Klenteng tua ini berada Kamiran, Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat. Di sinilah setiap tahun dipusatkan perayaan Imlek dan Cap Go Meh, dua keriaan masyarakat Tionghoa dengan pawai barongsai dan liong. Dimulai dari klenteng Tio Kok Sie menelusuri beberapa ruas jalan besar kota Cirebon. Kesenian yang sempat dilarang dipertunjukkan semasa Orde Baru.

 
Istimewanya, perkumpulan barongsai di tempat yang dikenal juga dengan nama Vihara Dewi Welas Asih ini anggotanya bukan hanya masyarakat Tionghoa, malah 90 persennya adalah pribumi muslim. Setiap Selasa, Rabu, dan Jumat petang anak-anak usia SD, SMP, dan SMA itu berlatih di halaman klenteng.


Klenteng Tio Kok Sie dibangun tahun 1595 di tempat yang pada masa itu masih berupa laut. Karenanya, dulu, untuk mencapai tempat ini harus menggunakan perahu. Tidak diketahui siapa yang membangun klenteng ini. Informasi yang tersedia berupa prasasti di ruang utama klenteng yang menyebutkan bahwa Taan Kok Liong, Khang Li, dan Liem Tsiok pada tahun 1658 memberi sumbangan. Di prasasti itu dijelaskan bahwa Khang Li adalah seorang maharaja di Tiongkok yang memerintah semasa Lodewijk XIV di Belanda (1638—1715). Tertulis pula bahwa klenteng mengalami tiga kali pemugaran di bagian ruang utama, yaitu tahun 1791, 1829, dan 1889.


Klenteng yang menghadap selatan ini berdiri di atas tanah seluas 1.857 meter persegi dengan luas bangunan 1.600 meter persegi. Atapnya berbentuk pelana, khas atap rumah Tiongkok. Pintu gerbang klenteng berupa candi bentar yang terbuat dari batu andesit, sedangkan pintu bangunan klenteng terbuat dari kayu kokoh bercat merah.


Pada masing-masing daun pintu terdapat gambar Dewa Perang dan Dewa Penjaga Pintu. Keistimewaan klenteng ini adalah tidak ada satu pun paku sebagai penghubung kayu-kayunya.


Di halaman klenteng tumbuh pohon lengkeng yang usianya sudah ratusan tahun. Pohon ini dipercaya sebagai mata liong. Ada pula hiasan dinding berupa fragmen-fragmen cerita Sam Kok dalam bentuk lukisan menarik.


Di dalam klenteng, berdiri Dewa Penguasa Laut (Seng Hong Yah) dan Dewa Bumi (Hok Tek Tjeng Sin). Dua dewa sembahan ini tak lepas dari posisi Cirebon yang terletak di tepi Laut Jawa, sehingga dewa yang disembah adalah Dewa Penguasa Laut.


Selain dua dewa itu, tentu saja ada sang dewi utama, Kwan Im Pou Sat atau Dewi Welas Asih. Dari nama sang dewi lah nama vihara ini berasal, dan kepadanya pula setiap hari orang datang menanyakan peruntungan serta meminta bimbingan melalui sepasang Sio Pe dan bilah-bilah Ciam Sie.


Sio Pe adalah dua kayu sama sebangun berdiameter 5 cm, satu sisinya datar dan satu sisi lagi berbentuk kubah. Sio Pe digunakan untuk mengetahui restu dari Kwan Im, yakni jika setelah dilemparkan, Sio Pe harus berada pada posisi satu tertelungkup dan satu telentang.


Sebelum melempar Sio Pe, kita “memperkenalkan diri” dulu pada Mak Kwan Im—sapaan untuk Sang Dewi—yakni dengan menyebut nama, kediaman, dan apa yang akan ditanyakan.


Ciam Sie adalah 60 bilah sepanjang 40 cm bertuliskan nomor 1 hingga 60. Bilah yang diletakkan dalam tabung bambu setinggi 30 cm itu harus dikocok dalam posisi miring hingga satu bilah keluar dari tabung dan terjatuh.


Jika Kwan Im memberi restu pada nomor yang ditunjukkan bilah, maka penjelasannya tertulis di selembar kertas yang bertuliskan ramalan harian.

 

Kesuwun kanggo http://galikano.multiply.com sing wis tak cukil tulisane, kesuwun ya…Yayu!

Iklan