Archive for Februari, 2009

Kegaiban ritual panjang jimat

Puncak acara (pelal) Panjang Jimat diselenggarakan di 4 tempat, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Kompleks makam Sunan Gunung Jati.

Ki Nurteja, Dalang Keraton Kanoman mengungkapkan kegaiban yang sering terjadi dalam acara Panjang Jimat.

Dikisahkan, acara Panjang Jimat yang dihadiri ribuan orang itu ternyata juga dikunjungi makhluk gaib. Makhluk itu datang dan bercampur baur dengan manusia.

Makhluk-makhluk gaib itu tergolong jin muslim yang sudah di-Islam-kan oleh Pangeran Cakrabuwana dan Kanjeng Sunan Gunung Jati. Rupanya makhluk gaib itu juga ikut meramaikan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Menurut Ki Nurteja, dirinya sering mendengar cerita dari pengunjung yang datang ke acara Panjang Jimat. Mereka mengaku bertemu dengan sekelompok ‘orang’ yang berpakaian aneh dan berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.

Kesuwun kanggo http://mystys.wordpress.com sing wis tak cukil tulisane… Kesuwun Kang!

Iklan

Tari Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis adalah salah satu jenis tari Ronggeng yang hidup di kampung Buyut desa Buyut kecamatan Cirebon Utara kabupaten Cirebon. Kesenian ini muncul karena situasi politik yang bergejolak saat datangnya pengaruh Islam memasuki lingkungan Cirebon. Kesenian itu merupakan bentuk penyamaran laki-laki berpakaian dan berias wanita yang berpura-pura sebagai pengamen jalanan, padahal sebetulnya adalah pasukan telik sandi yang dilakukan oleh sahabat Sunan Gunung Jati dari daerah Bugis. Oleh karenanya bentuk kesenian itu disebut “Ronggeng Bugis”.

Kesuwun kanggo http://puslitmas.stsi-bdg.ac.id sing wis tak cuplik tulisane…

Silsilah Para Sultan Cerbon

SILSILAH PARA SULTAN KANOMAN
1. Sunan Gunung Jati Syech Hidayahtullah
2. Panembahan Pasarean Muhammad Tajul Arifin
3. Panembahan Sedang Kemuning
4. Panembahan Ratu Cirebon
5. Panembahan Mande Gayem
6. Panembahan Girilaya
7. Para Sultan :
1. Sultan Kanoman I (Sultan Badridin)
2. Sultan Kanoman II ( Sultan Muhamamad Chadirudin)
3. Sultan Kanoman III (Sultan Muhamamad Alimudin)
4. Sultan Kanoman IV (Sultan Muhamamad Chadirudin)
5. Sultan Kanoman V (Sultan Muhamamad Imammudin)
6. Sultan Kanoman VI (Sultan Muhamamad Kamaroedin I)
7. Sultan Kanoman VII (Sultan Muhamamad Kamaroedin )
8. Sultan Kanoman VIII (Sultan Muhamamad Dulkarnaen)
9. Sultan Kanoman IX (Sultan Muhamamad Nurbuat)
10. Sultan Kanoman X (Sultan Muhamamad Nurus)
11. Sultan Kanoman XI (Sultan Muhamamad Jalalludin)

SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON
1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran Dipati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran Dipati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sepuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sepuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sepuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sepuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sepuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sepuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat

SILSILAH SULTAN KERATON KECERIBONAN
1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran Dipati Carbon
3. Panembahan Ratu Pangeran Dipati Anom Carbon
4. Pangeran Dipati Anom Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Moh Badridini Kanoman
7. Sultan Anom Raja Mandurareja Kanoman
8. Sultan Anom Alimudin
9. Sultan Anom Moh Kaerudin
10. Sultan Carbon Kaeribonan
11. Pangeran Raja Madenda
12. Pangeran Raja Denda Wijaya
13. Pangeran Raharja Madenda
14. Pangeran Raja Madenda
15. Pangeran Sidek Arjaningrat
16. Pangeran Harkat Nata Diningrat
17. Pangeran Moh Mulyono Ami Natadiningrat
18. KGPH Abdulgani Nata Diningrat Dekarangga

SILSILAH PANEMBAHAN CIREBON
1. Sunan Gunung Jati Syech Hidayatullah
2. Panembahan Pasarean Muhammad Tajul Arifin
3. Panembahan Sedang Kemuning
4. Panembahan Ratu Cirebon
5. Panembahan Mande Gayem
6. Panembahan Girilaya
7. Pangeran Wangsakerta (Panembahan Cirebon I)
8. Panembahan Cirebon II (Syech Moch. Abdullah)
9. Panembahan Cirebon III (Syech Moch. Abdullah II)
10. Panembahan Syech Kalibata
11. Panembahan Syech Moch. Abdurrohman
12. Panembahan Syech Moch. Yusuf
13. Panembahan Moch. Abdullah
14. Panembahan Jaga Raksa
15. K.H Moch. Syafe’i
16. K.H Moch. Muskawi
17. H. Moch. Parma
18. H. Salimmudin
19. Hj. Siti Ruqoyah

Kesuwun kanggo http://cepiar.wordpress.com sing wis tak cukil tulisane… Kesuwun Kang!

antara Palembang dan Cirebon

Dari negeri China, Sunan Gunung jati kembali ke Cirebon bersama calon pengantennya, Puteri Ong Thien, lengkap dengan iring-iringan dua buah kapal Kekaisaran Ming.

Pengiring Sunan Gunung Jati dikepalai oleh Menteri Pai Lian Bang. Kapal yang dinaiki rombongan Sunan Gunung Jati berangkat lebih duluan. Lalu singgah di Sriwijaya, pada waktu yang bertepatan dengan wafatnya Adipati Aria Damar. Karena kedua putra Aria Damar sudah pergi ke Tanah Jawa maka tidak ada pengganti. Sunan Gunung Jati menyarankan kepada rakyat Sriwijaya agar muridnya yang bernama Pai Lian Bang yang masih berlayar di belakang diangkat sebagai pengganti Aria Damar.

Setibanya kapal Pai Lian Bang, penduduk Sriwijaya menyambutnya dengan gembira. Pai Lian Bang bersedia menjadi Adipati karena yang telah mengambil keputusan adalah gurunya yang sangat ditaati. Pai Lian Bang yang berpengalaman sebagai Menteri di Negeri Cina berhasil membangun Sriwijaya dengan segala kemampuannya.

Dia adalah guru besar ilmu ketatanegaraan. Banyak murid yang berjubel-jubel datang dari Tanah Jawa khusus untuk mengaji ke Pai Lian Bang yang terkenal brilian dan leket ibadah. Pesantren dan madrasah digalakkan. Setelah tilar dunya kadipaten Sriwijaya diubah namanya menjadi Palembang. Diambil dari nama Pai Lian Bang.

Kesuwun kanggo http://www.asiafunclub.com sing wis tak cukil tulisane… Kesuwun Kang!

Terbelahnya kekuasaan keraton di Cirebon

Terbelahnya kekuasaan keraton di Cirebon berawal dari kisah unik tanpa pertumpahan darah. Pada 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah datang ke Mataram untuk menghormati dan mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.

Panembahan Adiningkusumah yang juga disebut Panembahan Girilaya bersama dua putranya memenuhi undangan tersebut. Namun mereka tidak boleh kembali ke Cirebon dan harus tinggal di Mataram. Meski demikian, mereka diberi tempat untuk tinggal serta diakui sebagai penguasa Cirebon.

Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, berada di Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram (1662-1667). Mereka juga berusaha membawa kembali Panembahan Adiningkusumah dan dua pangeran Cirebon itu.

Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, kedua pangeran bisa kembali ke Cirebon melalui Banten. Ketika Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat mereka sebagai sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah.

Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa di Keraton Kanoman. Sedangkan Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi Panembahan Cirebon, tetapi dia tidak memiliki wilayah kekuasaan dan keraton.

[ Kesuwun kanggo Media Indonesia, sing wis tak cukil sebagian tulisane… Kesuwun Kang! ]

Kelir 1

“…

Melayua ning laklakaning naga, Wong Ayu

Tak udag masa wurunga

…”

 

Sega Tumpeng Wa Bunawas

 

Isuk surup bli katon wujude, lelayu surem.

Mendung leliyungan, nutupi ambane langit. Pertanda jagat wis waya’e rendeng nutup surup waya ketiga. Ning langit jagat kaya peteng dedet, ilang pamore srengenge. Cuma kilat lan gluduk sing gawe pepadange langit.

 

Udan gerimis mulai ngerecek, alon – alon. Banyue sing tipis, nyiprat tempias digawa angin esuk sing ngreges. Kerasa atis pisan ning badan. Tapi luwih atis kerasa ning batine Baridin, kang lagi ndodok sanggowang kridong sarung, ning arep umah.

 

Sarung akeh tambalane sing dadi batur sejati awan lan bengi. Kanggo kemulane badan lan atine sing kerasa suwung lan sepi. Suwung mikiri nasibe badan kang ora pernah tinemu ning rasane bungah, sing awit mbrojol ning wetenge Mbok Wangsi. Sepi rasane ati ora pernah kesanding karo bocah wadon sing gelem dijak gemuyu, kaya nasibe bebaturan sing sejen.

 

“Duh, Gusti kang Maha Kuasa… iki lelakone apa, sing lagi tak tanggung ning badan lan ati kula…”

 

gubukDuh, Gusti…

Mikiri umah wong tua sing ndoyong ngalor, ndoyong ngidul. Mikiri nasib wong tuwa mung-munge siji Mbok Wangsi sing dadi gantelane ati. Melas greges nyawange sing wis lawas ditinggal lunga ning Bapa, kang wis mujur mengalor.

 

( To be continued )

Tegal Alang Alang

Sebelum era Sunan Gunung Jati berdakwah di Jawa Barat. Ada seorang ulama besar dari Bagdad telah datang di daerah Cirebon bersama duapuluh dua orang muridnya.

Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama inilah yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.

Al-Kisah, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang dan adiknya Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yangsama .Mimpi itu terulang hingga tiga kali yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengajarkan agama Islam.

Wajah Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam demikian mempersona membuat kedua anak muda itu merasa rindu.Tapi mimpi itu hanya terjadi tiga kali.

Seperti orang kehausan, kedua anak muda itu mereguk air lebih banyak lagi, air yang akan menyejukkan jiwanya itu agama Islam. Kebetulan mereka telah mendengar adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda disebut Syekh Datuk Kahfi yang membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksudnya kepada Prabu Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, mereka ingin memperdalam agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan mereka ditolak oleh Prabu Siliwangi.

Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekad, keduanya melarikan diri dari istana dan pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama di Gunung Jati, Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi untuk membuka hutan di bagian selatan Gunung Jati. Pangeran Walangsungsang adalah seorang pemuda sakti, tugas itu diselesaikannya hanya dalam beberapa hari. Daerah itu dijadikan pendukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu ramai Pangeran Walangsungsang diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelar Cakrabuana. Daerahnya dinamakan Tegal Alang-alang.

Orang yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari berbagai rasa atau keturunan, banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk tersebut, sehingga terjadilah pembauran dari berbagai ras dan pencampuran itu dalam bahasa Sunda disebut Caruban.Maka Legal Alang-alang disebut Caruban.

Sebagian besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian dibuatnya menjadi petis yang terkenal.

Dalam bahasa Sunda Petis dari air udang itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian lebih dikenal sebagai Cirebon hingga sekarang ini.

Kesuwun kanggo http://heritageofjava.com sing wis tak cuplik tulisane… Kesuwun Kang!