Bedaya rimbe adalah satu bentuk reportoar tari kelompok putri yang hidup di Keraton Kanoman Cirebon, Jawa Barat. Repertoar tari ini bersumber pada cerita “Menak Jayengrana” dan ditarikan oleh enam orang penari putri keraton, yang dipersembahkan dalam setiap upacara kenegaraan Keraton Kanoman pada masa lalu. Ketatnya berbagai aturan yang diberlakukan baik untuk para penari maupun dalam tata cara penyajiannya, jelas menyiratkan kandungan filosofis yang bernilai ritual dan sarat akan makna simbolik aristokrasi. Sebagai satu artefak, maka rimbe memiliki nilai arkaik dan artistik yang tinggi sebagai seni klasik istana dan juga bernilai historik.

Persoalan bedaya rimbe yang tetap misteri selama lebih dari 30 tahunan, keterangan yang ada selama ini hanya merupakan serpihan catatan pendek dari beberapa peneliti terdahulu, seperti dari Dr. Budding (seorang Belanda) 1842, Prof. Dr. R.M. Soedarsono (1972), Theresia Hastuti (1991), dan R.A Nungki Kusumastuti (1980-an), mulai tampak titik terang ketika penulis bertemu dengan P.A. Djoni Arkaningrat (Ngabei Karawitan) di Keraton Kanoman 2000 yang lalu, ketika penulis melakukan penelitian untuk keperluan tugas akhir program S-2 (tesis; Tayub Cirebonan) di Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Dalam dialog ketika itu, muncul semangat Mama Djoni (panggilan akrab penulis) untuk melakukan rekonstruksi agar tarian tersebut bisa hidup kembali melengkapi prosesi ritual kenegaraan di Keraton Kanoman. Upaya tersebut baru terlihat hasilnya di 2003.

Tarian ini terakhir kali dipergelarkan sekitar 1967, ketika Sultan Kanoman waktu itu kedatangan tamu negara dari Prancis yang salah seorang penarinya adalah ibu Ratu Nuraeni dan kakak kandungnya, ibu Ratu Yohana (almh). Bahkan, menurut P.H. Yusup Dendabrata (alm) bahwa tari bedaya Rimbe pernah dipentaskan di Kraton Mangkunegaran awal 1960-an dan saat itu rombongan dari Cirebon setelah selesai pentas, diberi cendera mata berupa jam tangan berlapis emas dari Sultan Mangkunegaran.

Menyoal tentang cerita “Menak Jayengrana”, semula cerita ini bersumber dari kitab Qissai Emr Hamza, satu kesusastraan Persia pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766-809). Di daerah Melayu kitab tersebut lebih dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamzah (Ki Waluyo, 1997). Berdasarkan hikayat itulah yang dipadu dengan cerita Panji, akhirnya lahir cerita Menak. Dalam cerita ini nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa, antara lain Omar bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi`ul Zaman menjadi Imam Suwongso, Mihrningar menjadi Dewi Retna Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Adaninggar dan lain-lain.Pada garis besarnya, cerita menak mengisahkan permusuhan Amir Ambyah (Wong Agung Jayengrana) dari Mekah dengan raja Nusirwan, mertuanya dari Medayin yang masih kafir. Raja Nursirwan yang tidak mau tunduk, selalu berusaha mencari bantuan dan perlindungan dari negara-negara lain yang rajanya bersedia memusuhi Amir Ambyah. Hingga terjadilah peperangan yang berkepanjangan.

Hal lain yang tidak kalah menariknya dari cerita Menak Jayengrana yang merupakan perpaduan antara cerita Panji yang berbau Hindu-Budha dengan cerita Amir Ambya/Hamzah yang berbau Islam dalam tarian rimbe ini adalah keterkaitannya dengan filosofi hidup masyarakat Sunda lama, khususnya pada kosmologi rumah Sunda.

Telah dijelaskan oleh Jakob Sumardjo bahwa bagi urang Sunda kalau rumah menghadap utara, maka wilayah laki-laki berada di bagian utara-barat, sedangkan perempuan di bagian timur-selatan. Ini sesuai dengan pola kosmologi topeng cirebon. Panji yang berada di pusat, membagi dua wilayah timur-selatan yang dihuni oleh tari pamindo dan rumyang (halus/keperempuanan), sedangkan wilayah utara-barat dihuni oleh tari patih/tumenggung dan klana (kasar/kelaki-lakian).

Sementara itu, apabila menelisik secara keseluruhan mengenai bentuk struktur penyajian bedaya rimbe, maka akan terlihat beberapa aspek yang tampak memancarkan aura yang tidak sekadar percikan nilai-nilai artistik semata tetapi lebih jauh memiliki kedalaman makna filosofis. Beberapa aspek yang dimaksud, antara lain jumlah penari yang enam disebutkan merupakan manifestasi dari jumlah rukun iman dalam ajaran agama Islam. Munculnya cahaya dari lilin yang dibawa oleh keenam penarinya merupakan nilai dari setiap rukun yang menjadi cahaya penerang bagi manusia, dalam menjalani kehidupannya baik dalam mencari rida Allah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pula dengan jumlah tiga fase dalam struktur garap penyajian tarinya, sangat simbolik.

Khususnya mengenai struktur penyajian rimbe yang terbagi dalam tiga bagian, terlihat adanya upaya manifestasi nilai-nilai budaya dari masa/periode zaman Sunda lama/wiwitan. Sumardjo berpendapat bahwa angka 3 dan 6 dalam kosmologi masyarakat Sunda lama yang menganut tata nilai berazaskan Tri Tangtu memiliki arti yang penting dan spesifik. Kalau di Jawa dikenal bilangan penting seperti 4, 8, 16, 32, dan seterusnya, maka dalam masyarakat Sunda bilangan penting berupa 3, 6, 12, 24, dan seterusnya. Jika demikian adanya, maka kita bisa membaca kosmologi masyarakat Sunda yang lebih dalam dan komprehensif lewat potret bedaya rimbe. Wacana ini semakin menarik dalam upaya membuka cakrawala pandang masyarakat Jawa Barat (Cirebon, Priangan, dan lainnya) bahwa Jawa Barat adalah Sunda, dan Sunda itu adalah kita, seluruh warga masyarakat Jawa Barat dalam pengertian yang utuh. Semoga***

 

Lalan Ramlan
Pengamat tari

Kesuwun kanggo http://www.pikiran-rakyat.com sing wis tak cuwil – cuwil tulisane, Kesuwun kang…