MEMASUKI awal tahun 2009, dunia seni rupa di negeri ini digayuti mendung dukacita dengan meninggalnya wanita pelukis kenamaan Kota Bandung, Dra. Hj. Umayah Dachlan, yang lebih dikenal dengan panggilan Umi Dachlan. Pelukis kelahiran Cirebon, 13 Agustus 1942 ini meninggal dunia pada Kamis (1/01) pagi, sekitar pukul 7.15 WIB, di tempat tinggalnya, Jln. Taman Sari No. 22-A Kota Bandung. Jenazah dikebumikan di TPU Jabang Bayi, Cirebon, atas permintaan keluarga almarhumah.

Kepergian pelukis Umi Dachlan, dalam pandangan perupa Sunaryo, adalah sebuah kehilangan besar bagi perkembangan dan pertumbuhan seni rupa di Indonesia. Karya-karya lukis Umi Dachlan yang cenderung abstrak itu mempunyai “warna” dan tempat tersendiri dalam peta perkembangan dan pertumbuhan seni rupa Indonesia yang dari waktu ke waktu terasa cepat. “Almarhumah Umi Dachlan semasa hidupnya dikenal sebagai wanita pelukis yang konsisten dalam menjalani profesinya dan terjaga dalam pencapaian artistiknya. Dapat dikatakan almarhumah Umi Dachlan adalah sosok penting wajah seni modern Indonesia, khususnya di Bandung. Karya-karya lukisnya sarat dengan renungan religius, penuh arti,” tutur Sunaryo, yang saat itu hadir melayat.

Selain pelukis Sunaryo, hadir pula pelukis A.D. Pirous, Setiawan Sabana, Biranul Anas, Heyi Ma`mun, Erna Ganarsih Pirous, Srihadi, dan teman seangkatan Umi di FSRD ITB, Sam Bimbo dan beberapa tamu lainnya. Berkaitan dengan ketokohan Umi dalam perkembangan dan pertumbuhan seni rupa modern di Bandung khususnya, dan di Indonesia pada umumnya, wanita pelukis Heyi Ma`mun mengatakan, Umi adalah sosok pelukis yang tiada henti-hentinya mendorong generasi muda untuk terus maju.

“Dalam dunia pendidikan, Umi adalah dosen yang cukup disegani di FSRD ITB. Wawasannya cukup luas. Hal itu tercermin dalam sejumlah karya yang dikreasinya,” ujar Heyi.

Selain itu, Heyi mengatakan, sosok Umi Dachlan bisa dibilang sebagai orang yang terbuka untuk ditanya dan tidak pelit dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Sosok Umi Dachlan baik sebagai perupa maupun sebagai manusia biasa adalah orang yang ramah dengan sesama dan punya rasa sosial yang cukup tinggi. “Saya mengenal Ceu Umi Dachlan sejak ia masih mahasiswi di FSRD ITB. Saat itu, Umi indekos di rumah nenek saya. Ceu Umilah yang memperkenalkan apa dan bagaimana dunia seni rupa kepada saya. Secara tidak langsung ketika saya masih remaja mendapat bimbingan melukis dari Ceu Umi. Selain itu, Ceu Umi juga memperkenalkan saya pada buah pikiran Barat tentang seni rupa. Jadi, bagi saya kehilangan besar dengan meninggalnya Ceu Umi,” ucap Heyi dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada juga dikatakan musikus yang juga dikenal sebagai perupa, Sam Bimbo. Menurut Sam, karya-karya Umi banyak bermuatan nilai-nilai religius yang digali dari ranah Islam. “Di angkatannya, Umi termasuk mahasiswi yang cemerlang. Ia teman gurau sekaligus teman pasea saya,” ujar Sam Bimbo.

Dikatakan Sam, ketika masih mahasiswa dirinya pernah mencandai Umi, yang membuat dirinya nyaris keluar dari FSRD ITB. Saat itu, Sam sedang bercakap-cakap dengan pelukis Srihadi dan Sadali, dan Umi hanya memerhatikan dari kejauhan. Sesaat kemudian, setelah percakapan itu usai, Umi menanyakan kepada Sam apa yang telah dipercakapkan Srihadi dan Sadali dengan Sam, yang notabene kedua orang tersebut adalah dosen Umi dan Sam di FSRD ITB. Dengan enteng Sam bilang bahwa Umi Dachlan tidak berbakat dalam melukis. “Sesungguhnya saya bergurau mengatakan itu. Kedua orang yang saya hormati itu tidak mengatakan yang demikian. Sungguh tidak diduga, akibatnya cukup membuat Umi murung. Selama satu minggu Umi tidak kuliah. Lalu saya mencari tahu, ternyata Umi mau keluar dari FSRD ITB dan siap-siap masuk Kowad. Wah, saya merasa berdosa, lalu segera minta maaf. Hasilnya beberapa tahun kemudian, Umi adalah mahasiswi yang sangat cerdas, lukisannya laku, dan pamerannya digelar di mana-mana. Itulah kenangan manis saya dengan Umi Dachlan,” kata Sam mengenang.

Baik Sam maupun Heyi memandang lukisan-lukisan Umi banyak bermuatan nilai-nilai religius karena Umi memang termasuk orang yang serius dalam menekuni agama. Boleh jadi pengaruh pelukis Sadali terhadap Umi Dachlan demikian tinggi, dan kita tahu bahwa Achmad Sadali adalah pelukis yang tekun mendalami agama dan estetika Islam.

Ketua Komunitas Pasar Seni Tamansari Kota Bandung, H. Maman Iskandar mengatakan, meninggalnya Umi Dachlan adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan. Maman mengatakan, pelukis Gilang Cempaka dalam proses belajar melukis pada masa-masa pertumbuhannya banyak diasuh dan dididik Umi Dachlan. “Ceu Umi itu punya rasa sosial yang tinggi. Saya tidak bisa melupakan jasa-jasanya saat ia mengajar anak saya, Gilang Cempaka, atau saat saya bertanya tentang sesuatu kepada Umi. Semoga Allah SWT memberikan ampunan dan tempat yang layak di sisi-Nya. Di samping itu, saya katakan dengan jujur Umi Dachlan adalah wanita pelukis senior di Kota Bandung yang mempunyai tempat khusus dalam perkembangan dan pertumbuhan seni rupa Indonesia kini,” ungkap Maman. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Kesuwun kanggo http://newspaper.pikiran-rakyat.com sing wis tak cukil tulisane… kesuwun Kang!

Iklan