Sumber : Media Indonesia

CIREBON sebagai salah satu daerah tujuan wisata memiliki sejumlah tempat bersejarah. Di antaranya, Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Sejarah Keraton Kanoman sangat memprihatinkan. Pada zaman pemerintahan Belanda, tanah Cirebon semula juga akan dikuasai. Tetapi, niat itu ditentang Pangeran Raja Kanoman, putra Sultan Anom IV yang bertakhta di Keraton Kanoman pada 1803.

Setelah Sultan Anom IV wafat, Belanda melancarkan siasat devide et impera (memecah belah). Takhta yang seharusnya diduduki putra mahkota, Pangeran Raja Kanoman, oleh Belanda diambil dan diberikan kepada putra Sultan Anom IV yang lain, Abu Sholeh Imaduddin, sebagai Sultan Kanoman V. Dampaknya, rakyat juga terpecah.

Sedangkan Pangeran keluar dari lingkungan Keraton Kanoman dan bergabung dengan para pemberontak hingga kemudian Belanda menangkapnya dan dibawa ke Batavia (Jakarta).

Perlawanan pembebasan Pangeran pun terjadi di Batavia. Keadaan makin ricuh dan rakyat yang selama ini mendukung Pangeran Raja Kanoman, kehilangan simpati pada sultan ‘boneka’ Belanda, Sultan Anom V. Dibuanglah Pangeran ke Ambon agar rakyat kehilangan target perjuangan. Namun target Belanda salah. Perang makin tak terkendali.

Daendels kesal, Pangeran Raja Kanoman dibawa kembali ke Cirebon. Gubernur Laut Timur Jawa Engelhard pun pada 1 Januari 1808 diperintahkan menjemput Pangeran Raja Kanoman di Ambon. Di Cirebon sendiri, keraton baru disiapkan pemerintah Belanda sebagai tempat Pangeran Anom bertakhta.

Pada 13 Maret 1808, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan Kacirebonan. Rakyat mengelu-elukan Sultan baru. Selanjutnya Cirebon resmi memiliki tiga keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

Meski diangkat, namun kekuasaan politik sultan, termasuk Sultan Keraton Kasepuhan dan Kanoman, dihilangkan oleh Belanda. Ketiga sultan tak beda dengan pegawai pemerintah biasa yang diberi gaji. Tetapi Sultan Kacirebonan tidak mau menerima gaji dari pemerintah Belanda sampai akhir hayatnya.

Peninggalan tiga keraton itu hingga kini masih ada, namun Keraton Kacirebonan sudah lusuh. Dari ketiga keraton di Cirebon, Kasepuhan yang dibangun pada 1529 paling terawat dan megah. Pagar tembok yang mengelilingi keraton itu terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa.

Sebetulnya, Keraton Kasepuhan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (pendiri Cirebon pada 1445) sebagai perluasan keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton Pakungwati terletak di belakang Keraton Kasepuhan. Lokasi keraton itu kini berada di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.

Di kompleks Keraton Kasepuhan juga terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sangat indah. Masjid Agung itu berdiri pada 1549. Keraton ini juga memiliki kereta keramat, yaitu Kereta Singa Barong. Sejak 1942 kereta itu tidak boleh dipakai lagi, tetapi hanya dikeluarkan setiap tanggal 1 Syawal untuk dimandikan.

Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari Sunan Gunung Jati inilah kisah Cirebon itu bergulir.

Kekuasaan terbelah

Terbelahnya kekuasaan keraton di Cirebon berawal dari kisah unik tanpa pertumpahan darah. Pada 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah datang ke Mataram untuk menghormati dan mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.

Panembahan Adiningkusumah yang juga disebut Panembahan Girilaya bersama dua putranya memenuhi undangan tersebut. Namun mereka tidak boleh kembali ke Cirebon dan harus tinggal di Mataram. Meski demikian, mereka diberi tempat untuk tinggal serta diakui sebagai penguasa Cirebon.

Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, berada di Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram (1662-1667). Mereka juga berusaha membawa kembali Panembahan Adiningkusumah dan dua pangeran Cirebon itu.

Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, kedua pangeran bisa kembali ke Cirebon melalui Banten. Ketika Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat mereka sebagai sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah.

Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa di Keraton Kanoman. Sedangkan Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi Panembahan Cirebon, tetapi dia tidak memiliki wilayah kekuasaan dan keraton.

Keraton Kanoman menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada di Kasepuhan bernama Paksi Naga Liman. Namun, satu hal yang sangat disayangkan, kompleks Keraton Kanoman kini tertutup oleh pasar rakyat, yaitu Pasar Kanoman. Letak Keraton Kanoman sekitar satu kilometer dari Keraton Kasepuhan.

Sultan yang berkuasa di Keraton Kasepuhan saat ini adalah Pangeran Raja Adipati (PRA) Maulana Pakuningrat XI dan memiliki putra mahkota bernama PRA Arief Natadiningrat. Sedangkan Keraton Kanoman sepeninggal Sultan Djalaludin XI yang wafat November 2002 lalu, kini ricuh. Sebab, di Keraton Kanoman kini ada dua putra mahkota, yakni Pangeran Saladin dan Pangeran Emirudin. Suryana/N-2

Iklan