LIDAH “wong Cerbon” menyebutnya dengan nama “tap-siun”. Satu tempat-pertemuan.para pelancong yang akan ataupun tengah turun dari perjalanan. Wajah ragam hias “art de-co”yang didesain pada bangunan itu memang bisa dijadikan pencirian bahwa bangunan tersebut bukan dalam masa klasik, juga bukan dalam masa modern. Lihat saja pada bentuk bagian atas bangunan yang merupakan segitiga, jendela kotak, dan pintu lengkung yang menjadi ciri khasnya.

DEPAN bangunan djadoel (djaman doeloe) tersebut tampak sangat artistik berpola simetris samping kanan dan kiri. Stasiun Kejaksan -begitu nama lain dari stasiun besar Cirebon itu terdiri atas bangunan induk, gudang, dan peturasan. Pada bagian lain terdapat dua dipo (bengkel), tiap-tiap dipo khusus untuk perbaikan dan pemeliharaan lokomotif dan dipo untuk wagon. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangungan stasiun.

Stasiun KA Kejaksan merupakan generasi pertama dari pembangunan stasiun kereta api pada masa penjajahan Hindia Belanda. Jalur yang membentang dari Jakarta dan Semarang pada masa itu. Data yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon mencatat, stasiun ini dibangun pada tahun 1911 atas prakarsa Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan jalur kereta api ini dilakukan untuk mempercepat mobilitas barang dan penumpang, yang perintisan-nya mulai dilakukan sejak 1893 untuk jalur SCS (Semarang Cheribon Stoomtram-Maatschappij). Sementara jalur Cirebon-Cikampek dibangun sejak 1909 dan Cirebon Kroya sejak 1912. Angkutan penumpang pengusaha Eropa, termasuk pekerja rodi untuk Kota Batavia atau sebaliknya, dilakukan melalui stasiun ini.

Sejak Indonesia merdeka, stasiun ini menjadi milik dan dikelola PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi 3 Cirebon. “Sebagian besar bangunan yang ada di lingkungan stasiun ini benar-benar djadoel,” kata Arie F., Wakil Kepala Seksi Dipo PT KA Daop 3 Cirebon. “lihat saja bangunan yang benar-benar kokoh, seperti bengkel kereta dan gudang air itu,” ucapnya menambahkan.Dipo (bengkel kereta api) yang berada di lingkungan Stasiun Cirebon dibangun setahun setelah stasiun besar tersebut didirikan, sekitar tahun 1913. Di bengkel itu masih tersimpan lokomotif diesel pertama yang dibuat General Electric tahun 1953- Wong Cerbon menamai loko tersebut dengan loko sepur Gajah Mada. Keaslian tersebut juga ditunjang dengan masih utuhnya alat putar lokomotif yang juga dibuat tahun 1913 dengan kondisi yang masih normal.

Dalam ruangan stasiun terdapat pintu gerbang yang kokoh dengan rantai dan gembok asli tertempel di situ. Ada empat pintu gerbang yang berukuran sama yang ditutup dengan pintu besi Anderson. Bagian atas pintu dinaungi kanopi hijau berbentuk siku, terbuat dari rangka besi dan beratap kaca fiber sebagai bangunan tambahan yang dibangun setelah masa kemerdekaan.Stasiun Kejaksan dikenal pula sebagai tempat bersejarah. Pada masa revolusi fisik, ribuan pejuang yang naik kereta dari Jatinegara menuju Yogyakarta sebagian diturunkan untuk menyergap Belanda yang datang membonceng bersama sekutu. Pertempuran besar terjadi di sekitar Alun-alun Kejaksan hingga sebelah barat Masjid At-Taqwa (sekitar Kantor HU Mitra Dialog saat ini).

Pada tahun 1982-an, ketika Kantor Pikiran Rakyat/”?R” Edisi Cirebon pindah dari Siliwangi 77 ke Jln. Kartini No. 7 masih bisa dilihat tembok dan pintu kayu jari yang bolong-bolong bekas tembakan peluru. Untuk memperingati pertempuran tersebut, kini dibangun tugu kemerdekaan persis di perempatan Jln. Siliwangi-Jln. Kartini.

Stasiun Prujakan

STASIUN KA Prujakan rupanya memiliki jalur rel yang berbeda dengan Stasiun Kejaksan. Stasiun kedua setelah Kejaksan ini awalnya sengaja dibangun untuk angkutan barang dari pelabuhan. lihat saja sisa-sisa rel dan jembatan djadoel yang masih tersisa di pinggir Jln. Sisingamangaraja,Kampung Kegiren dan Syekh magelung.Rel yang menghubungkan pelabuhan tersebut melintasi kedua kampung tersebut dan saat ini telah tertimbun tanah dan banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk perumahan dan usaha. Sementara di bagian barat berdekatan dengan .Jln. K.S. . Tubun dialokasikan untuk tempat pedagang onderdil sepeda, becak, dan sepeda motor bekas.

Menarik untuk menelusuri jalur rel KA Prujakan ini. Sewaktu masih aktif jalur tersebut, sering kali lokomotif “jugjes” dengan pembakaran batu bara mogok. Otomatis anak-anak yang ada di sekitar kampung tersebut berhamburan untuk melihat sepur (spoor) mogok. Saat lokomotif selesai diperbaiki, mereka menaiki kereta barang tersebut hingga ke Stasiun Prujakan.Di sebelah selatan stasiun terdapat bangunan memanjang yang disebut sebagai “gudang barang”. Namun, sejak dekade 1970-an, gudang tersebut tak lagi dimanfaatkan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api-kini PT KA) sehingga dimanfaatkan anak-anak muda penggemar bulu tangkis berlatih di situ. Pada masa kejayaan bulu tangkis Indonesia di tingkat internasional, dari gudang barang itu lahir atlet internasional juara All England. Dialah Tjun Tjun yang saat itu berpasangan dengan Johan Wahyudi.

Kini, stasiun barang tersebut kembali dimanfaatkan untuk kereta jurusan Tegal-Brebes-Cirebon. Naik-turun penumpang dilakukan di stasiun tersebut. Karena memang letaknya yang strategis di pinggir Jln. Kembar (kini Jln. Nyi Mas Gandasari). Berbeda dengan Stasiun Kejaksan yang berada agak jauh dari Jln. Siliwangi yang menjadi stasiun utama di Kota Cirebon.Dari catatan yang dihimpun Disbudpar Kota Cirebon, stasiun ini dibangun hampir berbarengan dengan Stasiun Kejaksan, yakni sekitar tahun 1911 atas prakarsa perusahaan kereta api swasta, Semarang-Cheriboncshe-Stoomtram-maatshappij (SCS). Pembangunan stasiun ini dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat mobilitas arus komoditas pertanian dan barang-barang impor. Arus barang dari stasiun ini selanjutnya bermuara di Pelabuhan Cirebon.Untuk generasi yang lahir pada dekade 1980-an, mereka tak lagi menyaksikan rel kereta yang membentang di tengah kampung padat tersebut, meski sisa-sisanya masih bisa dilihat. Kisah menarik dari Arie F. kepada penulis. “Sering kali saya menaruh paku di rel kereta untuk dibuat semacam pisau kecil,” katanya mengenang.

“Saya lahir di rumah orang tua dekat rel dan alhamdulillah saya pun jadi orang yang bekerja di lingkungan kereta api,” ujarnya.Sekitar tahun 1920, masa awal arus penumpang dilakukan. Anak-anak pribumi yang berpakaian sarung dan bendo sering naik-turun di stasiun tersebut. Dari rumah kampung, mereka naik dokar. Bayarnya cukup satu blendong (di bawah satu sen gulden). Jalan Pekalangan yang kebetulan berhadapan dengan stasiun acap kali riuh ramai pada musim mudik dan arus balik Lebaran. Maklum, mereka juga rindu kampung halaman. (Nurdin M. Noer, wartawan senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSQ).

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…