BILA Anda pecinta wisata ke dunia antik, barangkali Cirebon salah satu pilihan. Bahkan barang-barang antik peninggalan zaman raja-raja di Cirebon merupakan barang-barang tertua di Jawa. Di Museum Keraton Kasepuhan Cirebon misalnya, bisa dilihat berbagai peralatan perang abad ke-14 dan ke-15 seperti baju antipeluru, meriam, bedil berlidi (penyocok mesiu) dari Mesir, bedil berlubang dua dari Portugis, dan ratusan benda antik lainnya dari Cina, Mesir, dan Thailand yang barangkali hanya ada di museum itu.

Di keraton itu pula bisa dilihat kereta yang tubuhnya mengingatkan pada gambaran tentang buraq, kepalanya gajah, dan bermahkota naga, yang disebut sebagai Kereta Singobarong. Kereta antik ini memiliki ukiran sangat halus yang mencerminkan paduan tiga budaya, yaitu budaya Cirebon terkenal dengan relief khas mega mendung, dan budaya negara sahabat Kerajaan Cirebon tempo dulu yaitu Thailand dan Mesir. Kereta buatan abad ke-15 ini masih tersimpan rapi di Museum Kereta.

Ada satu lagi yang sangat tua adalah Pedati Gede. Letak pedati ini tidak di keraton, tetapi di tengah perkampungan. Wisatawan yang ingin melihat pedati ini harus jalan kaki masuk ke lorong-lorong di perumahan padat di kawasan Gang Pedati Gede, Kelurahan Pekalangan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Lorong-lorong itu berbelok-belok tajam. Karena itu sepeda motor atau becak yang lewat lorong ini harus dituntun agar tak terjadi tabrakan, jika bertemu di tikungan.

Melewati rumah-rumah permukiman penduduk yang rata-rata relatif sempit dan sederhana. Berjalan di antara meja kecil yang di atasnya bertumpuk berbagai makanan kecil yang dijajakan warga permukiman itu. Ya, setelah melewati tali jemuran yang saling silang, akhirnya sampailah pada suatu rasa yang sangat bertolak belakang.

Di tengah-tengah permukiman yang sangat padat, yang hanya memiliki lorong-lorong sebagai jalur transportasi sosial itu, ada pedati raksasa yang sangat indah bentuk dan strukturnya. Inilah Pedati Gede, sebuah pedati kuno yang dianggap oleh orang-orang di sekitarnya dianggap sebagai babonnya teknologi pedati yang pernah menjadi andalan transportasi di Jawa.

Pertanyaan yang segera muncul dalam benak, bagaimana pedati raksasa itu bisa berada di situ. Chaerul Salam dalam bukunya Pedati Gede terbitan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Kota Cirebon menulis: “Lokasi hanggar (garasi-Red) pedati gede ini amat tidak layak untuk sebuah benda cagar budaya yang bernilai tinggi. Namun masyarakat sekitar, sejak daerah itu masih berupa hutan belukar hingga kemudian menjadi permukiman ramai dan padat, telah merasa bahwa pedati gede adalah bagian dari mereka.”

Meskipun berulang kali muncul ide memindahkan alat transportasi berusia tua itu, tetapi ide ini tidak pernah terwujud. Masyarakat setempat tidak rela melepas pedati dari lingkungannya. Kini, Pedati Gede memang terkurung dalam hanggar sangat sederhana yang sama sekali tidak memadai untuk melindungi benda penyimpan sejarah itu.

Rayap menggerogoti keutuhan dan kelestarian pedati ini. Pada kebakaran hebat di kampung padat ini pada tahun 1932, sempat pula api menyembur pedati gede. Noda-noda hitam bekas terbakar tampak di roda-roda pedati ini.

***

BARANGKALI tak ada pedati di jagat ini memiliki ukuran raksasa seperti pedati gede ini. Panjang total pedati 8,6 meter, tinggi 3,5 meter dan lebar 2,6 meter. Pedati itu memiliki enam roda besar berdiameter 2 meter dan dua roda kecil berdiameter 1,5 meter. Panjang jari-jari roda besar 90 cm dan panjang jari-jari roda kecil 70 cm.

Pedati Gede adalah rancang bangun teknologi pada zamannya. Roda pedati ini dihubungkan oleh semacam as yang terbuat dari kayu bulat berdiameter 15 cm. As ini kemudian dimasukkan ke dalam poros yang dipasang di setiap roda, yang juga terbuat dari kayu.

Agar pertemuan as bisa licin bertemu dengan poros, digunakanlah pelumas yang menggunakan getah pohon damar. “Dengan getah itu putaran roda bisa lancar dan normal dan tidak mudah aus,” kata TD Sudjana, pemerhati sejarah klasik Cirebon.

Satu hal lagi yang luar biasa dari pedati ini, sistem rangkaiannya menggunakan sistem knockdown. Artinya, pedati ini bisa dibongkar pasang sesuai kebutuhan. Misalnya pedati ini membutuhkan rangkaian pedati yang lebih panjang lagi, tinggal secara cepat dipasang rangkaian pedati tambahan di belakangnya. Karena itu, mirip dengan kereta api, pedati ini bisa memiliki rangkaian panjang sesuai kebutuhan daya angkut. Pedati Gede ini dulu ditarik kerbau bule yang diyakini punya kekuatan lebih dibanding kerbau biasa.

Berdasarkan catatan tertulis yang dipelajari oleh Chaerul Salam maupun pangeran dari Keraton Kacirebonan, almarhum Pangeran Haji Yusuf Dendabrata, pedati ini dibuat tahun 1371. Bahkan Dendabrata menyebutkan, Pedati Gede ini dibuat pada masa pemerintahan Cakrabuwana di Cirebon yang waktu itu masih berbentuk ketumenggungan.

Pada awal abad ke-15 saat Sunan Gunungjati menjadi sultan pertama di Kesultanan Cirebon, Pedati Gede masih difungsikan. Pedati Gede teruji sebagai alat transportasi andal ketika kereta ini menjadi alat angkut bahan-bahan bangunan saat pembangunan Masjid Agung Ciptarasa tahun 1480. Masjid itu sekarang masih berdiri megah, artistik dan antik di sebelah kiri bangunan Keraton Kasepuhan.

Sampai pada pemerintahan Kesultanan Cirebon dipegang Panembahan Ratu I (1526-1649) penggunaan pedati seperti Pedati Gede ini makin berkembang. Masyarakat awam dengan mencontoh teknologi Pedati Gede, boleh membuat pedati sendiri sebagai alat transportasi.

Pedati Gede merupakan bentuk evolusi teknologi pedati pada zaman sebelumnya. Bahkan, beberapa sumber sejarah Cirebon menyebutkan, sejak abad ke-2 di Cirebon sudah ada pedati. Hanya bagaimana bentuknya, konstruksi teknologinya, tidak ada sumber tertulis yang menyebut. TD Sudjana menyebutkan, kata pedati, sejauh pengetahuannya, hanya tercantum dalam Kitab Raja-raja I karangan Wangsakerta, sekitar abad ke-15.

Kalau saja terhitung sejak abad ke-2 sudah ada pedati, maka sampai pada era Pedati Gede ini, sudah 15 abad perjalanan transportasi pedati. Bila dihitung hingga sekarang sudah 18 abad lebih. Kitab Raja-raja I menyebutkan, pada abad ke-2 Kerajaan Tarumanegara di daerah Cisadane, Bogor, saat itu diperintah Raja Purnawarman. Terjadi pemberontakan oleh adik Purnawarman bernama Sakiawarman. Sang adik ini ingin merebut takhta kakaknya dengan cara menghabisi seluruh keturunan Purna-warman.

Terjadilah pertempuran antara pasukan Purnawarman dan Sakiawarman, yang kemudian terdesak dan bersembunyi di wilayah Girinata (kini diperkirakan terletak di wilayah Palimanan, Cirebon). Karena itu merupakan wilayah Kerajaan Indraprasta, maka Purnawarman meminta bantuan kepada Wiryabanyu, Raja Indraprasta yang memang sudah lama terjalin hubungan baik.

Wiryabanyu yang memang berniat ingin menjadi besan Purnawarman, akhirnya menyerbu Sakiawarman. Pasukan Wiryabanyu dalam berangkat ke Girinata ini diceritakan menggunakan barisan pedati sebagai pengangkut pasukan. “Konon pedati itu juga bisa menjadi tameng dari serbuan-serbuan musuh,” kata TD Sudjana.

Pedati Gede menurut TD Sudjana diduga kuat merupakan babonnya pedati-pedati yang muncul kemudian di Jawa. “Untuk Cirebon, penggunaan pedati memang layak karena tanahnya yang becek. Pedati dengan roda kayu merupakan pilihan teknologi transportasi yang pas. Jika pedati terjerembab ke dalam lumpur, cara mengatasinya gampang. Roda yang masuk dalam lumpur diangkat dengan kayu, sementara kusir melecuti kerbau penarik untuk cepat berlari, dengan begitu jebakan lumpur bisa teratasi,” tegasnya.

Ya inilah sebuah kehebatan teknologi pada zamannya. Dan itu kreativitas orang Cirebon tempo dulu. (Th Pudjo Widijanto)

kesuwun kanggo http://www2.kompas.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang…

Iklan