Archive for Februari, 2010

Wong Cerbon

dijukut sing facebook Wong Cerbon

Iklan

Legenda Gunung Ciremai

Banyak yang mengklaim kalau jalur pendakian gunung Ciremai via pos Linggar Jati adalah jalur Walisongo.
Secara singkatnya,konon Walisongo melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai dan di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati. Pendakian di mulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Ciebunar adalah tempat pertama rombongan Walisongo berkemah.

Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jaluir lain seperti Palutungan maupun Majalengka. Sampai – sampai kakeknya Sunan Gunung Jati kelelahan (mungkin karena pengaruh usia) pas di pertengahan gunung.

Kakeknya Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya,dan memilih beristirahat,dan mempersilahkan rombongan Walisongo untuk meneruskan pendakian dengan di temani oleh empat orang pengawalnya sang kakek.

Kakeknya Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.

Kakeknya Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun,Sang Kakek tidak mau ikut turun di karenakan malu.
Karenanya ada yang menyebutnya sebagai Satria Kawirangan.

Di atasnya sedikit dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana. Kalau di perhatikan di pos Sangga Buana ini,pohon-pohonnya ada yang unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua.

Konon, para pengawalnya Sang Kakek yang mestinya menemani Walisango ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian. Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek,mereka membungkukkan badannya kebawah ke arah sang Kakek beristirahat.
Para pengawal ini atas kuasa Allah berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk kebawah.

Sampailah rombongan Walisongo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Walisongo pun menunaikan sholat jamaah asar di bawah puncak satu.
Usai sholat asar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.

Namun ketika akan mulai memasak,ternyata semua persediaan laukpauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa.
Seadanya yang penting ada yang di makan,walaupun cuma nasi putih campur garam tetap enak dan bisa untuk menambah tenaga baru.

Karena hal inilah puncak II Ciremai di namakan sebagai Puncak Pengasinan. Karenan cuma makan nasi sama garam yang asin rasanya.

Perjalanan Walisongopun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakeknya Sunan Gunung Jati,Walisaongo berdoa minta petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan untuk orang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini.

DenganIzin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Walisongo berdiri amblas kedalam sampai kedalamannya sejajar dengan tempat Kakeknya Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.

Karenanya kawah Ciremai memang exotis namun menyeramkan jika di banding dengan dengan kawah-kawah gunung lainnya.

Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui semua kebenaran cerita ini.

Kisah ini pernah diceritakan oleh Mbah Saman,pemilik warung makan dan penginapan di jalur pendakian Linggar Jati. Tepatnya kurang lebih 100 meter setelah Pos pendaftaran.

Satu pesan dari Mbah Saman yang selalu kami ( KOMA PEKALONGAN ) ingat-ingat.
Kalau mau mendaki gunung dengan selamat, jangan melakukan pendakian dari belakang gunung.
Lakukanlah pendakian dari depan sebagai mana sopan santun kita terhadap orang tua.
Bagian depan gunung ialah apabila dilihat gunung itu berbentuk kerucut atau segi tiga.

Ketika Kekuasaan di Cirebon Terbelah

Sumber : Media Indonesia

CIREBON sebagai salah satu daerah tujuan wisata memiliki sejumlah tempat bersejarah. Di antaranya, Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Sejarah Keraton Kanoman sangat memprihatinkan. Pada zaman pemerintahan Belanda, tanah Cirebon semula juga akan dikuasai. Tetapi, niat itu ditentang Pangeran Raja Kanoman, putra Sultan Anom IV yang bertakhta di Keraton Kanoman pada 1803.

Setelah Sultan Anom IV wafat, Belanda melancarkan siasat devide et impera (memecah belah). Takhta yang seharusnya diduduki putra mahkota, Pangeran Raja Kanoman, oleh Belanda diambil dan diberikan kepada putra Sultan Anom IV yang lain, Abu Sholeh Imaduddin, sebagai Sultan Kanoman V. Dampaknya, rakyat juga terpecah.

Sedangkan Pangeran keluar dari lingkungan Keraton Kanoman dan bergabung dengan para pemberontak hingga kemudian Belanda menangkapnya dan dibawa ke Batavia (Jakarta).

Perlawanan pembebasan Pangeran pun terjadi di Batavia. Keadaan makin ricuh dan rakyat yang selama ini mendukung Pangeran Raja Kanoman, kehilangan simpati pada sultan ‘boneka’ Belanda, Sultan Anom V. Dibuanglah Pangeran ke Ambon agar rakyat kehilangan target perjuangan. Namun target Belanda salah. Perang makin tak terkendali.

Daendels kesal, Pangeran Raja Kanoman dibawa kembali ke Cirebon. Gubernur Laut Timur Jawa Engelhard pun pada 1 Januari 1808 diperintahkan menjemput Pangeran Raja Kanoman di Ambon. Di Cirebon sendiri, keraton baru disiapkan pemerintah Belanda sebagai tempat Pangeran Anom bertakhta.

Pada 13 Maret 1808, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan Kacirebonan. Rakyat mengelu-elukan Sultan baru. Selanjutnya Cirebon resmi memiliki tiga keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

Meski diangkat, namun kekuasaan politik sultan, termasuk Sultan Keraton Kasepuhan dan Kanoman, dihilangkan oleh Belanda. Ketiga sultan tak beda dengan pegawai pemerintah biasa yang diberi gaji. Tetapi Sultan Kacirebonan tidak mau menerima gaji dari pemerintah Belanda sampai akhir hayatnya.

Peninggalan tiga keraton itu hingga kini masih ada, namun Keraton Kacirebonan sudah lusuh. Dari ketiga keraton di Cirebon, Kasepuhan yang dibangun pada 1529 paling terawat dan megah. Pagar tembok yang mengelilingi keraton itu terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa.

Sebetulnya, Keraton Kasepuhan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (pendiri Cirebon pada 1445) sebagai perluasan keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton Pakungwati terletak di belakang Keraton Kasepuhan. Lokasi keraton itu kini berada di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.

Di kompleks Keraton Kasepuhan juga terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sangat indah. Masjid Agung itu berdiri pada 1549. Keraton ini juga memiliki kereta keramat, yaitu Kereta Singa Barong. Sejak 1942 kereta itu tidak boleh dipakai lagi, tetapi hanya dikeluarkan setiap tanggal 1 Syawal untuk dimandikan.

Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari Sunan Gunung Jati inilah kisah Cirebon itu bergulir.

Kekuasaan terbelah

Terbelahnya kekuasaan keraton di Cirebon berawal dari kisah unik tanpa pertumpahan darah. Pada 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah datang ke Mataram untuk menghormati dan mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.

Panembahan Adiningkusumah yang juga disebut Panembahan Girilaya bersama dua putranya memenuhi undangan tersebut. Namun mereka tidak boleh kembali ke Cirebon dan harus tinggal di Mataram. Meski demikian, mereka diberi tempat untuk tinggal serta diakui sebagai penguasa Cirebon.

Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, berada di Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram (1662-1667). Mereka juga berusaha membawa kembali Panembahan Adiningkusumah dan dua pangeran Cirebon itu.

Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, kedua pangeran bisa kembali ke Cirebon melalui Banten. Ketika Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat mereka sebagai sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah.

Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa di Keraton Kanoman. Sedangkan Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi Panembahan Cirebon, tetapi dia tidak memiliki wilayah kekuasaan dan keraton.

Keraton Kanoman menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada di Kasepuhan bernama Paksi Naga Liman. Namun, satu hal yang sangat disayangkan, kompleks Keraton Kanoman kini tertutup oleh pasar rakyat, yaitu Pasar Kanoman. Letak Keraton Kanoman sekitar satu kilometer dari Keraton Kasepuhan.

Sultan yang berkuasa di Keraton Kasepuhan saat ini adalah Pangeran Raja Adipati (PRA) Maulana Pakuningrat XI dan memiliki putra mahkota bernama PRA Arief Natadiningrat. Sedangkan Keraton Kanoman sepeninggal Sultan Djalaludin XI yang wafat November 2002 lalu, kini ricuh. Sebab, di Keraton Kanoman kini ada dua putra mahkota, yakni Pangeran Saladin dan Pangeran Emirudin. Suryana/N-2

Belanja Oleh-oleh Khas Cirebon di Pasar Pagi

Jika mudik nanti Anda melintas ke kota Cirebon, tidak ada salahnya Anda mampir sejenak dan berwisata belanja oleh-oleh khas Cirebon.

Karena selain dijuluki kota Wali, Cirebon juga punya banyak panganan khas asli setempat. Mulai dari sirup buah merek lawas ‘Tjampolay’, kerupuk Melarat, aneka olahan udang, terasi khas Cirebon dan lain-lain. Tertarik?

Seperti sirup ‘Tjampolay’. Minuman ini terkenal asli Cirebon sejak 1930-an. Dibuat secara home industry dari gula asli murni dan tidak memakan bahan kimia.

Rasanya tentu berbeda dengan sirup-sirup yang biasa Anda sajikan di meja makan. ‘Tjampolay’ lebih manis dan wangi.

Selain ‘Tjampolay’, Anda juga bisa mencoba terasi khas Cirebon. Meski secara bentuk dan warna tidak jauh berbeda dengan terasi di kota-kota lainnya. Namun aroma terasi Cirebon lebih khas dan mantab sebagai bumbu masak.

Oleh-oleh tersebut dapat Anda temukan di Pasar Pagi, Cirebon. Pusat jajanan oleh-oleh terbesar di Cirebon.

Biasanya jelang lebaran, omzet di Pasar Pagi bisa naik 3 hingga 4 kali lipat. Sebab, tempat ini sudah menjadi langganan para pemudik untuk wisata belanja.

“Biasanya mereka beli berdus-dus sampai pedagang-pedagang kewalahan,” kata Yayan, salah seorang penjual toko oleh-oleh ‘Sumber Ikan Asin’ saat ditemui detikRamadan di Pasar Pagi, Cirebon, Jawa Barat.

Yayan menjelaskan, saat ini jajanan khas Cirebon memang bisa dijumpai di mana saja. Tapi, semua oleh-oleh di Pasar Pagi, lanjut Yayan, dipastikan lebih murah dan orisinil.

“Kita sudah puluhan tahun di sini jadi pasti dijamin asli dan murah,” jelasnya.

Sirup Tjampolay rasa pisang susu yang biasanya dijual Rp 14 ribu-15 ribu, Anda bisa mendapatkannya di Pasar Pagi hanya dengan harga Rp. 12.500. Tentu apabila Anda jago dalam hal tawar-menawar, harganya bisa lebih turun lagi.

Di Pasar Pagi terdapat puluhan toko yang menjual bermacam-macam oleh-oleh. Apabila hari-hari menjelang Lebaran biasanya mereka buka hingga larut malam.

Untuk Anda yang suka wisata belanja, aneka panganan khas Cirebon bisa jadi buah tangan Anda saat tiba di kampung halaman.

dijukut sing http://www.detiknews.com/ kesuwun Kang

Bong Cina Pasar Pagi

Di belakang Pasar Pagi kota Cirebon, samping sungai Sukalila, ada sebuah kompleks pemakaman orang China. Orang setempat menyebutnya sebagai ‘Bong Cina’ saja. Namun kata beberapa aparat keraton Kanoman, itu adalah makam Aria Wira Cula besrta keluarga dan para pengawalnya.

Siapakah Aria WiraCula? Banyak versi mengatakan, yang paling umum diakui adalah, bahwa Aria Wira Cula adalah seorang berkebangsaan China yang bernama Tan Gun We. Dia hanya seorang saudagar biasa yang datang dari daratan China untuk berniaga ke beberapa Negara Asia dan kebetulan masuk ke wilayah Nusantara. Di pulau Jawa, Tan Gun We beserta teman bisnisnya sesame China yaitu Tan Cun Lay dan sam To Liong mendarat di pelabuhan Cirebon pada Tahun 1676. Ketiga orang ini malah tertarik kepada agama Islam yang saat itu sedang berkembang pesat di Cirebon. Maka mereka masuk Islam dengan kehendak sendiri. Bahkan Tan Gun We malah melpakan urusan dagangnya dan memutuskan untuk tinggal di Cirebon.

Jika Tan Gun We memilih untuk menetap di Cirebon dan mengabdi kepada Keraton Kesepuhan, lain halnya dengan kedua rekannya. Mereka berdua memilih untuk kembali melanjutkan perjalanan dan konon dikemudian hari menetap di Semarang sampai akhir hayatnya.

Tan Gun We merupakan orang yang berjasa bagi pembangunan social ekonomi di Cirebon, untuk keraton kesepuhan pada khususnya, sehingga dengan demikian Sultan berkenan memberikan gelar Tumenggung aria Wira Cula.

Makam Aria Wira Cula biasanya akan ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu seperti saat Maulid Nabi dan Imlek tiba, meski tak jarang hari-hari biasa pun maka mini dikunjungi orang yang ingin berziarah.

Yang unik dari makam ini adalah bahwa bukan saja orang yang beragama Islam yang berkunjung ke sini, tapi banyak juga orang-orang keturunan Tionghoa yang beragama Kong Hu Chu pun berziarah ke tempat ini, sebab warga keturunan China pun sangat menghormati “Siang Kiong” (sepasang suami istri) yang dimakamkan di sini, hanya tentu saja pada waktu yang berbeda. Orang Islam biasanya berziarah pada perayaan Maulid Nabi ketika dimana puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang tumplek blek ke dalam keraton Kesepuhan dan Kanoman Cirebon dalam perayaan Maulid Nabi. Dan orang keturunan Tionghoa biasanya datang ke sini ketika perayaan Imlek tiba.

dijukut sing http://portalcirebon.blogspot.com/ kesuwun Kang…

Asal Usul Klayan

Pada zaman dahulu kala tersebutlah patih Danalaya dari kerajaan Pajajaran yang diutus oleh raja Pajajaran bernama Prabu Siliwangi untuk menemui seorang ulama di Cirebon bernama Syeh Datul Kahfi. Patih Danalaya diutus menemui Syeh Datul Kahfi dengan tujuan untuk memperingatkan ulama itu supaya berhenti menyebarkan agama Islam di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran.

Sesampainya di tempat kediaman Syeh Datul Kahfi, Patih Danalaya pun mengutarakan maksudnya kenapa datang menemuinya.

“Saya datang kesini karena diutus oleh Prabu Siliwangi supaya kisanak berhenti menyebarkan agama Islam di wilayah kekuasaaan Pajajaran.”

Bukannya mengiyakan, dengan sopan Syeh Datul Kahfi malah mengajak patih Danalaya untuk ikut memeluk agama Islam sambil menerangkan tentang kemuliaan agama Islam.

Tentu saja Patih Danalaya menjadi kebingungan dan serba salah. Kalau ia tak berhasil mencegah ulama itu untuk berhenti menyebarkan agama Islam maka ia pasti akan dihukum oleh Prabu Siliwangi, tapi di lain sisi ia pun tak tega untuk memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kekerasan karena ulama itu begitu sopan kepadanya.

Ditengah-tengah kebimbangan hatinya, patih Danalaya pun memutuskan untuk menolak dengan halus tawaran ulama tersebut untuk memeluk agama Islam dan berniat untuk bersemedi saja di tengah hutan.

Setelahnya mengutarakan maksudnya itu Patih Danalaya pun pamit untuk melaksanakan niatnya bertapa di tengah hutan.

Beberapa bulan kemudian, Mbah Kuwu Cerbon mendengar bahwa ditengah hutan ada seorang pandita sakti yang sedang bertapa. Kuwu Cerbon yang sebelumnya telah menyamar dengan mengganti nama menjadi Ki Gemu pun mendatangi sang pandita sakti itu dengan maksud untuk mengislamkan pandita hindu tersebut.

“Ada apa dan siapakah gerangan kisanak ini hingga berani mengganggu semediku?” Tanya Ki Patih Danalaya.
“Namaku Ki Gemu. Maksud dan tujuanku kesini adalah untuk mengajak kisanak memeluk agama Islam.” Kata Kuwu Cerbon.
“Kalau seandainya aku menolak, apa yang akan Kisanak lakukan?”
“Kalau menolak, silahkan kisanak untuk meninggalkan tempat ini karena ini adalah daerah islam.” Tandas ki Gemu.

Karena merasa tersinggung, akhirnya patih Danalaya pun menyerang Ki Gemu dan pertrungan pun tak terelakan lagi.

Kedua kesatria yang sama-sama berilmu tinggi itu saling menyerang dan berusaha mengalahkan lawannya. Malaikat maut mengawasi cemas, memastikan pada siapa maut akan berpihak.
Setelah beberapa lama akhirnya Patih Danalaya harus mengakui kehebatan Ki Gemu dan bersedia untuk meninggalkan tempat itu karena beliau tetap tak mau masuk agama islam. Patih Danalaya yang tak berani untuk kembali ke pajajaran karena takut dihukum oleh Prabu Siliwangi atas kegagalannya mengemban tugas akhirnya memilih untuk pergi berkelana tak jelas arah dan tujuan yang oleh masyarakat Cirebon disebut sebagai Lunga kelaya-laya.

Dari kata Kelaya-laya inilah kemudian tempat semedi patih Danalaya pun dibuka menjadi sebuah pedukuhan (Desa) dengan nama Klayan…

dijukut sing http://portalcirebon.blogspot.com/ kesuwun Kang…

Kota Cirebon

Kota Cirebon adalah sebuah kota mandiri terbesar kedua di Provinsi Jawa Barat, setelah ibukota Jawa barat, yakni Kota Bandung. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Jalur Pantura Jakarta – Cirebon – Semarang merupakan jalur terpadat di Indonesia. Kota Cirebon juga adalah kota terbesar keempat di wilayah Pantura setelah Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Karena letaknya yang sangat strategis yakni di persimpangan antara Jakarta, Bandung, dan Semarang, menjadikan kota cirebon sangat cocok dan potensial untuk berinvestasi dalam segala bidang investasi seperti hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan baru, pendidikan. Sehingga Kota Cirebon merupakan pilihan yang sangat tepat untuk berinvestasi. Dengan didukung oleh kegiatan ekonomi yang baik dan terpadu menjadikan Kota Cirebon berkembang menjadi Kota METROPOLITAN ketiga di Jawa Barat setelah metropolitan BoDeBeK( Bogor, Depok, Bekasi) yang merupakan hinterland / kota penyangga bagi ibukota Jakarta dan Metropolitan Bandung.

Kota Cirebon merupakan pusat bisnis, Industri, dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur dan utara. Banyak sekali Industri baik skala kecil, menengah, dan besar menanamkan modalnya di kota wali, Cirebon. Dengan didukung oleh banyaknya orang – orang yang bekerja, beraktifitas dan menuntut ilmu di Kota Cirebon, sekitar kurang lebih 1 juta orang, Menjadikan kota Cirebon lebih hidup. Pembangunan di Kota Cirebon juga menggeliat dan menunjukkan respons positif, hal ini terbukti dengan banyaknya bangunan – bangunan besar dan tinggi yang berada di jalan – jalan utama kota Cirebon.

Saat ini, wajah Kota Cirebon telah berubah, menjadi kota modern mandiri ketiga di Pulau Jawa bagian barat setelah Jakarta dengan kota – kota satelitnya ( Bogor, Depok, Tangerang, Banten, dan Bekasi) dan Bandung Raya dengan kota – kota satelitnya ( Tasikmalaya, Cimahi, Subang, Purwakarta, Cianjur, Garut). Kini pemerintah wilayah Cirebon sedang giat – giatnya mengembangkan potensi wilayah kota Cirebon Metropolitan dengan kota – kota satelitnya ( Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan sebagian Jawa Tengah bagian barat yakni Tegal, Brebes, Purwokerto, dan Pekalongan). Dahulu Cirebon merupakan ibu kota Kesultanan Cirebon dan Kabupaten Cirebon, namun ibu kota Kabupaten Cirebon kini telah dipindahkan ke Sumber.

Cirebon juga disebut dengan nama ‘Kota Udang’ dan ‘Kota Wali’. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa.

dijukut sing http://id.wikipedia.org/ kesuwun Kang…