Makam Sunan Gunung Jati, terletak di Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon, hanya sekitar kurang lebih tiga km sebelah utara Kota Cirebon. Kawasan Makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektare. Selain tempat utama untuk peziarah, kawasan itu juga dilengkapi tempat pedagang kaki lima, alun-alun, lapangan parkir, dan fasilitas umum lain


Kawasan Makam Sunan Gunung Jati terdiri dari dua kompleks makam. Yang utama ialah Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung terdiri dari sekitar 500 makam, letaknya di sebelah barat Jln. Raya Cirebon-Karangampel-Indramayu. Yang satu lagi yakni Kompleks Makam Syekh Dathul Kahfi di Gunung Jati, berada di timur jalan raya.


Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung memiliki sembilan pintu utama (Lawang Sanga) di kompleks makam. Namun demikian untuk peziarah umum, hanya diizinkan sampai pintu ke-IV di serambi muka Pesambangan. Serambi muka dibatasi Lawang Gedhe, pintu pembatas bagi peziarah umum.


Di sebelah barat serambi muka ada Lawang Mergu, diperuntukkan bagi para peziarah Tiong Hoa yang ingin berdoa untuk Putri Ong Tien Nio.
Pintu kelima sampai sembilan, lebih ekslusif, hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati, yakni para sultan dan kerabatnya di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.


Pusat dari kompleks yakni Makam Sunan Gunung Jati berada seelah pintu kesembilan, terletak di Puncak Gunung Sembung yang tingginya mencapai 20 meter.


Di dalam areal itu ada Masjid Dog Jumeneng atau Masjid Agung Sunan Gunung Jati, berkapasitas 3.000 jemaah. Terdapat pula Paseban Besar, pendopo tempat upacara penerimaan tamu kehormatan, Paseban Soko tempat permusyawaratan dan Gedung Jimat tempat penyimpanan guci-guci kuno dari berbagai dinasti Tiongkok.


Gapura Penganten (gapura depan tempat masuk ke makam tersebut) ke Makam Utama Sunan Gunung Jati membentuk garis lurus. Melewati sejumlah tempat seperti Lawang Krapyak, Lawang Pasujudan, Lawang Ratnakomala sampai ke yang paling keramat Lawang Jinem. Di Bangsal Jinem Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah (1448 – 1568 m) dimakamkan bersama permaisuri Ratu Mas Pakungwati, selir, dan anak-anaknya.


Kompleks makam dikelola abdi dalem yang setia mengabdi. Berjumlah 120 orang yang dulunya pengawal pribadi. Mereka menggantungkan hidup dari keberadaan kompleks makam. Penghasilan diperoleh dari kotak sedekah yang disebar di sejumlah sudut kompleks makam. Uang dari kotak sedekah dibuka dua minggu sekali. Hasilnya untuk berbagai keperluan, selain para pengelola, juga fakir miskin, keamanan, dan pemeliharaan serta kebersihan

Waktu Ziarah


Pada malam yang dalam kosmologi Jawa dianggap paling bertuah, terdapat belasan ribu orang tumpah ruah di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Puluhan bus, kendaraan pribadi, sampai sepeda motor memadati sejumlah lapangan parkir yang banyak disediakan di sekitar makam. Jalur utama Jln. Raya Cirebon-Karangampel-Indramayu dibuat macet, ratusan kendaraan ke arah Cirebon maupun Indramayu harus rela antre bila melewati kompleks makam itu.


Ada sejumlah puncak kunjungan tempat peziarah memadati Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Selain puncak rutin setiap Jumat Kliwon, ada juga puncak kunjungan yang disatukan dengan upacara atau ritual tradisi dalam Islam.


Setiap Maulid, memperingati lahirnya Nabi Muhammad saw., ada upacara tiga hari tiga malam tanggal 10, 11, dan 12 Maulid. Diisi prosesi “Panjang Jimat”, berupa arak-arakan benda-benda pusaka diiringi pengajian dan salawat nabi.


Lalu ritual Grebek Syawal, dilaksanakan 7 hari setelah Idulfitri. Berupa kunjungan Sultan Cirebon (Sultan Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) dan keluarganya ke Makam Sunan Gunung Jati. Grebek Syawal merupakan kunjungan terpadat. Puluhan ribu warga biasanya tumpah ruah memadati kompleks makam untuk Ngalap Berkah atau berebut makanan yang disediakan para Sultan Cirebon dan keluarganya.


Ada juga Grebek Rayagung, dilaksanakan saat Iduladha. Ritual ini hanya diikuti oleh warga sekitar makam


Untuk bulan Ramadan, hanya ada satu ritual rutin, yakni pencucian “Jimat” atau benda-benda pusaka oleh para Kemit atau Bekel yang dipimpin Jeneng. Pencucian benda pusaka seperti gamelan dan seperangkat alat “pande besi” (pembuatan pedang, golok, pisau, dan sejenisnya) yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati dilakukan pada Ramadan hari ke-20. Pelaksanaannya setelah waktu Salat Subuh. Pencucian untuk menyambut Nuzulul Quran. Dilakukan pagi hari Bada Subuh.

 

Kesuwun sanget kagem http://ninonk28.multiply.com sing wis tak jukut tulisane…

Iklan