Peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia pada tanggal 22 Juni 1527M, diawali dengan kegagalan kerajaan Islam Demak mengusir Portugis di Malaka (1512-1513 M). Militer Portugis yang dipimpin Alfonso D’Alburqueqe menjadi arogan, dan terus mengintai kerajaan-kerajaan di pulau Jawa untuk dijadikan negeri jajahannya. Portugis berpikir tentang bagaimana caranya agar Demak dan kerajaan lainnya di pulau Jawa dapat dikalahkan. Terpikir oleh mereka untuk mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang merupakan musuh bebuyutan, tetapi memiliki wilayah yang cukup potensial yakni Pakuan Pajajaran dan Pasuruan. Kesepakatan kerjasama kemudian dilakukan dengan kerajaan Pajajaran pada tahun 1522 M di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Tugu. Pihak Portugis diwakili oleh Henrique Leme, sedangkan kerajaan Pajajaran diwakili oleh Sang Hyang atau Samyam (De Graff dan Th Pigeud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram).

Sesuai perjanjian tersebut, Portugis berhak membangun pos pertahanan di Sunda Kalapa. Melihat hal ini, Cirebon selaku penguasa daerah Banten yang bedekatan dengan Sunda Kalapa, merasa tidak nyaman dengan kehadiran Portugis yang semakin lama semakin meresahkan.

Sebagai sekutu Cirebon, Demak segera mengirimkan pasukan ke Cirebon dan mengutarakan maksudnya kepada Sunan Gunung Jati untuk membantu Cirebon menaklukkan Sunda Kalapa.

Pasukan Demak yang dipimpin ulama kharismatik Tu Bagus Pasei atau Fadillah Khan (Fatahillah atau Faletehan) beserta Pasukan Cirebon yang terdiri dari Angkatan Laut Sarwajala dipimpin oleh pendekar Ki Ageng Bungko, Angkatan Darat Yudha Laga dipimpin oleh Pangeran Cirebon, dan pasukan khusus Singa Bharwang Jalalullah yang terdiri dari para pendekar harimau dipimpin oleh Adipati Cangkuang, serta sepasukan pendekar cadangan yang dipimpin oleh Adipati Keling, kemudian berangkat ke Sunda Kalapa dengan menaiki perahu Bantaleo dengan panji kebesaran kerajaan Cirebon Macan Ali, dan panji kerajaan Demak yang bergambar pedang menyilang bertuliskan kalimat syahadat dipimpin oleh Patih Yudhanagara.

Portugis mendapat serangan dari dua arah, darat dan laut. Meski peralatan perang Portugis lebih modern, namunhal tersebut tidak dapat memadamkan semangat juang pasukan gabungan. Akhirnya pada tahun 1527 M, bertepatan setelah Maulid Nabi Muhammad SAW, pasukan Portugis dapat diusir. Untuk mengenang kejayaan tersebut, Sunda Kalapa diubah namanya menjadi Jayakarta, yang berarti “tempat kemenangan”. Kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Fadillah Khan sebagai bupati Jayakarta dengan gelar Pangeran Jayakarta.

Pada saat ini di Cirebon peristiwa ini diabadikan dalam bentuk kesenian Angklung Bungko, yang di dalamnya terdapat seni silat dan tari Bantaleye dengan nyanyian yang berbunyi:

 

Pring ketupruk-tupruk //Pring ketupruk-ketupruk

Bubung isi merang//Bubung isi merang

Cilik diepuk-epuk//Kecil diempok-empok

Bareng gede maju perang//Sudah besar maju perang

 

Perang ning Betawi//Perang di Betawi

Durung aman during balik//Sebelum menang tidak akan kembali

Balik metu ngalor//Kembali pulang ke Cirebon

Nyangking bedil isi pelor//Merampas bedil dengan pelornya

Dor, dor, do//Dor, dor, dor

 

dijukut sing http://www.wikimu.com kesuwun ya Kang…