Her Suganda – Wartawan Senior

KEINGINAN Cirebon dan Indramayu yang mencuat ingin memisahkan diri
dari Propinsi Jawa Barat merupakan pengulangan masa lalu. Walaupun
berada dalam bingkai wilayah Propinsi Jawa Barat, Cirebon adalah
daerah yang unik dan menarik.
Salah satunya, bahasa Cirebon tidak sama dengan bahasa Sunda dan
bahasa Jawa. Karena itu, ketika Pemda Jabar berusaha menyeragamkan
bahasa Sunda sebagai muatan lokal di sekolah dasar (SD), seorang anak
SD di daerah ini melakukan protes dengan menghapus mata pelajaran itu
dari daftar kurikulum yang tertera di atas papan tulis kepala sekolahnya.

Penutur bahasa Cirebon memang tergolong minoritas. Tetapi
keberadaannya tidak mau dikesampingkan dengan begitu saja. Orang-orang
Cirebon sangat bangga dengan bahasa dan budayanya. Buktinya, ketika
tokoh-tokoh Cirebon menghadiri sidang Konferensi Jawa Barat III di
Bandung pada tanggal 28 Februari 1948, mereka menolak tegas mosi
Soeria Kartalegawa yang mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan
perwakilan tersebut dibolehkan menggunakan bahasa Sunda.

Salah seorang di antaranya, Soekardi menyatakan: “Djika dibolehkan
berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang ingin memakai bahasa
daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah
Tjirebon”. Penolakan juga disampaikan ketika nama Jawa Barat akan
diganti dengan Pasundan.

Soeria Kartalegawa adalah Ketua Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang
memproklamirkan Negara Pasundan sebagai negara “boneka” buatan van
Mook yang bertujuan memecah belah masyarakat Jawa Barat. Proklamasi
negara tersebut diselenggarakan di alun-alun Bandung pada tanggal 4
Mei 1947.

Tetapi keinginan mengganti nama Jawa Barat sebagai wilayah propinsi
rupanya belum padam sampai setengah abad kemudian. Keinginan itu
pernah dimunculkan kembali ketika Propinsi Banten terbentuk
berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2000, sehingga sejak itu
wilayah Propinsi Jawa Barat terbagi dua.

Isu penggantian nama menjadi Propinsi Pasundan akhirnya menggelinding
menjadi bola panas. Dengan nada mengancam, masyarakat Cirebon
menyatakan akan memisahkan diri dengan mendirikan Propinsi Cirebon.

Sebuah keinginan yang hingga kini belum padam. Tulisan sama sekali
tidak bertujuan mengungkit-ungkit masa lalu, tetapi lebih bermaksud
mengingatkan, bahwa Cirebon memiliki latar belakang sejarah yang
berbeda. Dari satu sisi, Cirebon memang berasal dari satu akar pohon
Jayadewata yang dalam tradisi setempat dijuluki Prabu Siliwangi.
Tetapi pada sisi lain, anak dan cucu-cucunya menempuh jalan yang berbeda.

Cirebon dibangun Pangeran Cakrabuana, salah seorang putra Jayadewata
dari istri kedua, Nay Subanglarang, yakni salah seorang santri
Pesantren Syeh Quro di Karawang yang didirikan Syeh Hasanudin pada
tahun 1416. Istri pertama Nay Sindang Kasih. Akan halnya Jayadewata
adalah cucu Wastukancana, penguasa Galuh yang kemudian membagi
kekuasaannya pada kedua anaknya.

Anaknya yang pertama, Dewaniskala tetap berkuasa di Galuh dan
Susuktunggal berkuasa di Pakuan. Kedua wilayah kerajaan tersebut
dibatasi Sungai Citarum. Karena melanggar larangan dengan menikahi
wanita yang sudah bertunangan yang dalam Carita Parahiyangan disebut
“estri larangan ti kaluaran” dan mengawinkan anaknya dengan salah
seorang pengungsi dari Majapahit, Dewaniskala diturunkan sehingga
hanya bertahta tujuh tahun karena dianggap berdosa besar. Ia
digantikan Jayadewata yang merupakan anak keduanya.

Setelah menikah dengan Nay Kentring Manik Mayang Sunda, putri
Susuktunggal yang tidak lain putri pamannya sendiri, Jayadewata
dianugerahi gelar Sribaduga Maharaja. Sejak itu, dua wilayah yang
sebelumnya terpisah dipersatukan kembali. Inilah yang sering disebut
masa jaya Kerajaan Sunda Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Pakuan
(kini Bogor).

Dari Nay Subanglarang, Sribaduga Maharaja dikaruniai tiga anak,
masing-masing Walangsungsang, Nay Larasantang, dan Raja Sangara.
Sebagai satu-satunya pemeluk agama Islam, tidak pernah diketahui
bagaimana perasaan dan kehidupannya di tengah keraton Pakuan
Pajajaran pada masa pra-Islam. Yang jelas, setelah meninggal, dua
orang anaknya memilih meninggalkan istana. Mula-mula Walangsungsang
dan kemudian menyusul adiknya Nay Larasantang. Keduanya menuntut ilmu
agama Islam di Cirebon, tempat asal ibunya.

Kakak beradik itu kemudian menunaikan ibadah Haji. Jika kakaknya
kembali ke Cirebon dan kemudian dikukuhkan menjadi kuwu Cerbon dengan
nama Pangeran Cakrabuana, sang adik Nay Larasantang diperistri, salah
seorang penguasa Mesir dan dikaruniai tiga anak.
Putra sulungnya, Syarif Hidayatullah yang kelak dikenal sebagai Sunan
Gunungjati, setelah dewasa berangkat ke Cirebon . Ia menerima
kekuasaan dari uwaknya (kakak ibunya) setelah menikahi putrinya,
Pakungwati.

Cirebon yang semula berada di bawah Galuh, pada masa Sunan Gunungjati
menyatakan memisahkan diri dengan cara menolak memberi upeti. Sehingga
sejak itu, Cirebon berdiri sendiri sebagai kesultanan bercorak Islam.
Pengaruhnya berkembang jauh sampai ke wilayah Priangan Timur. Bahkan
dalam perjalanan selanjutnya, pasukan cicit Sribaduga Maharaja yang
berasal dari Banten dan Cirebon dibantu Demak telah menghancurkan
keraton Pakuan, sehingga Kerajaan Sunda Pajajaran berakhir pada tahun
1579 M.

Walaupun pada masa pemerintahan Belanda kekuasaan dan pengaruh Sultan
Cirebon pernah dipersempit, namun keberadan Kesultanan masih tetap ada
hingga kini. Sebuah bukti bahwa daerah ini memang memiliki sejarah
panjang dan tidak sama dengan daerah lainnya di Jawa Barat.*

dijukut sing http://www.opensubscriber.com/message/baraya_sunda@yahoogroups.com/8610487.html