Archive for Juni, 2011

Cerita Bersambung, Bagian 1

Tegal Alang-Alang, 1367 Saka

Hari Jum’at kliwon tanggal 14 Kresna Paksa Cetra Masa 1367 Saka, diperkirakan tahun 1445 Masehi, di antara gerimis yang turun tipis dan angin laut yang bertiup kencang, menelisik pucuk-pucuk daun jati, Mandura berjalan tergopoh-gopoh menyibak ilalang yang meliuk-liuk basah.

“Ada orang mati! Ada orang mati!” teriak Mandura.

Membuat 52 orang penduduk dipesisir utara Jawa, yang tengah menebangi hutan itu menjadi heran menghentikan pekerjaannya. Ki Danusela atau yang dikenal penduduk Ki Gedeng Alang-alang selaku penguasa Tegal Alang-alang atau Kuwu Carbon I, menghentikan menebang pohon jati.

“Ada apa, Mandura…?”

“Ada orang mati di pinggir pantai, Ki Gedeng…” Nafas Mandura masih tersengal-sengal, keringatnya bercucuran bercampur dengan titik-titik gerimis yang membasuh seluruh mukanya.

Ki Gedeng memerintahkan Walangsungsang – menantunya – dan beberapa orang, yang tengah membabat alang-alang untuk ikut bersamanya menengok kabar dari Mandura. “…yang lain, teruskan membabat hutan…” perintah Ki Gedeng.

Mereka bergegas menuju pinggir pantai, dengan petunjuk Mandura yang berjalan di depan rombongan sepuluhan orang itu.

Dukuh Tegal Alang Alang terletak di pinggir pantai Muara Jati sebelah tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Karena letaknya di pinggir pantai, maka tidak mengherankan jika banyak sekali peristiwa-peristiwa yang datang silih berganti. Seperti ombak yang senantiasa datang menghampiri tepian pantai. Membawa kisahnya. Peristiwa yang paling menggemparkan adalah ketika Tahun 1409, kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Cheng Ho yang ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal besar.

Pesisir pantai itu seakan tertutup mendung, terhalang layar-layar kapal yang besar dan lebar. Gegerlah penduduk pesisir sekitar Tegal Alang Alang.

Ki Gedeng dan anaknya nyai Subang Larang, selaku penguasa Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan misi muhibah Laksamana Cheng Ho. Laksamana tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng sebagai Syahbandar Cirebon.

Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar  dan bengkel perbaikan perahu ukuran besar.

Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil, terletak di lereng bukit Amparan Jati. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar, Ki Gedeng Alang Alang. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar, di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat,  yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.

pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, persia, dan india. Saat itu terjadi asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak tradisi baru bagi masyarakat.

bersambung ….

Iklan

Kocaping Carita

Saya akan mencoba merangkai sebuah cerita bersambung tentang Cirebon, mulai dari asal muasal berdiri sampai dengan terpecahnya menjadi beberapa keraton. Cerita bersambung ini, saya maksimalkan mendekati ‘rekaman’ nyata dengan menggunakan tanggal-tanggal yang valid, menggabungkan beberapa cerita rakyat namun tidak mengaburkan substansi fakta sejarah.

Cerita ini saya rangkai berdasarkan sumber-sumber data, yang dihimpun dari berbagai media dan sarana yang sekarang bertebaran di mana-mana, yang coba saya himpun dari keping-keping yang berserakan.

Sebagai sebuah cerita, tentu saja mengandalkan 100% imajinasi dan hal-hal yang tidak sempurna nyata, pasti banyak kejanggalan, distorsi dan hal-hal yang bisa diperdebatkan.

Saya menulis cerita bersambung ini semata-mata untuk penglipur lara, memandang Cirebon hanya dari pelupuk romansa di tanah seberang, tidak ada maksud apa-apa.

Tentu nanti cerita saya banyak yang ditaburi imaji, karena ini bukan cerita non-fiksi. Ini cerita hiburan pelipur lara.

Matur kesuwun sedurunge….

Tahun 1447 Masehi

Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana.

Pada tahun 1447, Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman, untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa.

Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (th 1447). Luca Pacioli lahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia. Lucalah orang yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system dalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita di tahun 1494.

Setelah Bhre Wirabhumi dapat dikalahkan oleh pihak Wikramawarddhana berkat bantuan Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameswara, maka Suhita melanjutkan pemerintahannya di Majapahit hingga wafatnya pada tahun 1447 M dan didharmakan di Singhajaya. Karena Suhita tidak mempunyai anak, maka singgasana Majapahit kemudian diduduki oleh adiknya, yaitu Bhre Tumapel Kertawijaya (1447—1451 M). Pada masa pemerintahannya ia mengeluarkan prasasti Waringin Pitu yang bertarikh  1369 Saka (22 Nopember 1447 M).