Persiapan menjelang panjang jimat bukan hanya terjadi di lingkungan Kraton Kanoman. Tapi juga sampai ke Desa Bendakerep, yang merupakan tanah milik Kraton Kanoman, Cirebon. Di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan ini terdapat sebuah pondok pesantren yang didirikan keluarga keraton.


Meskipun masih berada dalam wilayah Kota Cirebon, namun desa ini tidak memiliki jembatan untuk menyeberangi sungai yang berada di muka desa. Ini bukan karena Bendakerep tidak tersentuh pembangunan modern. Tapi lebih karena pihak pengelola pondok pesantren masih memegang teguh pesan dari para pendiri desa, yang menolak jembatan untuk menuju desa mereka.


Meski telepon selular diperbolehkan untuk dimiliki beberapa orang di desa ini, namun warga tidak diperkenankan punya pesawat radio transistor, karena dikhawatirkan akan memberi pengaruh buruk pada tingkah laku warga.


Dalam ritual panjang jimat, Desa Bendakerep biasa menyediakan buah kelapa dan berbagai hasil bumi lain untuk Keraton Kanoman. Buah kelapa yang banyak tumbuh di Bendakerep, nantinya akan diolah menjadi minyak kelapa, untuk keperluan memasak dalam rangkaian panjang jimat.


Menjelang petang, buah kelapa dan barang-barang lain dari Bendakerep tiba di Keraton Kanoman. Ini memang jadi semacam persembahan bagi sang pemilik tanah. Sang pembawa persembahan pun adalah orang terpercaya. Ia adalah Rodiah.

Dari pihak Kanoman, Sang Ratu Dalem Sultan Kanoman ke-11, Ratu Suri Hajjah Sri Mulya, ibu dari Sultan Kanoman ke-12. Sepertinya ini adalah pemberian yang biasa saja. Namun sesungguhnya, tidak sembarang orang bisa menjadi sang pengantar buah kelapa dari Bendakerep.


Tugas ini hanya dipercayakan pada keluarga Rodiah secara turun temurun. Sebuah kepercayaan yang dengan bangga disandang dan dijaga Rodiah dan keluarganya hingga kini.

Air untuk memasak makanan dalam rangkaian panjang jimat, diambil dari sumur kejayaan, yang letaknya masih dalam lingkungan kraton. Dengan mengusung pundi-pundi, para abdi dalem ini dilarang berbicara sepatah katapun saat mengambil air.

Konon air yang berasal dari sumur ini akan memberi berkah kepada mereka yang memanfaatkannya. Tanaman yang disiangi dengan air ini akan tumbuh subur, jauh dari hama penyakit.

Bahkan ada yang percaya, air ini memberi kesehatan bagi tubuh. Karena itu banyak dari mereka yang datang kemudian mandi di sumur ini, atau sekedar membasuh muka.Beberapa ada yang membawanya pulang. Menurut pihak keraton, mata air di sumur ini tidak pernah kering sepanjang masa, meskipun sedang musim kemarau.

 

kesuwun kagem Suara Merdeka, sing wis tak cuplik sebagian tulisane… Kesuwun Kang!

 

Iklan