Posts from the ‘Bedah Desa’ Category

Sejarah Dan Asal Usul Desa Kamarang

Menurut temuan para tokoh sejarah bahwa Desa Kamarang termasuk desa tua di Kabupaten Cirebon, hal ini dipandang dari aspek budaya dan peninggalan sejarah dari leluhurnya sebagai pendiri desa Kamarang.

Berikut Sejarahnya :
Pada awal abad ke 15 (+ tahun 1418 M) dua orang bersudara atau kakak beradik sebagai abdi dalem di Kerajaan Galuh Pakuan yaitu bernama Ki Danu Warsih dan Ki Danu Sela. Ketika runtuhnya kerajaan Galuh Pakuan, berdiri kerajan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Jaya Dewata atau Prabu Siliwangi sejak itu Ki Danu Warsih dan Ki Danu Sela meninggalkan Galuh Pakuan untuk mengembara (ngelalana). Kedua orang tersebut sampailah di daerah Ciamis, bermukim di suatu tempat yang dinamakan Gunung Marapi, karena keduanya sedang melaksanakan Ilmu kema’ripatan.

Bertaun-tauan lamanya tinggal di gunung Marapi, kemudian Ki Danu Warsih menikah dengan seorang putri.
Dari pernikahan tersebut mempunyai seorang putri bernama. Nyai Mas Endang Ayu / Nyai Mas Endang Geulis.

Dua orang putra / putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran yaitu Raden Walang Sungsan dan Nyai Mas Rara Santang. Raden Walang Sungsang dan Nyi mas Rara Santang meninggalkan kerajaan Pajajaran, yang tujuannya mau mencari guru agama Islam. Kemudian sampailah di tempatnya Ki Danu Warsih. Setelah beberapa lama kemudian Raden Walang Sungsang merasa tertarik melihat kecantikannya Nyai Mas Endang Ayu. Singkat kata Raden Walang Sungsang Kemudian menikah dengan nyai Mas Endang Ayu.

Kemudian semuannya tertari kepada ajaran Agam Islam dan sepakat ingin mencari guru Agama Islam, lalu semuanya meninggalkan Gunung Marapi.
Dengan beberapa orang ulama dari negeri Bagdad untuk menyiarkan Agama Islam kemudian Ki Danu Warsih dan pengikutnya yaitu : Ki Danu Sela, Raden Walang Sungsang dan Nyai mas Endang Ayu sampailah di Dukuh Pasambangan, tempatnya Syeh Nurjati dan menjadi muridnya untuk berguru Agama Islam. Setelah beberapa lama di Dukuh Pasambangan Ki Danu Warsih berpamitan kepada Syeh Nurjati untuk melanjutkan mengembara atau mengelana.

Ki Danu Sela diperintahkan oleh gurunya untuk membuka hutan di sebelah Selatan Dukuh Pasambangan untuk dijadikan pemukiman agar penduduk banyak yang datang untuk bermukim. Ki Danu Sela dan Raden Walang Sungsang selesai membuka hutan, kemudian tempat tersebut dinamakan Kebon Pesisir, atau (sekarang Desa Lemah Wungkuk).

Kemudian Ki Danu Sela oleh gurunya diberi julukan ki Gedhe Alang-Alang yang selanjutnya menjadi Kuwu Pertama di Desa Caruban (Cirebon).
Dalam perjalannya Ki Danu Warsih sampailah ke suatu tempat yang berbukit atau tebing sehingga tempat tersebut cocok untuk meneruskan tapanya / (ngelalana). Tempat itu dinamakan bukit mara’api karena pada saat itu sedang melakukan tapa atau semedi, yang berasal dari kata ma’ripat selesai melaksukan tapa Ki Danu Warsih menemukan tumbuhan semacam pohon gadung setelah digali tumbuhan itu ada sebuah bakang, yaitu Goong kecil atau Bareng. Kemudian Goong tersebut dinamakan Goong Sekar Gadung.

Setelah beberapa waktu lamanya Goong tersebut disimpan di bukit Mara’api oleh Ki Danu Warsih.
Dan Pada suatu hari ada kejadian yang aneh Bareng/Goong tersebut di kerumuni oleh binatang aneh (semacam tawon) Ki Danu Warsih merasa kaget dan heran karena belum pernah melihat makhluk semacam itu sebelumnya. Kemudian ki Danu Warsih melakukan semedinya kepada sang pencipta, dan tiba-tiba ada suara tanpa wujud; yang bunyinya; mahluk itu namanya “Kamarang”. Yang selanjutnya sebutan Kamarang oleh ki Danu Warsih dijadikan nama Desa. Yaitu Desa Kamarang. Ki Danu Warsih membuat sebuah sumur, sumur tersebut dinamakan Sumur Kejayaan.

Sampai sekarang sumur kejayaan itu menjadi sumur keramat yang diyakini bisa memberikan Berkah / keselamatan bagi siapa saja yang menggunakan.
Banyak tempat-tempat lain sebagai petilasan atau peninggalan Ki Danu Warsih di pedukuhan Cirebon.
Setelah Ki Gedhe Alang-alang wafat, yang memimpin desa Cirebon digantikan oleh Raden Walang Sungsang yang bergelar Pangeran Cakrabuana membangun keraton pertama yaitu keraton Pakung Wati.
Sedangkan Goong Sekar Gadung atas perintah Pangeran Cakra Buana harus disimpan di Keraton Pakung Wati (seblum Keraton Cirebon). Untuk melestarikan Goong sekar Gadung dibawa ke Keraton Pakung Wati Cirebon oleh Muridnya dan pengikutnya Ki Danu Warsih. Dan sampai sekarang Goong Sekar Gadung disimpan di Mesium Keraton Kasepuhan Cirebon dan setiap bulan mulud selalu di bersihkan bersma pusaka-pusakan kerajajaan lainnya.

Itulah sejarah singkat Desa Kamarang dan hubungannya dengan Keraton Kasepuhan Cirebon sekarang.
Pada tanggal 13 April 1984 Desa Kamarang mengalami pemekaran yaitu Desa Kamarang dan Desa Kamarang lebak. Kamarang Lebak yang mempunyai luas wilayah 154,639 Ha. Dan tempat-tempat bersjarah terletak di Desa Kamarang Lebak.

Desa Kamarang Lebak sebelum tahun 2007 berada di Wilayah Kecamatan Beber kemudian bulan Januari 2007 pengembangan Kecamatan dan Desa Kamarang Lebak masuk ke Wilayah Kecamatan Greged Kabupaten Cirebon.

dijukut sing http://enmito-komputer.blogspot.com/ kesuwun Kang…

Iklan

Asal Usul Desa Pegagan Kapetakan

ASAL MUASAL DESA PEGAGAN KAPETAKAN

Sebelum menjadi Desa Pegagan, wilayah ini dahulu kala terdiri dari hutan-hutan dan banyak rawa-rawanya. Karena hutan tersebut dipisahkan olah rawa-rawa dan sungai, maka Sunan Gunung Jati memberi nama wilayah itu Pulau Raja. Kemudian setelah hutan-hutan dibabad dan dibakar maka jadilah hamparan pesawahan yang sangat luas. Oleh penduduk tanah tersebut dijadikan lahan pertanian, disebut Pegagan. Maka bermukim di padukuan, sekarang Desa Dukuh. Melihat kesuburan tanah di Pegagan dan luasnya lahan yang tersedia, maka banyaklah penduduk yang berdatangan untuk ikut menggarap sawah dan ladang. Lambat laun karena banyak yang bermukim di Pegagan tersebut, maka jadilah perkampungan yang disebut kampung Pegagan, asal kata dari Pegagaan.

Untuk memimpin perkampungan yang disebut kampung tersebut, Sunan Gunung Jati menetapkan murid Mbah Kuwu Cirebon bernama Syekh Mukhamad yang berasal dari Syam dan terkenal dengan sebutan Syekh Mengger (Monggor).

Namun Ki Mengger tidak lama menjadi gegeden daerah tersebut karena ia diminta pulang oleh orang tuanya untuk menajadi pemimpin negeri Syam. Sebagai penggantinya Sunan Gunung Jati menunjuk Patih unggulannya yang bernama Ki Banjaran dengan gelar Ki Cangak Putih. Ia dibantu putrinya yang bernama Nyi Mas Ayu Kendini yang berwajah cantik, beliau rajin membantu orang tuanya dalam mengolah sawah dan juga ikut meluaskan wilayah dengan membakar hutan sehingga wilayah itu semakin luas.

Disamping itu ia juga trampil mengatur tata praja, maka tidak menghereankan apabila peran Nyi Mas Ayu Kendini semakin terkenal. Saking kagumnya penduduk terhadap Nyi Mas Ayu Kendini atas kepandaian dan kecantikannya, maka dijuluki Bidadari Dwei Nawang Wulan. Pemandian Dewi Nawang Wulan sampai sekarang masih ada di komplek makam benjaran namanya Balong Widadaren.
Wilayah kampung Pegagan sangat luas dan memanjang ke barat sampai ke wilayah Panguragan (Blok Gempol Murub), bahkan ada wilayah Pegagan yang berada di daerah simbal Cantilan Jagapura yang luasnya kurang lebih 5 hektar. Hal ini di sebabkan pembakaran hutan yang dilakukan oleh Nyi Mas Ayu Kendini yang apinya meletuk terbawa angin dan jatuh di Daerah Simbal. Sekarang Wilayah tersebut sudah resmi masuk di Wilayah Jagapura melalui musyawara antara Kuwu Pegagan dan Kuwu Jagapura.

Dengan Pimpinan Ki Ageng Putih dan Putrinya, kampung pegagan bertambah maju, tertib dan teratur, penduduknya subur makmur tidak kurang sandang pangan.
Perkampungan Pegagan mampunyai Cantilan :
1. Cantilan Dukuh
2. Cantilan Kroya

Nyi Mas Ayu Kendini terkenal bukan karena pandai mengatur tata praja dan keterampilan serta peretanian saja, tetapi juga karena kecantikannya. Sehingga banyak pemuda yang tergila-gila pada putri Sekar Kedaton Pegagan. Diantaranya yang pertama-tama datang melamar ialah Rambit, lamaran itu langsung diterima oleh Ki Benjara tanpa berunding dengan putrinya. Padahal putrinya tidak mencintainya. Saat pernikahan akan dilangsungkan, Ki Benjara serta orang-orang Pegagan sangat kaget, karena putri Sekar Kedaton ada yang menculiknya. Tentu saja R.Ambit sangat murka dan tanpa banyak tutur lagi segera lari mengejarnya.

R.Sambarasa murid Ki Ageng Jopak atau Ki Gede Kaliwedi yang baru menyelesaikan tapanya dialas jatianom, ditengah alas itu ia melihat R. Sembaga yang sedang menggendong. Nyi Mas Ayu Kendini dalam keadaan pingsan. Tentu saja hal ini menimbulkan kecurigaan pada diri R. Sambarasa. Ia meminta kepada R. Sembaga untuk menurunkan putri itu dari gendongannya, tetapi R.Sembaga untuk menolaknya, terjadilah perang tanding yang sangat seru, masing-masing mengeluarkan ilmunya. Tetapi lama kelamaan R.Sembaga merasa terdesak dan lari meninggalkan musuhnya. Kemudian R.Sambarasa menyembuhkan Nyi Mas Ayu Kendini dari pingsannya, dan diajaklah pulang ke orang tuanya di Pegagan, tetapi Nyi Mas Ayu Kendini menolaknya dan mengajak R.Sambarasa untuk pergi jauh dan menika disana. Mendengar pernyataan Nyi Mas Ayu Kendini yang tulus maka R.Sambarasa berdiam diri tidak sampai hati menolaknya. Namun pembicaraan itu terputus karena kehadiran R. Ambit yang langsung menyerangnya duduk masalahnya, tetapi R. Ambit tetap tidak percaya, hingga terjadilah perang tanding yang sangat seru, yang kedua-duanya mengeluarkan ilmu andalannya. Tetapi lama kelamaan R. Sambarasa dapat dirobohkan oleh R. Ambit dan ditendangnya ke dasar jurang. Setelah siuman R. Sambarasa menemui gurunya Ki Gede Kaliwedi.

Kembalinya Nyi Mas Ayu Kendini ke Pegagan disambut gembira oleh rakyat Pegagan, lebih lebih orang tuanya Ki Benjara.

Untuk tidak membuang waktu segera Ki Benjara melangsungkan pernikahan dengan R.Ambit. Tetapi lagi lagi mengalami kegagalan karena kehadiran Ki Ageng Jopak yang datang menuntut balas atas kekalahan R.Sambarasa muridnya, apalagi posisi muridnya adalah benar, maka tanpa banyak bicara lagi langsung Ki Ageng Jopak menyerang R.Ambit. Untunglah bon memisahkannya dalam garis penuturan bukan jodohnya tetapi jodoh R.sambarasa.

Di Keraton Kedaton, Sinuhun Gunung Jati kedatangan tamu dari tanah seberang yang maksudnya mau menjemput Ki Benjara bersama keluarganya untuk dinobatkan menjadi raja di negerinya. Mendapat permintaan itu, Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu tidak bisa menolaknya. Selanjutnya Ki Benjara bersama dengan Nyi Mas Ayu Kendini dan suaminya R.Sambarasa berpamitan kepada Sunan Gunung Jati serta Mbah Kuwu Ki Cakrabuana untuk meninggalkan Pendukuhan Pegagan. Adapun untuk gegedennya Pedukuhan Pegagan diserahkan pada Syekh Magelung Sakti yang ada di Pedukuhan Karang Kendal.

Memasuki Abad 17 tepatnya tahun 1628 tentara mataram dibawah pimpinan Sultan Agung menyerang Belanda di Batavia. Serangan ini gagal, karena kekurangan makanan dan serangan penyakit malaria. Memang saat itu transportasi tidak mudah seperti sekarang, maka kegagalan ini oleh pimpinan tentara Mataram di jadikan pengalaman untuk serangan berikutnya.

Seluruh pasukan diperintahkan untuk melucuti senjatahnya dan di kumpulkan lalu di kubur berjajar dua, makanya dari Cirebon sampai Indramayu terutama Kapetakan dan Cirebon Utara hamper di setiap desa di pinggir jalan raya ada makam berjajar dua, hal ini dilakukan sesmata-mata untuk mengelabui Belanda.

Pada suatu saat kampung Pegagan dan Karang Kendal disinggahi tentara Mataram yang membaur dengan penduduk dan banyak pula yang melakukan paerkawinan dengan penduduk setempat. Mereka memilih tempat di tengah yaitu di Desa Dukuh, karena tempatnya agak sepi jauh dari jalan raya tetapi mudah menghubunginya manakala ada berita perjuangan. Rombongan ini dipimpin oleh Raden Antrawulan yang menetap di Dukuh.

Memasuki abad 18 tepatnya tahun 1808, Gubernur Jenderal Belanda Deanless merombak susunan tata praja, khususnya di tanah jawa, yaitu :
1. Raja-raja akan digaji oleh Belanda dan tidak boleh mengambil Pajak kepada masyarakat.
2. Pergantian Sultan khususnya di Cirebon dicampuri oleh Belanda.
3. Adipati yang menguasai Kadipaten diganti dengan Bupati yang menguasai Kabupaten serta dapat gaji dari Belanda.
4. Ki Gede / Ki Ageng diubah menjadi Kuwu dan medapat bengkok.

Peninggalan sesepuh Pegagan yang perlu dilestarikan adalah:
1. Ki Jati bereupa kayu jati yang telah memfosil, terletak di depan Balai desa Pegagan Kidul, yang memiliki makna hati-nati dalam mengendalikan pemerintahan.
2. Makam Tumpeng, asalnya dari buah tumpeng yang dikubur berada di sebelah utara Balai Desa Pegagan Kidul, memiliki makna dalam mengendalikan pemerintahan Desa harus lempeng dan jujur.
3. Balong Dalem, memiliki makna hendaknya berpikir yang dalam dan sabar ketika menghadapi masalah yang timbul di masyarakat. Balong Dalem ada di sebelah timur Balai Desa Pegagan Kidul.
4. Buyut Semut ada di sebelah timur Balong Dalem yang memiliki makna harus emut, eling kepada yang Maha Kuasa jangan sampai bertindak angkara murka.

Pada saat Cirebon membara sekitar tahun 1816 – 1818 yang dikenal Perang Kedodongdong, yaitu perlawanan masyarakat Cirebon terhadap penjajahn Belanda dibawah pimpinan Begus serit. Hampir seluruh kuwu yang berada di wilayah Cirebon membantu perjuangan tersebut, baik yang terang-terangan maupun yang dibawah tanah, khususnya kuwu dan masyarakat perjuangan itu, diantaranya adalah tokoh-tokoh Ki Belang, Ki Laisa, Ki Salam dan Ki Lamus (Ki Tika).

Alat yang digunakan semasa perjuangannya, yang sekarang berupa benda pusaka dan masih tersimpan oleh anak cucunya, diantaranya adalah tombok, arti yang biasa berjalan sendiri, bendera waring dan baju antakesuma.

Desa Pegagan mengalami pemekaran pada tahun 1981, menjadi Desa Pegagan Kidul dan Desa Pegagan Lor.

Adapun nama-nama Kepala Desa yang diketahui adalah Desa Pegagan Kidul, sejak tahun 1908 :

1. Ki Narpijan
2. Ki Baijan
3. Ki Laisa
4. Ki Sam
5. Ki Kasem
6. Ki Resmi
7. Ki Salam
8. Ki Kemisat
9. Ki Samad
10. Ki Silem
11. Ki Nerfan
12. Ki Akim
13. Ki Wasiem
14. Ki Sesmpit
15. Sarbinga
16. Ki Ketimpen
17. Ki Dir
18. Ki Kireja
19. Ki Kasti
20. Ki Lampar/Kiwarasesntika
21. Ki Ketimpen
22. Ki Jiyem
23. Ki Suwada
24. Ki Madrais
25. Ki Wangen
26. Ki Muna
27. Ki Lebon
28. Ki Dasnia
29. Ki Padmanegara
30. Ki Darisem
31. Ki Senjani / H.Bakri
32. Ki Darmi
33. Ki Tuba
34. Ki Kamsia
35. Ki Wardeni
36. Ki Arja
37. Ki.H Ali
38. Ki Wangsa
39. Ki Bulyamin
40. Ki Abdulah Sajan
41. Ki Sabil Supeno : – 1969
42. Ki H. Kasanah : 1969 – 1981
43. Ki H. Maksudi (Pjs) : 1981 – 1985
44. Ki H. Dasita : 1985 – 1995
45. Ki Wadira : 1995 – 2003
46. Ki Rusli : 2003 – sekarang.

Desa Pegagan Lor :
1. Ki Dalisa (Pjs) : 1981
2. Ki Dalisa : 1981 – 1993
3. Ki Rokhmat : 1993 – 2003
4. Ki Dedi Asmadi : 2003 – sekarang.

dijukut sing http://vanhellsink.blogspot.com/ kesuwun Kang…

Asal Usul Desa Beringin

Desa Bringin adalah salah satu desa dalam wilayah kecamatan Ciwaringin, kabupaten daerah tingka II Cirebon Luas wilayah desa Bringin 226,478 Ha. Dengan mata pencaharian penduduk mayoritas petani, dan beragama islam.

Konon, setelah perang kedongdong berakhir, 40 orang Ki Gede yang ikut berperang akan kembali ke tempat asal masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka beristirahat. Mereka bernaung di bawah pohon bringin yang rindang, dan karena kelelahan mereka tertidur dengan lelapnya. Ketika mereka bangun, ada aura tanpa ujud yang mengatakan bahwa orang yang datang ke tempat itu disebut KI Gede Bringin. Orang yang pertama datang adalah Ki Gede Srangin di kenal dengan sebutan Ki Gede Bringin.

Setelah bangun dari tempat tidur itu, ke empat puluh Ki Gede merasa haus dan ingin minum. Mereka akan mencari air untuk minum namun di cegah oleh Ki Gede Srangin, kemudian ki Gede Serangin menancapkan golok jimatnya yang bernama bandawasa ke tanah. Dari tancapan golok bandawasa, tanah itu keluar air. Mereka minum untuk menghilangkan dahaganya. Tempat keluar air itu akhirnya menjadi sebuah sumur yang disebut “sumur kedokan wungu”
–  Kedokan artinya telaga
–  Wungu artinya bangunan (tangi – Bhs. Jawa), yaitu para Ki Gede bangun dari tidurnya.

Sumur kedokan wungu terletak di sebelah utara desa bringin yang sekarang, ± 100 meter, di dalam sumur tersebut dulunya terdapat belut putih, ikan gabus pitak, ikan lele yang hanya ada kepalanya dan duri serta ekornya saja (tanpa ada dagingnya), dan kadang-kadang muncul bulus putih yang katanya bulus itu berasal dari Telaga Remis Cikarang,

Ke empat puluh Ki Gede, yaitu Ki Gede Srangin beserta kawan-kawannya pergi ke Kedongdong untuk membuat batas tanah. Batas tanah tersebut akhirnya disebut Rajeg Kedongdong, yang sekarang membatasi wilayah Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu.

Setelah itu Ki Gede Bringin mengubur jimatnya yang bernama golok Bandawasa di Kedongdong, tempat tersebut sekarang disebut Ki Buyut Bandawasa. Kemudian ki Gede Srangin kembali ke tempat Sumur Kedokan Wungu dan disana membangun padukuhan. Padukuhan itu sekarang adalah Desa Bringin.

dijukut sing http://vanhellsink.blogspot.com kesuwun, Kang…

Sekilas Babad Rajagaluh

Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.

Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.

Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.

Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.

Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.

Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.

Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.

Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.

Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.

Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.

Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.

Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.

Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.

Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.

[cerita iki dijukut sing : http://rajagaluhundercover.blogspot.com Kesuwun, kang…]

Desa Sampiran, Desa Pemecah Batu di Cirebon

Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon sebagai desa yang hampir semua warganya bekerja sebagai pemecah batu. Tapi anehnya yang bekerja sebagai pemecah batu Justru banyak dilakukan oleh kaum perempuan di desa tersebut.

Sebagai pekerjaan yang tergolong kasar tetapi tetap dilakukan para wanita di Desa Sampiran, karena kaum perempuan di desa tersebut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Hal ini juga dirasakan oleh Nunung, salah seorang pekerja pemecah batu di desa tersebut.

 Awalnya Nunung bekerja sebagai pemecah batu karena untuk membantu ekonomi keluarganya, dengan penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Biasanya Nunung bisa menghasilkan 4 sampai 5 rinjing batu yang sudah dipecah dalam per hari dengan harga jual perinjing Rp2000. Itupun hasilnya dibagi dua untuk yang punya batu Rp1000, dan untuk yang memecah batu Rp1000.

Para pekerja pemecah batu biasanya mendapat batu yang akan di pecah dari juragan batu itu pun bila ada pesanan dari matrial, batu-batu yang sudah dipecah biasa diangkut dengan truk 2 sampai 3 hari sekali bila sudah ada pesanan.

Ternyata peran seorang wanita di Desa Sampiran begitu besar bagi kehidupan ekonomi keluarga dan masyarakat di desa tersebut. Tidak heran kalau Desa Sampiran Cirebon, desa pemecah batu karena sebagian besar masyarakatnya kerja sebagai pemecah batu. (BC-07)

dijukut sing http://labtani.wordpress.com/ kesuwun Kang…

Desa Kudumulya, Babakan, Cirebon

Desa Kudumulya yang terletak di kabupaten Cirebon ini memiliki jumlah populasi sebanyak 3244 jiwa. Keseluruhan masyarakat Kudumulya merupakan etnis Jawa, walaupun Cirebon sendiri berada di wilayah Jawa Barat akan tetapi masyarakat sendiri mengidentifikasikan dirinya bukan sebagai etnis Sunda. Hal ini diperkuat dengan bahasa mayoritas mereka gunakan yaitu bahasa Jawa, akan tetapi terdapat sebagian masyarakat yang mengerti dan menggunakan bahasa Sunda.

Karakteristik masyarakat desa ini cenderung mengenal satu dengan yang lain. Selain itu tidak jarang kita melihat, kegiatan anak-anak sampai orangtua yang berbincang-bincang secara berkelompok baik sore maupun malam di pinggir jalan dengan jarak berdekatan dengan kelompok lainnya. Hal tersebut menunjukan kuatnya ikatan kekeluargaan pada diri mereka sehingga terdapat waktu luang untuk berbagi pengalaman maupun cerita bersama tetangga maupun kerabat mereka.

Ekonomi memang sesuatu yang biasa diukur dalam suatu keberhasilan suatu daerah, dan hal itu juga yang akan menjadi salah satu indeks keberhasilan desa Kudumulya dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya. Ada dua sisi yang dibahas disini, pertama bagaimana mereka bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan melihat standar hidup mereka.

Desa kudumulya merupakan desa dengan padat pemukiman, dan sisanya diperuntukan untuk lahan pertanian. Banyak dari warga desanya bekerja pada bidang pertanian. Namun mirisnya mereka harus bekerja pada tanah mereka sendiri dengan upah yang terhitung kecil. Ada 2 tipe petani di sini Farmer dan peasant. Farmer adalah petani yang memiliki lahan untuk bercocok tanam dan biasanya mereka mempekerjakan banyak pekerja untuk bekerja di lahannya. Peasant adalah petani yang tidak memiliki lahan mereka hanya mengandalkan tenaga dan peralatan pribadi untuk bekerja di lahan milik farmer dengan kata lain mereka adalah buruh tani.

Di Desa Kudumulya mayoritas berperan sebagai peasant, dan sisanya farmer menyewakan lahan miliknya kepada pihak asing yang lebih banyak memiliki modal. Lahan di desa Kudumulya didominasi oleh penanaman padi, tebu dan beberapa bawang merah dan jagung manis.

Standar hidup di Desa Kudumulya tergolong menengah kebawah. Banyak dari mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hal itu didasarkan dari beberapa faktor seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan yang masih menjadi masalah utama pada sebagian besar penduduk Desa Kudumulya. Angkatan kerja produktif yang ada di desa ini mayoritas menjadi buruh tani sedangkan perempuan angkatan produktif di desa ini sebagian besar menjadi pekerja di luar negeri (TKI) di Malaysia, Hongkong, Arab maupun Singapura.

Jika kita menilik tingkat pendidikan formal di Desa Kudumulya, tingkat pendidikan desa ini masih tergolong sangat rendah, baik kesadarannya maupun kemauan warga Desa Kudumulya itu sendiri. Hal ini disebabkan sedikitnya minat atau tingkat partisipasi program pemerintah yang terhambat dalam menggalakkan program Wajib Belajar 9 tahun. Dapat kita lihat dari data-data yang telah dilampirkan sebelumnya, yakni hanya sekitar kurang dari 40% warga Desa Kudumulya saja yang pernah mengecap bangku pendidikan. Kemudian rendahnya kemauan para masyarakatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan fasilitas pendidikan di Desa Kudumulya yang masih tergolong sangat memperihatinkan, terhitung hanya terdapat satu SD dan satu tempat pendidikan agama yang terdapat disana yaitu madrasah. Selain itu rendahnya tingkat ekonomi masyarakatnya serta pola pikir yang menganggap bahwa tanpa sekolah pun mereka bisa menghasilkan uang, karena mayoritas pekerjaan mereka adalah bertani.

Kesadaran tentang hidup sehat bisa dikatakan sudah cukup baik, dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang sudah mencukupi di desa. Keberadaan puskesdes dan 4 posyandu menjadi sarana untuk warga desa dalam menjalankan kegiatan yang diperuntukan untuk kepedulian terhadap kesehatan warganya. Namun hal itu tidak bisa menjadi acuan dasar tentang kesehatan di Desa Kudumulya. Satu hal yang dapat menjadi sorotan utama di Desa Kudumulya adalah sanitasi. Tidak terdapatnya tong sampah yang dapat menampung sampah rumah tangga dan juga tidak terdapatnya TPS menyebabkan warga tidak memiliki sarana untuk menjaga lingkungannya sendiri. Bisa kita tebak selanjutnya sampah bertebaran dimana-mana, menumpuk dan menggenangi saluran air. Dalam kurun satu tahun kemarin hanya terdapat sedikit kasus penyakit, namun hal tersebut tidak menimbulkan masalah yang berarti bagi Desa Kudumulya.

dijukut sing : http://blogs.unpad.ac.id/ ….kesuwun Kang….

Sidapurna, 2 KM dari arah selatan Pasar Jamblang

Bismillahirrokhmanirrokhiim…
Sidapurna adalah nama sebuah Blok/Kampung disuatu Desa yang bernama Desa Kasugengan Kidul-Kecamatan Depok yang terletak 2 KM dari arah selatan Pasar Jamblang menuju Desa Sindang jawa-Kecamatan Sumber. Blok/Kampung Sidapurna terdata menjadi Rw IV semenjak Desa Kasugangan mengalami pemekaran menjadi 2 Desa, Desa Kasugengan Lor dan Desa Kasugengan Kidul. Yang kemudian disusul dengan pemekaran Kecamatannya, yang semula masuk Kecamatan Plumbon sekarang menjadi Kecamatan Depok.

Adapun menurut riwayat, kira-kira pada tahun 1690 kampung Sidapurna dulu masuk wilayah dari Desa Babakan yang sekarang menjadi Desa Waruroyom. Antara keduanya, Sidapurna dan Waruroyom memiliki sejarah yang saling berkaitan/berhubungan. Menurut primbon yang dimiliki oleh Bpk. H.Taspi ketua LKMD Desa Waruroyom yang pernah dimuat di Majalah Tandang terbitan Kantor Deppen Kab.Cirebon edisi No.6/tahun 1985/1986 hal.12, mengenai Asal-usul Desa Waruroyom. Dikatakan bahwa yang sekarang bernama Desa Waruroyom itu dahulunya adalah Babakan. Yang dipimpin oleh seorang Ki Gede yang bernama Ki Gede Babakan, dan diabadikan menjadi sebuah nama desa tersebut. Ki Gede Babakan memiliki 3 orang putra yang bernama :

1. Ki Samsudin kemudian menggantikan ayahandanya menjadi seorang Kepala Desa/Kuwu.
2. Ki Jaenudin menjadi aparat dari desa tersebut ( Lebe ).
3. Ki Akmaludin, beliau lebih memilih menjadi Ajengan/Kiyai.

Tampuk Kepemimpinan Kuwu pun diserahkan kepada putra pertama Ki Gede Babakan yaitu Ki Samsudin yang nantinya akan merubah nama Desa Babakan menjadi Desa Waruroyom. Dan Ki Gede Babakan sendiri berpindah ke daerah selatan, tepatnya di wilayah Sumber lalu beliaupun mendirikan sebuah desa dengan nama Desa Babakan-Sumber. Ki Gede Babakan pun menurunkan keturunannya sampai ke Wanantara dan Wanasaba. Pada pemerintahan Ki Samsudin, pertumbuhan desa Waruroyom sangat baik. Menjadi desa yang subur, makmur, loh jinawi tidak kurang sesuatu apapun. Namun sayangnya beliau lebih memilih bergaul dengan para penjajah VOC ketimbang dengan saudaranya yang bernama Ki Akmaludin yang notabene seorang ulama pada waktu itu. Sehingga terkadang sering terjadi perselisihan yang mengakibatkan kejadian2 aneh yang pernah dialami oleh Ki Samsudin bersama para VOC ketika mengadakan sebuah acara pesta dirumahnya yang dilakukan oleh Ki Akmaludin dengan ilmu kebathinannya. Seperti ketika para koki memasak untuk keperluan hidangan para tamu undangan Ki Samsudin, Nasi tidak bisa disiduk karena keras sekeras batu, Masakan yang berjenis lauk ikan pun dapat hidup kembali, Masakan yang berjenis daging kembali menyatu menjadi hewan dan hidup. Maka dengan sekejap suasana pesta pun berubah menjadi rusuh dan para undangan pun berfikir bahwa kejadian tersebut adalah sebuah gangguan ghaib sebangsa setan, jin atau sejenisnya yang tidak terima dengan kahadiran para undangan. Namun Ki Samsudin berpendapat lain bahwa kejadian tersebut hanyalah ulah dari adiknya Ki Akmaludin. Sehingga Ki Samsudin pun tidak berfikir lama beliau langsung saja pergi untuk menemui adiknya. Sesampainya ditempat Ki Akmaludin, Ki Samsudin tidak menemui adiknya lalu beliaupun terus mencari hingga akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti sejenak melakukan pencarian. Sampai suatu ketika ada seorang penggembala kambing melihat seseorang yang keluar dari gowok yang berada ditepi sungai sedang mengambil air wudhu. Dan sipenggembala melaporkan kesaksianya tersebut kepada Ki Jaenuddin yang juga salah satu adik dari Ki Samsudin yang bekerja di pemerintahan desanya sebagai lebe/naib. Bersama sipenggembala Ki Jaenuddin menemui kakaknya untuk menceritakan semua yang dilihat oleh sipenggembala tersebut. Tanpa berpanjang waktu kemudian berangkatlah mereka menuju tempat dimana seseorang yang dianggap sipenggembala adalah Ki Akmaludin. Beliau pun menungguniya hingga seseorang yang dianggap mereka Ki Akmaludin itu keluar. Dan akhirnya yang mereka tunggu pun muncul, seketika itu juga Ki Samsudin bersama Adik dan sipenggembala tersebut menubruk seseorang yang memang benar beliau adalah Ki Akmaludin sambil berkata nggowok temen sampeyan ( nggowok; bersembunyi didalam gua ditepian sungai ). Dan atas kejadian itu daerah tersebut sekarang diberi nama Sigawok. Sigawok adalah salah satu tempat yang berada di Blok/Kampung Sidapurna yang letaknya berseberangan dengan kampung Kedungdadap Desa Beran. Disebelah selatan Sigawok terdapat suatu tempat yang bernama blok Pesantren, dimana ditempat tersebut Ki Akmaludin pernah mendirikan sebuah pesantren dan beliau sendirilah sebagai kiyainya. Dari kejadian2 diluar nalar manusia yang Ki Samsudin alami atas perbuatan adiknya yang punjul ilmunya itu, maka beliau Ki Samsudin berkata kepada adiknya Sida Sampurna sampeyan… Sida Sampurna yang berarti “Jadi Sempurna” akan keilmuan yang Ki Akmaludin miliki dan atas izin Allah jua Ki Akmaludin tunjukkan kepada kakaknya dengan maksud agar kakaknya mau kembali ke jalan yang benar, lurus serta diridhoi oleh Sang Pencipta, Pemilik dari segalanya Allah SWT. Maka atas kejadian tersebut lahirlah sebuah nama yang sekarang diriku lahir, besar dan tinggal didalamnya Kampoeng Sidapoerna…( Diambil dari Ringkasan Sejarah/Legenda Asal-Usul Kampung Sidapurna, yang disusun oleh Moch.Aminuddin Sadali )

dijukut sing http://sidapoernation.blogspot.com/ kesuwun, Kang..!