Terbelahnya kekuasaan keraton di Cirebon berawal dari kisah unik tanpa pertumpahan darah. Pada 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah datang ke Mataram untuk menghormati dan mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.

Panembahan Adiningkusumah yang juga disebut Panembahan Girilaya bersama dua putranya memenuhi undangan tersebut. Namun mereka tidak boleh kembali ke Cirebon dan harus tinggal di Mataram. Meski demikian, mereka diberi tempat untuk tinggal serta diakui sebagai penguasa Cirebon.

Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, berada di Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram (1662-1667). Mereka juga berusaha membawa kembali Panembahan Adiningkusumah dan dua pangeran Cirebon itu.

Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, kedua pangeran bisa kembali ke Cirebon melalui Banten. Ketika Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat mereka sebagai sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah.

Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa di Keraton Kanoman. Sedangkan Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi Panembahan Cirebon, tetapi dia tidak memiliki wilayah kekuasaan dan keraton.

[ Kesuwun kanggo Media Indonesia, sing wis tak cukil sebagian tulisaneā€¦ Kesuwun Kang! ]

Iklan