Menurut keterangan Bp. Amang Darta dari Unit Pengelola Keraton Kasepuhan (UPKK) beberapa tanaman yang terdapat pada bangunan-bangunan Kerajaan Cirebon mengandung makna tertentu. Pohon beringin sebagai lambang kekuasaan dan pengayoman; tanjung merupakan lambang nunjung atau menyanjung yang berarti derajat tinggi (bertahta) atau dapat pula diartikan meninggikan derajat (menyanjung); kepel berarti menggenggam; mangga dalam bahasa Jawa disebut pelem merupakan lambang kemauan (gelem); dewadaru berarti cahaya dewa; sedangkan sawo di dalam buahnya terdapat biji yang dalam budaya Jawa dinamakan kecik, sawo merupakan lambang kebaikan (becik).

Rangkaian pohon-pohon yang ada bila dihubungkan dengan keletakannya mengandung arti yang lebih mendalam. Hal ini terlihat pada Keraton Kasepuhan sebagai kelanjutan Keraton Pakungwati pada masa awal pendirian Negari Cirebon ditujukan sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa khususnya Jawa Barat.

Keraton sebagai pusat pemerintahan dipercaya juga sebagai pusat kosmis. Berkaitan dengan simbol pepohonan yang ditanam di keraton, makna yang terkandung berhubungan erat dengan ajaran Islam. Sebelum memasuki komplek keraton, pada halaman alun-alun terdapat pohon beringin yang mengandung pesan agar penguasa selalu mengayomi rakyat. Selanjutnya pada halaman pertama terdapat pohon sawo dan tanjung. Pesan yang disampaikan, penguasa sebagai pengayom rakyat harus selalu berbuat baik (becik) dan selalu ingat kepada Allah (menyanjung). Seluruh syariat agama harus digenggam dengan kuat (kepel). Pesan-pesan simbolis ini berada pada halaman pertama memasuki keraton atau sebagai tingkatan pertama.

Selanjutnya pesan itu diteruskan pada jenjang yang lebih tinggi/dalam sebagaimana pesan pada halaman kedua. Ajaran atau syariat agama harus ditingkatkan tidak hanya dimengerti tetapi harus mau (gelem) dijalankan agar disanjung untuk kebaikan. Sebagai tanda kesempurnaan derajat, manusia akan mendapat sinar kedewaan (dewadaru).

Demikianlah, ternyata pohon yang ada di lingkungan keraton tidak sekedar ditanam tanpa arti, namun mengandung makna filsafat yang tinggi. Makna tersebut terutama ditujukan kepada penguasa agar selalu mengayomi rakyatnya. Sebagai penguasa yang berdasarkan ajaran Islam, penguasa harus dapat dijadikan teladan atau contoh bagi rakyat. Sesuai dengan ajaran Islam, penguasa hendaknya dapat menjadi uswatun khasanah.

Dijukut sing http://www.pelita.or.id kesuwun Kang…