TD Sudjana, budayawan pengamat masalah tradisi Cirebonan, menyatakan, seni obrok-obrok tidak memiliki akar sejarah yang berkait dengan tradisi Islam di masa silam. Tampaknya itu hanya merupakan gerakan spontanitas masyarakat, dalam ikut membantu ibadah puasa.

Meskipun demikian, sejak sebelum zaman kemerdekaan embrio seni obrok-obrok sudah ada. “Dulu pada zaman Belanda, obrok-obrok menggunakan alat kentongan yang ditabuh beberapa orang. Setiap bulan Puasa, obrok kentongan ini keliling desa, bahkan sampai jauh ke berbagai desa dan jalannya gelap waktu itu, karena belum ada listrik. Makanya jalannya terkadang cepat sekali, takut dalam kegelapan kalau saja ada hewan galak atau harimau misalnya,” kata Sudjana.

Pemerintah Belanda, menurut TD Sudjana, tidak melarang kegiatan ini. “Belanda tidak curiga terhadap kegiatan penggugah makan sahur ini. Mereka dibiarkan meskipun ketemu dengan tentara Belanda misalnya,” kata Sudjana.

Perkembangan obrok-obrok makin kentara, terlihat setelah perang kemerdekaan. Terutama alat-alat musiknya, di samping kentongan ditambah dengan rebana. “Dari jauh kedengarannya seperti suara obrok, obrok, obrok, makanya dinamai seni obrok-obrok,” tegasnya.

Satu hal yang dicatat oleh TD Sudjana, dalam perkembangan seni obrok-obrok ini adalah penampilan tokoh banci, lelaki yang menggunakan kebaya wanita. Menurut dia, itu bukan sekadar lelucon, tetapi juga penggambaran kenangan masa si-
lam, seputar abad XVI-XVII. Ketika Cirebon sempat dikuasai Sultan Agung dari Mataram, banyak orang Cirebon yang dijadikan telik sandi (intelijen), untuk mematai-matai Belanda saat Sultan Agung hendak menyerang Batavia.

“Para telik sandi itu biasanya menyamar sebagai wanita, dan pura-pura ngamen. Inilah yang ditiru obrok-obrok sampai sekarang. Meskipun saat ini lelaki banci ini menjadi tontonan yang segar dan lucu bagi masyarakat, seni obrok-obrok setidaknya telah mencatat sebuah sejarah tentang keberadaan intelijen di masa silam,” kata Sudjana.

Bukan itu saja, perkembangan seni obrok-obrok kini juga memulai penggarapan seni yang sifatnya tidak spontanitas. Banyak seni obrok-obrok yang mulai “memperkaya diri”. Peralatannya tidak seadanya, tetapi berusaha memiliki peralatan seperti gitar elektronik dan sistem pengeras suara yang lebih memadai. Mengarang lagu sendiri dengan bahasa khas Cirebon juga dilakukan kelompok obrok-obrok.

Mungkinkah obrok-obrok juga akan berkembang pesat, seperti seni tarling yang sudah menjadi kemasan paket di hotel berbintang, atau kasetnya sempat mengisi belantika musik Indonesia? “Kami berharap begitu, sebab grup obrok-obrok kami pernah diundang sebuah hotel berbintang di Cirebon,” harap Pramhudi. Kalau begitu, ada harapan. (***)

dicuplik sebagian sing http://webcache.googleusercontent.com/ kesuwun Kang…