Masjid Panjunan di Cirebon lebih mirip surau karena ukurannya yang kecil ketimbang sebuah masjid. Hanya sekitar 100 jemaah shalat bisa memadatinya. Pada shalat dhuhur sehari-hari, hanya sekitar 20 orang bergabung dalam deretan jemaah.

 

Tapi, inilah masjid yang hidup. Selain menjadi tempat shalat, kita bisa menyaksikan seorang guru mengajar mengaji anak-anak di situ sore hari. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, baik ketika orang bahkan dari luar kota berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

 

Lebih dari segalanya, inilah masjid tertua di Cirebon, dan mungkin salah satu yang tertua di Jawa, yang menjadikannya unik. Berdiri di sebuah pojok bagian kota tua Cirebon, masjid ini menyimpan sejarah panjang. Dia didirikan pada 1453, lebih tua dari Masjid Agung Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530), dan Masjid Agung Keraton Kasepuhan Cirebon sendiri (1549).

 

Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok di masjid ini sehingga dia juga sering disebut Majid Merah. Bangunan bata ini merupakan warisan arsitektur kuno Hindu-Majapahit.

 

Masjid ini terletak di kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik proselen dan didirikan oleh Pangeran Panjunan yang merupakan murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Sembilan Wali, penyebar Islam di Jawa. Menurut risalah kuno Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

 

Pangeran Panjunan dimakamkan di Plangon (12 km barat-daya Cirebon). Makamnya merupakan salah satu tujuan ziarah penting di Cirebon, terutama pada 27 Rajab, ketika sebuah upacara tahunan digelar untuk memperingatinya.

 

Meski nuansa Arab tak terelakkan bila dilihat tradisi minum gahwa, ornamen masjid ini, seperti bangunan kuno lain di Cirebon, sangat kental dipengaruhi oleh seni tradisional Tionghoa. Piring-piring porselen asli Tiongkok menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon dan bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di kota itu.

 

Sebuah legenda menyebutkan, keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Tak jauh dari masjid itu terdapat kuil Buddha kuno–Vihara Dewi Welas Asih, yang didominasi warna merah juga.

 

Fakta kuatnya pengaruh Tionghoa menerbitkan spekulasi sejarah, yang masih diperdebatkan sampai sekarang, bahwa orang-orang Tionghoa lah, bukan pedagang Gujarat, penyebar Islam pertama di Jawa. Keislaman China memang lebih tua ketimbang Jawa. China telah mengenal islam disaat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.

 

Lepas dari semua kontroversi, Masjid Panjunan mewakili sikap kosmopolit hasil persilangan budaya sejak dahulu kala. Simbol lain dari percampuran budaya ini juga nampak dalam ornamen kereta Paksi Nagaliman. Kereta kebesaran kesultanan Cirebon di masa lampau itu berbentuk hewan bersayap, berkepala naga, dan berbelalai gajah (ganesa). Hal itu menyiratkan makna bahwa budaya Cirebon terbentuk dari tiga kekuatan besar, yakni kebudayaan Cina (naga), kebudayaan Hindu (gajah), dan kebudayaan Islam (liman). Cirebon sendiri berasal dari kata caruban, atau campuran.

 

Pengaruh Tionghoa sebenarnya tidak hanya menancap dalam arsitektur, melainkan juga dalam seni topeng yang karakternya mirip tokoh Opera Peking; dalam seni batik Trusmi; serta dalam seni lukis kaca yang masih hidup sampai sekarang.

 

Cirebon mewakili sejarah pertemuan Islam-Tionghoa yang sangat mewarnai kota-kota pesisir utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, kota-kota yang pernah dikunjungi Cheng Ho, seorang panglima dan pengelana muslim dari Dinasti Ming.

 

Cheng Ho tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia yang dulu Nusantara. Budaya Sino-Javanese Muslim Cultures yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa.

 

Pada 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring bertuliskan ayat Kursi yang kabarnya masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

 

Tradisi masyarakat Cirebon mengenal tokoh Islam Tionghoa yang klasik, seperti Tan Eng Hoat (Maulana Ifdhil Hanafi), Tan Sam Cai alias Muhammad Syafii (ahli moneter di masa awal kesultanan Cirebon), dan Kung Sam Pak atau Muhammad Murjani (keturunan Kung Wu Ping, pendiri mercusuar Cirebon). Bersama Sunan Gunung Jati, tokoh-tokoh China muslim itu bahu-membahu menyebarkan Islam sekaligus memperluas teritorial Kesultanan Cirebon ke seantero Jawa Barat.

 

Masjid Panjunan, dan sejarah Cirebon pada umumnya, mencerminkan sikap saling-menghargai antar-budaya dan antar-keyakinan sejak dahulu kala, suatu hal ironisnya meluntur belakangan ini.

 

kesuwun kanggo http://kontekaja.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun, Kang