KESULTANAN Demak dengan rajanya Raden Patah (1475-1518), disebut-sebut sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, kalau melihat sejarahnya dari berbagai sumber tertulis, pada sekitar tahun 1415 di Cirebon sudah berdiri lebih dulu kadipaten (kerajaan kecil) yang mengembangkan agama Islam di Jawa. Kadipaten itu dipimpin oleh Tumenggung Sri Mangana Cakrabuwana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu, yang memerintah sekitar abad XV. Tumenggung Sri Mangana Cakrabuwana itu perintis pengembangan masuknya Islam di Jawa. Jauh sebelum Demak berdiri tahun 1475. Dari pakuwon (bangunan kerajaan kecil) Pakungwati yang kini menjadi tempat berdirinya Keraton Kasepuhan Cirebon, Cakrabuwana telah mengembangkan Islam,” kata budayawan Cirebon TD Sudjana yang banyak menerjemahkan karya-karya kuno seperti sastra, hukum dalam pemerintahan Keraton Kasepuhan.

Mantan Residen Cirebon RH Unang Sunardjo SH (almarhum) yang tekun membaca babat maupun sumber-sumber tertulis sejarah-yang kemudian menyusun buku berjudul Selayang Pandang Masa Kejayaan Keraton Cirebon-menyebutkan, Katemenggungan/Kadipaten Cirebon ini merupakan satu dari kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan bagian negara federasi Kerajaan Pajajaran. Negara-negara kecil itu diperkenankan mengelola seluruh hasil bumi dan kegiatan perekonomiannya. Syaratnya, negara kecil ini harus menyerahkan hulu bekti (upeti) kepada Maharaja Pajajaran.

Tumenggung Sri Mangana Cakrabuwana yang bernama kecil Raden Walang Sungsang ini adalah anak hasil pernikahan Prabu Siliwangi dengan putri Cirebon Nyi Ratu Subang Larang anak dari Ki Ageng Tapa, Kepala Pelabuhan Muarajati, Cirebon. Cakrabuwana punya dua saudara, Raden Sangara dan Nyi Ratu Mas Rarasantang. Ketika ibunya meninggal, ketiga putra Prabu Siliwangi itu meninggalkan Istana Pajajaran dan memilih menetap di Cirebon, ikut kakeknya Ki Ageng Tapa.

Di rumah kakeknya itu, ketiganya memeluk Islam setelah masuk pesantren yang dipimpin Syeh Datuk Kafi. Setelah tamat, Cakrabuwana bekerja sebagai kepala desa (kuwu) Cirebon. Berangkat dari seorang kuwu inilah Raden Walang Sungsang menunjukkan kecakapannya. Ia mampu memperluas wilayahnya sampai daerah Tegal Alang-alang, melebihi ukuran sebuah desa. Makin banyak pula masyarakat pemeluk Islam-semula beragama Hindu karena pengaruh Pajajaran-di pantai utara Jawa khususnya di Cirebon dan sekitarnya.

***

APA yang dilakukan oleh Raden Walang Sungsang diketahui oleh ayahandanya Prabu Siliwangi, Maharaja Pajajaran. Namun, tindakan penyebaran Islam itu tidak dipermasalahkan oleh Prabu Siliwangi, karena kerja dalam pemerintahan Raden Walang Sungsang dinilai baik. Dalam memberikan upeti ke Pajajaran, juga tidak mengecewakan. Sayang, tidak diketahui pasti kapan penobatannya menjadi bupati. Dalam Babad Cirebon ataupun buku karya RH Unang Sunardjo SH itu juga tidak disebut tahun berapa penobatan itu. Yang jelas pada tahun 1415 Cakrabuwana sudah giat.

Justru karena prestasinya itu, Walang Sungsang oleh Prabu Siliwangi diangkat menjadi tumenggung, jabatan setingkat bupati yang menguasai wilayah Cirebon. Sejak menjadi tumenggung itulah Walang Sungsang diberi gelar Tumenggung Sri Mangana Cakrabuwana. Dia lantas membangun Pakuwon (keraton kecil) yang diberi nama Pakungwati (nama anak perempuannya).

Meski Katemenggungan Cirebon merupakan bagian dari wilayah besar Kerajaan Pajajaran yang berfaham Hindu, Cakrabuwana tetap terus mengembangkan agama Islam. Apa yang dilakukan Cakrabuwana tidak mendapat hambatan dari Pajajaran, karena dalam bekerja di pemerintahan dia tidak pernah mengecewakan Pajajaran.

“Jadi, Cakrabuwana waktu itu satu-satunya pejabat tinggi dari Kerajaan Pajajaran yang beragama Islam. Ada memang yang beragama Islam yaitu Ki Ageng Tapa, tetapi dia bukan penguasa daerah, hanya Kepala Pelabuhan Muarajati,” kata TD Sudjana. Dia menambahkan, keberanian Cakrabuwana masuk Islam itulah yang akhirnya membawa Cirebon bisa menjadi Kerajaan Islam yang akhirnya mampu mendesak bubarnya Pajajaran, meskipun harus dengan peperangan.

“PENDEKNYA, Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten dibantu Kerajaan Demak, yang membuat Agama Islam berkembang pesat di Jawa Barat,” kata TD Sudjana. Raden Patah yang menjadi Sultan Demak itu pula yang akhirnya membantu Katemenggungan Cirebon menjadi keraton dengan peradaban Islam yang sangat berpengaruh di Jabar.

Ceritanya begini. Awalnya, setelah Tumenggung Cakrabuwana makin mampu meningkatkan kekuatannya dalam memimpin Katemenggungan Cirebon, dia ingin meningkatkan katemenggungan menjadi kerajaan Islam yang bebas berdaulat, mandiri tidak lagi di bawah kekuasaan Pajajaran. Karena itu, dia mengirim keponakannya Syarif Hidayatullah untuk pergi ke Kesultanan Demak.

Syarif Hidayatullah yang kemudian disebut Sunan Gunungjati adalah anak dari Nyai Ratu Rarasantang adik Tumenggung Cakrabuwana yang ketika pergi ke Arab menikah dengan Syarif Abdullah, Sultan Mesir. Tampaknya Cakrabuwana sudah mengenal Raden Patah. Karena itu, Syarif Hidayatullah diharapkan bisa membantu Raden Patah memperluas kerajaannya sebagai kerajaan Islam, sekaligus menyerap pengetahuan bila kemungkinan Cirebon bisa menjadi kerajaan yang mandiri.

Saat itu, antara tahun 1475-1479, Demak sedang melakukan kerja besar meruntuhkan Majapahit, yang memang sudah surut kekuatannya setelah pecah dua menjadi Majapahit barat tetap bernama Majapahit dan timur bernama Kerajaan Blambangan.

Dengan kekuatan yang dibantu Syarif Hidayatullah, Raden Patah-putra Majapahit terakhir yang bernama Bre Kertabumi-mampu menghanguskan pusat Kerajaan Majapahit yang sekarang diduga sebagai situs Trowulan. “Konon, Kertabumi, ayah Raden Patah tetap dihormati, diboyong ke Demak dan tinggal di kesultanan sampai akhir hayatnya,” kata TD Sudjana.

Syarif Hidayatullah yang memang dikenal sebagai ahli penyusun strategi itu, oleh Raden Patah diperintahkan segera pulang ke Cirebon dan mendirikan kerajaan. Benar, tahun 1479 atau empat tahun setelah berdirinya Majapahit (1475), berdirilah Kerajaan Cirebon. Tumenggung Cakrabuwana yang sudah lama merintis kerajaan Islam tidak ingin memegang tampuk pimpinan sebagai Raja Cirebon.

Keraton Pakungwati diserahkan kepada Syarif Hidayatullah keponakannya itu, yang dinobatkan menjadi raja dan bergelar Susuhunan Jati Purba Wisesa yang terkenal pula dengan nama Syeh Maulana Jati (setelah meninggal disebut Sunan Gunungjati karena makamnya di daerah Gunungjati, Cirebon). Sunan Gunungjati kemudian menikahi Pakungwati, putri Tumenggung Cakrabuwana, dan menyatakan diri sebagai kerajaan Islam yang berdaulat, lepas dari Pajajaran.

Maulana Jati bukan saja mengembangkan Keraton Pakungwati yang sisanya masih tampak pada Keraton Kasepuhan sekarang, tetapi juga merencanakan pengembangan wilayah. Namun, tantangan dari Pajajaran juga cukup besar.

Sunan Gunungjati atau Maulana Jati memiliki strategi politik yang cukup cerdik. Yang dia lakukan terlebih dahulu adalah menyerang Banten, wilayah Pajajaran paling barat. Ketika Banten dikuasai, Sunan Gunungjati mengangkat putranya, Hasanuddin, menjadi adipati pertama di Banten. Adipati ini pula yang kemudian menjadikan Banten sebagai kesultanan, tahun 1532.

Kekuasaan Pajajaran makin tergerogoti oleh Cirebon. Bahkan, atas bantuan tentara Kesultanan Demak, sultan kedua di Banten bernama Sultan Maulana Yusuf yang menggantikan Sultan Hassunuddin, tahun 1568, menyerbu Pajajaran yang waktu itu diperintah oleh Maharaja Sri Bima Utarayana Mandura, pengganti Prabu Siliwangi. Cirebon bersama Banten akhirnya menguasai seluruh Jawa Barat. Tamatlah riwayat Kerajaan Pajajaran, kerajaan besar yang menganut faham Hindu Mahayana, dan berkibarlah Cirebon-bersama Banten-sebagai kerajaan Islam di Jawa Barat.

***

SURUTNYA Cirebon setelah penguasa Mataram (Mataram perkembangan dari Kesultanan Demak) ingkar janji, bahwa kerajaan besar dengan rajanya Sultan Agung Anyokrokusumo itu sekali-kali tidak akan menguasai Kesultanan Banten dan Keraton Cirebon, sebagai wujud penghormatan terhadap kerukunan Kerajaan Demak, Cirebon, dan Banten. Namun, kegagalan Sultan Agung mengusir VOC dari Batavia, tahun 1628 dan 1629, mendorong Sultan Agung terusik hatinya untuk menguasai Jawa Barat.

Hanya dengan menguasai Jabar itu, dalam pandangan Sultan Agung, VOC bisa terkalahkan. Benar juga, tahun 1640 rencana Sultan Agung terwujud. Selain Banten dan Cirebon, semua kabupaten di Jabar dapat dikuasai oleh Sultan Agung.

Atas perlakukan Raja Mataram itu, Sultan Banten Sultan Ageng Tirtayasa-sebagai saudara serumpun-tidak tinggal diam. Atas bantuan Trunojoyo dari Madura, Banten menyerang Cirebon, tahun 1667. Martadipa yang memang sudah uzur menyerah dan pulang ke Mataram. Putra bungsu Pengeran Adipati Cirebon I yang bernama Wangsakerta, yang sedianya akan menyusul ayahnya menjadi tahanan politik di Kerajaan Mataram, digagalkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Dia dibawa ke Banten dan dilantik menjadi sultan.

Penyerangan ke Mataram hanya dilakukan oleh Trunojoyo sendiri yang memang dikenal pemberani. Sultan Banten hanya membantu persenjataan dan 22 perahu. Mataram cukup pontang-panting menghadapi pemberontakan Trunojoyo ini. Trunojoyo yang ibunya sempat menjadi selir Sultan Agung ini, sangat benci kepada Amangkurat yang sangat kejam dan akrab dengan Belanda.

Putra kedua Pangeran Dipati Cirebon, Kertawijaya, yang mendampingi ayahnya saat meninggal cepat-cepat dipulangkan ke Cirebon. Oleh Sultan Banten, Kertawijaya dilantik menjadi Sultan Cirebon menggantikan adiknya Wangsakerta yang sebelumnya dilantik sebagai pejabat sementara.

Namun, beberapa saat setelah Kertawijaya dilantik, pasukan Trunojoyo mengantarkan putra sulung, Martawijaya, yang paling berhak menduduki Keraton Cirebon. Karena ketiganya sudah dilantik menjadi Sultan Cirebon, maka Sultan Banten Ageng Tirtayasa menetapkan ketiganya sebagai raja.

Sebagai anak sulung, Martawijaya diberi gelar Sultan Sepuh I. Adiknya, Kertawijaya, diberi gelar dan berganti nama Pangeran Mohammad Badrudin bergelar Sultan Anom Pertama, dan si bungsu Wangsawijaya yang menjadi pejabat sementara kepala pemerintahan, diberi gelar Panembahan Gusti atau Panembahan Tohpati.

Dari kasus itulah, terhitung sejak pertengahan abad XVII di Cirebon ada tiga kerajaan, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Tiga bangunan itu sampai sekarang masih ada, walaupun kondisinya kian memprihatinkan. Keturunan ketiga kerajaan yang secara intern berkuasa di bangunan tua itu, tidak memiliki dana cukup untuk mewujudkan kebesaran keraton sebagai peninggalan budaya, perintis kerajaan Islam di Jawa. (top)

dijukut sing http://okanila.brinkster.net/ kesuwun, Kang…

Iklan