Setiap perhelatan adat di Cirebon selalu didahului ritual Kodiran, yang berarti selamatan, berlangsung di pendopo agung Prabayaksa. Sultan Kacirebonan bersama 7 ulama dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa memimpin ritualnya. Seperti acara ritual lain, pelaksanaan Kodiran ini juga menggunakan berbagai macam sesaji dan pembakaran dupa. Sesaji ini telah dimasak sehari sebelumnya oleh para perempuan yang telah menopause. Dalam memasaknya, mereka harus puasa makan dan bicara.

Setelah doa diucap, upacara adat berlanjut dengan meletakkan dan menanam sesajian di sekitar Kraton Kacirebonan. Tiga Walpara punggawanya Sultan Kacirebonan berkeliling kraton melakukan ritual peletakkan dan penanaman sesajian. Sesajian memang sulit dipisahkan dari ritual adat, karena ia dipercaya sebagai pembawa penderita bagi para leluhur, bahwa sebuah rencana tengah dijalankan, menyampaikan harapan agar semua berjalan lancar.

Tibalah saatnya menuju pelamaran. Dalam acara ini, calon mempelai pria bersama keluarga besarnya datang ke kraton Kacirebonan. Sebagai tanda lamaran, keluarga pihak pria membawa berbagai benda yang harus diserahkan kepada keluarga calon mempelai perempuan. Diawali pemberian kerbau kepada orang tua pihak perempuan. Selain kerbau, calon mempelai pria juga menyerahkan seperangkat alat sholat, pakaian dan perhiasan, serta uang dapur. Acara lamaran langsung berlanjut dengan siraman Tawandari.

Inilah kesempatan terakhir bagi kedua keluarga dalam menentukan jadi tidaknya menikahkan anak mereka, karena pada upacara siraman ini, kedua calon mempelai disandingkan dan disiram secara bergantian oleh keluarga besar kedua mempelai. Konon dahulu kala, dalam upacara ini dapat diketahui status keperawanan dan keperjakaan kedua mempelai, sehingga kedua orang tua bisa langsung mengambil keputusan, jika ada sesuatu yang terlihat mata batin yang menyebabkan ganjalan di hati.

Melakukan ziarah ke Gunung Jati adalah langkah selanjutnya yang wajib dilakukan kedua calon mempelai bersama keluarga besarnya. Ini adalah tempat leluhur mereka, Sunan Gunung Jati dimakamkan. Sang pendiri Kerajaan Cirebon dan juga salah seorang dari sembilan wali terkemuka. Selain memanjatkan doa di makam sunan, taburan bunga-pun dilakukan di makam para leluhur lain yang juga dimakamkan di Gunung Jati. Usai melakukan ziarah untuk meminta restu, calon mempelai wajid dipisahkan sementara waktu. Mereka tidak diperkenankan bertemu kembali hingga pelaksanaan akad nikah. Mulai saat inilah, kedua mempelai menjalani masa pingitan.

Dalam masa pingitan yang hanya berlangsung satu malam ini, mempelai perempuan harus menjalani ritual pemotongan rambut atau mengerik rambut kekebel oleh kedua orang tuanya. Rambut yang telah dipotong dibawa ke suatu tempat untuk ditanam. Malampun berlalu, menuju hari esok yang ditunggu-tunggu. Di pagi hari ini, kedua mempelai akan mengucapkan akad nikah di masjid kebanggaan Cirebon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang telah dibangun Sunan Gunung Jati ratusan tahun lalu. Setelah menjalani masa pingitan, mempelai pria dan perempuan tidak datang secara bersamaan.

Mempelai perempuan datang terlebih dahulu. Namun kehadirannya di masjid agung ini, hanya sampai ruangan tengah masjid. Sementara itu, saat mempelai pria tiba, ia langsung memasuki bagian utama masjid. Pelaksanaan akad nikah memang dilakukan di ruang berbeda. Karena dibagian dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini, hanya kaum pria yang boleh masuk. Konon dahulunya dibagian utama masjid agung ini, para penyebar agama Islam yang tergabung dalam wali sembilan kerap melakukan pertemuan.

Kendati adat akad nikah dilakukan di ruang terpisah, namun kehikmatan upacara pernikahan tidaklah berkurang. Usai akad nikah, kedua mempelai secara bersama-sama meninggalkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Saatnya, kirab agung, menuju tempat pesta di Kraton Kacirebonan. Tetapi bukan dengan iring-iringan kendaraan bermotor. Dalam kirab agung ini, kedua mempelai menggunakan kereta kebesaran yang ditarik seekor kerbau bule. Sebelum berjalan, kerbau bule atau kerbau albino yang kerap disebut Kyai Slamet ini, didoakan dengan mengumandangkan adzan. Menggunakan adzan secara bersama-sama oleh tujuh ulama.

Kedua orang tua mempelai juga menggunakan kereta untuk mengikuti kirab. Namun, kereta yang membawa mereka ditarik oleh kuda. Dalam kirab ini, iring-iringan dijaga tentara berkuda dan berbagai pasukan yang dimiliki Kraton Kacirebonan, seperti Lindu Buana, Gandasari, Kenjering dan Satri. Bahkan, beberapa budaya juga digelar mengiringi kirab agung yang menempuh jarak sekitar 7 km ini. Kirab bertambah meriah dengan kehadiran sejumlah waria yang menari-nari sambil menggoda penonton. Para waria yang digambarkan dalam tarian ini adalah pasukan Pelik Sandi, yang kerap menyusup ke daerah lawan dengan cara menyamar.

Hampir satu jam barulah kirab berakhir tiba di tujuan. Di Kraton Kacirebonan, tempat pesta pernikahan agung. Pesta pernikahan agung ini digelar di pendopo Prabayaksa dengan iringan gamelan renten. Selain menerima tamu, dalam pesta ini sejumlah pertunjukan budaya seperti tari-tarian juga digelar. Pagelaran budaya ini dibagi menjadi dua tempat, yakni di hadapan mempelai dan juga di halaman depan Kraton Kacirebonan.

Kesenian sintren adalah salah satu hiburan yang dipertunjukan dalam pernikahan agung Kraton Kacirebonan. Sintren selalu diawali dengan tari-tarian. Dering tarian, suatu perempuan diikat dengan seutas tali dari ujung kaki hingga bagian atas tubuhnya. Seorang dalang lalu mengucapkan mantera-mantera. Tiba-tiba sang perempuan jatuh tidak sadarkan diri. Dialah sang sintren, yang ditidurkan dengan sekujur tubuh ditutupi kain. Mantera kembali diucap, ditemani asap kemenyan.

Seperti sebuah sulap, ketika kainpun dibuka, sintren telah berganti baju dan telah mengenakan kacamata hitam. Para sintren dalam kondisi kerasukan. Suara musik dan lagu mulai mengayun sintren memulai tariannya. Tarian yang dilakukan tanpa sadar ini bisa berhenti tiba-tiba, akibat sintren terjatuh kena lemparan uang yang mengenai tubuhnya. Agar sintren bisa menari lagi, sang dalang harus memanterainya kembali. Kondisi jatuh dan bangun tersebut terus dialami sintren hingga uang yang dilempar penonton dirasakan cukup.

Untuk mengembalikan kesadaran, sintren ditidurkan dan ditutupi kain. Dengan mantera-mantera sang dalang, saat kain dibuka, sintren sudah berganti pakaian seperti semula. Pertunjukan sintren berakhir saat dalang memberdirikan sintren dan mendoakannya. Sudah puluhan tahun acara pernikahan agung Kraton Kacirebonan ini tidak diselenggarakan. Bahkan, pelaksanaan hari inipun, bukanlah dilakukan keluarga dekat Sultan Kacirebonan. Pelaksanaan kawinan agung yang sekaligus pagelaran budaya ini, diprakarsai kerabat kraton.

Dibalik meriahnya pesta pernikahan agung ini, Kraton Kacirebonan memang sesungguhnya punya keterbatasan anggaran, sehingga sulit melaksanakan upacara berskala besar, tanpa ada penyandang dana. Mau tidak mau, kompromi-pun dilakukan seperti dalam pelaksanaan pernikahan ini. Sebagai kraton yang sesungguhnya tak punya lagi wilayah kekuasaan, Kraton Kacirebonan memang lebih berfungsi sebagai cagar budaya.

Namun, tak bisa pula berbuat banyak. Perjuangan Sultan Kacirebonan dalam menjaga budaya luhur tidaklah sendirian. Di Cirebon, masih ada dua kasultanan lain yang berjuang dengan dana terbatas. Bagi mereka, kepedulian melestarikan kebudayaan nenek moyang, tidaklah berhenti hanya pada tataran kata-kata. Kalau perlu, sepanjang hayat di kandung badan. (Tom)

 

 

Kesuwun kanggo http://cybertravel.cbn.net.id sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!

Iklan