Posts from the ‘Gegedug Maestro Cerbon’ Category

Karya Legendaris [ Sing Kawentar ]

Karya-karya tarling legendaris:

A.       Drama

1.       Baridin, karya Abdul Adjib

2.       Saedah Saeni, karya Uci sanusi

3.       Ajian Semar mesem

4.       Kang Ato Ayame Ilang (Gandrung Kapilayu), karya Sunarto MA.

5.       Sruet, tarling Cahaya Muda/H. T Ma’mun

B.       Kiser Manunggal, karya Jayana.

C.       Lagu-lagu hits

1.       Warung Pojok, Hj. Uun

2.       Kembang Boled, Cipt. Hj. Abdul Adjib

3.       Nambang Dawa, Ini Damini

4.       Manuk Dara Sepasang, Hj. Dariyah

5.       Sulaya janji, Hj, Dariyah

6.       Pemuda Idaman, Itih, S

7.       Jawa Sunda, Yoyo Suwaryo

8.       Mboke Bocah, Yoyo Suwaryo

9.       Pengen Dikawin, Dewi Kirana

10.     Sewulan Maning, Aas Rolani, dst.

Grup-grup Tarling:

a)       Putra Sangkala, pimpinan H. Abdul Adjib

b)       Nada Budaya, pimpinan Sunarto martaatmadja

c)       Kamajaya Grup, pimpinan Udin Zaen

d)       Primadona, pimpinan Pepen Effendi

e)       Cahaya Muda, pimpinan H. Ma’mun/Hj.Dariyah

f)       Bhayangkara Putra Buana

g)       Chandra Lelana, pimpinan Maman Suparman

h)       Jaya Lelana, pimpinan Jayana

i)        Dharma Muda, pimpinan Yoyo Suwaryo

*Jaran Guyang         : Ajian pengasihan untuk memelet seorang yang kita cintai       

*Ranggon/jondol      : semacem balai tempat santai/gazebo/pos ronda

dijukut sing http://sejarah.kompasiana.com/ kesuwun Kang…

Iklan

Maestro Seni dan Regenerasi

 

Oleh Supali Kasim

Maestro-maestro seni di Tatar Cirebon-Indramayu memang pada akhirnya satu per satu pergi karena takdir kematian. Sebuah takdir dengan berbagai sebab: usia renta, penyakit, atau bahkan kecelakaan lalu lintas. Di sisi lain regenerasi seni menjadi bagian amat penting terhadap keberlangsungan seni tradisi karena ketiadaan sekolah menengah atau perguruan tinggi yang khusus mempelajari seni Cerbon-Dermayon.

Transformasi seni Cerbon-Dermayon selama bertahun-tahun berlangsung dalam lingkup keluarga seniman. Regenerasi dan sentuhan modernisasi dilakukan secara alamiah tanpa ada eksplorasi, apalagi pengkajian ilmiah. Hal ini berbeda, misalnya, dengan eksistensi kebudayaan Sunda yang banyak ditopang pendidikan formal di Bandung, seperti di STSI, UPI, atau Unpad, dan kebudayaan Jawa yang disokong ISI Surakarta, ISI dan UGM Yogyakarta, bahkan UI Jakarta.

“Kawah candradimuka” untuk penggondokan seniman di Indramayu dan Cirebon biasanya dilakukan seniman maestro, terutama terhadap anak-cucunya. Metode pun bervariasi, dari pendekatan hati hingga sabetan rotan.

Secara garis keturunan, anak-cucu tersebut memang menderas darah seniman. Ibaratnya, buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Lingkungan rumah setiap saat juga bernuansa kesenian. Pengaruh yang sangat kuat adalah pendidikan informal secara hati ataupun rotan tersebut.

Regenerasi maestro

Maestro seni Indramayu, Mama Taham (75), yang pernah memperoleh anugerah seni dari Gubernur Jabar ataupun Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, adalah salah satu contohnya. Sebenarnya tak hanya anak-cucunya, mereka yang di luar lingkungan keluarga pun tak sedikit karena sikap keterbukaannya, atau istilahnya, “baka gelem, menea, diblajari!” (kalau mau, ke sini, diajari). Darah seninya juga berasal secara turun-temurun, dari ayah-kakek-buyut-canggah, dan seterusnya. Anak, cucu, menantu, dan keponakan mampu dididik menjadi seniman, seperti Sidem Permanawati (pesinden, penari), Wangi Indriya (perempuan dalang wayang kulit, penari, pesinden), Suheti (penari, pesinden), Sunanah (penari), Suparma (dalang wayang kulit), Haris (pembuat keris), Dasma Hadiwijaya (seniman macapat), ataupun Rakidi, Cucun Yan, Tayo, Sidu (pengukir). Beberapa cucunya ada yang lulusan atau tengah menimba ilmu di STSI.

Hal serupa ditemui pada keluarga Rasmin (dalang wayang kulit) dan istrinya Suminta (penari topeng), yang menurunkan putra-putri, Tomo (dalang wayang kulit), Tarih (pesinden, penari topeng), Rusminih (wiyaga), Darkinih (pesinden), Darsinih (wiyaga), Rusdi (dalang wayang kulit), Encin Rosinta (pesinden), Duniawati (pesinden, pemain tarling), puluhan keponakan, cucu dan cicit yang bergelut di dunia yang sama.

Maestro tari topeng Rasinah yang juga sudah mendapatkan anugerah seni dari gubernur ataupun menteri juga tak jauh berbeda. Didikan keluarga amat disiplin sejak kecil, termasuk melakoni berbagai puasa, seperti mutih (puasa hanya dengan makan nasi dan air putih), ngetan (saat berbuka hanya nasi ketan), ataupun puasa wali (puasa berturut-turut selama tiga hari atau tujuh hari, dan seterusnya.) Suaminya, Amat, sangat mendukung sebagai pengendang. Anak-cucunya, yakni Wacih dan Aerli, kini melanjutkan eksistensinya.

Puluhan atau bahkan ratusan seniman lain memiliki latar belakang yang sama. Generasi demi generasi lahir. Maestro berbagai seni selalu bermunculan. Dalang Abyor, Warih Priadi, Akirna Hadi Wekasan, dan sebagainya pada wayang kulit, dalang Tayut, Taram, Asmara, Tarjaya, dan sebagainya pada wayang golek cepak, pembuat kedok Royani hingga Sunewi, pesinden Carinih hingga Kamsiyah.

Secara biologis tak sedikit pula yang tak mampu menciptakan regenerasi seniman karena berbagai sebab. Ahmadi (dalang wayang golek), Domo Suraji, Salmin, Gendut Rumli (seniman sandiwara), Dariyah, Dadang Darniyah (pesinden, seniman tarling), Dirman Tjasim (seniman sintren), Jayana, Sugra (wiraswara tarling), adalah di antaranya. Meski demikian, anak-anak secara ideologis tak sedikit jumlahnya.

Hampir semua seniman tarling bersentuhan dan dipengaruhi oleh Sugra, Jayana, Uci Sanusi, Abdul Ajib, ataupun Sunarto Marta Atmaja. Seniman sandiwara banyak berguru kepada Domo Suraji, Salmin, dan Gendut Rumli. Pesinden ataupun wiraswara mengikuti petunjuk Carinih, Dariyah, Dadang Darniyah, ataupun Aam Kaminah. Dalang wayang berpusat pada komunitas sanggar di Tambi, Lohbener, Gegesik, dan lainnya.

Pendidikan formal

Ketika beberapa maestro sudah meninggal dan beberapa lainnya sudah uzur digerogoti usia, eksistensi mereka memang seakan-akan tak tergantikan. Seniman, dengan berbagai cabang seni pertunjukan, dalam khazanah Cerbon-Dermayon identik disebut sebagai dalang. Sebagai seniman, para maestro sudah mencapai tingkatan dalang mukti (seniman yang juga melakukan syiar kebaikan dan kebenaran) dan dalang sejati (tak semata-mata karena upah).

Generasi berikutnya tak sedikit yang masih dalam taraf dalang makarya (lebih karena upah) dan dalang micara (melakukan kegiatan seni tanpa memahami filsafat dan karakter penokohannya).

Totalitas penghayatan, pengabdian, dan kecintaan terhadap seni dan kehidupan dianggap belum dicapai generasi berikutnya. Faktor waktu, pengaruh lingkungan sosial-budaya, godaan pragmatis dan hedonis sangat berpengaruh kuat dalam menghambat totalitas tersebut. Apalagi, selama ini transformasi berlangsung secara alamiah. Tak sedikit pula yang awalnya atau pendalamannya secara otodidak. Kata kunci dari totalitas itu cenderung sebagai “cinta yang keras kepala” terhadap bidangnya.

Ke depan, tentu saja, jangan hanya bergantung pada regenerasi yang bertumpu pada transformasi kekeluargaan semata. Institusi pendidikan formal amat diperlukan. SMKI Pakungwati Cirebon yang sudah berdiri agaknya perlu nutrisi baru agar tak lesu darah, apalagi jika dikaitkan dengan fenomena ragam seni-budaya Cerbon-Dermayon yang dianggap berbeda dengan Jawa ataupun Sunda.

Pengkajian dan pendalamannya tidak tepat jika bergantung pada pendidikan formal di Bandung, Yogyakarta, Surakarta, ataupun Jakarta. Sudah saatnya perguruan yang mengkhususkan seni-budaya Cerbon-Dermayon berdiri di Cirebon dan Indramayu untuk ditumbuhkan, dipupuk, disirami, dan dikembangkan.

SUPALI KASIM Pemerhati Budaya, Tinggal di Indramayu

dijukut sing http://cetak.kompas.com/ kesuwun, Kang…

Maestro Topeng Cirebon

Mimi Rasinah (lahir di Indramayu, 3 Februari 1930) adalah seorang empu tari topeng Cirebon, satu-satunya yang tersisa sejak wafatnya Sawitri, penari topeng Cirebon asal Losari pada 1999.

Dari kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak yang menyebutnya klasik.

Sejak tahun 1990 ia sudah berkelana untuk pentas tari topeng ke luar negeri: Jepang, Belanda, dll. Hidupnya dihabiskannya demi pengembangan tari topeng. Saat ini Mimi terbaring sakit karena stroke. Meskipun demikian, kegiatan latihan tari topeng di Sanggar Tari “Mimi Rasinah” di desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, tetap berjalan terus.

[…dari Wikipedia]

Affandi Koesoema

Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 – 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.

Biografi

Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai–yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur–memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: “Bung, ayo Bung!” Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Lalu apa topik yang diangkat Affandi? “Kita bicara tentang perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang perikebinatangan?” demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di jaman teknologi yang sering diidentikkan jaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan ‘Perikebinatangan’ tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Affandi dan melukis

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?.

Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Museum Affandi

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual. Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 99), “Tidak Adil” (Juni 99), “Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya” (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Affandi di mata dunia

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul “Kepada Pelukis Affandi”.

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brazilia, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia.

Kesuwun kanggo http://imajiku-diksi.blogspot.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!

Salana, Seni, dan Situs Cirebon

BERBICARA dengan Salana (60) seperti menghadapi ensiklopedia hidup. Segala hal dari kesenian tradisional, naskah-naskah kuno hingga situs purbakala di sekitar Cirebon, akan dijelaskan oleh lulusan SPG tahun 1967 ini dengan runtut, detail, dan jernih.

Ia memang bukan doktor yang melakukan penelitian secara akademis, tetapi ia punya passion yang barangkali tidak dimiliki seorang calon doktor atau bahkan doktor sekalipun. Sejak muda Salana sangat tertarik pada seni budaya Cirebon. Selama puluhan tahun dia keluar-masuk kampung, melintasi gang-gang kecil dengan sepeda tua untuk menginventarisasi berbagai atraksi kesenian tradisional yang hidup atau pernah hidup di sekitar Cirebon. Jika senimannya masih ada, dia tidak segan-segan berguru dan belajar, untuk mencegah seni tradisional tersebut dari kepunahan. Tidak heran jika Salana menguasai berbagai jenis kesenian tradisional seperti kidung macapat, pedalangan, sendratari, masres (sandiwara), menabuh gamelan dan mahir memainkan berbagai instrumen karawitan Cirebon.

Salana berhasil menginventarisasi 22 jenis kelompok seni yang pernah hidup di sekitar Cirebon sampai tahun 1970-an. Kesenian-kesenian itu menghilang karena tidak pernah ditampilkan di tengah masyarakat, atau senimannya meninggal dunia. ”Kini seni gambyung, genjring, tayuban, jidur, klenengan, telempu dan berbagai jenis kesenian lainnya hanya tinggal kenangan. Padahal, sekitar tahun 1970-an seni tradisional tersebut masih bertahan,” kata Salana yang pernah menjadi juara sendratari tingkat Jawa Barat tahun 1967 dan juara menulis cerita pawayangan tingkat Jawa Barat tahun 1970.

Ayah empat anak kelahiran Cirebon 15 Juni 1940 ini juga mencari dan menginventarisasi naskah-naskah kuno yang tersebar di masyarakat sekitar Cirebon, Indramayu, dan Kabupaten Majalengka.

Kerja kerasnya ini membuahkan hasil, berupa pembuatan katalog sekitar 200 naskah kuno yang tersebar di masyarakat dan sekitar 700 naskah kuno yang tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Naskah kuno berumur ratusan tahun yang sebagian besar ditulis pada daun lontar dan deluwang (kertas dari serbuk kayu) tersebut, dengan cermat dan hati-hati kemudian dicatat judul, ringkasan isi, jumlah halaman, bentuk tulisan dan bahasa yang digunakan serta nama penulisnya. Tidak lupa pula dicatat nama pemilik dan desa tempat tinggalnya.

”Kalau orang lain dengan meneliti seperti ini mungkin sudah dapat gelar doktor, tetapi saya cukup S-3: SR, SPG dan SGB,” kelakar Salana menceritakan jenjang pendidikannya di sekolah guru tempo dulu.
***

MENGINVENTARISASI naskah-naskah kuno berumur ratusan tahun bukanlah pekerjaan mudah. Salana harus rela keluar-masuk kampung dan rajin bertanya untuk mencari pemilik naskah-naskah kuno. Kalaupun pemiliknya ditemukan, bisa jadi naskahnya sudah tidak ada karena dijual dengan harga sangat murah kepada ”kolektor” asal Jakarta yang memburu hingga ke kampung-kampung. Sedangkan jika naskahnya ditemukan, pemiliknya belum tentu mau meminjamkan, karena naskah kuno warisan leluhur dianggapnya sebagai barang keramat yang tidak boleh dibuka dan ditunjukkan sembarangan.

Di Cirebon Barat misalnya, Salana menemukan kitab Tetamba yang ditulis pada daun lontar setebal 50 halaman dan berisi tentang khasiat obat-obatan. Kitab itu oleh pemiliknya semula hanya dibungkus kain putih, dan pada hari-hari tertentu diasapi di atas bakaran kemenyan.

Begitu pun di Gegesik, Salana menemukan kitab suci Al Quran yang ditulis tangan setebal 700 halaman dan diwariskan secara turun-temurun. Oleh pemiliknya, kitab tersebut hanya dibungkus kain putih tanpa pernah dibuka apalagi dipelajari isinya. Setiap kali kain pembungkusnya lapuk karena dimakan usia, lalu dilapisi kain putih yang lebih baru. ”Saya hitung kain pembungkusnya sudah 15 lapis, berarti kitab tersebut diperkirakan sudah berumur ratusan tahun,” kata Salana yang menyimpan puluhan naskah kuno hasil pemberian orang yang menaruh simpati kepadanya.

Kalaupun sebuah naskah kuno sudah diperoleh, bukan berarti segalanya selesai. Untuk memahami isinya bukan pekerjaan mudah, karena huruf yang digunakan dalam naskah kuno itu sebagian besar huruf Palawa, Arab Pegon, dan Jawa Kuno. Sedangkan Salana tidak memiliki latar belakang pendidikan formal tentang aksara-aksara kuno (filologi).

Untungnya Salana memiliki pengetahuan menulis dan membaca huruf Jawa hasil pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) dulu serta memahami tulisan Arab hasil didikan di madrasah semasa kecil.

”Untuk memahami isinya, saya harus menggunakan luyu bahasa atau disesuaikan dengan konteks kalimat,” kata Salana yang sudah mengalihkan beberapa naskah ke dalam huruf Latin, tetapi belum sanggup menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sehingga naskah tersebut dibiarkan sesuai bahasa aslinya.

”Saya tidak punya biaya,” kata Salana yang setiap bulan bisa menghabiskan dua rim kertas untuk alih huruf tersebut dengan biaya sendiri. Padahal untuk menopang hidupnya di rumah sederhana di Desa Jemaras Lor, Kabupaten Cirebon, Salana hanya mengandalkan uang pensiun pegawai negeri sipil yang diterimanya sejak tahun 1991. Uang itu harus dicukup-cukupkan untuk istri dan biaya sekolah keempat anaknya.

Salana tidak mempunyai pekerjaan lain, karena seluruh waktunya dihabiskan untuk memelihara dan mengembangkan seni budaya Cirebon. Kalaupun memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan para peminat seni, seperti seni macapat, pedalangan dan karawitan, semuanya dilakukan tampa pamrih. Dia juga menerima ketika jabatannya selama 23 tahun tidak berubah, sejak masuk PNS 1968 hingga pensiun 1991, jabatannya tetap tidak berubah sebagai penilik kebudayaan di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon.
***

SALANA banyak menemukan hal baru setelah membaca sendiri naskah-naskah kuno tersebut. Kitab Tetamba yang ditulis pada 50 lembar daun lontar misalnya, berisi khasiat berbagai tumbuhan untuk obat-obatan.

Kitab Ilmu Nahu setebal 234 halaman, berisi ilmu mempelajari Al Quran. Sedangkan Kitab Nabi Sulaeman yang terdiri atas 241 halaman dan Kitab Nabi Yusuf yang terdiri dari 268 halaman, berisi kisah-kisah keagamaan. Kitab lainnya berisi tentang sastra, perbintangan, seni, mantera, pola kepemimpinan hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Tanah Air pada abad ke-15, 16, 17 dan 18.

Salah satu manfaat yang diperoleh Salana dari naskah-naskah kuno tersebut antara lain petunjuk tentang adanya bangunan-bangunan penting di sekitar Cirebon. Ketika ditelusuri dengan susah-payah sejak tahun 1970-an, Salana menemukan sembilan lokasi situs di sekitar Cirebon mulai dari situs Sedong, Panongan, Cimandung dan Sindangkasih di Cirebon Selatan, hingga situs Koreak dan Timbang di Kabupaten Kuningan. Situs tersebut sangat beragam bentuknya, mulai dari menhir, domain, batu lempar hingga keranda.

Keberadaan situs tersebut sejak tahun 1970-an sudah dilaporkan Salana kepada aparat berwenang agar segera dilindungi untuk mencegah dari kerusakan dan kehancuran. Namun hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan dari pemerintah, sehingga satu-persatu situs-situs tersebut hancur atau sengaja dirusak penduduk.

Di Kecamatan Arjawinangun misalnya, areal situs Lemahtamba saat ini disewakan untuk areal sawah. Di Cirebon Utara, situs makam keluarga raja-raja dirusak dan kemudian di atasnya dibangun sekolah dasar. Sedangkan di areal Situs Cimandung, Cirebon Selatan, batu berbentuk gajah dan berhias jempol tangan, dijual untuk bangunan rumah.

”Saya sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” keluh Salana dengan nada khawatir dan hampir putus asa. Dia khawatir nasib situs akan sama dengan naskah dan seni tradisional Cirebon yang perlahan-lahan musnah karena ditinggalkan masyarakat. (try harijono)

Kesuwun kanggo http://www2.kompas.com sing wis tak jukut tulisane… Kesuwun Kang!

Hj. Umayah Dachlan

MEMASUKI awal tahun 2009, dunia seni rupa di negeri ini digayuti mendung dukacita dengan meninggalnya wanita pelukis kenamaan Kota Bandung, Dra. Hj. Umayah Dachlan, yang lebih dikenal dengan panggilan Umi Dachlan. Pelukis kelahiran Cirebon, 13 Agustus 1942 ini meninggal dunia pada Kamis (1/01) pagi, sekitar pukul 7.15 WIB, di tempat tinggalnya, Jln. Taman Sari No. 22-A Kota Bandung. Jenazah dikebumikan di TPU Jabang Bayi, Cirebon, atas permintaan keluarga almarhumah.

Kepergian pelukis Umi Dachlan, dalam pandangan perupa Sunaryo, adalah sebuah kehilangan besar bagi perkembangan dan pertumbuhan seni rupa di Indonesia. Karya-karya lukis Umi Dachlan yang cenderung abstrak itu mempunyai “warna” dan tempat tersendiri dalam peta perkembangan dan pertumbuhan seni rupa Indonesia yang dari waktu ke waktu terasa cepat. “Almarhumah Umi Dachlan semasa hidupnya dikenal sebagai wanita pelukis yang konsisten dalam menjalani profesinya dan terjaga dalam pencapaian artistiknya. Dapat dikatakan almarhumah Umi Dachlan adalah sosok penting wajah seni modern Indonesia, khususnya di Bandung. Karya-karya lukisnya sarat dengan renungan religius, penuh arti,” tutur Sunaryo, yang saat itu hadir melayat.

Selain pelukis Sunaryo, hadir pula pelukis A.D. Pirous, Setiawan Sabana, Biranul Anas, Heyi Ma`mun, Erna Ganarsih Pirous, Srihadi, dan teman seangkatan Umi di FSRD ITB, Sam Bimbo dan beberapa tamu lainnya. Berkaitan dengan ketokohan Umi dalam perkembangan dan pertumbuhan seni rupa modern di Bandung khususnya, dan di Indonesia pada umumnya, wanita pelukis Heyi Ma`mun mengatakan, Umi adalah sosok pelukis yang tiada henti-hentinya mendorong generasi muda untuk terus maju.

“Dalam dunia pendidikan, Umi adalah dosen yang cukup disegani di FSRD ITB. Wawasannya cukup luas. Hal itu tercermin dalam sejumlah karya yang dikreasinya,” ujar Heyi.

Selain itu, Heyi mengatakan, sosok Umi Dachlan bisa dibilang sebagai orang yang terbuka untuk ditanya dan tidak pelit dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Sosok Umi Dachlan baik sebagai perupa maupun sebagai manusia biasa adalah orang yang ramah dengan sesama dan punya rasa sosial yang cukup tinggi. “Saya mengenal Ceu Umi Dachlan sejak ia masih mahasiswi di FSRD ITB. Saat itu, Umi indekos di rumah nenek saya. Ceu Umilah yang memperkenalkan apa dan bagaimana dunia seni rupa kepada saya. Secara tidak langsung ketika saya masih remaja mendapat bimbingan melukis dari Ceu Umi. Selain itu, Ceu Umi juga memperkenalkan saya pada buah pikiran Barat tentang seni rupa. Jadi, bagi saya kehilangan besar dengan meninggalnya Ceu Umi,” ucap Heyi dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada juga dikatakan musikus yang juga dikenal sebagai perupa, Sam Bimbo. Menurut Sam, karya-karya Umi banyak bermuatan nilai-nilai religius yang digali dari ranah Islam. “Di angkatannya, Umi termasuk mahasiswi yang cemerlang. Ia teman gurau sekaligus teman pasea saya,” ujar Sam Bimbo.

Dikatakan Sam, ketika masih mahasiswa dirinya pernah mencandai Umi, yang membuat dirinya nyaris keluar dari FSRD ITB. Saat itu, Sam sedang bercakap-cakap dengan pelukis Srihadi dan Sadali, dan Umi hanya memerhatikan dari kejauhan. Sesaat kemudian, setelah percakapan itu usai, Umi menanyakan kepada Sam apa yang telah dipercakapkan Srihadi dan Sadali dengan Sam, yang notabene kedua orang tersebut adalah dosen Umi dan Sam di FSRD ITB. Dengan enteng Sam bilang bahwa Umi Dachlan tidak berbakat dalam melukis. “Sesungguhnya saya bergurau mengatakan itu. Kedua orang yang saya hormati itu tidak mengatakan yang demikian. Sungguh tidak diduga, akibatnya cukup membuat Umi murung. Selama satu minggu Umi tidak kuliah. Lalu saya mencari tahu, ternyata Umi mau keluar dari FSRD ITB dan siap-siap masuk Kowad. Wah, saya merasa berdosa, lalu segera minta maaf. Hasilnya beberapa tahun kemudian, Umi adalah mahasiswi yang sangat cerdas, lukisannya laku, dan pamerannya digelar di mana-mana. Itulah kenangan manis saya dengan Umi Dachlan,” kata Sam mengenang.

Baik Sam maupun Heyi memandang lukisan-lukisan Umi banyak bermuatan nilai-nilai religius karena Umi memang termasuk orang yang serius dalam menekuni agama. Boleh jadi pengaruh pelukis Sadali terhadap Umi Dachlan demikian tinggi, dan kita tahu bahwa Achmad Sadali adalah pelukis yang tekun mendalami agama dan estetika Islam.

Ketua Komunitas Pasar Seni Tamansari Kota Bandung, H. Maman Iskandar mengatakan, meninggalnya Umi Dachlan adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan. Maman mengatakan, pelukis Gilang Cempaka dalam proses belajar melukis pada masa-masa pertumbuhannya banyak diasuh dan dididik Umi Dachlan. “Ceu Umi itu punya rasa sosial yang tinggi. Saya tidak bisa melupakan jasa-jasanya saat ia mengajar anak saya, Gilang Cempaka, atau saat saya bertanya tentang sesuatu kepada Umi. Semoga Allah SWT memberikan ampunan dan tempat yang layak di sisi-Nya. Di samping itu, saya katakan dengan jujur Umi Dachlan adalah wanita pelukis senior di Kota Bandung yang mempunyai tempat khusus dalam perkembangan dan pertumbuhan seni rupa Indonesia kini,” ungkap Maman. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Kesuwun kanggo http://newspaper.pikiran-rakyat.com sing wis tak cukil tulisane… kesuwun Kang!

Toto Sudarto Bachtiar

Dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain Pelacur (1954, Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958, Harold Lamb), Bunglon (1965, Anton Chekov), Bayangan Memudar (1975, Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976, Ernest Hemingway), dan Sanyasi (1979, Rabindranath Tagore). Ia merupakan catatan sejarah sastra tahun 1950-an, yang pada zamannya penuh perjuangan, sehingga karya-karya Toto selalu berisi perjuangan dan perlawanan melawan penjajah, seperti sajak Pahlawan Tak Dikenal, Gadis Peminta-minta, Ibukota Senja, Kemerdekaan, Ode I, Ode II, Tentang Kemerdekaan.

 

Saat terjadi Clash I, ia bergabung dalam Polisi Tentara Detasemen 132 Batalyon 13 di Cirebon. Pada waktu menjadi mahasiswa di Jakarta, pernah menjadi redaktur majalah Angkasa dan menjadi redaktur Menara Jakarta. Turut pula mendirikan majalah Sunda di Bandung bersama Ajip Rosidi tahun 1964 dan pernah menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Puisinya banyak dimuat media pada tahun 1950-an dan tersebar di beberapa media di Indonesia.

 

Sajaknya yang berjudul Ibu Kota Senja, menggambarkan situasi batiniah perjuangan menaklukkan Kota Jakarta. Ia menggambarkan Jakarta tanpa kompleks sebagai pendatang. Hingga kini, menurut pengamat sastra Agus R Sardjono, belum ada lagi sajak semesra dan seindah itu mengenai Jakarta. Hampir tidak bisa dibayangkan bahwa penulisnya adalah orang Jawa Barat dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Jawa.

 

Bersama Ramadhan KH, Rendra dan Sapardi Joko Damono dikenal sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an dengan ciri masing-masing. Namun nama Toto Sudarto Bachtiar kemudian seolah-olah terlupakan”sejarah. “

 

Toto Sudarto Bachtiar yang biasa dipanggil Kang Toto adalah penyair yang sangat dikagumi oleh para penulis remaja, sejak akhir tahun 1950-an. Hampir tiap kali ada kegiatan lomba baca puisi (deklamasi) antar pelajar Jawa Barat, maka puisi gubahannya selalu menjadi wajib. Penampilannya sangat sederhana, sampai di hari-hari terakhir hidupnya ia tidak pernah terlihat memakai sepatu, kecuali sepatu olah raga. Kebiasaannya, memakai sandal atau sepatu sandal. Kesukaannya adalah bepergian memakai kendaraan umum atau angkot. Kadang-kadang diantar sopir keluarga, hanya didrop ke tempat tujuan.

 

Toto Sudarto Bachtiar wafat di usianya yang ke-78 tahun, di Desa Cisaga, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Kesuwun kanggo http://www.tamanismailmarzuki.com sing wis tak jukut tulisane… kesuwun Kang!