09 Mar 2010, Hiburan – Pikiran Rakyat

 SIAPA tak kenal Balai Kota Cirebon? Bangunan megah sekaligus unik ini juga cukup memberikan gambaran bentuk art deco yangmemiliki pengaruh yang sangat kuat pada masa itu. Dirancang untuk tempat berkantornya wali kota pada masa Hindia Belanda. Satu-satunya arsitektur unik yang ada di dunia. Jescoot merancang arsitektur balai kota dari inspirasi seekor kura-kura yang tengah merayap pelan di atas pasir. Jika dilihat dari atas, akan kentara bentuk kura-kura tersebut. Pada bagian depan, misalnya, merupakan kepala yang menonjol, sedangkan pada bagian belakang (ruangan wali kota) terdapat bagian yang menonjol ke belakang.jnirip ekor. Pada bagian kanan dan kiri dalam bentuk bangunan yang sama- merupakan tangan dan kakinya.

Ada yang menarik dari filosofi kura-kura ini, terutama bagi masyarakat lokal yang menganggap kura-kura sebagai kemantapan dalam hidup dan simbol kesabaran, biar lambat asal selamat. Selain itu, kura-kura merupakan hewan yang tahan banting meski tak diberi makan berhari-hari. Pada bagian sudut atas balai kota terdapat relief udang yang nemplok dengan cat kuning keemasan. Cirebon sebagai penghasil udang memang sangat ternama pada masa itu. Catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menyatakan, gedung tersebut semula berfungsi sebagai raadhuis (dewan perwakilan kota) atau semacam DPRD saat ini. Konon, sering pula dijadikan tempat sewaan untuk pernikahan kalangan menengah Eropa.

Sejak masa pendudukan Jepang hingga sekarang, gedung tersebut dijadikan sebagai tempat berkantornya wali kota. Sebagian besar gedung masih dalam bentuk aslinya. Dibangun dua lantai dan pada bagian atas terdapat sirene yang mengeluarkan suara keras untuk penandaan keadaan tertentu, seperti bahaya udara dan saat buka puasa. Di bawah lantai dasar, terdapat kolam yang dijadikan sebagai alat penyejuk dan sirkulasi udara. Tengok pula pada bagian atap balai kota, terdapat langit-langit gem-bung yang mirip batok kura-kura. Di lantai dua yang semula dijadikan tempat bersidang Dewan Perwakilan Kota Hindia Belanda masih tampak asli. Lantainya sebagian terbuat dari kaca tebal dan ukiran kaca tahun 1920-an.

Pada masa itu, juga dianggap sebagai kejayaan dekorasi rumah dalam bentuk kaca berukir.Sejak masa kepemimpinan Wali Kota Tatang Suwardi, balai kota diperluas seiring dengan kebutuhan perkantoran saat itu. Demikian pula jalanan kota yang semula sempit diperlebar sehingga tampak seperti saat ini. Pada dinding bagian depan terdapat prasasti yang menyatakan bahwa Kotapradja Tjirebon bebas buta huruf tahun 1962.

Arsitektur kolonial Model arsitektur Gedung NBBra (gedung karesidenan) bisa dilihat di berbagai daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Terutama di Jakarta dan Semarang banyak terdapat bangunan model arsitektur semacam itu? Rupanya merupakan ciri khas dari kantor pemerintahan Hindia Belanda masa lalu, walaupun ada beberapa gedung yang jauh berbeda arsitekturnya, seperti Gedung Balai Kota Cirebon.Di sebelah kanan gedung terdapat pos penjagaan pengamanan yang terbangun dengan model semacam pintu lengkung sebagai tempat petugas berjaga siang dan malam. Kini, bangunan tersebut masih ada dan tidak lagi digunakan sebagai pos penjagaan. Sebagian besar bangunan ini masih asli, hanya terdapat beberapa bagian yang dipugar dan pada dinding dilapisi tripleks.

Dibangun pada sekitar tahun 1865 saat Residen Cheribon dijabat Albert WilhelnTKinder de Ca-murecq yang merupakan residen keempat. Pada waktu itu, gedung tersebut berfungsi sebagai rumah dinas residen, sedangkan kantor residen berada di Jln. Yos Sudarso (depan Bank Indonesia) yang dibangun pada 1841. Menurut data Disbudpar Kota Cirebon (2006), pembangunan gedung kantor dan rumah dinas ini merupakan dampak kebakaran Benteng De Beschertmingh (terdapat sekitar pesisir dan Jln. Benteng-sekarang). Benteng De Beschermingh didirikan Belanda sekitar tahun 1686. Benteng tersebut bukan hanya dijadikan pusat kekuasaan politik dan militer, melainkan juga pusat ekonomi untuk mengumpulkan komoditas serta kegiatan perdagangan ekspor-impor.

Gedung karesidenan dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Van den Berg dengan model arsitektur Istana Merdeka Jakarta. Gedung itu dibangun menghadap ke timur di atas tanah sekitar 27.315 m2 dengan luas bangunan 2.120 m2.Gedung ini sangat dikenal masya-rakat Cirebon, di samping arsitekturnya yang indah dan kokoh, juga menyimpan kisah-kisah heroik para pejuang kemerdekaan sejak tahun 1808. Kisah-kisah yang ditulis komikus Djair asal Desa Jamblang memberikan indikasi bahwa gedung ini sering didatangi “pemberontak” dan mengacaukan para pejabat negara yang saat itu sedang berpesta pora.

Catatan yang ditulis Drs. H. Udin Koswara, M.M. (mantan Residen Cirebon awal 2000-an) dalam bukunya Sejarah Pemerintahan Keresidenan Cirebon (2000), Gubernur Jenderal H.W. Daendels pada tahun 1808 membentuk institusi pemerintahan dengan para pejabatnya yang disebut prefect (istilah dalam bahasa Prancis). Kebanyakan orang Belanda tidak menyukai penggunaan istilah tersebut, maka sebutan prefect diganti dengan sebutan landdrots (istilah Belanda), yang kemudian jabatan tersebut diganti dengan sebutan resident.Di samping menyimpan kisah heroik, gedung itu juga menyimpan sifat-sifat rasisme dari kalangan Belanda dan bangsa Eropa. Konon, menurut kisah masyarakat setempat, penduduk pribumi dari kalangan bawah yang akan memasuki gedung ini harus berjalan”jongkok dari pintu gerbang sampai bangunan induk. Selain itu, gedung ini sering kali dimanfaatkan untuk pesta I.ni tlmiN.i kalangan kulit putih. (Ntfrtrtn M. Noer, wartmtxm senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSO*”

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…

Iklan