Posts from the ‘Sisi Lain’ Category

Bahasa Hibrida dari Masyarakat Diaspora

PUNTEN. Cakana boga kotok bibit? Caang tah poek? Kami aya perlu. Kami ndak nanya ka anak kita, daek tah hente? Diterima tah hente? Kami mawa jago ndak ngan-jang. Mun diterima, iye serena. Esina aya gambir, bako, serejeng lainna. Ngges ente Hia, kami ndak goyang, panglamaran diterima mah. Sejen poe, kami ndak nentuken waktu, jeng nentuken poe kawinna.”

ADA nuansa yang terasa asing pada penggunaan bahasa Sunda seperti di atas. Bahasa yang digunakan mayoritas penduduk di Jawa Barat itu, di Indramayu seperti terjadi distorsi dan akulturasi dengan bahasa daerah lainnya (Cirebon/Indramayu dan Melayu-Betawi).

Bahasa Sunda yang khas itu sudah be-rabad-abad digunakan, yakni di Desa Parean Girang, Bulak, dan Ilir Kecamatan Kandang-haur, serta Desa Lelea dan pemekarannya, Tamansari Kecamatan Lelea. Masyarakat mengenalnya sebagai bahasa Sunda-Parean dan Sunda-Lea.

Maksud kalimat di atas adalah, “Katanya punya anak gadis? Sudah punya pasangan belum? Saya ada perlu. Saya hendak bertanya kepada anak saudara, diterima atau tidak? Saya membawa jago hendak melamar. Kalau diterima, ini sirihnya. Isinya ada gambir, tembakau, sirih, dan lainnya. Sudah ya, saya tidak lama-lama, saya hendak pulang, kalau lamaran diterima mah. Lain hari, saya hendak menentukan waktu dan menentukan hari perkawinan.”

Kosakata asing dalam bahasa Sunda bermunculan pada kalimat di atas, seperti kami, kita, goyang. Sepintas kosakata tersebut seperti kata serapan dari bahasa Indonesia. Setelah mengetahui artinya, temyata bukan.
Kami artinya saya, dalam arti tunggal, bukan jamak. Kita berarti saudara. Goyang mengambil serapan dari bahasa Indramayu, yang artinya pulang.

Penggunaan kosakata kami merupakan pengambilan undak usuk yang dianggap halus dibandingkan aing, meski ada yang lebih halus lagi yakni kolo. Kosakata kita juga lebih halus, sebab penggunaan yang kasarnya adala inya. Dalam percakapan sehari-hari tentu saja akan lebih banyak lagi dijumpai kata-kata atau kalimat yang asing. Keasingan itu bisa jadi akan menimbulkan kesalapahaman, bahkan pengertian yang berbeda bagi orang luar.

“Bini aing benang kebanjir” disangka orang luar sebagai “istri saya hanyut oleh banjir”, padahal artinya “benih padi saya hanyut kena banjir”. “Melak waluh, buahna kendi?” disangka sebagai “menanam labu, buahnya kendi?” padahal artinya, “menanam labu, buahnya mana?”

Urutan penyebutan bilangan dari satu sampai sepuluh juga agak berbeda dengan bahasa Sunda, yakni siji, dua, tolu, opat, lima, genep, tuju, delapan, salapan, sepulu. Bisa jadi pula akan dijumpai kosakata, seperti seneng atau senung (anak perempuan), senang (anak laki-laki), kaka (kakak), cowene (gadis), perja-ka (jejaka), laki (lelaki), wewe (perempuan), ataupun ewe aing (istri). Keunikan kosakata seperti itu sering dijadikan “keusilan” bagi pihak luar sehingga muncullah kosakata pa-notog aing untuk menyebut suami.

Jika dalam bahasa Sunda mengenal abjad eu, dalam bahasa Sunda-Parean maupun Sunda-Lea hal seperti itu tampaknya tidak digunakan. Dalam penulisan maupun pengucapan selurunya menjadi e, seperti halnya bahasa Jawa setempat. Pada kosakata heunteu, misalnya, ditulis hente.

Pengaruh Jawa dan Melayu

Secara geografis, komunitas pengguna bahasa Sunda-Parean di Kecamatan Kandang-haur dan Sunda-Lea di Kecamatan Lelea di kelilingi komunitas pengguna bahasa Cirebon Indramayu.

Sangat mungkin beberapa kosakata dari bahasa Jawa atau Cirebon-Indramayu ikut memengaruhi. Begitu pula dari bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.

Letak kedua kecamatan itu cukup berjauhan sekitar 30 km serta jauh pula dari wilayah Pasundan. Kandanghaur berada di pantai utara, dengan mayoritas penduduknya adalah nelayan sangat mungkin bersentuhan dengan pengguna bahasa daerah lain.

Meski demikian, fanatisme pengguna bahasa Sunda-Parean tetap kuat pada empat desa. Hal yang berbeda pada pengguna bahasa Sunda-Lea yang kini kuantitasnya agak menurun karena kuatnya pengaruh bahasa Indramayu di sekitarnya.

Baik orang Parean maupun Lelea menganggap terciptanya komunitas Sunda terse-but berasal dari pengaruh Sumedang ketika menjadi kerajaan yang cukup masyhur. Wilayah Sumedang hingga mencapai tanah di Indramayu.

Akulturasi yang terjadi kemudian menciptakan masyarakat setempat menjadi dwiba-hasawan. Pengguna bahasa Sunda-Parean dan Sunda-Lea memahami bahasa Cirebon-Indramayu, begitu pula sebaliknya. Percakapan sehari-hari antarkeduanya sering kali masing-masing menggunakan bahasanya sendiri, tetapi tetap komunikatif.

Ambil contoh percakapan dua bahasa itu yang dilakukan orang dari Parean yang berbahasa Sunda-Parean dengan orang dari desa tetangga, yakni Desa Eratan yang berbahasa Cirebon-Indramayu.

Orang Parean, “Aing biena ndak nyokot es ke inya. Mung Wa Kaji nawaran es ke kami, jadi kami te enakan, orah?” (Saya tadinya mau mengambil es ke kamu. Tetapi Wak Haji, menawarkan es ke saya. Jadi, saya tidak enakan ten?)

Orang Eretan, Ya, wis beli papa, sejen dina bae.” (Ya, sudah tidak apa-apa. Lain hari saja).

Orang Parean, “Oh, ngges. Suun*n. “(Oh, ya sudah, terima kasih).

Orang Eretan “Nggih.”(Ya).

Sunda-minoritas

Selain empat desa di Kecamatan Kandanghaur dan dua desa di Kecamatan Lelea, bahasa Sunda di Indramayu juga dijumpai di beberapa desa dan kecamatan lainnya. Meski demikian, hampir tak ada perbedaan kosakata dengan bahasa Sunda di Pasundan, selain di alek.

Hal itu karena secara kultural penggunanya adalah masyarakat Sunda yang ada di perbatasan Kabupaten Indramayu dengan Subang maupun Sumedang. Penggunanya antara lain di Desa Cikawung Kecamatan Terisi serta beberapa desa di Kecamatan Gantar dan Kecamatan Haurgeulis. Sedangkan di Blok Karangjaya, Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, asal usulnya adalah keluarga dari Bandung pada awal abad ke-20.

Pengguna bahasa Sunda di Indramayu boleh dikatakan minoritas di antara 301 desa dan 31 kecamatan. Menjadi Sunda-minoritas di Jawa Barat memang agak aneh kedengarannya. Ibaratnya Jawa Barat identik dengan Sunda dan Sunda identik dengan Jawa Barat.

Namun demikianlah kenyataannya bagi masyarakat Sunda yang berdiam di Kabupaten Indramayu. Mereka adalah minoritas – dengan segala kekhasannya – di tengah-tengah masyarakat Indramayu yang Jawa.

Menjadi minoritas ataupun mayoritas, tentu saja bukan sesuatu yang salah. Tak ada sudut pandang untuk menjadi merasa kecil ataupun besar.

Keunikan pada bahasa Sunda-Parean dan Sunda-Lea dalam kacamata bahasa Sunda, bisa jadi sesuatu yang tidak berbeda jauh ketika bahasa Cirebon-Indramayu dilihat dari kacamata bahasa Jawa yang ada di Solo atau Yogyakarta. Bahasa Jawa yang terasa asing, sekaligus unik

Ini merupakan fenomena budaya masyarakat yang mengalami diaspora (terpisah dari induknya). Di tanah kehidupan yang baru, unsur budaya nenek moyang terjepit dengan unsur-unsur kebudayaan masyarakat setempat. Yang terjadi kemudian proses akulturasi budaya yang dalam gejala kebahasaan ada serapan dan ada juga pelepasan, yang kemudian membentuk bahasa hibrid, yang unik. ***

Supali Kasim, Ketua III Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC).

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…

Iklan

Wayang Cepak Cirebon

Asal-usul wayang cepak di Cirebon bermula ketika Élang Maganggong, putra Ki Gendeng Slingsingan dari daerah Talaga, berguru agama Islam kepada Suta Jaya Kemit, seorang upas (sama dengan satpam sekarang) di Gebang yang pandai mendalang. Élang Maganggong di kemudian hari menurunkan ilmunya kepada Singgih dan keturunan-keturunan Singgih yang berkedudukan di Desa Sumber, Kecamatan Babakan. Peristiwa inilah yang membuat wayang cepak menyebar ke beberapa wilayah Cirebon bagian Timur seperti Waled, Ciledug, Losari dan Karang Sembung, serta Cirebon bagian Barat yang meliputi daerah Kapetakan dan Arjawinangun.

Wayang ini terbuat dari kayu, yang ujungnya tidak runcing (cepak = bhs Sunda / papak = bhs Jawa). Itulah sebabnya maka wayang ini disebut wayang cepak atau wayang papak. Dilihat dari bentuknya, wayang cepak diperkirakan merupakan pengembangan dari wayang kulit, wayang golek atau wayang menak yang berpusat di daerah Cirebon. Wayang cepak biasanya membawakan lakon-lakon Menak, Panji, cerita-cerita babad, legenda dan mitos. Tetapi, di daerah Cirebon sendiri, wayang cepak lebih banyak melakonkan babad Cirebon, juga babad Mekah dan Pamanukan yang disampaikan dengan bahasa Jawa Cirebon.

Pertunjukan wayang cepak Cirebon dewasa ini kurang mendapat sambutan. Pertunjukannya hanya terbatas pada upacara adat seperti Ngunjung Buyut (nadran, ziarah), acara kaul (nazar) dan ruwatan (ngaruwat = melakukan ritus inisiasi), yaitu menjauhkan marabahaya dari diri sukerta (orang yang diruwat). Dan orang yang diruwat ini biasanya berupa: wunggal (anak tunggal), nanggung bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia) atau suramba (empat orang putra), surambi (empat orang putri), pandawa (lima putra), pandawi (lima putri), talaga tanggal kausak (seorang putra diapit dua orang putri), dan lain sebagainya.

Dalam pertunjukannya di masyarakat, wayang cepak Cirebon memiliki struktur yang baku. Adapun susunan adegan wayang cepak Cirebon secara umum sebagai berikut :
(1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer / kawit, murwa, nyandra, suluk / kakawen dan biantara;
(2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan;
(3) Nagara sejen;
(4) Patepah;
(5) Perang gagal;
(6) Panakawan / Goro-goro;
(7) Perang kembang;
(8) Perang Raket;
(9) Tutug.

Waditra yang mengiringi wayang cepak pada awalnya berlaras pelog, tetapi karena untuk menyesuaikan situasi dan kondisi, waditra yang dipakai diberi berlaras salendro. Waditra ini meliputi gambang, gender, suling, saron I, saron II, bonang, kendang, jenglong, dan ketuk. Sementara beberapa lagu yang mengiringi pertunjukan wayang cepak, di antaranya Bayeman, Gonjing, Lompong Kali, Gagalan, Kiser Kedongdong dan lain-lain.

dijukut sing http://www.facebook.com/notes/wayang-indonesia/wayang-cepak-cirebon/177553982501 kesuwun Kang…

Kura-Kura di Balai Kota Cirebon

09 Mar 2010, Hiburan – Pikiran Rakyat

 SIAPA tak kenal Balai Kota Cirebon? Bangunan megah sekaligus unik ini juga cukup memberikan gambaran bentuk art deco yangmemiliki pengaruh yang sangat kuat pada masa itu. Dirancang untuk tempat berkantornya wali kota pada masa Hindia Belanda. Satu-satunya arsitektur unik yang ada di dunia. Jescoot merancang arsitektur balai kota dari inspirasi seekor kura-kura yang tengah merayap pelan di atas pasir. Jika dilihat dari atas, akan kentara bentuk kura-kura tersebut. Pada bagian depan, misalnya, merupakan kepala yang menonjol, sedangkan pada bagian belakang (ruangan wali kota) terdapat bagian yang menonjol ke belakang.jnirip ekor. Pada bagian kanan dan kiri dalam bentuk bangunan yang sama- merupakan tangan dan kakinya.

Ada yang menarik dari filosofi kura-kura ini, terutama bagi masyarakat lokal yang menganggap kura-kura sebagai kemantapan dalam hidup dan simbol kesabaran, biar lambat asal selamat. Selain itu, kura-kura merupakan hewan yang tahan banting meski tak diberi makan berhari-hari. Pada bagian sudut atas balai kota terdapat relief udang yang nemplok dengan cat kuning keemasan. Cirebon sebagai penghasil udang memang sangat ternama pada masa itu. Catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menyatakan, gedung tersebut semula berfungsi sebagai raadhuis (dewan perwakilan kota) atau semacam DPRD saat ini. Konon, sering pula dijadikan tempat sewaan untuk pernikahan kalangan menengah Eropa.

Sejak masa pendudukan Jepang hingga sekarang, gedung tersebut dijadikan sebagai tempat berkantornya wali kota. Sebagian besar gedung masih dalam bentuk aslinya. Dibangun dua lantai dan pada bagian atas terdapat sirene yang mengeluarkan suara keras untuk penandaan keadaan tertentu, seperti bahaya udara dan saat buka puasa. Di bawah lantai dasar, terdapat kolam yang dijadikan sebagai alat penyejuk dan sirkulasi udara. Tengok pula pada bagian atap balai kota, terdapat langit-langit gem-bung yang mirip batok kura-kura. Di lantai dua yang semula dijadikan tempat bersidang Dewan Perwakilan Kota Hindia Belanda masih tampak asli. Lantainya sebagian terbuat dari kaca tebal dan ukiran kaca tahun 1920-an.

Pada masa itu, juga dianggap sebagai kejayaan dekorasi rumah dalam bentuk kaca berukir.Sejak masa kepemimpinan Wali Kota Tatang Suwardi, balai kota diperluas seiring dengan kebutuhan perkantoran saat itu. Demikian pula jalanan kota yang semula sempit diperlebar sehingga tampak seperti saat ini. Pada dinding bagian depan terdapat prasasti yang menyatakan bahwa Kotapradja Tjirebon bebas buta huruf tahun 1962.

Arsitektur kolonial Model arsitektur Gedung NBBra (gedung karesidenan) bisa dilihat di berbagai daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Terutama di Jakarta dan Semarang banyak terdapat bangunan model arsitektur semacam itu? Rupanya merupakan ciri khas dari kantor pemerintahan Hindia Belanda masa lalu, walaupun ada beberapa gedung yang jauh berbeda arsitekturnya, seperti Gedung Balai Kota Cirebon.Di sebelah kanan gedung terdapat pos penjagaan pengamanan yang terbangun dengan model semacam pintu lengkung sebagai tempat petugas berjaga siang dan malam. Kini, bangunan tersebut masih ada dan tidak lagi digunakan sebagai pos penjagaan. Sebagian besar bangunan ini masih asli, hanya terdapat beberapa bagian yang dipugar dan pada dinding dilapisi tripleks.

Dibangun pada sekitar tahun 1865 saat Residen Cheribon dijabat Albert WilhelnTKinder de Ca-murecq yang merupakan residen keempat. Pada waktu itu, gedung tersebut berfungsi sebagai rumah dinas residen, sedangkan kantor residen berada di Jln. Yos Sudarso (depan Bank Indonesia) yang dibangun pada 1841. Menurut data Disbudpar Kota Cirebon (2006), pembangunan gedung kantor dan rumah dinas ini merupakan dampak kebakaran Benteng De Beschertmingh (terdapat sekitar pesisir dan Jln. Benteng-sekarang). Benteng De Beschermingh didirikan Belanda sekitar tahun 1686. Benteng tersebut bukan hanya dijadikan pusat kekuasaan politik dan militer, melainkan juga pusat ekonomi untuk mengumpulkan komoditas serta kegiatan perdagangan ekspor-impor.

Gedung karesidenan dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Van den Berg dengan model arsitektur Istana Merdeka Jakarta. Gedung itu dibangun menghadap ke timur di atas tanah sekitar 27.315 m2 dengan luas bangunan 2.120 m2.Gedung ini sangat dikenal masya-rakat Cirebon, di samping arsitekturnya yang indah dan kokoh, juga menyimpan kisah-kisah heroik para pejuang kemerdekaan sejak tahun 1808. Kisah-kisah yang ditulis komikus Djair asal Desa Jamblang memberikan indikasi bahwa gedung ini sering didatangi “pemberontak” dan mengacaukan para pejabat negara yang saat itu sedang berpesta pora.

Catatan yang ditulis Drs. H. Udin Koswara, M.M. (mantan Residen Cirebon awal 2000-an) dalam bukunya Sejarah Pemerintahan Keresidenan Cirebon (2000), Gubernur Jenderal H.W. Daendels pada tahun 1808 membentuk institusi pemerintahan dengan para pejabatnya yang disebut prefect (istilah dalam bahasa Prancis). Kebanyakan orang Belanda tidak menyukai penggunaan istilah tersebut, maka sebutan prefect diganti dengan sebutan landdrots (istilah Belanda), yang kemudian jabatan tersebut diganti dengan sebutan resident.Di samping menyimpan kisah heroik, gedung itu juga menyimpan sifat-sifat rasisme dari kalangan Belanda dan bangsa Eropa. Konon, menurut kisah masyarakat setempat, penduduk pribumi dari kalangan bawah yang akan memasuki gedung ini harus berjalan”jongkok dari pintu gerbang sampai bangunan induk. Selain itu, gedung ini sering kali dimanfaatkan untuk pesta I.ni tlmiN.i kalangan kulit putih. (Ntfrtrtn M. Noer, wartmtxm senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSO*”

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…

Mudik di Sekitar Cirebon

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kabupaten Cirebon akan menjadi jalur tersibuk dan terpadat di masa arus mudik dan balik lebaran. Hal ini dikarenakan Kabupaten Cirebon adalah perbatasan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah di jalur pantura.

Namun kepadatan jalur lalu lintas di wilayah Kabupaten Cirebon tidak usah terlalu dikhawatirkan karena para pemudik dapat beristirahat sejenak sambil berwisata di Kabupaten Cirebon. Mulai dari wisata rohani, wisata belanja sampai wisata kuliner.

Para pemudik sebaiknya berhati-hati dalam menjalankan kendaraannya. Beristirahatlah apabila terasa lelah/ngantuk. Udara Cirebon sangat panas dan matahari bersinar sangat terik. Untuk itu pastikan AC kendaraan berfungsi dengan baik. Kalaupun kendaraan tidak dilengkapi dengan AC, agar tetap dalam kondisi yang fit selama perjalanan, sempatkan untuk beristirahat di masjid, di tempat-tempat rindang lainnya atau mampir sejenak ke tempat wisata di Kabupaten Cirebon.

Berikut ini jalur padat yang rawan macet namun dapat dimanfaatkan para pemudik untuk beristirahat sambil menikmati kekhasan Kabupaten Cirebon seperti terpublikasikan di situs Pemerintah Kabupaten Cirebon:

Pasar Celancang

Kemacetan di sekitar Pasar Celancang terjadi karena adanya pasar tumpah. Hari pasaran adalah hari Jumat namun menjelang lebaran. Jalur di sekitar pasar ini kerap dilanda kemacetan karena banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar tersebut dan juga volume arus lalu lintas yang kian padat.

Dari arah Jakarta/Indramayu, sekitar 2 km sebelum Pasar Celancang, tepatnya di sebelah Kantor Kecamatan Suranenggala terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pemudik dapat menjumpai hasil laut segar yang baru diturunkan dari kapal/perahu, biasanya mulai pukul 13.00 hingga sore hari.

Makam Sunan Gunung Jati

Sekitar 1 km dari Pasar Celancang, para pemudik akan melewati Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Di sini, para pemudik dapat berwisata rohani dengan melakukan ziarah kubur ke makam Sunan Gunung Jati dan istrinya yang berasal dari Tiongkok, Putri Ong Tien. Pada hari-hari biasa, kompleks makam ini banyak dikunjungi oleh peziarah dari seluruh nusantara.

Pasar Tegal Gubug

Apabila di pertigaan Celeng-Indramayu pemudik mengambil jalur belok kanan menuju Palimanan, maka pemudik akan melewati Pasar Tegal Gubug. Daerah ini rawan macet terutama saat hari pasaran yaitu hari Selasa dan Sabtu.

Pasar Tegal Gubug-Arjawinangun dikenal sebagai sentra penjualan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Para pemudik dapat berbelanja aneka tekstil, mulai dari kain meteran/kiloan sampai pakaian jadi dengan harga yang lebih murah.

Sekitar Tegal Gubug, di Desa Gegesik Wetan Kecamatan Gegesik (sekitar 7 km dari Pasar Tegal Gubug) terdapat sentra Lukisan Kaca.

Masih di wilayah Arjawinangun, di Desa Slangit, dapat ditemui para pengrajin topeng yang biasa digunakan untuk Tari Topeng, tarian khas Cirebon.

Pasar Jamblang

Bagi pemudik yang melintasi Cirebon di malam hari, setelah Palimanan, maka akan melewati daerah Jamblang. Di Pasar Jamblang ini, khususnya di malam hari, banyak yang berjualan Sega Jamblang (Nasi Jamblang) yang merupakan makanan khas Cirebon. Nasi jamblang terdiri dari nasi putih yang dibungkus dengan daun jati dalam ukuran yang kecil, sedangkan lauk pauknya terdiri dari pepes telur rajungan, otak, semur tahu, jambal asin, semur daging, tahu tempe goreng serta masih banyak lagi.

Apabila pemudik menggunakan jalan tol (tidak melalui jalur Jamblang), begitu keluar dari pintu tol Plumbon (Jalan Tol Palikanci) pemudik akan menjumpai Sentra Industri Rotan Terbesar di Dunia, yaitu Desa Tegalwangi dan sekitarnya. Para pemudik dapat berbelanja aneka produk rotan kualitas ekspor dengan harga yang relatif murah, mulai dari furnitur, souvenir sampai pernak-pernik hiasan rumah.

Pasar Plered

Setelah melewati daerah Tegalwangi, para pemudik biasanya terjebak kemacetan di Pasar Plered. Dari arah Tegalwangi, pasar ini terletak di sebelah kiri perempatan lampu merah. Apabila belok kanan menuju Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Cirebon di Sumber sedangkan belok kiri menuju Desa Wisata Belanja Batik Cirebonan, Trusmi.

Di Desa Trusmi, dapat dijumpai banyak home industry yang menjual batik khas Cirebon. Sentra batik ini akan lebih ramai pada akhir pekan oleh pembeli yang datang dari luar kota dan luar negeri. Motif batik yang terkenal dari kawasan ini adalah motif Mega Mendung.

Apabila pemudik ingin memasuki kawasan batik namun enggan terhadang kemacetan pasar, tidak perlu belok kiri setelah melewati perempatan lampu merah Pasar Plered. Dari perempatan tersebut berjalan sekitar satu kilometer, di sebelah kiri ada Jalan Panembahan. Di Panembahan banyak juga dijumpai showroom dan home industry . Desa Panembahan ini, masih bersebelahan dengan Desa Trusmi, karenanya ada jalan yang menghubungkan kedua kawasan ini.

Apabila masih punya waktu, dari Trusmi para pemudik dapat meneruskan perjalanan ke Desa Kaliwulu. Desa ini dikenal sebagai sentra industri mebel kayu. Jangan khawatir kesulitan membawa barang yang dibeli karena barang yang dibeli tersebut bisa diantar ke rumah pembeli, bahkan pembeli yang berasal dari luar kota.

Pasar Kue Setu

Tidak jauh dari Pasar Plered, para pemudik akan kembali dihadang kemacetan Pasar Kue Setu. Kue-kue yang penjualannya tersebar hingga ke hampir seluruh Indonesia dan kebanyakan berupa cemilan ini diproduksi oleh industri rumahan di Desa Setu dan sekitarnya.

Cemilan khas cirebon yang banyak dijual bernama unik, antara lain kerupuk kulit kerbau/rambak, kerupuk melarat, kerupuk geol, kerupuk upil, kerupuk gendar, kerupuk jengkol, jagung marning, rengginang mini, emping, kelitik, kue atom, maypilow, kembang andul, ladu, simpil, gapit, otokowok, opak, welus, sagon dan masih banyak lagi.

Di sepanjang jalan Plered-Setu-Tengah Tani ini para pemudik juga dapat menikmati makanan khas Cirebon di daerah asalnya, yaitu Empal Gentong Plered sebagai hidangan berbuka puasa. Empal di Cirebon berbeda dengan empal pada umumnya, yaitu tidak berbentuk kering seperti gepuk namun empal gentong ini sekilas mirip gulai sapi dan dimasak dengan menggunakan gentong dan kayu bakar. Sekarang empal gentong dibuat variasi, Empal Gentong Asem, yaitu empal dengan kuah bening dan terasa asam menyegarkan, sangat cocok untuk mereka yang menghindari kuah santan.

Selain kue cemilan, di sekitar Pasar Setu ini banyak pula dijual sandal karet dan kulit. Penjualan sandal produksi industri rumahan ini sudah menyebar hingga ke pelosok nusantara.

Di sepanjang jalan Plered-Setu-Tengah Tani ini para pemudik juga dapat menikmati makanan khas Cirebon di daerah asalnya, yaitu Empal Gentong Plered sebagai hidangan berbuka puasa.

Di Kecamatan Tengah Tani ini terdapat pula sentra kerajinan kulit kerang yang sangat pas untuk dibawa sebagai souvenir/oleh-oleh bagi kerabat. Kulit kerang ini diolah sedemikian rupa hingga dibuat menjadi lampu, bingkai, hiasan dinding, vas bunga dan masih banyak lagi.

Pasar Gebang

Kemacetan terparah di wilayah Kabupaten Cirebon biasanya terjadi di sekitar Pasar Gebang. Hal ini terjadi karena pasar tumpah. Di sepanjang pasar ini para pemudik juga dapat berbelanja aneka jenis ikan laut segar.

Sekitar 5 km dari Pasar Gebang, di sebelah kiri, dapat dijumpai Pasar Bawang, yang akan sangat ramai pada masa panen.

Sebagai informasi, di sepanjang jalur mudik banyak ditemui warung-warung dadakan yang menjual aneka makanan khas Cirebon. Banyak pula operator seluler dan bengkel resmi kendaraan bermotor yang membuka outlet dan dapat digunakan sebagai tempat beristirahat.

Untuk para pemudik yang memerlukan bantuan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Cirebon menyediakan fasilitas kesehatan di tiap puskesmas yang berada di jalur mudik pantura. (Ari/asy)

dicuplik sing : http://www.detiknews.com/ kesuwun Kang…

Budaya Pesisir Utara Jawa Barat

diposkan oleh Diposkan oleh B.Santosa

Letaknya yang secara geokultur berada di perlintasan dua kebudayaan besar membuat masyarakat di Cirebon, Indramayu, dan (sebagian) Majalengka (Ciayumaja) memiliki dua bahasa ibu. Perjalanan sejarahnya yang panjang kemudian membentuk peta kebudayaan yang mencerminkan adanya tarik-menarik pengaruh di antara dua kebudayaan besar tadi.

Yang dimaksud dua kebudayaan besar itu ialah Sunda di sebelah barat dan selatan, serta Jawa di sebelah timur dan utara. Pengaruh Sunda, dalam sejarahnya lebih bersifat politis karena Cirebon (Ciayumaja) dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan (geopolitik) kerajaan-kerajaan Buddha-Hindu Kuno seperti Galuh, Pajajaran, dan Sumedang Larang.

Sementara pengaruh Jawa, lebih bersifat kebudayaan (geokultur) melalui interaksi sosial yang terbentuk karena letak geografis pesisir pantura yang strategis sebagai sentra perdagangan. Masuknya Islam pada abad ke-15 sampai ke-16, di antaranya lewat syiar Islam Sunan Gunung Djati yang menggunakan bahasa Jawa, seolah makin mempertegas pengaruh Jawa secara kebudayaan di wilayah tersebut.

Tarik-menarik di antara dua kebudayaan besar tadi, dalam perjalanannya, kemudian menghasilkan suatu kebudayaan tersendiri, yakni apa yang sampai sekarang disebut dengan kebudayaan Cirebon. Dari sisi kebahasaan, masyarakat yang berdiam di Ciayumaja, sampai sekarang lalu mengenal dua bahasa ibu (dwibahasa), yakni Sunda dan Jawa.

bahasa-jawa-cerbon-dermayonDari sisi kebahasaan (bahasa ibu) tadi, terbentuk pula peta dua bahasa yang bila merunut lewat kronologi sejarah atau proses terbentuknya konstruksi sosiologis dan antropologis masyarakatnya, menggambarkan intensitas pengaruh dari dua kebudayaan besar tadi (Sunda dan Jawa). Dalam konteks kewilayahan secara administratif kenegaraan masa sekarang, di antara lima daerah, yakni Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan (Ciayumajakuning), hanya masyarakat Kuningan yang bahasa ibunya sama dengan daerah Pasundan umumnya, yakni bahasa Sunda. Empat daerah lainnya, yakni Ciayumaja, mengenal dua bahasa ibu, Sunda dan Jawa.

Akibat tarik-menarik pengaruh tadi, terbentuk entitas kebudayaan tersendiri yang disebut kebudayaan Cirebon. Dari segi bahasa, juga kemudian membentuk bahasa tersendiri, yakni yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Sunda Cirebon atau juga Jawa Cirebon.

Kata “Cirebon” menunjukkan bahasa Sunda yang dipakai masyarakat Ciayumaja, terdapat kekhasan, pun demikian dengan bahasa Jawa. Ada perbedaan-perbedaan dengan Sunda atau Jawa mainstream, terutama pada dialek (irama bahasa) dan idiolek (ragam bahasa).

Perbedaan yang terasa itu pada dialek dan idiolek. Sunda yang digunakan wong Cerbon, beda dengan Sunda mainstream. Juga dengan bahasa Jawanya. Dari fenomena itu muncul “peng-aku-an” bahwa Cirebon ya Cirebon, bukan Sunda maupun Jawa.

Pada fenomena itu, terdapat pula sisi keanehan, yakni bahwa bahasa Sunda dan Jawa yang digunakan masyarakat di Ciayumaja, terdapat kosakata “Sunda Buhun” dan “Jawa Kuno” yang di masyarakat Pasundan atau Jawa sudah tidak lagi digunakan.

Contohnya seperti masyarakat Kecamatan Lelea di Indramayu yang berbahasa Sunda (atau disebut Sunda Lelea). Untuk menyebut kata “istriku”, bukan pamajikan atau pamajikan urang, tetapi panotog aing. Menurut Nurochman Sudibyo, budayawan setempat, panotog itu kosakata Sunda Buhun yang oleh masyarakat Pasundan sendiri sudah tidak lagi digunakan atau hilang.

Untuk bahasa Jawa, misalnya kata bobat (bohong), masyarakat Jawa (di Jateng dan Jatim) sudah sama sekali tidak mengenal. Untuk menyebut “bohong”, rata-rata orang Jawa menyebut dengan lombo atau nglombo atau ngapusi.

Kata bobat ini merupakan bahasa Jawa kuno yang oleh rata-rata masyarakat Jawa sendiri sudah tidak digunakan. Padahal, di balik kata bobat ada peristiwa sejarah yang sangat dramatis dan menimbulkan trauma bagi masyarakat Sunda umumnya, yakni Perang Bubat, (bubat berasal dari kata bobat) atau perang bohong-bohongan yang terjadi ketika sepasukan tentara Majapahit, atas perintah Patih Gajah Mada, menyerang rombongan Putri Padjajaran Diah Pitaloka (diyakini di daerah Majalengka) sekadar untuk menggagalkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan putri Kerajaan Sunda itu.

“Bahwa ada kosakata-kosakata kuno yang masih bertahan ini sama dengan fenomena Jawa di Suriname. Masyarakat Jawa di Suriname itu lebih Jawa daripada masyarakat Jawa sendiri. Bahasa Jawa Suriname lebih klasik dibandingkan dengan Jawa yang ada di Pulau Jawa,” tutur Nurochman.

Penggunaan Basa Jawa Cerbon/Dermayon
Sunda Lelea & Parean

Untuk Indramayu, ada dua kantong (enclave) masyarakat Sunda yang unik yang masih mempertahankan bahasa ibu Sunda di tengah-tengah masyarakat umumnya yang berbahasa Jawa (Jawa Dermayon), yakni di Desa Lelea (Kecamatan Lelea) dan masyarakat nelayan di Desa Parean (Kecamatan Kandanghaur). Orang Indramayu menyebutnya Sunda Lelea dan Sunda Parean, bahasa Sunda yang digunakan masyarakat dua desa itu hampir sama, dan berbeda dengan Sunda mainstream.

“Masyarakat Sunda Lelea dan Parean sebagai fakta dari rentetan sejarah pengaruh Kerajaan Sumedang Larang di Indramayu. Lucunya, bahasa Sunda di dua desa itu tidak mengenal tingkatan. Dalam terminologi sekarang cenderung disebut Sunda kasar,” tutur Nurochman yang penyair itu.

Ini berbeda dengan masyarakat yang berhasa Jawa. Sama dengan Jawa umumnya, mengenal tingkatan bahasa antara ngoko, kromo, dan kromo inggil. Bedanya di Ciayumaja hanya mengenal dua tingkatan, yakni ngoko (Jawa kasar) dan kromo (Jawa halus).

Di antara masyarakat berbahasa ibu Jawa di Ciayumaja juga terdapat beragam perbedaan dialek dan idiolek. Misalnya masyarakat Cirebon barat (Plered dan sekitarnya), utara (Suranenggala, Kapetakan) sampai Krangkeng dan sebagian Karangampel (Indramayu), dialek dan idioleknya hampir sama, yang menonjol pada penggunaan huruf “O”, misalnya kata “tentaro” untuk “tentara“, “siro” untuk “sira” (engkau, kamu), ini berbeda dengan masyarakat Cirebon kota dan Indramayu pada umumnya yang huruf “A” tetap dibaca “A” (tidak “O”). Rata-rata wong Dermayu menyebut “aku” dengan kata reang, sedang wong Cerbon isun.

Bahasa Jawa di Indramayu (Jawa Dermayu) juga terpecah dalam dialek-dialek dan idiolek yang lebih sempit lagi. Meski secara umum sama, tapi tetap dijumpai perbedaan misalnya bahasa Jawa Dermayu masyarakat Desa Tugu (Kecamatan Sliyeg) berbeda dengan Singaraja (Kecamatan Indramayu), juga berbeda dengan Jambak (Kecamatan Cikedung).

Jejak-jejak bahasa yang menunjukkan intensitas pengaruh (hegemoni) budaya Jawa dan Sunda juga dapat terlihat jelas. Pengaruh Jawa sangat terasa mulai di Cirebon utara dari Suranenggala terus sampai ke sebagian besar wilayah Indramayu, ditunjukkan bahwa masyarakat di wilayah itu sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda.

Berbeda dengan masyarakat sebagian besar Cirebon yang berdwibahasa, dari mulai Cirebon timur (Cileduk dan sekitarnya), Cirebon selatan (Sumber dan sekitarnya), Kota Cirebon hingga barat (Plered dan sekitarnya). Selain bisa berbahasa ibu Jawa, masyarakat Cirebon tadi juga bisa berbahasa Sunda, atau sebaliknya selain berbahasa ibu Sunda juga bisa berbahasa Jawa.

Masyarakat dwibahasa di Majalengka, terdapat di Majalengka bagian utara berbatasan dengan Indramayu seperti Jatitujuh dan sekitarnya. Sementara masyarakat berdwibahasa di Indramayu, terdapat di wilayah barat (Haurgeulis dan sekitarnya) yang berbatasan dengan Subang, serta Bangodua dan sekitarnya yang berbatasan dengan Majalengka.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tempel Keramik

menarik untuk disimak, dipelajari dan diungkap maksud dan falsafah  ‘seni tempel keramik’ di keraton-keraton Cirebon…

apa maksud dan tujuan menempelkan keramik-keramik tersebut ?

Wisata Budaya Cirebon: Seni Hias Tempel Keramik

Mendengar kata keramik tentu bayangan kita akan tampak setumpuk atau sederetan barang-barang pecah belah, baik itu berupa peralatan rumah tangga maupun perlengkapan bangunan. Memang keramik yang terdapat di salah satu kota terbesar di Jawa Barat ini berupa peralatan rumah tangga antara lain piring, tutup cepuk, cawan, dan pot bunga serta perlengkapan bangunan, yaitu tegel; namun keramik-keramik tersebut tidak difungsikan atau digunakan sebagaimana semestinya; tetapi digunakan untuk penghias tembok bangunan profan ataupun sakral dan sebagai pajangan pengindah ruangan. Ciri keunikan ini terdapat di wilayah Cirebon, bekas kerajaan Islam yang tumbuh dari abad ke-15 sampai abad ke-19 bahkan hingga saat kini; pada kenyataannya Cirebon tidak hanya tumbuh dalam lingkup politik dan birokrasi saja. Bersamaan dengan pertumbuhan itu, Cirebon berkembang pula sebagai kota wisata budaya sekaligus wisata ziarah, yang dikenal juga sebagai kota udang, penghasil sumberdaya lautnya!

Setidaknya ada 6 lokasi yang selama ini dianggap penting dan dijadikan azet wisata budaya dan ziarah, yaitu Keraton Kasepuhan (yang diawali dengan Pakungwati nya); Keraton Kanoman; Keraton Kacirebonan; dan Keraton Keprabonan, Kompleks Makam Sunan Gunungjati, serta Taman Gua Sunyaragi. Keenam tempat ini dipandang penting perannya dalam mengungkapkan baik sejarah lokal maupun regional pada periode yang rentangnya cukup panjang. Di sinilah dijumpai Seni Hias Tempel Keramik merupakan salahsatu warisan budaya yang unik. Keunikan ini menjadikan ciri khas tersendiri bagi kebudayaan Cirebon, yang tentunya tidak hanya berkaitan dengan budaya seni, tetapi juga makna yang terkandung di dalam seni tersebut, terlebih kekhasan ini digabung dengan potensi budaya lainnya yang hingga kini masih dimiliki bahkan menjadikan ciri utama ragam seni ka-Cirebon-an; yaitu hiasan mega mendung .

Teknologi seni hias tempel keramik ini menggambarkan betapa kreatifnya penggagas atau arsitek untuk menggunakan potensi keramik yang ada pada masa itu guna mempercantik bangunan atau bahkan teknologi ini memiliki makna tertentu di baliknya, yang kita sendiri tidak memahami apa itu?; terlebih lagi diantara keramik-keramik yang digunakan untuk hiasan tempel tersebut menggambarkan kisah-kisah dalam Alkitab, baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Terlepas dari isi cerita tersebut, setidak-tidaknya hasil karya indah ini sampai saat kini masih terawat dan dapat dinikmati atau bahkan menjadi salahsatu daya tarik tersendiri, baik oleh para ilmiahwan, keramolog, maupun wisata budaya.

Keramik bergambar cerita Alkitab tampak sebagai bagian dari hiasan tempel tembok di Keraton Kasepuhan; Keraton Kanoman; Masjid Panjunan; Makam Sunan Gunungjati dan Gua Sunyaragi. Keramik-keramik tersebut berbentuk segiempat, seperti halnya tegel-keramik yang banyak digunakan untuk bangunan rumah; berukuran 13 x 13 cm, tebal 0,3 cm; warna biru-putih serta coklat-putih. Penempelan tegel-tegel ini di selang-seling dengan keramik bergambar non cerita berbentuk piring warna biru-putih asal Cina Dinasti Qing abad ke-18-19 dan bunga teratai warna merah dan sulur-sulur daun berwarna hijau ciri khas budaya Cina, sedangkan tegel keramik berasal dari Belanda abad ke-19-20 an.

Hiasan tempel keramik non cerita dijumpai pula, berupa piring, cawan, tutup cepuk, dan vase; jenis-jenis tersebut tentunya sebelum digunakan sebagai hiasan tembok, berfungsi sebagai alat perlengkapan rumah tangga. Keramik itu sebagian besar berasal dari Cina Dinasti Qing abad ke-17-19 serta Belanda Maastricht abad ke-19-20, beberapa ada made in China nya untuk menggantikan yang pecah atau akibat ulah tangan-tangan jahil. Apabila dihubungkan dengan masalah mengapa hanya jenis keramik tersebut yang banyak?, keberadaan keramik Cina dalam jumlah banyak karena jaringan niaga, dimana Cirebon pada masa lampau merupakan salahsatu pelabuhan terbesar bersifat internasional dan keramik Cina merupakan jenis yang terbanyak dicari dan diperdagangkan; juga karena adanya hubungan perkawinan antara Sunan Gunungjati dengan seorang puteri Cina, hal ini akan sangat mempengaruhinya. Sementara itu, keberadaan keramik dari Belanda Maastricht ware karena penguasaan dan kerjasama erat antara kasultanan pada masa itu dengan kolonial Belanda khususnya hubungan dagang dengan VOC.

Jumlah tegel keramik lebih dari limaratus buah bercampur antara tegel keramik bergambar cerita Alkitab dengan tegel keramik bergambar lain. Tipe keramik bergambar lain, yaitu pemandangan, gereja, kincir air dan rumah khas Belanda, malaikat membawa obor atau ukupan, dan orang memegang salib; juga cawan-cawan kecil baik dalam bentuk bulat maupun segiempat bermotiefkan naga, flora (suluran-suluran dan ceplok bunga), juga banyak digunakan.

Apabila kita berkunjung ke Masjid Panjunan atau lebih dikenal dengan Masjid Abang, yang konon menurut cerita dibangun oleh Syekh Abdurrachman. Di sini kita dapat menyaksikan keramik bergambar cerita Alkitab yang ditempelkan di tembok bergapura paduraksa, menggambarkan Daud sedang memainkan kecapi dihadapan Raja Saul dan disaksikan oleh seseorang yang berdiri di sisi raja. Keunikan lainnya adalah penempelan keramik wadah berbentuk piring pada dinding bangunan masjid ruang utama/dalam dan pada dinding bagian luar, terdiri dari berbagai motief antara lain burung merak, bangunan suci, dan sebagainya. Selanjutnya sekalian wisata ziarah, kita dapat nikmati keindahan dan kemegahan kompleks makam Sunan Gunung Djati dengan hiasan tempel keramiknya. Komplek makam ini terletak di luar Kota Cirebon arah utara; atau tepatnya di atas puncak Bukit Sembung. Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di lokasi kompleks makam Sunan Gunungjati juga raja-raja dari garis keturunan Keraton Kasepuhan ataupun Keraton Kanoman. Keramik berjejer rapi menempel di tembok seluruh bangunan kompleks makam, sehingga tampak indah dan rame. Di salahsatu bagian pintu makam terdapat hiasan tempel keramik berbentuk piring dengan tulisan Arab.

Dalam kompleks makam atau tepatnya di belakang kompleks makam terdapat Masjid Makam Sunan Gunungjati, dari struktur bangunannya tampak bahwa ciri bangunan masjid ini termasuk ciri bangunan masa kini atau modern, di dinding mesjid terdapat tempelan hiasan keramik yang sebagian besar keramik made in China. Kemudian, perjalanan wisata kita lanjutkan ke Keraton Kanoman letaknya tidak jauh dari pasar Kanoman. Dinding tembok pagar depan bagian paling luar yang hanya tersisa bagian barat di hias dengan keramik jenis piring dan cawan; kemudian pagar ke dua dengan gapura paduraksa juga dihias dengan berbagai jenis keramik jenis piring dan cawan; setelah melewati dua pagar tersebut sampailah pada pendopo berdenah segiempat yang seluruh bagian dindingnya dihias tempelan keramik, dari piring, tutup cepuk, cawan, sampai vas bunga. Hampir seluruh bangunan dalam kompleks ini di hias dengan keramik. Keraton lain yang layak dikunjungi ialah Keraton Kacirebonan, arsitektur keraton ini memang berbeda dengan keraton lainnya, dicirikan dengan pendoponya, disini selain dapat menyaksikan tempelan keramik juga koleksi wayang kulit khas ka-Cirebon-an yang masih di rawat. Hiasan tempel keramik tampak di tembok dalam sebelah barat pintu masuk yang menghubungkan antara pendopo dengan ruang keluarga. Keramik jenis piring warna biru-putih, hiasan singa ciri khas motief ka-Cirebon-an, asal Belanda Maastricht abad ke-19-20, ini menunjukkan sebagai barang pesanan khusus atau mungkin juga sebagai hadiah dari penguasa Belanda pada masa itu.

Bangunan lain yang sebaiknya juga dikunjungi adalah Tamansari Sunyaragi yang terletak di pinggir jalan raya Jakarta-Jawa Tengah. Bangunan Sunyaragi merupakan bangunan yang difungsikan sebagai tempat berkhalwat atau menyepi dan juga sebagai tempat rekreasi. Ciri tradisionalnya antara lain tampak dari gapura bentar yang bentuknya sama dengan bentuk gapura bentar yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Masjid Abang. Bangunan Mande Beling dengan lantai yang ditinggikan dari tanah, beratap sirap, dan tiang dari kayu, hiasan keramik wadah pada dinding baturnya. Keistimewaan bangunan ini dibuat dari susunan bata dan batu karang yang membentuk gunungan atau awan ciri khas ka-Cirebon-an, bangunan terdiri atas ruangan atau ceruk-ceruk yang saling berhubungan dan masing-masing memiliki nama. Gua ini didirikan kurang lebih pada abad ke-18. Tempelan tegel biru-putih dan coklat putih sama dengan tegel di Keraton Kasepuhan. Penggunaan keramik sebagai seni hias tempel keramik, baik itu dibangunan profan maupun sakral, menunjukkan salahsatu hasil budaya ciri khas di wilayah Cirebon. Terlepas dari pengertian atau anggapan isi cerita dari tegel-tegel keramik yang ditempel, hingga saat kini boleh dikatakan bahwa masyarakat Cirebon pada umumnya dan kerabat kasultanan khususnya masih menjaga keutuhan dan melestarikan tinggalan budaya seni tersebut. Ini merupakan bukti sejarah dan kecanggihan gagasan pada masa lampau. Tentunya tingkah laku ini akan membawa dampak positif terutama di bidang kebudayaan dan pariwisata, karena ciri seni ini dapat dijadikan aset budaya dan pariwisata. Keindahan dan kelangkaan yang terselamatkan ini memiliki persamaan dengan seni hias tempel keramik di masjid-masjid dan makam-makam suci di Turki, yang menjadikannya azet wisata domistik dan mancanegara sebagai sumber devisa negara.

Naniek H Wibisono
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

dijukut sing : http://portalcirebon.blogspot.com/ kesuwun kang…