Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon sebagai desa yang hampir semua warganya bekerja sebagai pemecah batu. Tapi anehnya yang bekerja sebagai pemecah batu Justru banyak dilakukan oleh kaum perempuan di desa tersebut.

Sebagai pekerjaan yang tergolong kasar tetapi tetap dilakukan para wanita di Desa Sampiran, karena kaum perempuan di desa tersebut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Hal ini juga dirasakan oleh Nunung, salah seorang pekerja pemecah batu di desa tersebut.

 Awalnya Nunung bekerja sebagai pemecah batu karena untuk membantu ekonomi keluarganya, dengan penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Biasanya Nunung bisa menghasilkan 4 sampai 5 rinjing batu yang sudah dipecah dalam per hari dengan harga jual perinjing Rp2000. Itupun hasilnya dibagi dua untuk yang punya batu Rp1000, dan untuk yang memecah batu Rp1000.

Para pekerja pemecah batu biasanya mendapat batu yang akan di pecah dari juragan batu itu pun bila ada pesanan dari matrial, batu-batu yang sudah dipecah biasa diangkut dengan truk 2 sampai 3 hari sekali bila sudah ada pesanan.

Ternyata peran seorang wanita di Desa Sampiran begitu besar bagi kehidupan ekonomi keluarga dan masyarakat di desa tersebut. Tidak heran kalau Desa Sampiran Cirebon, desa pemecah batu karena sebagian besar masyarakatnya kerja sebagai pemecah batu. (BC-07)

dijukut sing http://labtani.wordpress.com/ kesuwun Kang…

Iklan