Datangnya musim hujan disambut suka cita di Cirebon. Masyarakat menyambutnya dengan tradisi memayuh Ki Buyut Trusmi. Dalam pesta rakyat ini sejumlah pusaka warisan Ki Buyut Trusmi serta hasil bumi dikirab. Arak-arakan juga dimeriahkan tarian langka.

Arak-arakan ini merupakan bagian dari prosesi memayuh Ki Buyut Trusmi. Tradisi menyambut datangnya musim hujan di Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah pusaka warisan Ki Buyut Trusmi serta hasil bumi ikut dikirab dalam prosesi ini. Serta dimeriahkan tari-tarian langka.

Sejak pagi peserta arak-arakan sudah memenuhi jalanan. Ribuan warga juga tumpah ruwah disepanjang jalan. Mereka datang tidak saja dari sekitar kota Cirebon, tapi juga Majalengka, Indramayu dan Kuningan.

Pada barisan terdepan, 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi dibawa para kemit, petugas jaga makam keramat.

Prosesi kirab ini dimulai dan berakhir di Makam Ki Buyut Trusmi dengan mengambil rute memutar sekitar 6 kilometer melewati jalan Pantura – Plered. Prosesi berlangsung sekitar 3 jam, sehingga ruas jalur Pantura – Plered ditutup total.

Setelah rombongan pembawa tombak pusaka, barisan berikutnya adalah para sesepuh Trusmi dan para pejabat tingkat kecamatan Plered dan Weru, Cirebon. Kemudian disusul barisan pembawa ranting bambu.

Kulit atau atap rumbia ini akan dipasang di komplek makam keramat Ki Buyut Trusmi. Pengantian atap juga berarti persiapan memasuki musim hujan. Tradisi memayuh ini merupakan perwujudan rasa syukur atas datangnya musim hujan. Bagi para petani, datangnya musim hujan merupakan berkah dari Tuhan, sehingga mereka dapat bercocok tanam.

Dalam prosesi ini, tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi juga ikut dikirab.

Bagi warga, tradisi memayuh ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi.

Mereka percaya benda-benda ini mengandung berkah karena sudah didoakan oleh para sesepuh. Selain pusaka dan hasil bumi, arak-arakan juga menampilkan sejumlah tari-tarian khas rakyat seperti tari Babak Yoso dan Tari Angun.

Tarian ini tergolong langka karena sudah jarang ditampilkan. Tari Babak Yoso merupakan tari perjuangan rakyat Trusmi dalam melawan penjajah Belanda. Dengan senjata tombak di tangan, para penari pria dan wanita menari dengan gagah.

Arak-arakan juga dimeriahkan sejumlah atraksi seperti kudang lumping, jakungan dan drum berjalan. Untuk menarik perhatian, sejumlah warga dan anak-anak dilumpuri cairan arang bercampur minyak.

Prosesi memayuh ini berakhir di komplek Makam Ki Buyut Trusmi. Seluruh warga yang terlibat kirab ditandai dengan acara makam bersama.

Sebagian warga berziarah ke Makam Ki Buyut Trusmi. Ziarah itu dilakukan sebagai penghormatan atas jasa Ki Buyut Trusmi sebagai salah seorang tokoh penyebar agama Islam pada zaman Kerajaan Cirebon.

Sebagian warga menganggap Ki Buyut Trusmi adalah Mbak Kuwu Cirebon yang merupakan paman Sunan Gunung Jati dan orang yang pertama kali membuka pendukuhan Cirebon.

Namun menurut versi Keraton Kanoman dan Kasepuhan, kedua tokoh tersebut adalah dua orang berbeda. Konon Ki Buyut Trusmi mahir membuat batik dan mengajarkannya ke masyarakat sebagai media dakwah.

 

Ketrampilan membatik tersebut tetap bertahan hingga kini, sehingga daerah itu dikenal sebagai sentra penghasil batik. (Helmi Azahari/Sup)

kesuwun kanggo http://www.indosiar.com sing wis tak jukut tulisane…kesuwun, Kang!