Sejarawan Cicero mengatakan “Historia MagistraVitae’ yang artinya sejarah adalah guru kehidupan.

Salah satu peristiwa sejarah yang terjadi masayarakat Cirebon pernah ditulis oleh Saudara Maharyono, yang diterbitkankan oleh penerbit PT. Grasindo pada tahun 2003. Sampai saat ini buku tersebut merupakan satu-satunya buku yang ditulis secara khusus mengupas tentang perjuangan yang dilakukan masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya pada masa perang kemerdekaaan (1945 – 1949).

Buku itu selain menceritakan tentang bagaimana kondisi yang dialami masyarakat Cirebon pada masa kemerdekaan, juga menceritakan secara khusus kisah heroik Pasukan Kancil Merah dan peritiwa Palagan Mandala. Pasukan Kancil Merah pada saat itu memang keberadaanya sangat dikenal oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Pasukan Kancil Merah adalah nama samaran Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di wilayah Cirebon dengan komandannya yang bernama Letnan Abdul Kadir. Pasukan Kancil Merah, merupakan salah satu pasukan gerilya yang memiliki persenjataan yang lengkap dengan jumlah personil yang cukup banyak serta dikenal dengan kedisiplinan dan keberaniannya.

 Tercatat dalam buku yang berjudul “Semuanya Untuk Cirebon” (Maharyono : 2003), Pasukan Kancil Merah mengalami beberapa kali kontak senjata dengan Belanda serta melakukan tindakan sabotese untuk memperlambat gerak pasukan Belanda.

Beberapa anggota Pasukan Kancil Merah yang gugur dalam medan pertempuran, diantarnya kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Cirebon, seperti jalan Kusnan, Jalan Saleh dan Jalan Suratno. Sedangkan Palagan Mandala merupakan peristiwa yang berawal ketika meletusnya Agresi Belanda I sebagai bentuk pengingkaran Belanda terhadap kesepakatan hasil perjanjian Linggarjati.

Belanda melakukan agresinya yang pertama pada tanggal 21 Juli 1947 dengan melakukan penyerangan diberbagai daerah termasuk wialayah Cirebon.

Tepat pada pukul 09.00, bertepatan dengan Bulan Puasa, serangan udara dilancarkan oleh Belanda, sebagai tanda dimulainya agresi militer Belanda ke Cirebon. Padahal saat itu Belanda masih terikat oleh perjanjian Linggarjati. Kota Cirebon diserang dari udara dengan pesawat pemburu dan pembom yang melepaskan tembakan senapan mesin, roket dan bom yang terdiri dari jenis seberat sepuluh hingga seratus kilogram.

Pada tanggal 22 Juli Belanda terus melakukan penyerangan dari udara dan laut. Beberapa daerah yang dijadikan sasaran tembak diantaranya adalah jembatan kereta api Krian, Stasiun Kejaksan, Kutagara, Prujakan dan Pagongan. Akibat insiden tersebut puluhan orang tewas termasuk anak-anak, kaum perempuan serta masyarakat sipil lainnya. Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di Cirebon waktu itu tidak dapat menahan serangan Belanda yang pesenjataannya lebih lengkap dan modern. Atas segala pertimbangan dan untuk menghindarkan dari kehancuran yang lebih fatal Pasukan Siliwangi menjauh ke Desa Mandala untuk mengatur siasat gerilya.

Desa Mandala adalah salah satu desa yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Selanjutnya pertempuran terus terjadi antara pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan Budhi Hardjo dengan pasukan Belanda sampai dengan tercapainya persetujuan penghentian tembak menembak pada bulan Agustus 1949, yang kemudian dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Selama pertempuran yang terjadi di Desa Mandala puluhan pejuang gugur termasuk diantaranya Kapten Hendrik bersama putranya yang baru berusia 10 tahun.

Kini sebagian besar para pahlawan dalam pertempuran Palagan Mandala dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kesenden Kota Cirebon. Masyarakat Desa Mandala pun banyak yang menderita kerugian, baik materi maupun immateri, semuanya dilakukan demi kecintaan terhadap tanah air dan bangsa serta adanya dorongan kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Mungkin masih banyak kisah perjuangan masyarakat Cirebon pada khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya yang sarat dengan nilai –nilai heroik, namun belum tergali. Semua itu merupakan potensi khasanah sejarah bangsa yang tiada ternilai harganya. Sebagai bagian dari generasi muda yang hidup di masa kemerdekaan, tentu akan merasa sangat bangga jika membaca atau mengetahui kisah heroik yang pernah dilakukan oleh para generasi sebelumnya. Sehingga akan timbul rasa kecintaan terhadap bangsa dan tanah air, sekaligus akan tumbuh juga rasa tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara. Seperti apa yang telah diberikan oleh para pahlawan bangsa terhadap negeri ini.

INDRA YUSUF, Praktisi Pendidikan, tinggal di Kota Cirebon.

Kesuwun kanggo http://www.kabarindonesia.com sing wis tak jukut tulisane…Kesuwun Kang!

Iklan