Pada masa jaman Belanda masih berkuasa, mereka menggunakan nama Cirebon saat ini dengan sebutan Kota Praja Cheribon.

Rumah Sakit Sunan Gunung Djati sebelumnya bernama Rumah Sakit Orange. Rumah sakit orange ini mulai dibangun pada tahun 1920, tepatnya 14 Maret dan baru satu tahun kemudian tanggal 31 Agustus 1921 rumah sakit milik Kota Praja Cheribon ini resmi digunakan.

Saat itu rumah sakit ini dibangun dengan biaya pemerintah Belanda sebesar 75.800 Gulden. Saat awal berdirinya, rumah sakit ini ternyata terus mengalami kerugian akibat banyaknya pasien kelas 3 dan empat yang dirawat dan tidak mampu membayar biaya pengobatan. Akhirnya rumah sakit diambil alih oleh pemerintahan provinsi kala itu.

Selain membangun rumah sakit, pada tahun 1916 pemerintahan Belanda juga membangun sejumlah pasar tradisional yang menjadi pusat perdagangan masyarakat. Pasar Kanoman merupakan pasar terbesar yang dibangun tahun itu. Tahun 1918 bahkan Pasar Kanoman diperluas dan sebanyak empat pasar dilokasi berbeda juga ikut dibangun.

Dan rupanya pemerintahan penjajah juga memikirkan tentang pembangunan kawasan perumahan di Kebon Baru, Cheribon. Tahun 1926 hingga 1929 mulai membangun komplek-komplek perumahan melalui perusahaan yang didirikan bernama NV “ Volkshuisvestin Cirebon”.

Tahap pertama dibangun rumah dari dinding batu dan disewakan. Sebanyak 44 unit rumah disewakan seharga 2-6 Gulden yang kemudian dianggap terlalu murah dan akhirnya merugi. Namun 42 unit rumah lainnya yang disewakan seharga 20-77 Gulden dapat menangguk keuntungan.

Namun dalam perkembangannya semakin banyak masyarakat yang mampu membangun rumah sendiri sehingga rumah sewa mulai ditinggalkan.

Kini keberadaan bangunan-bangunan kuno tersebut sebagian besar sudah banyak dirombak bahkan hilang. Sebagai contohnya adalah Gedung Korem 063 Sunan Gunung Djati di Jl Karangetas dimana kini telah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan Toserba Yogya.

dijukut saking http://www.beritacerbon.com, kesuwun sanget Kang…