Muludan Trusmi merupakan rangkaian dari acara tradisi Muludan Cirebon yang dimulai dari Keraton Kanoman ( 1-8 Mulud ), Keraton Kasepuhan ( 1-12 Mulud ) Gunung Jati ( 12 Mulud ), Tuk ( 19 Mulud ), Gegesik ( 21 Mulud ) dan terkhir Trusmi ( 12-25 Mulud ). Muludan Trusmi terbesar kedua setelah Keraton Kasepuhan.Hal ini terlihat dari jumlah pedagang dan pengunjung yang membanjiri acara ini. Rentetan pedagang dan hiburan berjajar sepanjang jalan desa Trusmi Wetan, Trusmi Kulon, Weru Lor dan Kaliwulu.

Terlihat penuh sesak karena jalanan Trusmi hanya satu arah sehingga pengunjung harus rela berdesak-desakan. Lain halnya dengan jalanan di Kasepuhan yang pararel membuat banyak pilihan untuk membagi keramaian.

Puncak ritual Muludan Trusmi pada tanggal 25 Mulud. Ritual dimulai setelah sholat Isya dengan jalannya iring-iringan jimat dan tumpeng dari rumah Sep ( sebutan untuk kedudukan tertinggi pengurus keramat Trusmi ) K.H. Ahmad Abdurrahin. Iringan tersebut menuju ke komplek keramat Buyut Trusmi dan masuk ke dalam masjid keramat Baiturrahman. Di dalam masjid ratusan orang menyambutnya dengan pembacaan Maulid Al Barjanzi dan diakhiri dengan doa dan ceramah oleh Sep.

Untuk lebih detail tentang Muludan Trusmi dapat dibaca disini. Saya akan menuliskan sisi lain dari Muludan Trusmi yang mungkin belum pernah ditulis oleh orang lain.

  • Muludan Trusmi merupakan berkah bagi masyarakat Trusmi dan sekitarnya karena mereka dapat menyewakan lahan untuk pedagang. Dari sewa lahan ini mereka dapat membayar tagihan listrik selama setahun atau membeli sepeda motor baru, atau biaya umroh ( lumayan besar ya… )
  • Sebagian pemilik lahan merelakan lahannya untuk pedagang, tidak memungut biaya sesenpun dengan alasan untuk melestarikan tradisi Trusmi atau kasihan terhadap pedagang. Semoga pedagang beruntung mendapatkan lahan dari pemilik yang baik ini.
  • Selama Muludan Trusmi pemilik showroom Trusmi harus istirahat karena showroom mereka tertutup oleh pedangan. Mereka harus merelakan omset puluhan juta ( mesti ikhlas dong ). Tapi tahun ini dua showroom besar Nofa dan Asofa mengadakan bazar cuci gudang. Sebelumnya Sinar Gunung Jati menjadi pioner dalam bazaar tersebut.
  • Puncak ritual berlangsung ricuh, tidak tertib. Hal tersebut karena banyaknya pejiarah yang berebut nasi kuning pada waktu acara pembacaan Maulid Al Barjanzi. Pejiarah laki-laki dan perempuan bercampur dalam masjid untuk memperebutkan nasi kuning yang dianggap sebagai berkah untuk tujuan yang berbeda. Padahal acara tersebut utuk laki-laki dan perempuan hanya menyimak diluar masjid.
  • Puncak acara mulai poluler setelah adanya iring-iringan jimat dan tumpeng dari rumah sep. Sebelumnya hanya segelintir orang ( lima puluhan orang ) yang mengetahui acara pembacaan Maulid Barjanzi. Tapi semakin popular semakin ricuh karena tidak adanya tindakan penertiban oleh pengurus.

dijukut sing http://wongtrusmi.blogspot.com/ kesuwun, Kang atawa Yayu…