Tanggal 22 Juni 2008 yang lalu Kota Jakarta merayakan ulang tahunnya ke-481. Tidak seperti kota-kota lainnya, Jakarta mengambil namanya sendiri sebagai patokan hari ulang tahunnya. Andaikata Pasar Ikan yang kemudian berganti nama menjadi Sunda Kelapa, yang oleh para ahli diyakini sebagai asal muasal Kota Jakarta menjadi patokannya, pasti umur Kota Jakarta sudah lebih dari 500 tahun.

Nama Sunda Kelapa, menurut Prof. Poerbatjaraka, sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Pajajaran 1335. Bahkan mungkin sejak zaman Kerajaan Tarumanagara (abad IV – V) yang menjadikan Sunda Kelapa sebagai bandar lautnya. Logikanya, bagaimana mungkin agama Hindu bisa tersebar dari India sampai ke bumi Jawa Barat kalau wilayah ini tidak memiliki bandar laut.

Adalah Fatahillah, yang sering disebut Falatehan, panglima perang kerajaan Demak yang merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis yang dipimpin Francisco de Sa, salah seorang anak buah Panglima Angkatan Laut Portugis Vasco da Gama, pelopor pelayaran armada Portugis ke Timur Jauh.

Francisco lantas mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, artinya Hari Kemenangan Akhir. Nama ini kemudian dipilih oleh Fatahillah sebagai peringatan kebrutalan tentara Portugis waktu menyerang dan menduduki Kerajaan Samudera Pasai, kampung halamannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Fatahillah tinggal di Cirebon. Di sana ia menyebarkan agama Islam ke wilayah pesisir utara Jawa Barat sampai akhir hayatnya. Jasadnya dimakamkan di Desa Gunung Jati, Cirebon. Itu sebabnya ia dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo.

Lantas apa hubungannya dengan nama-nama tempat di Jakarta yang mirip dengan nama daerah di Cirebon? Apakah lantaran Fatahillah ingin bernostalgia sehingga mengabadikan beberapa nama di Jakarta untuk dipindah ke Cirebon? Tak ada yang tahu pasti.

Yang jelas, salah satu pasar swalayan teramai di Cirebon bernama Grage Mall. Swalayan ini awalnya sebuah stadion dan kolam renang bernama Gunung Sari. Dinamakan Gunung Sari, karena terletak di Kampung Gunung Sari. Dalam bahasa Sunda Gunung Sari berarti gunung yang indah. Dari tempat itu bisa tampak keindahan Gunung Ciremai di kejauhan. Apalagi pada pagi dan sore hari saat udara cerah. Boleh jadi ini tak jauh berbeda dengan nenek moyang orang Betawi menikmati keindahan Gunung Salak dari wilayah Gunung Sahari. Tentu ini cerita ratusan tahun lalu sebelum Jakarta jadi rimba beton macam sekarang.

Di barat Gunung Sari terdapat Kampung Cideng. Nama itu berasal dari bahasa Sunda ci artinya air atau sungai, dan hideung adalah hitam. Jadi Cideng berarti air payau, atau sungai kotor berwarna hitam. Sebelum terbentuk permukiman penduduk, wilayah ini memang digenangi air payau dengan sungai yang mengalirkan air berwarna hitam. Ini tidak jauh berbeda dengan sungai Cideng di Jakarta yang juga berair hitam. Satu kilometer arah timur laut Gunung Sari terdapat Kampung Kramat. Di timurnya ada Kampung Pegambiran, sementara di selatan ada Cideres atau sungai deras, yang mengingatkan orang pada Kalideres di Jakarta. Kampung-kampung itu kini masuk wilayah Kotamadya Cirebon.

Di luar Kota Cirebon, kira-kira enam kilometer ke utara, ada Desa Grogol. Beberapa kilometer ke barat ada Desa Cangkring, bisa jadi berasal dari Cengkareng. Dari Desa Grogol ke utara ada Desa Srengseng. Ke arah timur Kota Cirebon menuju perbatasan dengan Jawa Tengah, terdapat Kecamatan Losari. Di selatannya ada Kecamatan Ciledug, sementara di baratnya ada Desa Lemah Abang.

Ke arah selatan Kota Cirebon terdapat Desa Pejaten. Ada pula Desa Caracas yang mengingatkan pada nama Ciracas di jalan raya Bogor. Sementara Desa Ciniru mengingatkan pada wilayah elit Cinere. Bila terus ke selatan sampailah di Kota Kuningan sebagai ibukota Kabupaten Kuningan. Sementara daerah Kuningan di Jakarta menjadi salah satu kawasan bisnis Jakarta.

Kalau diadakan penelitian lebih lanjut, mungkin masih banyak nama-nama desa di wilayah Cirebon yang sama dengan nama-nama kampung di Jakarta.

Tulisan iki dijukut sing http://dwiheriyanto.wordpress.com matur kesuwun ya Kang…

Iklan