan dibelah oleh jalan raya yang menghubungkan Sumber dengan Plered, Kecamatan Weru. Sebelum ada jalan tol Palimanan-Kanci, Plered termasuk jalur Pantura Jawa. Nah, di jalan yang membentang dari selatan ke utara itu, jika kita berdiri di perbatasan Perbutulan-Sumber akan bisa dilihat dari perbatasan Perbutulan-Watubelah. Betapa kecilnya Perbutulan.

Menurut hikayat, kata Perbutulan berasal dari kata Butul yang artinya ‘bablas’. Hal ini dikaitkan dengan cerita para nenek moyang Perbutulan ketika membabat hutan untuk mendirikan perkampungan. Siapapun orang yang membabat hutan akan hilang, alias bablas atau butul. Maka sejak itu, wilayah itu dinamakan Perbutulan.

Pada awalnya, permukiman di Perbutulan terdiri atas beberapa gugus, dari selatan ke utara: Gondang, Kemuneng, Latar Tengah, Ledok, Keleben, Blok Singrat, dan Pesindangan. Namun kini, semua gugus itu telah menyatu menjadi satu permukiman. Tak lagi dipisahkan oleh kebun ataupun sawah. Di Latar Tengah itulah yang merupakan pusat aktivitas: balai desa, sekolah, dan masjid. Namun kini, balai desa yang berubah menjadi kantor kelurahan telah dipindah ke Blok Singrat.

Di masa lalu, warga Perbutulan umumnya berpendapatan dari kegiatan pertanian. Namun sejak bendungan untuk irigasi di hulu Sungai Cipager tak dibangun lagi setelah diterjang banjir, maka mata pencaharian penduduk berpindah ke perdagangan. Kini, kegiatan ekonomi mereka berpusat pada industri rumah tangga pakaian jadi (konveksi). Perintisnya adalah Solihin, seorang lulusan pesantren, yang memulai dengan membuat pakaian seragam SD. Hal itu terjadi sekitar tahun 1980. Namun kini pada umumnya berubah ke membuat pakaian wanita, terutama busana muslimah.

Warga Perbutulan memeluk agama Islam. Mereka dikenal sebagai masyarakat santri oleh warga dari desa-desa lain. Di sini terdapat dua pesantren, yang pertama dikelola oleh Abah Noor Zein, lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantrennya bernama Kampung Damai, yang merupakan terjemahan dari Darussalam, nama pesantren Gontor. Yang kedua diasuh leh Kiai Abdul Jalil, lulusan pesantren Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Di Perbutulan, setiap pemilu selalu dimenangkan partai Islam, termasuk di masa represif Orde Baru. PPP selalu menang sekitar 90 persen. Di masa Reformasi ini yang terbesar menjadi PKB, lalu PPP dan PKS. Di masa Orde Lama, pada pemilu 1955, yang menang adalah Masyumi. Lalu pada pemilu pertama Orba, yang menang adalah Parmusi. Walaupun secara kultural mereka adalah nahdliyin (NU), namun Masyumi kuat karena faktor Aljam’iyatul Washliyah. Organisasi bermazhab Syafii ini, salah satu mazhab paling kuat di NU, berpusat di Medan, Sumatra Utara. Nah, Washliyah memang menginduk ke Masyumi, lalu Parmusi.

Al Washliyah memang sangat kuat di Perbutulan karena di wilayah ini awalnya cuma ada Madrasah Ibtidaiyah Al Washliyah (setingkat SD). Tak ada sekolah pemerintah. Sehingga hampir seluruh warga Perbutulan bersekolah di sekolah ini. Namun pada 1976, pemerintah kemudian mendirikan SD Inpres, di perbatasan Perbutulan-Watubelah. Mengapa diletakkan di perbatasan? Karena warga menolak yang berbau pemerintah. Ini wajar, karena mereka memilih PPP setiap pemilu, maka Perbutulan selalu dikucilkan oleh pemerintah. Namun secara perlahan, warga mulai sadar tentang kualitas sekolah. Maka walau terletak di perbatasan, banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di SD Inpres. Maka tahap selanjutnya dibangun SD Inpres di Ledok, yang berada relatif di tengah, sebelah barat Latar Tengah. Maka sejak saat itu, mayoritas anak bersekolah di SD Inpres. Namun MI Al Washliyah tetap hidup dan makin maju. Bahkan pada 1979 berdiri SMP Al Washliyah, yang tetap kokoh hingga kini. Bahkan mendirikan TK Al Washliyah, yang merupakan TK terbaik di Sumber.

Dulu, di Perbutulan ada organisasi kepemudaan yang sangat hidup. Namanya Barbathuly. Tokohnya adalah Noor Zein. Mereka mengajarkan tentang keterampilan berorganisasi, dan berbagai kegiatan anak muda lainnya. Salah satu kegiatannya adalah Pengajian Umum yang dilakukan tiap bulan. Tempatnya di halaman sekolah Al Washliyah. Pengunjungnya selalu membludak dari berbagai desa. Setiap ulang tahun Barbathuly juga diadakan berbagai turnamen sepak bola, bola voley, tenis meja, kasidah, teater, khitanan massal, dan bakti sosial. Pesertanya dari berbagai desa. Dananya hasil sumbangan masyarakat, alias mandiri. Kegiatan ini sangat meriah. Tak ada acara serupa di desa-desa lain. Namun kemudian organisasi ini berantakan.

Perbutulan juga merupakan lokasi shooting film Harmonikaku serta Matahari-Matahari. Semuanya disutradarai Arifin C Noer. Maklum moyang Arifin berasal dari Perbutulan. Arifin masih kerabat Noor Zein. Film pertama dibintangi Fachrul Razi, film kedua dibintangi Marissa Haque. Saat shooting Harmonikaku, Jajang C Noer yang sedang hamil tua anak pertamanya, selalu menemani suaminya yang sutradara itu. Ia selalu duduk di samping kamera. Wajah Jajang masih tembem dan selalu berbedak tebal. Tak seperti sekarang. Dalam film Harmonikaku, anak-anak Perbutulan juga dilibatkan sebagai pemain figuran. Ceritanya, Fachrul, sang bintang cilik, berasal dari Desa Perbutulan sebelum berurbanisasi ke Jakarta. Nah, para pemain figuran itu sebagai teman mengaji Fachrul saat di kampung.

Kesuwun kanggo http://id.wikipedia.org sing wis tak cukil – cukil tulisane ning kene…matur kesuwun, Lud !