Crepe alias kue dadar khas kota udang ini memang sudah tak banyak penjualnya. Bagai crepe Perancis, kue yang satu ini harus dibuat langsung saat akan disantap. Aroma wangi kelapa dan ketan yang ditipiskan di atas wajan sangat gurih menggoda. Tambahan pisang halus plus gula merah melengkapi kelegitan kue ini. Kres..kres.. legit gurih enak!

Wajan besi yang dipanaskan di atas tungku sesekali digosok dengan batu karang agar kerak-kerak adonan hilang. Pertama, 2 sendok makan adonan tepung beras dan kelapa yang lembek dioleskan membentuk lingkaran di atas wajan panas. Satu sendok makan ketan kukuspun ditambahkan, ditipiskan merata di atasnya.

Setengah pisang kapok plus 1 sendok makan gula merah ditaburkan di atasnya. Wajanpun ditutup dan dibiarkan beberapa saat. “Ini supaya pisangnya matang dan gulanya leleh,” jelas mbak Lena sambil menipiskan adonan di wajan yang satu.

Aroma wangi sedikit gosong dari kelapa dan ketan mulai menguap dari wajan. Setelah gula leleh, pisangpun dilumatkan bersama gula di atas dadar dan wajan ditutup lagi. Wangi legit bau pisang mulai tercium beradu dengan gurihnya wangi kelapa. Rasanya sudah tak sabar pengin cepat mencicipi. Wajanpun dibuka dan kue dilipat dua lalu diangkat, ditaruh di atas selembar kertas. Perlu kesabaran dalam menanti kue tapel dibuat.

Gigitan pertama, kres… kres terasa lapisan crepe khas Cirebon yang renyah, sedikit keras karena ada paduan ketan. Mirip dengan kerenyahan kerak telor Betawi. Pisang lumat yang wangi dan sedikit lembek karena lelehan gula merah menjadi topping yang serasi. Renyah gurih di bagian luar dan lembut legit di bagian dalam. Kalau dibandingkan dengan crepe pisang ala Semarang alias kue lekker, maka kue tapel ini lebih padat dan renyah.

Kesuwun kanggo http://www.detikfood.com sing wis tak cuwil – cuwil tulisane… kesuwun kang!