Ditilik dari segi geografis dan kesejarahan, Kota Cirebon memiliki potensi besar untuk menjadi:

Kota Pelabuban


Cirebon meimiliki tiga dermaga untuk kapal-kapal angkut dan perahu navigasi. Panjang rata-rata dermaga sekitar 1.000 meter dengan kedalaman 3-6 meter, karenanya Cirebon menjadi pelabuhan strategis untuk perdagangan di seluruh Indonesia.


Kota Industri


Cirebon juga dikelilingi sejumlah pabrik besar seperti pabrik semen, gula, Kilang bahan bakar minyak Balongan, Pabrik Rokok BAT, dan lain-lain. Pertamina, sebuah badan usaha milik negara yang besar, menjadikan Cirebon sebagai Kantor Pusat Usaha Hulu di seluruh Jawa. Di Balongan, Indramayu, Pertamina telah membangun instalasi pengilangan berkapasitas besar.


Kota Perdagangan


Aktivitas perdagangan di daerah Cirebon tidak hanya terbatas melayani kota-kota Jawa seperti Indramayu, Jakarta, Semarang, Tegal, atau kepulauan Indonesia lainnya tetapi telah mencakup perdagangan ke seluruh dunia.


Kota Budaya/Pariwisata


Dengan aspek sejarahnya yang kaya, Cirebon juga potensial menjadi Kota budaya dan pariwisata. Pengembangan ke arah itu tidak dapat dipisahkan dari obyek wisata yang khas dan tidak dimiliki oleh wilayah lain, yaitu Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabonan. Keberadaan kraton-kraton menimbulkan daya tarik yang kuat terhadap para wisatawan.


Pusat Industri Kecil dan Menengah


Cirebon adalah salah satu kiblat industri kecil dan menengah, khususnya kriya (handicraft) seperti produk rotan dan batik. Tegalwangi adalah sentral industri rotan dan penghasil
“manusia rotan”. Batik Cirebon yang meriah dapat dikembangkan sejajar dengan Batik Malaysia. Kerajinan yang meurpakan keunggulan daerah ini harus terus dipertahankan.


Fungsi-fungsi tadi akan makin berkembang selaras dengan kenyataan bahwa Cirebon juga menjadi simpul transportasi yang penting di Jawa.


PT Kereta Api Indonesia telah mulai meluncurkan Kereta Argojati yang memberikan layanan angkutan baru antara Jakarta dan Cirebon, yang menunjukkan makin pentingnya peran Kota Cirebon.


Sementara itu, tak lama lagi, Cirebon juga segera mendapatkan akses jalan tol dari Cikampek (Jakarta) yang memperingkas jarak tempuh. Cirebon akan makin besar kemampuannya melayani Jakarta, ibukota negara, terlebih jika bisa mengembangkan pelabuhan besar. Rencana jalan tol sudah selesai digarap dan persiapan ke arah tersebut sedang digarap. Demikian juga rencana pembangunan tol Jatinangor-Dawuan yang akan menghubungkan Bandung dengan Cirebon tanpa lewat Cikampek.

 
Dalam rencana lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini tengah menggodok rencana pengembangan bandara internasional Majalengka. Apabila berhasil diwujudkan maka dampaknya sangat besar bagi Cirebon. Kota ini tidak hanya akan menjadi gerbang di tingkat nasional, tapi juga internasional. Pelabuhan dan bandara akan mendorong pertumbuhan Cirebon secara ekonomi.


Namun, pengembangan peran Cirebon dan daerah-daerah sekelilingnya ini tidak dapat dipahami dan dilakukan hanya dengan mengubah prasarana (infrastruktur) fisik saja melainkan harus dengan mengubah dan mengembangkan seluruh modalitas yang ada.


Pengembangan kota baru biasa dikaitkan dengan upaya menampung limpahan (spill over) pekembangan kota utama yang sudah tidak memadai. Sebut saja Kebayoran Baru, Serpong, Cikarang, dan lain-lain. Kalau cara pikir tersebut dijalankan untuk Cirebon, artinya hanya sekedar meresponsi perkembangan yang ada, maka pembangunan kota baru di kawasan tersebut bisa menjadi kemustahilan dan kemubadziran.


Pengembangan kota mandiri juga masih dalam batas melengkapi pemukiman dengan fasilitas pendukung, namun belum dalam kerangka mensinergikan potensi lokal yang ada sehingga mampu mendorong pertumbuhan lebih jauh. Kota mandiri yang ada tampak masih terpisah dari masyarakat di sekelilingnya.


Diperlukan pergeseran pradigma (paradigm shift). Selayaknya pemukiman bukan hanya hamparan fisik tempat manusia menegakkan rumah dan bermukim.


Diperlukan cara pandang baru agar pemukiman menjadi pusat sinergi potensi lokal, khususnya sumberdaya manusia. Oleh sebab itu pembangunan permukiman harus dikaitkan dengan pembangunan ekonomi dan pembangunan masyarakat. Lebih spesifik adalah menghidupkan atau menciptakan sektor riil. Pada gilirannya pertumbuhan sektor riil akan meningkatkan daya beli rumah dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

 
Masuk ke dalam perubahan cara pandang ini adalah terangkumnya nilai-nilai demokrasi, pembangunan berkelanjutan, masyarakat madani (civilized society), dan pengembangan modalitas sosial. Selama ini, pembangunan masyarakat dan manusia relatif terabaikan dikalahkan oleh pembangunan infrastruktur fisik.(BC-33)

 

kesuwun kanggo http://www.beritacerbon.com sing wis tak jukut tulisane… kesuwun kang!

Iklan