Pelabuhan Cirebon mulai berkurang aktivitasnya ketika sore menjelang. Hanya beberapa buruh angkut batu bara yang masih bekerja, sebagian duduk menunggu giliran. Buruh angkut berlega hati. Masuknya satu tongkang batu bara untuk dibongkar berarti pemasukan untuk mereka pada hari itu.

Dulgani (47), salah satu sopir angkut batu bara, mengakui, pendapatan mereka bulan ini lumayan tinggi. Karena bongkar muat batu bara bisa dilakukan setiap hari, ia bisa memperoleh Rp 100.000 per hari.
Namun, dua bulan mendatang, pendapatan buruh mungkin menjadi tak pasti lagi. Jika ombak laut tinggi, tidak ada kapal merapat. Kegiatan bongkar muat pun tak ada. Sulit berharap banyak karena kini Pelabuhan Cirebon hanya untuk bongkar muat batu bara.

Pelabuhan yang kini sepi, dulunya merupakan pelabuhan besar yang dibangun pada abad ke-15. Pada ”Babad Cirebon” disebutkan bahwa Cirebon merupakan salah satu pelabuhan ramai di Jawa. Pedagang datang dari berbagai negara, mulai dari Arab, Hindia, dan China.

Di sinilah Sunan Gunung Jati awalnya menapakkan kaki di tanah Jawa, kemudian menyebarkan Islam di Jawa Barat serta membangun Kerajaan Cirebon. Pada masa kolonial, ketika Priangan dan Cirebon menjadi pusat perkebunan teh, kopi, dan tebu; pelabuhan kian ramai.

Dalam buku Sejarah Perkebunan Indonesia; Kajian Sosial Ekonomi karya Sartono Kartodirjo, pada tahun 1725 produksi kopi jawa mengungguli Yaman. Sekitar tahun 1865, Pemerintah Belanda membangun pelabuhan baru untuk mendukung lalu lintas perdagangan. Pada tahun 1890, pelabuhan ini dilengkapi dengan gudang penyimpanan berbagai hasil bumi yang hendak dikirim ke Eropa.

Sejarawan Cirebon TD Sudjana mengatakan, komoditas perkebunan dulu dikirim dari pusat perkebunan menggunakan kereta yang bermuara di pelabuhan. ”Pelabuhan inilah yang menggerakkan urat nadi ekonomi Kota Cirebon dan sekitarnya,” ujar Sudjana.

Hingga era kemerdekaan, Cirebon tumbuh sebagai kota usaha dan dagang. Pertambakan udang juga menjadi komoditas utama di kota dan kabupaten Cirebon. Komoditas itu menggiurkan karena harga udang saat itu dinilai dengan dollar. Namun, imbas negatifnya adalah hutan bakau yang dibabat menjadi pertambakan udang.

Pada tahun 1973, industri rotan Cirebon mulai bangkit karena bisa menembus pasar ekspor. Tahun 1986 ketika keran ekspor rotan mentah ditutup pemerintah, industri ini berkembang pesat. Dari sekadar kelas lokal, industri rotan Cirebon mampu menguasai pasar dunia. Meski industri rotan bertumpu di kabupaten, dampaknya bisa dirasakan di Kota Cirebon.

Cirebon boleh jadi bukan kota wisata, tetapi hotel kelas kecil hingga berbintang banyak berdiri di sana. Bisnis dan usaha menjadi lebih hidup dan berkembang di kota kerajaan ini.

Akan tetapi, zaman keemasan itu telah berakhir. Udang yang menjadi ikon Cirebon hilang. Kegagalan panen terus terjadi karena kondisi ekologi yang memburuk. Rotan yang sempat menguasai ekspor pasar dunia terpuruk karena industrinya tak bisa mendapatkan bahan baku akibat dibukanya lagi keran ekspor rotan mentah.

Pengangguran menjadi persoalan baru karena 50.000 tenaga kerja yang bisa diserap industri rotan harus menganggur. Geliatekonomi bisnis kota pun terganggu. Pendangkalan mempercepat kemunduran Pelabuhan Cirebon. Hanya kapal-kapal batu bara yang masih setia bersandar. Kapal pengangkut kayu tinggal 2 atau 4 kali dalam sebulan.

Wali Kota Cirebon Subardi dalam berbagai kesempatan mengakui bahwa Kota Cirebon bukan lagi kota udang dalam arti sebenarnya. Cirebon menjadi kota usaha dan dagang. Pembangunan kota pun bertumpu pada berkembangnya pasar jasa. Ruko-ruko tumbuh di berbagai jalan utama, juga mal besar.

Prof Dr Abdullah Ali, sosiolog dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon, pun mengakui, memang hanya itu yang bisa dijual Cirebon masa kini. Namun, berdirinya pusat perbelanjaan baru telah mematikan pusat perbelanjaan lama. Perkembangan ekonomi Cirebon pun seolah jalan di tempat dan rentan masalah.

Satu-satunya hal yang masih menjadikan Cirebon ramai adalah posisinya sebagai lokasi persinggahan. Namun, ketika nanti jalan tol trans Jawa selesai dibangun, dipertanyakan posisi Cirebon sebagai persinggahan itu.

Sekitar 200 tahun silam, saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels membangun jalan raya Anyer-Panarukan, Cirebon menjadi salah satu kota yang hidup. Cirebon berkembang menjadi pusat perdagangan komoditas dari Priangan.

Kini setelah zaman perkebunan lewat, rotan tak bisa jadi harapan, udang mulai hilang, dan pelabuhan sudah jarang didatangi kapal, Cirebon bisa menjadi kota yang bakal dilupakan. Atau, jangan-jangan memang Cirebon kini telah terlupakan?

from : http://www.kompas.com/lipsus/daendels_read/2008/08/20/11114457/cirebon.bakal.dilupakan