SETIDAKNYA 100-an lebih naskah kuno yang tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, rawan rusak.

Minimnya perawatan dan penyimpanan membuat kondisi naskah yang sebagian berupa kertas, lontar, dan kulit hewan menjadi rapuh. Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, putra Sultan Kasepuhan XIII, Cirebon, mengungkapkan hal itu di sela-sela acara seminar Revitalisasi Keraton yang diselenggarakan SMK Pakungwati, Cirebon, di Bangsal Pagelaran, Keraton Kasepuhan, Rabu (3/3/2010).

Menurut Arief, naskah-naskah kuno itu hanya disimpan di lemari, dalam sebuah ruangan di kompleks keraton. Kadar kelembaban tak bisa dipantau. Naskah-naskah yang merupakan turunan dari Sunan Gunung Jati, pendiri Kerajaan Cirebon 600 silam hingga naskah yang berusia sekitar 100 tahun, tidak dirawat secara khusus.

Arief menambahkan, keutuhan naskah-naskah tersebut penting karena sampai kini banyak naskah yang belum diterjemahkan dan diperbanyak. Adjar Prayudi, Kepala Subbidang Penataan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Ciptakarya Kementerian Pekerjaan Umum mengakui ada bantuan dari pemerintah pusat untuk Keraton Kasepuhan, tetapi hanya untuk perbaikan fisik berupa penataan taman dalam keraton senilai Rp 2 miliar. (NIT)

….PRIBEN IKI CO…?? mengko lamun dituku wong luar negeri, bisa’e ribut-ribut…dirawat beli, diopeni beli : iki arane NAMBANG DAWA… 

Sumber: Kompas, Kamis, 4 Maret 2010

Iklan