Antara fiksi dalam komik dan kenyataan begitu tipis batasnya sehingga dirasakan begitu nyata oleh pembacanya. Sebut saja serial komik Jaka Sembung karya Djair Warni di pertengahan tahun 1960-an.

 

“Banyak orang mengira dia hidup dan nyata. Saya bertemu dengan seorang pemuda di sebuah pameran. Dia bercerita pernah bertapa di gua-gua mencari Jaka Sembung. Ada juga tulisan di sebuah majalah misteri soal Jaka Sembung. Kabarnya, seorang wartawan majalah itu bertapa di Gunung Sembung dan ketemu arwah Jaka Sembung. Wartawan itu mengaku diberi keris pusaka. Jaka Sembung itu fiksi, tapi akhirnya menjadi legenda, lalu menjadi mitos,” ujarnya.

 

Djair lebih heran lagi ketika di sebuah seminar budayawan di Taman Ismail Marzuki tahun 1983 juga menganggap Jaka Sembung adalah tokoh cerita fiksi. Padahal, si Jaka Sembung itu hanya tokoh rekaan Djair yang asli Cirebon itu.

Kata Djair, nama Jaka Sembung berasal dari kata jaka yang berarti pemuda dalam bahasa Jawa atau Sunda. Sembung berasal dari Gunung Sembung. Jaka Sembung berhasil menumpas musuh di Gunung Sembung dan oleh pesantren setempat dia dianugerahi julukan Jaka Sembung. “Nama aslinya sebetulnya Parmin. Karena ia dari keraton alias darah biru, jadi namanya Parmin Sutawinata. Ceritanya si Jaka lahir tahun 1602, sama dengan berdirinya VOC, jadi seolah-olah dia dilahirkan untuk menentang VOC,” ujar Djair.

Dia menerka banyak orang kecele karena Jaka Sembung memang dekat dengan keadaan di lingkungan sosial masyarakat.

Jaka Sembung yang jago silat itu tidak digambarkan berlebihan seperti layaknya superhero atau jagoan lain yang tampil fantastis, seperti Panji Tengkorak atau Si Buta Dari Goa Hantu.

“Jaka itu orang biasa. Artinya, kalo dia ke masjid, ya pakai peci dan sarung. Kalau ke sawah pasti telanjang dada dan pakai topi bambu,” ujar Djair yang tinggal di kawasan Matraman Dalam, di mana banyak terdapat mushala—kehidupan di sekitar rumah ibadah menjadi bagian dari irama hidupnya.

Rumah mungil di belakang mushala kecil itu begitu ramai. Suara video game berdesingan diselingi “kicau” kanak-kanak. Rupanya, bagian depan rumah itu dipakai untuk tempat penyewaan video game.

Dari dalam rumah yang terjepit di permukiman padat penuh gang tikus di kawasan Matraman Dalam itu, Djair Warni dengan rambutnya yang keputih-putihan muncul menyungging senyum dan mempersilakan masuk. Ini dia pencipta Jaka Sembung, tokoh komik pendekar dan jagoan itu.

Sekalipun Jaka Sembung sudah lama tidak keluar dan mejeng di display-display toko buku, sesungguhnya Djair tidak sepenuhnya berhenti berkarya. Pria jebolan STM bidang perkapalan di Cirebon itu dengan semangat empat lima menunjukkan berkas-berkas yang tengah dikerjakannya.

Tampak goresan-goresan yang penuh keyakinan dan sebagian sudah ditimpa spidol. Panel-panel itu bagian adegan dari komik Jaka Sembung Pendekar Metropolitan yang sedang dikerjakannya. Ya, bagi yang sempat besar bersama Jaka Sembung, tentu ceritanya sudah jauh berbeda.

“Yang ini ceritanya ada pemuda kerasukan arwah Jaka Sembung, terus mendadak menjadi pendekar,” ujarnya. Tentu saja Jaka Sembung yang satu ini tidak melawan kompeni atau tuan tanah jahat. Musuhnya, para koruptor dan bandar narkoba! Masalah alot yang dialami generasi sekarang.

Ide itu muncul ketika suatu kali Djair mendengar cerita dari seorang pemuda yang mengaku bertemu Jaka Sembung saat sedang naik gunung. Ada juga beberapa orang lain yang sampai bertapa untuk meminta kebajikan Jaka Sembung. Padahal, menurut Djair, tokoh Jaka Sembung itu benar-benar lahir dari alam khayalnya alias fiksi belaka.

Djair terus menggambar komik untuk tetap melatih diri walaupun kemudian hanya dinikmati sendiri. Sewaktu-waktu dia membuat skenario untuk sinetron Jaka Sembung, Si Tolol, atau Jaka Geledek. Karyanya yang banyak terbit pada era tahun 1960-an hingga 1970-an itu selama ini tidak mendapatkan royalti dan biasanya dijual putus.

kesuwun kanggo http://komik.multiply.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!