Archive for September, 2010

Asal Usul Desa Beringin

Desa Bringin adalah salah satu desa dalam wilayah kecamatan Ciwaringin, kabupaten daerah tingka II Cirebon Luas wilayah desa Bringin 226,478 Ha. Dengan mata pencaharian penduduk mayoritas petani, dan beragama islam.

Konon, setelah perang kedongdong berakhir, 40 orang Ki Gede yang ikut berperang akan kembali ke tempat asal masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka beristirahat. Mereka bernaung di bawah pohon bringin yang rindang, dan karena kelelahan mereka tertidur dengan lelapnya. Ketika mereka bangun, ada aura tanpa ujud yang mengatakan bahwa orang yang datang ke tempat itu disebut KI Gede Bringin. Orang yang pertama datang adalah Ki Gede Srangin di kenal dengan sebutan Ki Gede Bringin.

Setelah bangun dari tempat tidur itu, ke empat puluh Ki Gede merasa haus dan ingin minum. Mereka akan mencari air untuk minum namun di cegah oleh Ki Gede Srangin, kemudian ki Gede Serangin menancapkan golok jimatnya yang bernama bandawasa ke tanah. Dari tancapan golok bandawasa, tanah itu keluar air. Mereka minum untuk menghilangkan dahaganya. Tempat keluar air itu akhirnya menjadi sebuah sumur yang disebut “sumur kedokan wungu”
–  Kedokan artinya telaga
–  Wungu artinya bangunan (tangi – Bhs. Jawa), yaitu para Ki Gede bangun dari tidurnya.

Sumur kedokan wungu terletak di sebelah utara desa bringin yang sekarang, ± 100 meter, di dalam sumur tersebut dulunya terdapat belut putih, ikan gabus pitak, ikan lele yang hanya ada kepalanya dan duri serta ekornya saja (tanpa ada dagingnya), dan kadang-kadang muncul bulus putih yang katanya bulus itu berasal dari Telaga Remis Cikarang,

Ke empat puluh Ki Gede, yaitu Ki Gede Srangin beserta kawan-kawannya pergi ke Kedongdong untuk membuat batas tanah. Batas tanah tersebut akhirnya disebut Rajeg Kedongdong, yang sekarang membatasi wilayah Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu.

Setelah itu Ki Gede Bringin mengubur jimatnya yang bernama golok Bandawasa di Kedongdong, tempat tersebut sekarang disebut Ki Buyut Bandawasa. Kemudian ki Gede Srangin kembali ke tempat Sumur Kedokan Wungu dan disana membangun padukuhan. Padukuhan itu sekarang adalah Desa Bringin.

dijukut sing http://vanhellsink.blogspot.com kesuwun, Kang…

Iklan

Tradisi Sedekah Bumi Cirebon

Oleh Mulyanto SWA *

Masyarakat pantai utara Cirebon, yang terkenal dengan udang dan petisnya, bermata pencaharian utama bertani dan melaut sejak zaman dulu sudah berkembang. Dalam usaha bertani dan melaut pada zaman sebelum Islam, mereka terikat keparcayaan agama nenek moyang. Pada masa itu masyarakat percaya kepada dewa penguasa bumi, dewa penguasa laut, dan sebagainya. Mereka menganggap para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.

Ketika Islam masuk, tradisi itu sangat mendapatkan perhatian. Kepercayaan akan dewa-dewa digantikan dengan iman kepada Tuhan. Menurut Islam, hanya Allah yang patut disembah. Sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali caranya, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan keparcayaan itulah terbentuk upacara baru, sedekah bumi. Upacara baru ini pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Kanjeng Susuhan Syekh Syarif Hidayatullah (1482–1568 M), tempatnya di Puser Bumi.

Puser Bumi adalah sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Sanga. Mengenai kedudukan Puser Bumi, ada penjelasan bahwa setelah Sunan Ampel wafat pada 1478 M, dipindahkan dari Ampel (Jawa Timur) ke Cirebon yang letaknya di Gunung Sembung—sekarang disebut Astana Gunung Jati.

De nika susuhan jati, hana ta sira maka purohitaning sakwehnya Dang Accaryagameslam rat jawa kulwam, mwang para wali ing jawa dwipa, muwah ta sira susuhan jati rajarsi. Susuhan jati adalah pimpinan para guru agama islam di Jawa Barat dan pimpinan para wali di Pulau Jawa, beliau adalah raja resi (PNK oleh P. Wangsakerta 1677 M sarga IV halaman 2). Upacara adat sedekah bumi dilaksanakan pada cawu ke 4 (bulan oktober) setiap tahunnya.

Tradisi ini dilaksanakan hampir di seluruh desa-desa di Cirebon, misalnya yang masih kuat melaksanakan tradisi ini adalah Desa Astana Gunung Jati yang termasuk kedalam kecamatan Gunung Jati sekarang. Sebagai pelaksananya adalah Ki Penghulu serta Ki Jeneng Astana Gunung Jati berikut para kraman. Pelaksana adat juga didukung oleh para pemuka masyarakat dan tokoh agama di desa-desa yang berkaitan dengan Keraton Cirebon, mereka disebut Prenata. Pelaksanaannya dimulai dengan Buka Balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keraton di beberapa daerah (masih ada di desa Pegagan) oleh Ki Penghulu bersama Ki Jeneng atas restu Sinuhun. Selanjutnya Ki Penghulu bersama Ki Jeneng Ngaturi Pasamon (mengadakan pertemuan) para Prenata dan para pemuka adat lainnya, dalam Pasamon ditetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi.

Maka sejak ditetapkannya hari pelaksanaan itu, disebarkanlah secara getok tular kepada seluruh penduduk bahwa akan diadakan Sedekah Bumi, melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “Gelondong Pengareng-areng”. Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.

Kaitannya dengan upacara Sedekah Bumi

Pelaksanaan yang merupakan tradisi masyarakat Cirebon ini sebenarnya merupakan Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran islam yang mengilhami pelaksanaanya. Termasuk dalam pakaian yang digunakannya, kuwu (kepala desa) menggunakan Iket (blangkon), baju takwa lurik dasar kuning, kain panjang, sumping kembang melati, memegang Teken (Tongkat paling tinggi ± 60 cm). Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.

Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di Alun-alun Gunung Sembung, misalnya kesenian rentena, reog, genjring, terbang, brahi, berokan, barongan, angklung bungko, wayang, bahkan sekarang ini ado pertunjukan tarling modern organ tunggal. Dalam pertunjukan wayang kulit lakon yang dibawakan dalam acara sedekah Bumi ini adalah Bhumi Loka, kemudian pada dipagi harinya diadakan ruwatan. Dalam lakon Bhumi Loka diceritakan tentang dendam Arjuna atas kematian ayahnya yaitu prabhu Nirwata Kwaca. Terjadilah peperangan dengan putra Pandawa yang dipimpin Gatotkaca. Prabu Kresna dan Semar mengetahui putra Gatotkaca mendapat kesulitan untuk dapat mengalahkan mereka, bahwa para putra manik Iman-imantaka tidak dapat mati selama menyentuh bumi. Maka semar menasehatkan agar dibuatkan Anjang-anjang di angkasa, dan menyimpan mereka yang telah mati agar tidak dapat menenyentuh bumi. Prabu Kresna memerintahkan Gatotkaca untuk membuat Anjang-anjang tersebut di angkasa dan menyerang mereka dengan ajian Bramusti. Mereka semua akhirnya terbunuh oleh Gatotkaca , diatas Anjang-anjang yang telah dipersiapkannya. Bhumi Loka mati terbunuh kemudian menjadi Gludug lor dan Gludug kidul. Lokawati terbunuh menjadi Udan Grantang. Loka Kusuma terbunuh menjadi Kilap, loka sengara mati terbunuh menjadi Gledeg dan Lokaditya mati terbunuh menjadi Gelura. Habislah para putra Manik Imantaka terbunuh oleh Gatotkaca dan kematian mereka menjadi penyebab datangnya musim penghujan.

Dari mitos cerita di ataslah maka Sedekah Bumi dijadikan oleh kepercayaan masyarakat untuk menyambut datangnya musim penghujan.

Namun dasawarsa terakhir ini nampaknya makna dari Sedekah Bumi sudah bergeser dari makna awal. Selain menjadi upacara Ceremony rutinitas biasa sekarang Sedekah Bumi menjadi daya tarik pariwisata oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang setiap diadakaanya Sedekah Bumi, yang maksud dan tujuannya pun berbeda pula. Namun, paling tidak tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Menurut Plato tata masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang tidak mengalami perubahan terhadap pengaruh luar yang bisa merubahnya. Plato lebih mendambahkan konservasi dari pada perubahan.

Tradisi membentuk kehidupan yang ideal

Tradisi dan budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam membangun kehidupan yang ideal. Seperti halnya dengan ilmu dan agama. Ilmu dan Budaya juga berproses dari belahan otak manusia. Ilmu berkembang dari otak kiri yang berfungsi membangun kemampuan berpikir ilmiah, kritis, dan teknologi. Seperti halnya dengan tradisi, termasuk kedalam salah satu kebudayaan daerah yang harus kita lestarikan. Oleh karena, salah satu upaya yang bisa dikembangkan pemerintah dalam mengatasi persoalan ini adalah dengan menjadikan sejarah dan budaya sebagai muatan lokal dalam kurikulum, mulai dari tingkat SD, SMP, bahkan sampai ketingkat SMA. Harapannya adalah agar tidak membiarkan dinamika kebudayaan itu berlangsung tanpa arah, bisa jadi akan ditandai munculnya budaya-sandingan (Sub Culture) atau bahkan budaya tandingan (Counter-Culture) yang tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan, sebab dengan terbengakalainya pengembanagan kebudayaan bisa berakibat terjadinya kegersangan dalam proses pengalihannya dari satu generasi kegenarasi bangsa selanjutnya. Selain itu juga tujuan lain dari pelestarian ini paling tidak akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dan unggul tapi juga berjiwa humanis serta merasa memiliki bahwa Cirebon sebagai pusat peradaban sejarah dan budaya Islam ditanah jawa.

Pengenalan terhadap beberapa situs dan benda cagar budaya dikalangan pemuda juga sangat memperihatinkan, padahal Cirebon sangat kaya sekali akan situs dan kebudayaannya seperti, situs keraton, situs makam Sunan Gunung Jati dan beberapa situs yang menjadi petunjuk akan perkembangan Islam di tatar Jawa. Apalagi Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional. Selain itu juga Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.

Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat yang masih menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya seperti kata ini Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah”. Soekarno menegaskannya dengan istilah: “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Bahkan, seorang Cicero begitu menghargai sejarah dengan menyebutnya sebagai “Historia Vitae Magistra” (Sejarah adalah Guru Kehidupan), sedangkan Castro berteriak dengan lantang di pengadilan: “Historia Me Absolvera !!!” (Sejarah yang akan Membebaskanku!!!). Haruskah kita menyingkirkan sejarah?, bored with history?, hated social scientific history?….

Penulis adalah Pegiat Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon

dijukut sing http://lingkarsastra.blogspot.com kesuwun Kang…

1 Sura 1358

Pada awalnya, cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Demikian dikatakan oleh serat Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda. Lama-kelamaan cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang diberi nama caruban. Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat.

Karena sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan nenangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.

Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya Alam dari pedalaman, cirebon menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara jawa. Dari pelaburan cirebon, kegiatan pelayaran dan perniagaan berlangsung antar-kepulauan nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, tidak kalah dengan kota-kota pesisir lainnya Cirebon juga tumbuh menjadi pusat penyebaran islam di jawa barat.

Al kisah, hiduplah Ki gedeng Tapa, seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati. Ia mulai membuka hutan, membangun sebuah gubuk pada tanggal 1 Sura 1358 (tahun jawa), bertepatan dengan tahun 1445 M. Sejak saat itu, mulailah para pendatang menetap dan membentuk masyarakat baru di desa caruban.

Kuwu atau kepala desa pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah raden Walangsungsang. Walangsungsang adalah putra prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, putri Ki Gedeng Tapa. Setelah ki gedeng alang-alang meninggal walangsungsang bergelar Ki Cakrabumi diangkat sebagai Kuwu pengganti ki Gedeng Alang-alang dengan gelar pangeran Cakrabuana.

Ketika kakek ki gedeng Tapa meninggal, pangeran cakrabuana tidak meneruskannya, melainkan mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk pemerintahan cirebon. Dengan demikian yang dianggap sebagai pendiri pertama kesultanan Cirebon adalah pangeran Cakrabuana (…. – 1479). Seusai menunaikan ibadah haji, cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah istana pakungwati, serta aktif menyebarkan islam.

dicuplik sing http://ridwanaz.com/ kesuwun, Kang…

Kura-Kura di Balai Kota Cirebon

09 Mar 2010, Hiburan – Pikiran Rakyat

 SIAPA tak kenal Balai Kota Cirebon? Bangunan megah sekaligus unik ini juga cukup memberikan gambaran bentuk art deco yangmemiliki pengaruh yang sangat kuat pada masa itu. Dirancang untuk tempat berkantornya wali kota pada masa Hindia Belanda. Satu-satunya arsitektur unik yang ada di dunia. Jescoot merancang arsitektur balai kota dari inspirasi seekor kura-kura yang tengah merayap pelan di atas pasir. Jika dilihat dari atas, akan kentara bentuk kura-kura tersebut. Pada bagian depan, misalnya, merupakan kepala yang menonjol, sedangkan pada bagian belakang (ruangan wali kota) terdapat bagian yang menonjol ke belakang.jnirip ekor. Pada bagian kanan dan kiri dalam bentuk bangunan yang sama- merupakan tangan dan kakinya.

Ada yang menarik dari filosofi kura-kura ini, terutama bagi masyarakat lokal yang menganggap kura-kura sebagai kemantapan dalam hidup dan simbol kesabaran, biar lambat asal selamat. Selain itu, kura-kura merupakan hewan yang tahan banting meski tak diberi makan berhari-hari. Pada bagian sudut atas balai kota terdapat relief udang yang nemplok dengan cat kuning keemasan. Cirebon sebagai penghasil udang memang sangat ternama pada masa itu. Catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menyatakan, gedung tersebut semula berfungsi sebagai raadhuis (dewan perwakilan kota) atau semacam DPRD saat ini. Konon, sering pula dijadikan tempat sewaan untuk pernikahan kalangan menengah Eropa.

Sejak masa pendudukan Jepang hingga sekarang, gedung tersebut dijadikan sebagai tempat berkantornya wali kota. Sebagian besar gedung masih dalam bentuk aslinya. Dibangun dua lantai dan pada bagian atas terdapat sirene yang mengeluarkan suara keras untuk penandaan keadaan tertentu, seperti bahaya udara dan saat buka puasa. Di bawah lantai dasar, terdapat kolam yang dijadikan sebagai alat penyejuk dan sirkulasi udara. Tengok pula pada bagian atap balai kota, terdapat langit-langit gem-bung yang mirip batok kura-kura. Di lantai dua yang semula dijadikan tempat bersidang Dewan Perwakilan Kota Hindia Belanda masih tampak asli. Lantainya sebagian terbuat dari kaca tebal dan ukiran kaca tahun 1920-an.

Pada masa itu, juga dianggap sebagai kejayaan dekorasi rumah dalam bentuk kaca berukir.Sejak masa kepemimpinan Wali Kota Tatang Suwardi, balai kota diperluas seiring dengan kebutuhan perkantoran saat itu. Demikian pula jalanan kota yang semula sempit diperlebar sehingga tampak seperti saat ini. Pada dinding bagian depan terdapat prasasti yang menyatakan bahwa Kotapradja Tjirebon bebas buta huruf tahun 1962.

Arsitektur kolonial Model arsitektur Gedung NBBra (gedung karesidenan) bisa dilihat di berbagai daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Terutama di Jakarta dan Semarang banyak terdapat bangunan model arsitektur semacam itu? Rupanya merupakan ciri khas dari kantor pemerintahan Hindia Belanda masa lalu, walaupun ada beberapa gedung yang jauh berbeda arsitekturnya, seperti Gedung Balai Kota Cirebon.Di sebelah kanan gedung terdapat pos penjagaan pengamanan yang terbangun dengan model semacam pintu lengkung sebagai tempat petugas berjaga siang dan malam. Kini, bangunan tersebut masih ada dan tidak lagi digunakan sebagai pos penjagaan. Sebagian besar bangunan ini masih asli, hanya terdapat beberapa bagian yang dipugar dan pada dinding dilapisi tripleks.

Dibangun pada sekitar tahun 1865 saat Residen Cheribon dijabat Albert WilhelnTKinder de Ca-murecq yang merupakan residen keempat. Pada waktu itu, gedung tersebut berfungsi sebagai rumah dinas residen, sedangkan kantor residen berada di Jln. Yos Sudarso (depan Bank Indonesia) yang dibangun pada 1841. Menurut data Disbudpar Kota Cirebon (2006), pembangunan gedung kantor dan rumah dinas ini merupakan dampak kebakaran Benteng De Beschertmingh (terdapat sekitar pesisir dan Jln. Benteng-sekarang). Benteng De Beschermingh didirikan Belanda sekitar tahun 1686. Benteng tersebut bukan hanya dijadikan pusat kekuasaan politik dan militer, melainkan juga pusat ekonomi untuk mengumpulkan komoditas serta kegiatan perdagangan ekspor-impor.

Gedung karesidenan dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Van den Berg dengan model arsitektur Istana Merdeka Jakarta. Gedung itu dibangun menghadap ke timur di atas tanah sekitar 27.315 m2 dengan luas bangunan 2.120 m2.Gedung ini sangat dikenal masya-rakat Cirebon, di samping arsitekturnya yang indah dan kokoh, juga menyimpan kisah-kisah heroik para pejuang kemerdekaan sejak tahun 1808. Kisah-kisah yang ditulis komikus Djair asal Desa Jamblang memberikan indikasi bahwa gedung ini sering didatangi “pemberontak” dan mengacaukan para pejabat negara yang saat itu sedang berpesta pora.

Catatan yang ditulis Drs. H. Udin Koswara, M.M. (mantan Residen Cirebon awal 2000-an) dalam bukunya Sejarah Pemerintahan Keresidenan Cirebon (2000), Gubernur Jenderal H.W. Daendels pada tahun 1808 membentuk institusi pemerintahan dengan para pejabatnya yang disebut prefect (istilah dalam bahasa Prancis). Kebanyakan orang Belanda tidak menyukai penggunaan istilah tersebut, maka sebutan prefect diganti dengan sebutan landdrots (istilah Belanda), yang kemudian jabatan tersebut diganti dengan sebutan resident.Di samping menyimpan kisah heroik, gedung itu juga menyimpan sifat-sifat rasisme dari kalangan Belanda dan bangsa Eropa. Konon, menurut kisah masyarakat setempat, penduduk pribumi dari kalangan bawah yang akan memasuki gedung ini harus berjalan”jongkok dari pintu gerbang sampai bangunan induk. Selain itu, gedung ini sering kali dimanfaatkan untuk pesta I.ni tlmiN.i kalangan kulit putih. (Ntfrtrtn M. Noer, wartmtxm senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSO*”

dijukut sing http://bataviase.co.id/ kesuwun Kang…

Sekilas Babad Rajagaluh

Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.

Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.

Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.

Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.

Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.

Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.

Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.

Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.

Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.

Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.

Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.

Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.

Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.

Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.

[cerita iki dijukut sing : http://rajagaluhundercover.blogspot.com Kesuwun, kang…]

Bagen Bae…

Isun gawe ‘blog’ iki, dudu kanggo gaya-gaya’an, dudu kanggo pinter-pinteran, dudu kanggo luru duit, dudu kanggo luru ‘popularitas’, dudu kanggo ‘nyalon dadi kuwu’, apa maning kanggo luru rangda gembleng sing bapuk…

Awale sih, isun pengen gawe blog sing bisa di’inget’ anak-putu kita, mengko mbesuk lamun jaman semana, jaman wis langka sendal ‘ceplek’, wis langka serabi, wis langka krawu jagung… pokoke jaman mengko-mengko lah…

Ambir anak-putu kita weru, lamun asal-usule kuh sing ‘Cerbon’, awit bibit-e, tumpah-darah’e, sing Cerbon. Walopun, asale isun sing Cerbon coret, dudu Cerbon kota, yo…bagen bae-lah! sing penting ‘wong Cerbon!’

Melas pisan, lamun mbesuk kiki, anak-putu kita bli weru asal-usule. Bli ngerti budaya Bapane, bli paham dedeg-pengadeg’e. Mangka’ne, sambil kridong sarung lan muter kaset ‘Baridin’an, isun gawe blog kiyen. 

Padahal, jaman kuno bengiyen… Cerbon iku negara kang kawentar, gagah perkasa, sejajar karo Demak, sejajar karo Pajajaran, mungkin sejajar karo Amerika. malah Amerika mungkin durung ana, masih pecah-pecah karo suku-suku Indian. apa maning Singapura, langka apa-apane karo Cerbon mah, Singapur masih alas, langka sekuku ireng karo Cerbon. Tapi iku jaman bengiyen… lawaaaas pisaan ning mburi.

Sekiyen…? Cerbon sing ketinggalan adoh, Singapur wis dadi gede mere-mere, mau alas tempat nongkronge gegedug gulang-gulang, saiki wis dadi negara kang duwur pamor’e. Lha, Cerbon priben…? malah menciut. Bengiyen Cerbon sing nguasai Jawa Barat, sekiyen cuma ‘nyempil’ dewek’an.  Disorot ning tipi, lamun macet mudik ning dina Lebaran bae, disorot ning berita lamun ana bocah nom-noman kang pada ko’it nenggak arak, disorot ning tipi lamun ana tawuran antar-kampung… duh Gusti,…

Tapi, bagen bae-lah… jare wong-wong pinter sih : right or wrong its my country, blesak atawa bagus, iki daerah isun, tempat isun pertama ndeleng alam dunya, narik napas, tempat panggonan. Dadi, awit semono iku…isun nyorat-nyoret gawe blog iki. Mbesuk kiki, lamun anak-putu kita pengen weru Cerbon, tinggal ‘nge-klik’ blog iki, tinggal mbuka blog iki…

Tapi, blog’e kok blesak pisan…? bagen bae-lah. Maklum bae, sing gawe blog’e dudu wong pinter. Dadi blesak. Aran’ne gan BLESAK.WORDPRESS.COM. Sing penting, isun wis waris-nang sejarah Cerbon, nitip-nang budaya Cerbon, ning kene. Lumayan, kanggo cerita-cerita dongeng ning anak putu…lamun bengiyen, ana daerah kang aran’ne Cerbon, lamun bengiyen…Cerbon kuh negara kang pamor’e duwur, murub marong-marong, kawentar sampe teka ning negeri China, bli kalah karo Singapur, Amerika, apa maning sejen-sejen’ne…

Bagen bae, blesak ….

Mudik di Sekitar Cirebon

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kabupaten Cirebon akan menjadi jalur tersibuk dan terpadat di masa arus mudik dan balik lebaran. Hal ini dikarenakan Kabupaten Cirebon adalah perbatasan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah di jalur pantura.

Namun kepadatan jalur lalu lintas di wilayah Kabupaten Cirebon tidak usah terlalu dikhawatirkan karena para pemudik dapat beristirahat sejenak sambil berwisata di Kabupaten Cirebon. Mulai dari wisata rohani, wisata belanja sampai wisata kuliner.

Para pemudik sebaiknya berhati-hati dalam menjalankan kendaraannya. Beristirahatlah apabila terasa lelah/ngantuk. Udara Cirebon sangat panas dan matahari bersinar sangat terik. Untuk itu pastikan AC kendaraan berfungsi dengan baik. Kalaupun kendaraan tidak dilengkapi dengan AC, agar tetap dalam kondisi yang fit selama perjalanan, sempatkan untuk beristirahat di masjid, di tempat-tempat rindang lainnya atau mampir sejenak ke tempat wisata di Kabupaten Cirebon.

Berikut ini jalur padat yang rawan macet namun dapat dimanfaatkan para pemudik untuk beristirahat sambil menikmati kekhasan Kabupaten Cirebon seperti terpublikasikan di situs Pemerintah Kabupaten Cirebon:

Pasar Celancang

Kemacetan di sekitar Pasar Celancang terjadi karena adanya pasar tumpah. Hari pasaran adalah hari Jumat namun menjelang lebaran. Jalur di sekitar pasar ini kerap dilanda kemacetan karena banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar tersebut dan juga volume arus lalu lintas yang kian padat.

Dari arah Jakarta/Indramayu, sekitar 2 km sebelum Pasar Celancang, tepatnya di sebelah Kantor Kecamatan Suranenggala terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pemudik dapat menjumpai hasil laut segar yang baru diturunkan dari kapal/perahu, biasanya mulai pukul 13.00 hingga sore hari.

Makam Sunan Gunung Jati

Sekitar 1 km dari Pasar Celancang, para pemudik akan melewati Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Di sini, para pemudik dapat berwisata rohani dengan melakukan ziarah kubur ke makam Sunan Gunung Jati dan istrinya yang berasal dari Tiongkok, Putri Ong Tien. Pada hari-hari biasa, kompleks makam ini banyak dikunjungi oleh peziarah dari seluruh nusantara.

Pasar Tegal Gubug

Apabila di pertigaan Celeng-Indramayu pemudik mengambil jalur belok kanan menuju Palimanan, maka pemudik akan melewati Pasar Tegal Gubug. Daerah ini rawan macet terutama saat hari pasaran yaitu hari Selasa dan Sabtu.

Pasar Tegal Gubug-Arjawinangun dikenal sebagai sentra penjualan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Para pemudik dapat berbelanja aneka tekstil, mulai dari kain meteran/kiloan sampai pakaian jadi dengan harga yang lebih murah.

Sekitar Tegal Gubug, di Desa Gegesik Wetan Kecamatan Gegesik (sekitar 7 km dari Pasar Tegal Gubug) terdapat sentra Lukisan Kaca.

Masih di wilayah Arjawinangun, di Desa Slangit, dapat ditemui para pengrajin topeng yang biasa digunakan untuk Tari Topeng, tarian khas Cirebon.

Pasar Jamblang

Bagi pemudik yang melintasi Cirebon di malam hari, setelah Palimanan, maka akan melewati daerah Jamblang. Di Pasar Jamblang ini, khususnya di malam hari, banyak yang berjualan Sega Jamblang (Nasi Jamblang) yang merupakan makanan khas Cirebon. Nasi jamblang terdiri dari nasi putih yang dibungkus dengan daun jati dalam ukuran yang kecil, sedangkan lauk pauknya terdiri dari pepes telur rajungan, otak, semur tahu, jambal asin, semur daging, tahu tempe goreng serta masih banyak lagi.

Apabila pemudik menggunakan jalan tol (tidak melalui jalur Jamblang), begitu keluar dari pintu tol Plumbon (Jalan Tol Palikanci) pemudik akan menjumpai Sentra Industri Rotan Terbesar di Dunia, yaitu Desa Tegalwangi dan sekitarnya. Para pemudik dapat berbelanja aneka produk rotan kualitas ekspor dengan harga yang relatif murah, mulai dari furnitur, souvenir sampai pernak-pernik hiasan rumah.

Pasar Plered

Setelah melewati daerah Tegalwangi, para pemudik biasanya terjebak kemacetan di Pasar Plered. Dari arah Tegalwangi, pasar ini terletak di sebelah kiri perempatan lampu merah. Apabila belok kanan menuju Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Cirebon di Sumber sedangkan belok kiri menuju Desa Wisata Belanja Batik Cirebonan, Trusmi.

Di Desa Trusmi, dapat dijumpai banyak home industry yang menjual batik khas Cirebon. Sentra batik ini akan lebih ramai pada akhir pekan oleh pembeli yang datang dari luar kota dan luar negeri. Motif batik yang terkenal dari kawasan ini adalah motif Mega Mendung.

Apabila pemudik ingin memasuki kawasan batik namun enggan terhadang kemacetan pasar, tidak perlu belok kiri setelah melewati perempatan lampu merah Pasar Plered. Dari perempatan tersebut berjalan sekitar satu kilometer, di sebelah kiri ada Jalan Panembahan. Di Panembahan banyak juga dijumpai showroom dan home industry . Desa Panembahan ini, masih bersebelahan dengan Desa Trusmi, karenanya ada jalan yang menghubungkan kedua kawasan ini.

Apabila masih punya waktu, dari Trusmi para pemudik dapat meneruskan perjalanan ke Desa Kaliwulu. Desa ini dikenal sebagai sentra industri mebel kayu. Jangan khawatir kesulitan membawa barang yang dibeli karena barang yang dibeli tersebut bisa diantar ke rumah pembeli, bahkan pembeli yang berasal dari luar kota.

Pasar Kue Setu

Tidak jauh dari Pasar Plered, para pemudik akan kembali dihadang kemacetan Pasar Kue Setu. Kue-kue yang penjualannya tersebar hingga ke hampir seluruh Indonesia dan kebanyakan berupa cemilan ini diproduksi oleh industri rumahan di Desa Setu dan sekitarnya.

Cemilan khas cirebon yang banyak dijual bernama unik, antara lain kerupuk kulit kerbau/rambak, kerupuk melarat, kerupuk geol, kerupuk upil, kerupuk gendar, kerupuk jengkol, jagung marning, rengginang mini, emping, kelitik, kue atom, maypilow, kembang andul, ladu, simpil, gapit, otokowok, opak, welus, sagon dan masih banyak lagi.

Di sepanjang jalan Plered-Setu-Tengah Tani ini para pemudik juga dapat menikmati makanan khas Cirebon di daerah asalnya, yaitu Empal Gentong Plered sebagai hidangan berbuka puasa. Empal di Cirebon berbeda dengan empal pada umumnya, yaitu tidak berbentuk kering seperti gepuk namun empal gentong ini sekilas mirip gulai sapi dan dimasak dengan menggunakan gentong dan kayu bakar. Sekarang empal gentong dibuat variasi, Empal Gentong Asem, yaitu empal dengan kuah bening dan terasa asam menyegarkan, sangat cocok untuk mereka yang menghindari kuah santan.

Selain kue cemilan, di sekitar Pasar Setu ini banyak pula dijual sandal karet dan kulit. Penjualan sandal produksi industri rumahan ini sudah menyebar hingga ke pelosok nusantara.

Di sepanjang jalan Plered-Setu-Tengah Tani ini para pemudik juga dapat menikmati makanan khas Cirebon di daerah asalnya, yaitu Empal Gentong Plered sebagai hidangan berbuka puasa.

Di Kecamatan Tengah Tani ini terdapat pula sentra kerajinan kulit kerang yang sangat pas untuk dibawa sebagai souvenir/oleh-oleh bagi kerabat. Kulit kerang ini diolah sedemikian rupa hingga dibuat menjadi lampu, bingkai, hiasan dinding, vas bunga dan masih banyak lagi.

Pasar Gebang

Kemacetan terparah di wilayah Kabupaten Cirebon biasanya terjadi di sekitar Pasar Gebang. Hal ini terjadi karena pasar tumpah. Di sepanjang pasar ini para pemudik juga dapat berbelanja aneka jenis ikan laut segar.

Sekitar 5 km dari Pasar Gebang, di sebelah kiri, dapat dijumpai Pasar Bawang, yang akan sangat ramai pada masa panen.

Sebagai informasi, di sepanjang jalur mudik banyak ditemui warung-warung dadakan yang menjual aneka makanan khas Cirebon. Banyak pula operator seluler dan bengkel resmi kendaraan bermotor yang membuka outlet dan dapat digunakan sebagai tempat beristirahat.

Untuk para pemudik yang memerlukan bantuan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Cirebon menyediakan fasilitas kesehatan di tiap puskesmas yang berada di jalur mudik pantura. (Ari/asy)

dicuplik sing : http://www.detiknews.com/ kesuwun Kang…